RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Bersitegang Dengan Yudhi


__ADS_3

Masalah demi masalah mulai selesai, kini Vika bisa bernafas dengan lega dan rebahan di kamar yang dulu menjadi kamar masa kecilnya, semua masih terlihat sama bahkan foto-foto masa kecilnya masih terjaga dengan baik, itu menandakan berapa sayangnya Indah pada Vika.


"Terima kasih tante sudah sangat menyayangi Vika dengan begitu tulus, andai Vika tidak memiliki saudara sebaik tante, entah bagaimana kehidupan Vika sejak kecil," batin Vika berlinang air mata. Rasa lelah yang ia rasakan membuat tubuhnya refleks memejamkan mata, Vika tidur dengan nyenyak sambil memeluk foto masa kecilnya.


Tak terasa hari sudah sore, Vika dibangunkan oleh Indah karena sampai sekarang keponakannya belum juga bebersih dan mengisi perut, aslinya Indah gak tega membangunkan Vika yang masih tertidur cukup pulas, namun kesehatan juga kebersihan diri sendiri jauh lebih penting. Setelah selesai bebersih, Vika sudah ditunggu oleh Indah dimeja makan, tanpa Vika sadari jika disana ada Yudhi-suami Indah yang ikut duduk.


"Akhirnya datang juga ni bocah," sindir Yudhi.


"Maaf tante kalau sudah menunggu lama," jawab Vika tak enak hati.


"Tak apa.. Ayo makan," ajak Indah lalu masing-masing dari mereka mengambil makanan.


"Kalau masih lapar boleh nambah Vik," ucap Indah menawari.


"Makasih tante tapi Vika sudah kenyang," tolak halus Vika. Aslinya memang Vika masih lapar apalagi makanan yang disuguhkan tantenya sungguh lezat, hampir 5 tahun lebih ia merasakan makanan yang sangat hambar, sampai Vika lupa bagaimana rasanya makan enak.


"Gak usah sungkan," desak Indah yang seolah paham dengan isi pikiran Vika. Namun keponakannya berhasil meyakinkan jika sudah kenyang, barulah setelah itu Indah tak lagi memaksa.


Acara makan pun selesai, Indah sudah lebih dulu ke kamar karena besok harus berangkat pagi, sedangkan Vika sedang membantu bibi membawakan piring kotor ke dapur. Yudhi yang sedari tadi mengawasi Vika membuat Vika tersadar dan menatap tajam balik suami tantenya itu. Ingatan hal buruk yang pernah dilakukan Yudhi sampai sekarang gak akan pernah bisa terhapus kan. Merasa Vika sudah selesai menyelesaikan pekerjaannya, Yudhi langsung mencekal tangan Vika dan membawa ke halaman belakang.


"Lepasin om! Sakit!!!" pekik Vika menghempaskan secara kasar cekalan tangan Yudhi.


"Untuk apa kembali lagi kesini? Udah miskin?" tanya Yudhi mengejek.


"Bukan urusanmu!" jawab Vika ketus.


"Bertahun-tahun pergi tak ada kabar, istriku mencarimu sepanjang hari sampai melupakan kesehatannya, kini dengan tak tau malunya kamu kembali tinggal disini! Apa tujuanmu?" cecar Yudhi.


"Aku mana tau kalau tante mencariku, aku pikir tante sudah kemakan omongan busukmu itu," sindir Vika.


"Makin lama tata bahasamu makin kurang ajar ya," tegur Yudhi.


"Jika om saja tidak bisa mencontohkan hal baik padaku, mengapa aku harus berbaik hati dengan om?" hardik Vika.

__ADS_1


"Karena aku juga istriku adalah satu-satunya keluarga yang kau punya! Jika kamu selalu bersikap kurang ajar maka jangan salahkan om berbuat kejam padamu!" ancam Yudhi namun hal itu tidak membuat Vika gentar sama sekali.


"Kemana saja kau selama ini sampai susah sekali dicari? Pergi kemana kau selama ini?" desak Yudhi.


"Aku tidak kemana-mana dan masih tetap di kota ini, memang beberapa tahun ini sulit dihubungi karena ada problem yang harus dibereskan, nyatanya sekarang aku kembali kan? Aku kembali setelah semuanya selesai," ucap Vika dengan angkuh.


"Masalah apa?" tanya Yudhi penasaran.


"Apapun masalah yang menimpaku tidak ada hak bagi anda untuk ikut campur," ucap Vika tegas dan berhasil membuat Yudhi geram, tak mau terus kepancing emosi jika berhadapan dengan Vika, akhirnya Yudhi memilih menyusul istrinya ke kamar.


Vika pun demikian, ia masuk ke kamar dan tak lupa mengunci pintu dari dalam. Vika tau jika Yudhi adalah pria yang licik, andai tantenya tau tabiat Yudhi yang sebenarnya sudah pasti Yudhi akan didepak. Tak mau terlalu memikirkan hal yang tidak penting membuat Vika memilih tertidur. Besok ia harus mendatangi kontrakan dan menanyakan barang-barangnya.


***


Hari sudah mulai pagi, Vika sudah berpakaian rapi dengan balutan dress putih selutut dikombinasikan dengan heels hitam yang tak terlalu tinggi, hanya 5 cm.


"Mau kemana Vik?" tanya Indah menelisik penampilan Indah dari atas sampai bawah.


"Mau ada perlu sebentar tan," jawab Vika lalu duduk.


"Stop, mas!" tegur Indah namun hal itu semakin membuat Yudhi kesal dengan Vika. Ia seperti dipermalukan karena Indah menegur dihadapan keponakan yang menyusahkan.


"Gak papa tante, omongan om Yudhi benar kok, Vika mana pernah membuat tante bahagia?" ucap Vika.


"Tante gak suka kamu ngomong gitu, ayo makan, jangan lagi ada yang bicara!" ajak Indah tak memperpanjang masalah.


"Iya tante, maaf," jawab Vika merasa bersalah. Lalu mereka makan dalam diam, suasana canggung yang terjadi di pagi hari ini membuat Vika merasa jika waktu berputar sangat lambat. Vika ingin segera selesai makan lalu pergi ke kontrakannya. Malas sekali jika harus serumah dengan om Yudhi, hari ini adalah hari dimana Yudhi off bekerja jadi seharian ini Yudhi bisa full rebahan.


Berhubung tante Indah harus segera berangkat terlebih dahulu, jadinya dimeja makan hanya tersisa Vika dengan Yudhi. Keheningan kembali terjadi karena keduanya enggan untuk memulai obrolan.


Hanya dentingan garpu juga sendok yang menjadi saksi keheningan suasana pagi ini.


"Mau kemana? Makan belum habis udah ngeluyur aja," tanya Yudhi melihat Vika berdiri.

__ADS_1


"Mau pergi sebentar," jawab Vika singkat.


"Perginya itu kemana?" tanya Yudhi.


"Jangan suka mengurusi privasi orang!" tegur Vika.


"Buat apa aku mengurusi urusanmu, aku melakukan ini semua karena kamu itu keponakanku, jadi apapun nantinya yang terjadi padamu, itu jadi urusanku!" ucap Yudhi penuh penekanan.


"Oh wow terima kasih untuk kepeduliannya," sindir Vika.


"Mau kemana? Jangan membuat aku kesal," desak Yudhi.


"Ke rumah teman, ada perlu, eh ini, taksi online pesanan ku udah datang," pamit Vika yang setengah berlari ke luar rumah.


"Dasar! Keponakan gak tau di untung! Udah makan dan tinggal disini, gratis, sekarang dihari libur ku harus menjaga bayi besar ini kemana pun perginya, sungguh hal yang menyebalkan," gumam Yudhi.


Untung saja Vika gak mendengar umpatan omnya itu, andai Vika dengar maka sudah pasti akan terjadi pertengkaran hebat. Memang disini Vika numpang makan dan tempat tinggal tapi itu bukan kemauan dia, ini semua karena keinginan tantenya, Indah. Jika masalah kontrakan dan barangnya sudah beres, secepatnya Vika akan mencari pekerjaan agar tidak membebani keluarga tantenya terus menerus. Memang tantenya menerima dirinya dengan tulus namun berbanding jauh dengan suaminya, Yudhi.


"Mau kemana mbak?" tanya supir taksi online.


"Mau ke jalan Anggur nomor 5 ya pak," jawab Vika lalu perjalanan menuju kontrakannya dilalui dengan lancar tanpa hambatan. Jalanan masih sepi, jadi Vika bisa sampai lebih cepat.


Tiba di kontrakan, kebetulan sekali pemilik kontrakan ada didepan sedang membersihkan kamar yang mungkin akan ditempati orang baru. Perasaan takut melanda Vika lantaran ia tak memberi kabar selama 5 tahun lebih, apakah nantinya pemilik kontrakan akan memaafkannya??


"Permisi bu," sapa Vika dengan ramah, lalu pemilik kontrakan, bu Endang menengok ke arah Vika dengan wajah sedikit kaget.


"Loh.. Kamu? Kamu yang menempati kamar nomor 3 itu kan? Ada apa?" tanya Endang.


"Itu bu.. Anu.. Kedatangan saya kesini mau meminta maaf karena sudah lama meninggalkan kontrakan beserta barang-barang tanpa pamit," jawab Vika merasa sangat bersalah.


"Meninggalkan gimana maksudnya? Perasaan kamu izin sama saya ada urusan pekerjaan diluar kota untuk waktu yang cukup lama jadinya kontrakan mu di oper sama temanmu, gimana sih?" tanya Endang meminta penjelasan. Vika yang mendengar pun menjadi kaget, perasaan ia tak pernah izin kontrakannya ada yang menempati, siapa yang sudah melakukan ini semua??


"Eh.. Apa iya bu? Mungkin saya kelupaan, maklum sudah lama," tanya balik Vika.

__ADS_1


"Sekarang apa temanku ada didalam bu?" tanya Vika lagi.


"Gak tau saya, coba aja dicek," jawab Endang.


__ADS_2