
"Apa istrimu tinggal di rumah orang tuanya lama sampai lo merasa suntuk," ucap Vika.
"Dia lagi marah sama gue," jawab Ryan akting sedih.
"Loh memang kenapa?" tanya Vika pura-pura tak tahu.
"Tiba-tiba ada paket datang atas nama istri gue setelah di buka isinya tuh foto fitnahan, di sana ada yang sengaja mengedit kalau gue lagi tidur bareng sama lo, ya otomatis istri gue marah besar dong, mau gue jelasin kayak apapun mana bakal dia percaya," ucap Ryan sedih.
"Yes.. Jebakan berhasil haha gitu kok istrinya Ryan sok-sokan gak terpengaruh nyatanya juga kabur dari rumah kan haha, tinggal selangkah lagi deketin Ryan," batin Vika bahagia.
"Aku turut sedih ya atas apa yang menimpa rumah tanggamu, tapi kenapa ada foto kita? Memangnya kita pernah satu ranjang? Gak kan.." ucap Vika sok polos.
"Nah loh kena jebakan gue, lo sendiri yang bilang kalau kita gak pernah satu ranjang, habis ini tamat riwayatmu Vika," batin Ryan yang berhasil merekam perkataan Vika.
"Ya mana gue tau namanya juga ada orang yang mau membuat rumah tangga gue berantakan jadi ya mereka bisa melakukan apapun demi ambisinya tercapai," sindir Ryan yang membuat Vika kelabakan.
"Tapi itu jahat loh dan bisa di kasus kan," ucap Vika menutupi rasa gugupnya.
"Oh ya jelas.. Kalau foto itu memang editan dan akan gue pidanakan siapapun itu orangnya, kalau menurutmu gimana? Benar kan tindakan gue? Coba aja kalau posisi ini ada padamu apakah lo akan melakukan hal yang sama?" tanya Ryan terkesan menyindir.
"Eh itu.. Mmm.. Ya.. Ya jelas gue akan melakukan hal yang kayak lo lakuin, itu kan sama saja mencoreng nama baik kita, iya gak sih sama bisa menjadi perbuatan yang tidak menyenangkan," jawab Vika gugup dan Ryan hanya tersenyum sinis.
"Ok.. Itu yang barusan lo ucap ya," jawab Ryan membuat Vika kebingungan.
"Maksudnya?" jawab Vika gugup.
"Sayang ayo masuk, ini sudah waktunya," ucap Ryan sembari menelpon Dinda.
"Hai semuanya.." sapa Dinda yang membuat Vika diam mematung sembari gugup.
"Din.. Dinda? Dan lo Ryan? Ini.. Ini.." ucap Vika gugup.
"Apa kabar? Yes ini gue Dinda," jawab Dinda sumringah sedangkan Vika menciut.
"Mari kita mulai," jawab Ryan semakin membuat Vika ketakutan.
__ADS_1
"Ini semua jebakan? Lo tega menjebak gue Ryan?" tanya Vika terbata.
"Bukan gue yang menjebak namun gue hanya butuh klarifikasi saja," jawab Ryan enteng.
"Lagian semuanya juga berawal darimu kan Vika? Lo sendiri yang memulai genderang perang pada kami," sindir Dinda.
"Gue?? Kenapa dengan gue? Memang gue menjebak apa?" tanya Vika sok tidak tahu.
"Mas udahlah perlihatkan saja semuanya, muak terus menerus melihat dia," desak Dinda.
"As you wish sayang," jawab Ryan lalu mengeluarkan beberapa file dan melemparkannya di meja.
"I...ini apa?" tanya Vika tak mengerti.
"Ya di baca dong bisa membaca kan atau perlu gue bacain?" tantang Dinda gemas.
"Gak.. Gak perlu, makasih," jawab Vika lalu membaca beberapa file sambil tangannya gemetaran.
"Ini.. Ini semua fitnah.. Fitnah.." pekik Vika sambil melempar semua file dan berserakan di lantai.
"Waktu gue terlalu berharga untuk merusuhi hidup orang," sindir Dinda dengan tenang.
"TAPI DARIMANA KALIAN TAU SEMUA INI? KALIAN INI SEKONGKOL MAU MENGHANCURKAN GUE YA? DAN UNTUK FOTO.. BISA PUNYA BUKTI APA KALAU MEMANG GUE INI PELAKUNYA? HA?" cecar Vika tak terima.
"Ya jelas gue mencari tau sendiri lah Vika, lo pikir gue ini bodoh apa? Lo salah mencari musuh, sudahlah katakan saja sejujurnya apa tujuanmu membuat foto memalukan seperti itu," ucap Ryan jengah.
"GUE GAK MELAKUKAN APAPUN JADI JANGAN ASAL TUDUH YA," gertak Vika.
"DAN KAMI MEMBAWAMU KESINI JUGA BUKAN SEKEDAR OMONG KOSONG, KAMI MEMBAWA BUKTI DAN ITU VALID.. JADI SEHARUSNYA DISINI KAMI LAH YANG MARAH PADAMU KARENA ULAH MURAHAN MU ITU MEMBUAT KAMI HAMPIR SAJA BERTENGKAR HEBAT.." pekik Dinda emosi.
"KALIAN BERTENGKAR YA JANGAN GUE DONG YANG DISALAHIN, GIMANA SIH.. MASALAH RUMAH TANGGA KALIAN YA JANGAN MENGKAMBING HITAMKAN GUE," pekik Vika tak kalah emosinya.
"CUKUP VIKA.. MAU SAMPAI KAPAN LO BAKAL BERKILAH TERUS, SEMUA BUKTI SUDAH JELAS DAN SESUAI APA YANG LO KATAKAN TADI KALAU GUE BAKAL MEMPROSES MASALAH INI KE JALUR HUKUM, JADI BERSIAPLAH," gertak Ryan.
"JANGAN KARENA LO ITU PENGACARA JADI APAPUN MASALAHNYA DI TEMPUH KE JALUR HUKUM.. SEMUA BISA DI BICARAKAN BAIK-BAIK," ucap Vika emosi dan ketakutan.
__ADS_1
"Daritadi kami sudah berusaha berbicara dengan baik-baik ya tapi lo sendiri yang meresponnya selalu ngegas, jadi jangan salahkan gue kalau akhirnya inilah jalan terakhirnya," ucap Ryan geram.
"Pilih mana? Katakan sejujurnya atau masuk penjara?" sindir Dinda.
"Lo jadi cewek jangan ngeselin ya, gue gak tau apa-apa jadi apa yang harus gue jelasin?" ucap Vika terus berbokong.
"Ok mas telpon kantor polisi sekarang juga," ancam Dinda lalu Ryan mengambil ponselnya.
"Lo mau ngapain?" tanya Vika menatap tajam.
"Gue? Jelas gue ini mengikuti perintah istri gue lah," ucap Ryan dengan entengnya.
"Lo mau telpon polisi? Lo tega memenjarakan gue? Mana janjimu yang bakal selalu bersama gue, nyatanya sekarang lo malah sudah menikah dengan dia," cecar Vika membuat Dinda terkejut.
"Itu benar mas?" tanya Dinda meminta penjelasan.
"Katakan sejujurnya pada istrimu itu biar dia ngerti bagaimana kita dulu," ucap Vika.
"Diam.." gertak Ryan muak.
"Jelaskan semuanya mas, ingat kita sudah berjanji untuk saling terbuka satu sama lain," desak Dinda.
"Ok akan aku jelaskan semuanya tapi aku mohon dengarkan sampai selesai," pinta Ryan dan Dinda hanya mengangguk.
"Memang benar apa yang di katakan oleh Vika kalau aku pernah berjanji padanya untuk selalu bersama, namun itu dulu.. Sangat dulu sekali, sebelum dia meninggalkan aku tanpa kabar, dia tiba-tiba menghilang selama bertahun-tahun tanpa sehari bahkan sedetikpun mengabari aku, hingga akhirnya aku melihat dengan jelas di depan mataku kalau Vika sudah mempunyai pacar baru dan ya waktu itu aku sungguh marah, aku meminta penjelasannya namun yang aku terima adalah sebuah penghinaan, di depan pacar barunya dia menghina bahwa aku ini pria tidak berguna dan juga miskin, memang aku akui waktu itu kondisi keluargaku sedang kolab dan mau gak mau papah harus menjual salah satu perusahaannya.. Namun dari situ aku menyadari bahwa selama ini Vika mendekatiku hanya karena harta saja, setelah aku dan keluargaku terpuruk dia yang seharusnya memberi support malah pergi begitu saja seperti tidak punya hati, Vika menganggap bahwa selama ini hubungan kami tidak berarti apapun..jadi ya aku memilih pergi dan menerima kekalahan.. Lalu perlahan aku dan juga keluarga bangkit sedikit demi sedikit dan sekarang lihatlah.. Perusahaan keluargaku bisa berjaya lagi dan aku bisa meneruskan cita-citaku menjadi pengacara, ketika semuanya sudah kembali membaik malah dia tiba-tiba hadir dan merusak semuanya.." ucap Ryan dengan detail.
"Ryan.. Jangan memutar balikkan fakta ya, ini semua gak benar," sanggah Vika.
"Apanya yang gak benar? Memang begitu adanya kan toh kedua orang tuaku juga mengetahui semuanya, sudahlah gak usah terus menerus mengelak lagi.. Bukan aku yang ingkar janji namun kamu sendiri yang pergi dengan sendirinya di saat aku terpuruk, jadi jangan menagih janji seolah-olah aku ini seorang pembohong," tegur Ryan.
"Lalu apa motif mu membuat editan foto murahan seperti kemarin?" tanya Dinda.
"sudah gue katakan kalau gue ini bukan pelakunya, kalian lah yang terus menerus menyuruhku untuk mengakui sesuatu yang tidak gue lakuin," sanggah Vika lalu tiba-tiba polisi datang dan langsung membawa Vika.
"Semoga di sana kamu akan berbicara dengan jujur, ingat Vika jika kamu terus mengelak makan hukuman mu semakin berat," gertak Dinda lalu Vika terus meronta.
__ADS_1
"LEPAS.. LEPASIN GAK.. GUE INI GAK BERSALAH.. RYAN.. AWAS LO, TUNGGU PEMBALASAN GUE," pekik Vika sambil terus berusaha melepaskan tangannya yang sudah terborgol.