
Malam hari telah tiba dan kini sudah jam 9 malam, acara pernikahan Dinda dan Ryan telah usai.. Mereka merasa sangat capek apalagi si kembar sudah terlelap lebih dahulu.
Dinda dan Ryan kini menempati satu kamar yang sama dan keduanya merasa canggung, apalagi Ryan.. Karena ini merupakan pertama kali bagi dirinya menyandang status menjadi suami.
"Sayang.." sapa Ryan menghampiri Dinda yang sedang membersihkan make up.
"Iya mas, ada apa?" jawab Dinda menatap suaminya lewat cermin.
"Kita mau liburan kemana?" tanya Ryan yang membuat Dinda kaget.
"Liburan?" tanya Dinda kaget dan langsung menoleh ke arah suaminya.
"Iya sayang.. Setelah menikah ya kita liburan, apa kamu gak mau merayakan pernikahan kita?" tanya Ryan memegang bahu Dinda.
"Ta..Tapi kita kan selesai resepsi mas? Aku pikir itu udah termasuk perayaan," jawab Dinda dengan polosnya.
"Ya enggak dong sayang, pernikahan tadi kan memang harus di lakukan seperti itu, kalau liburan ya beda.. Aku ingin kita liburan dan menghabiskan banyak waktu tanpa ada pengganggu," jawab Ryan.
"Anak-anak bagaimana mas?" tanya Dinda memastikan.
"Ya di ajak dong.. Dia kan juga anak-anakku," jawab Ryan membuat Dinda bahagia.
"Serius mas? Kamu mengajak mereka?" tanya Dinda tak percaya.
"Iya dong sayang.. Baik Farel maupun Vanessa mereka kan anakku juga, jadi jangan memikirkan bagaimana mereka nantinya.. Sudah pasti apapun yang kita lakukan maka anak-anak juga ikut," ucap Ryan membuat Dinda terharu.
"Terima kasih banyak ya mas.. Aku terharu, aku gak menyangka kamu sebaik ini tidak hanya padaku namun pada kedua anakku juga," ucap Dinda memeluk Ryan erat dan berlinang air mata.
"Eits.. Vanessa dan Farel itu anakku juga bukan hanya anakmu, kamu ingat kan sayang bagaimana mereka langsung memanggilku papah?" tanya Ryan penuh kebanggaan.
"Iya iya mas.. Kamu langsung bisa mengambil hati mereka," ucap Dinda mengiyakan.
"Jelas dong.. Hati mommy nya aja bisa aku luluh kan apalagi anaknya," ucap Ryan sombong.
"Tuh kan mulai narsis lagi," ejek Dinda malas.
"Narsis dengan istrinya gak papa dong," jawab Ryan mencolek dagu Dinda.
"Ya tapi jangan keterusan nanti terlalu percaya diri, udah ah bahas liburan aja.. Jadinya kemana?" tanya Dinda tak mau memperpanjang masalah.
"Iya nyonya Ryan Hadiningrat.. Kamu mau kemana?" tanya Ryan dengan lembut.
__ADS_1
"Ish manggilnya pakai marga lagi," ucap Dinda malu.
"Sekarang kamu kan sudah sah menjadi nyonya Ryan Hadiningrat.. Jadi wajar kalau marga itu di sematkan padamu," jawab Ryan.
"Terserah deh.. Hmm mas aku mau ke Labuan Bajo," pinta Dinda.
"As you wish... Besok kita berangkat," jawab Ryan dengan entengnya dan membuat Dinda melongo tak percaya.
"Ha? Besok? Yang benar saja mas.." pekik Dinda terkejut.
"Serius.. Besok siang atau gak sore kita berangkat, setelah itu mau kemana lagi? Sebutin semua tempat yang ingin kamu kunjungi," ucap Ryan dengan enteng.
"Gimana bisa besok kita langsung berangkat? Gak ada prepare mas.." ucap Dinda kesal.
"Prepare seadanya aja selebihnya beli, jangan di buat ribet sayang.. Mumpung anak-anak juga masih libur," ucap Ryan tak mau ambil pusing.
"Iya sih.. Yasudah aku prepare dulu ya mas," ucap Dinda mempersiapkan segala keperluannya dan juga Ryan. Untuk keperluan kedua anaknya Dinda minta tolong ibunya.
Sore hari mereka sudah tiba di bandara untuk liburan ke Labuan Bajo, tempat terindah yang masih terjaga keasriannya.
"Mommy kita naik pesawat?" tanya Farel.
"No mommy.." jawab Farel.
"Good.. Untuk Vanessa, apakah kamu takut naik pesawat?" tanya Dinda.
"Tidak mommy.." jawab Vanessa.
Lalu mereka terbang ke Labuan Bajo dengan selamat.. Esok hari mereka baru bisa memulai trip liburannya.
***
Menikmati pagi hari di Labuan Bajo adalah impian Dinda sejak lama, keindahan alam di sana menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap wisatawan.
"Morning sayang.." sapa Ryan memeluk Dinda.
"Morning too mas.." jawab Dinda sumringah.
"Tidurnya nyenyak?" tanya Ryan.
"Sangat sangat nyenyak.." jawab Dinda bahagia.
__ADS_1
"Tapi aku gak nyenyak, aku di anggurin.. Sekarang aku menagihnya," ucap Ryan dengan tersenyum nakal.
"Menagih apa mas?" tanya Dinda penasaran.
"Menagih kewajiban mu sebagai istri, dari kemarin kita belum siap melakukannya" pinta Ryan lalu mendekati Dinda.
Dinda yang mendapat serangan fajar dari suami hanya bisa pasrah, memang dia sendiri mengakui bahwa dia belum memberikan kewajiban untuk suaminya... Ia terlalu fokus memikirkan kemana akan liburan.
Keduanya saling dekat dan Ryan mencium bibir Dinda dengan lembut dan penuh rasa, Dinda langsung terbuai dengan permainan awal suaminya itu.. Merasa mendapatkan respon yang baik kini Ryan semakin berani dengan meraba kedua gunung Dinda dan melepas pakaian yang di kenakan istrinya itu dengan cepat. Kini keduanya sama-sama bertelanjang dada dan Ryan sudah bersiap untuk memasukkan kepemilikannya ke Dinda.
"Are you ready baby?" tanya Ryan berbisik di telinga Dinda.
"Hmm.." jawab Dinda karena merasa geli.
Tak butuh waktu lama kini mereka sudah melakukan penyatuan yang sah sebagai suami istri, baik Dinda maupun Ryan keduanya sama-sama menikmati permainan yang seperti menerbangkannya ke surga. ******* demi ******* mereka keluarkan seakan menambah suasana keintiman mereka berdua... 30 menit kemudian Ryan sudah mencapai puncaknya di susul Dinda 5 menit kemudian.
Lalu keduanya terkulai lemas dan saling berpelukan tanpa sehelai benang pun, raut wajah kebahagiaan terpancar di diri Ryan.
"Makasih sayang atas kenikmatan yang kamu berikan, ini terasa sangat indah.. Pagi hari kamu sudah membuatku melayang di surga," ucap Ryan merasa puas.
"Sama-sama mas.. Ini sudah kewajiban ku untuk menyenangkan suami, tadi mas Ryan juga melakukannya dengan baik kok, aku pun merasa puas.." jawab Dinda tersipu malu dan semakin mempererat pelukannya.
"I'm happy to hear that, semoga penyatuan kita ini langsung menjadi janin ya sayang," harapan Ryan.
"Aamiin... Semoga saja mas, kita mau begini terus?" tanya Dinda.
"Iya dong.. Aku mau terus begini seharian," pinta Ryan.
"Ngapain kayak gini sampai Labuan Bajo mas? Kan bisa di lakukan di rumah," tanya Dinda kesal.
"Momennya yang berbeda sayang, besok kalau sudah pulang kita lakukan lagi di rumah kan suasananya berbeda," ucap Ryan sambil menatap Dinda.
"Mas.. Keterusan kan jadinya," rengek Dinda.
"Sah-sah aja dong mau setiap jam ataupun menit juga bebas kan, kita udah sah loh," ucap Ryan dengan entengnya.
"Iya iya mas.. Yasudah sekarang kita mandi, nanti anak-anak menunggu," ucap Dinda beranjak bangun namun di tahan oleh Ryan.
"Apalagi mas Ryan?" tanya Dinda setengah kesal.
"Kita mandi bareng.." bisik Ryan membuat Dinda bergidik ngeri lalu mau gak mau Dinda menuruti keinginan suaminya untuk mandi bersama dan Ryan kembali meminta hak nya.. Ia merasa ketagihan ketika berada di dekat Dinda.
__ADS_1