
Dalam perjalanan tak hentinya Ryan memikirkan Vika, entah kenapa ia merasa senang sekali kembali bertemu dengannya ya meskipun pertemuan ini tanpa disengaja, untung saja Vanessa anak yang pandai, jadi dia bisa dengan cepat membuat Vika senang padanya.
"Papah kok senyum-senyum sendiri sih?" tanya Vanessa curiga, pasalnya sejak keluar dari mall tak hentinya papahnya itu senyum-senyum.
"Apa sayang? Papah senyum-senyum karena berhasil membeli pakaian yang papah inginkan, kamu tau kan kalau tadi ngajak mamah pasti gak dibolehin beli pakaian itu soalnya mahal," alibi Ryan.
"Semoga papah gak bohong," sindir Vanessa yang lebih memilih melihat pemandangan dari jendela mobil.
"Nih anak makin gede makin kepo aja deh, mana tadi pas-pasan sama Vika ada dia lagi," batin Ryan.
Sampai di rumah, Ryan bergegas meluncur ke kamar sedangkan Vanessa mencari dimana mamahnya berada, kebetulan ada suara tangis bayi di kamar Farel, pasti mamah ada di sana, batin Vanessa.
Benar saja, ketika Vanessa membuka pintu Farel, ada mamah, kakak serta adik kecilnya sedang bermain mobil-mobilan.
"Loh.. Udah pulang sayang? Kok mamah gak denger suara mobil papah Ryan ya?" tanya Dinda kaget karena ia sama sekali tak tau kedatangan anak dan suaminya.
"Iya mah Vanessa udah pulang kok, baru saja, mungkin mamah dan kakak keasyikan main jadi gak denger kalau udah pulang," jawab Vanessa.
"Habisnya kamu sih, pergi gak ajak kakak!" protes Farel kesal.
"Sudah.. Sudah.. Kalian gak boleh bertengkar, mungkin papah lagi pengen pergi sama Vanessa, next time kita bisa pergi bareng kan," bujuk Dinda.
Tak biasanya anak perempuannya itu pulang dari jalan-jalan menekuk wajahnya, pasti ada sesuatu yang tak beres. Tak mau Farel mendengar alasan Vanessa nantinya, Dinda menitipkan anaknya yang kecil sebentar ke Farel dengan alasan mau buang air kecil. Sebelum sampai ke pintu, Dinda memberi kode lewat kedipan mata pada Vanessa yang kebetulan menatap Dinda. Untung saja Farel tengah asyik bermain dengan adiknya jadi ia tak tahu kalau dua perempuan ini sedang main kode mata.
"Ada apa mah?" tanya Vanessa setelah keluar dari kamar Farel.
__ADS_1
"Duduk di sana dulu yuk," ajak Dinda menunjuk ruang keluarga dan Vanessa setuju.
"Sepertinya mamah mau bicara serius," tebaknya.
"Benar sekali, tapi mamah mohon jawab jujur ya," pinta Dinda dan Vanessa mengangguk.
"Tadi kamu habis pergi kan sama papah? Kemana?" tanya Dinda lembut.
"Iya mah tadi pergi ke mall, papah belanja baju," jawab Vanessa tak semangat.
"Lalu? Kenapa kamu gak semangat gitu sayang? Apa papah gak membelanjakan kamu?" tebak Dinda.
"Gak mah.. Vanessa lagi gak mau beli apa-apa kok," jawab Vanessa dengan wajah sedih.
"Lalu apa yang membuatmu sedih? Bukannya kamu paling suka jalan-jalan ya?" tanya Dinda.
"Papah mah.. Setelah keluar dari mall papah aneh," ucap Vanessa membuat Dinda mengernyitkan dahi.
"Aneh? Aneh gimana maksudnya?" tanya Dinda.
"Tadi pas papah lagi milih baju, karena bosan menunggu akhirnya Vanessa lari-larian, gak sengaja Vanessa tertabrak kakak cantik yang juga memilih baju, setelah ditanyain apakah Vanessa terpisah dari orang tua atau tidak, Vanessa jawab enggak dan menunjuk papah yang lagi memilih baju, tak lama kemudian papah manggil Vanessa, karena tak mau papah terlalu kencang manggil jadinya Vanessa lari menghampiri papah, belum sempat menghampiri papah malah Vanessa jatuh lagi, kakak cantik itu menolong Vanessa dan saat itu juga papah menghampiri Vanessa, ketemulah mereka berdua yang ternyata sudah saling kenal mah, pas Vanessa tanya siapa kakak itu, papah jawab jika kakak itu teman papah dulu," jawab Vanessa.
"Kakak? Perempuan berarti? Kamu tau siapa namanya sayang?" tanya Dinda penasaran.
"Tau mah.. Tadi Vanessa sempat kenalan sama kakak itu kok, namanya Vika," jawab Vanessa membuat Dinda kaget.
__ADS_1
"Vika?? Mantan kekasih mas Ryan yang sempat kembali mengejar-ngejar suamiku itu kan yang hingga akhirnya masuk penjara karena ulah dia sendiri? Jadi mereka gak sengaja ketemu, lalu apa yang membuat Vanessa sedih begitu?" batin Dinda.
"Mah.. Apa mamah tau teman papah itu?" tanya Vanessa memastikan.
"Tau kok sayang, kakak Vika memang teman papah dulu, gak nyangka ya bisa ketemu di mall," jawab Dinda berusaha tersenyum.
"Iya mah.. Awalnya papah juga kak Vika sama-sama kaget loh," ucap Vanessa.
"Itu sudah biasa sayang kan udah lama gak ketemu," jawab Dinda.
"Iya ya mah," jawab Vanessa.
"Kalau boleh tau apa yang membuat kamu sedih begitu sayang?" tanya Dinda.
"Semenjak bertemu dengan kak Vika, papah senyum-senyum sendiri mah, sempat Vanessa nanyain kenapa papah kok senyum, jawabannya karena papah akhirnya bisa membeli pakaian yang diinginkan, kalau ajak mamah katanya gak bakal boleh beli baju itu, mahal katanya, kan aneh ya mah, Vanessa aja bisa merasakan alasan papah aneh," jawab Vanessa.
Dinda yang mendengar penuturan anaknya juga tak kalah aneh namun lebih dominan kaget, apa yang membuat mas Ryan senyum-senyum sendiri setelah bertemu dengan mantannya itu?? Jangan bilang kalau mas Ryan mengalami puber kedua atau tiba-tiba ada rasa sama mantannya lagi.
Gak mungkin kalau gak ada apa-apa mas Ryan bisa segitunya, ini harus dimintai penjelasan.
"Jadi itu yang membuat Vanessa sedih, gak usah lagi sedih-sedih kayak gitu ya sayang, mungkin memang benar papah lagi bahagia karena bisa membeli pakaian yang papah mau, ada kok beberapa pakaian papah yang gak mamah bolehin untuk dibeli, harganya mahal banget soalnya kan sayang mengeluarkan uang banyak hanya untuk membeli satu pakaian saja," ucap Dinda berusaha memberi penjelasan agar Vanessa tak berpikir buruk tentang ayah sambungnya, cukup dia saja yang berpikir negatif, Vanessa jangan. Ia tak mau kembali membuat luka dalam di hati kedua anaknya. Kegagalan pernikahan dengan Rio saja terkadang masih menancapkan luka di hati anaknya apalagi kalau pernikahan ini juga nantinya akan bernasib sama.
"Iya mah.. Vanessa gak mau aja kalau ternyata papah itu bohong, bukan senang bisa membeli barang yang diinginkan tapi senang karena ketemu lagi sama temannya itu," ucap Vanessa jujur.
"Jangan mempunyai pikiran buruk seperti itu ya sayang, papah Ryan kan cinta sama mamah dan juga kalian bertiga, mana mungkin ada waktu buat papah Ryan memikirkan perempuan lain, percayalah jika papah Ryan itu setia dan gak mungkin menyakiti mamah, nyatanya selama ini mana ada mamah sedih? Enggak kan, apalagi ada adik baru diantara kalian, kebahagiaan mamah semakin lengkap, tolong ya jangan lagi berprasangka buruk sama papah," tegur Dinda dengan lembut, ia membelai rambut Vanessa dengan penuh kasih sayang. Tak lupa setelah itu mereka berpelukan, sebenarnya Dinda sengaja memeluk Vanessa agar dirinya nanti kuat menghadapi kenyataan pahit bahwa suaminya memikirkan wanita lain selain dirinya.
__ADS_1