RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Jebakan Ryan


__ADS_3

Sembari menunggu info dengan perasaan harap-harap cemas kini Ryan memilih kembali melanjutkan pekerjaannya agar tidak suntuk, ya meskipun dia sangat yakin betul jika pelakunya itu Vika.


"Sudah pak.. Ini sungguh mudah sekali," jawab hacker mengagetkan Ryan.


"Sungguh? Kenapa cepat sekali?" tanya Ryan tak percaya.


"Karena rival anda amatir jadi banyak meninggalkan jejak digital, bapak tau sendiri kan bagaimana mengerikannya jejak digital itu, hasilnya akan saya kirim lewat mana pak?" tanya hacker dengan santainya.


"Kirimkan lewat email segera dan untuk foto ini apakah ini editan? Kalau iya tolong buatlah foto yang sesungguhnya, saya tidak terima nama baik saya tercoreng hanya karena skandal murahan seperti ini," perintah Ryan.


"Ini sudah pasti editan pak tapi rival anda menggunakan jasa edit foto yang cukup pro," jawab hacker dengan enteng.


"Sudah saya duga.. Tolong bersihkan semuanya agar nama baik saya tetap aman, jangan lupa bukti kebusukan dia kirimkan lewat email," ucap Ryan sangat geram.


"Sudah pak.. Ada lagi yang perlu saya kerjakan?" tanya hacker.


"Saat ini hanya itu saja dan next time saya pasti akan menggunakan jasa anda," ucap Ryan cukup lega setelah melihat semua bukti yang di kirimkan hacker.


"Baik kalau begitu saya permisi dulu, senang berbisnis dengan anda," pamit hacker.


"Baik.. Terima kasih banyak sudah membantu saya dan sisa uangnya saya transfer sekarang mumpung anda masih disini," ucap Ryan lalu mentransfer sisa dana yang harus di lunasi.


"Sudah masuk.. Saya pamit dulu," pamit hacker lalu keluar dari ruangan.


"Lihat saja Vika.. Tunggu pembalasan gue, beraninya lo udah usik ke tanah pribadi gue apalagi sampai ke istri gue," gumam Ryan sambil mengepalkan tangan.


***


Setelah jam kerja usai kini Ryan pulang ke rumah mertuanya untuk memberitahu semua ini pada sang istri, jujur saja ia sudah sangat rindu pada istri dan anak-anaknya.


Tok.. Tok.. Tok.. Suara ketukan pintu.


"Nak Ryan? Sini masuk," Ajak Sri.


"Baik bu, Dinda dan anak-anak ada di dalam kan?" tanya Ryan memastikan. P


"Ada kok.. sebentar ibu panggilkan," ucap Sri berlalu pergi.


"Semoga setelah ini semuanya berakhir, tak ada lagi kesalahpahaman antara aku dan Dinda," batin Ryan penuh harap dengan perasaan berdebar kencang.


"Mas Ryan?" sapa Dinda dingin.


"Hai sayang.. How are you?" sapa Ryan gugup.

__ADS_1


"I'm fine mas," jawab Dinda dingin.


"Syukurlah aku senang mendengarnya," jawab Ryan lega dan Dinda hanya diam saja.


"Loh... Kenapa kalian hanya saling diam? Nak Ryan ini di minum dulu," ucap Sri mencairkan suasana sambil membawa tiga cangkir teh.


"Eh ibu.. Makasih bu," jawab Ryan lalu meminum teh.


"Mau sampai kapan kalian akan begini terus?" tanya Sri.


"Jujur saja bu saya gak kuat kalau lama-lama di diamkan oleh Dinda terus menerus apalagi dia sampai pergi dari rumah makanya itu saya setiap hari selalu saja mencari bukti meskipun itu hanya secuil dan akhirnya usaha saya membuahkan hasil bu, saya mendapatkan bukti yang sangat akurat dan bisa saja saya memidanakan Vika atas tuduhan yang menganggu keharmonisan rumah tangga kami," ucap Ryan sambil mengeluarkan beberapa file dan juga menunjukkan bukti yang ia terima dari email.


"Mas.. Jadi semua ini ulah temanmu itu?" tanya Dinda tak percaya namun lega karena ia memang mempunyai firasat jika semua ini ulah Vika.


"Benar.. Dan nantinya aku akan meminta pertanggungjawaban dia, semua bukti sudah jelas kan sayang? Aku memang tidak bersalah dan tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun," ucap Ryan meyakinkan.


"Tetapi kenapa dia begitu tega ingin merusak rumah tangga kita mas? Apa alasannya?" tanya Dinda sembari terisak.


"Nanti kita akan tau alasannya setelah bertemu dengannya, mari kita membuat rencana untuk menjebak Vika.. Malam ini aku akan mengajak dia bertemu dengan alibi ingin curhat, di sana nantinya aku akan merekam semua obrolan dan ketika aku sudah memberi kode, kamu masuk lalu kita bongkar kebusukannya, bagaimana?" usul Ryan.


"Baik mas jujur saja aku juga geram sama dia," jawab Dinda menyeka air mata.


***


"Hai Vika hari ini kamu sibuk gak? 1 jam lagi kita ketemuan yuk, jujur nih gue suntuk di rumah karena istri gue pergi ke rumah orang tuanya, untuk lokasinya di resto Jawa ya biar nanti gue reservasi," isi chat Ryan membuat Vika bahagia bukan kepalang.


"Ok Ryan nanti gue akan datang," jawab Vika.


"Ok.. See you," jawab Ryan lalu segera datang ke resto yang di tuju bersama Dinda.


"Ingat ya sayang apapun nanti yang akan aku katakan tolong jangan kamu ambil pusing apalagi sampai kamu ambil hati," tegur Ryan.


"Iya mas asal obrolan kalian tidak kelewatan saja," jawab Dinda cemburu.


"Iya sayang.. Yasudah aku reservasi ruangan dulu dan kamu duduk di sana ya," perintah Ryan lalu Dinda mengerti.


Kini Vika sudah tiba di resto dengan penampilan paripurna, ia tidak mau melewatkan momen langka ini.


"Hai Ryan maaf ya lama nunggu," sapa Vika sambil tersenyum ramah.


"Oh gak papa Vika, yasudah duduk dulu gih habis itu pesan makanan," jawab Ryan santai dan Vika duduk lalu mereka memesan makanan.


"Bagaimana pekerjaanmu Vik?" tanya Ryan basa-basi.

__ADS_1


"Ya begitulah.. Kalau pekerjaanmu? Lancar dong pastinya kan namamu semakin melejit," puji Vika sambil tersenyum.


"Ah gak sampai segitunya juga kok," jawab Ryan merendah.


"Kamu selalu saja begitu tiap kali di puji, gemes deh.." jawab Vika mencolek lengan Ryan.


"Hehe memang gak seperti yang kamu pikirkan kok," jawab Ryan mulai gak nyaman, ia takut istrinya melihat adegan Vika mencolek lengannya.


"Oh iya ngomong-ngomong tumben sekali kamu ajak gue makan bareng biasanya kan gue duluan yang ajak," ucap Vika percaya diri.


"Iya habisnya suntuk di rumah," jawab Ryan.


"Apa istrimu tinggal di rumah orang tuanya lama sampai lo merasa suntuk," ucap Vika.


"Dia lagi marah sama gue," jawab Ryan akting sedih.


"Loh memang kenapa?" tanya Vika pura-pura tak tahu.


"Tiba-tiba ada paket datang atas nama istri gue setelah di buka isinya tuh foto fitnahan, di sana ada yang sengaja mengedit kalau gue lagi tidur bareng sama lo, ya otomatis istri gue marah besar dong, mau gue jelasin kayak apapun mana bakal dia percaya," ucap Ryan sedih.


"Yes.. Jebakan berhasil haha gitu kok istrinya Ryan sok-sokan gak terpengaruh nyatanya juga kabur dari rumah kan haha, tinggal selangkah lagi deketin Ryan," batin Vika bahagia.


"Aku turut sedih ya atas apa yang menimpa rumah tanggamu, tapi kenapa ada foto kita? Memangnya kita pernah satu ranjang? Gak kan.." ucap Vika sok polos.


"Nah loh kena jebakan gue, lo sendiri yang bilang kalau kita gak pernah satu ranjang, habis ini tamat riwayatmu Vika," batin Ryan yang berhasil merekam perkataan Vika.


"Ya mana gue tau namanya juga ada orang yang mau membuat rumah tangga gue berantakan jadi ya mereka bisa melakukan apapun demi ambisinya tercapai," sindir Ryan yang membuat Vika kelabakan.


"Tapi itu jahat loh dan bisa di kasus kan," ucap Vika menutupi rasa gugupnya.


"Oh ya jelas.. Kalau foto itu memang editan dan akan gue pidanakan siapapun itu orangnya, kalau menurutmu gimana? Benar kan tindakan gue? Coba aja kalau posisi ini ada padamu apakah lo akan melakukan hal yang sama?" tanya Ryan terkesan menyindir.


"Eh itu.. Mmm.. Ya.. Ya jelas gue akan melakukan hal yang kayak lo lakuin, itu kan sama saja mencoreng nama baik kita, iya gak sih sama bisa menjadi perbuatan yang tidak menyenangkan," jawab Vika gugup dan Ryan hanya tersenyum sinis.


"Ok.. Itu yang barusan lo ucap ya," jawab Ryan membuat Vika kebingungan.


"Maksudnya?" jawab Vika gugup.


"Sayang ayo masuk, ini sudah waktunya," ucap Ryan sembari menelpon Dinda.


"Hai semuanya.." sapa Dinda yang membuat Vika diam mematung sembari gugup.


"Din.. Dinda? Dan lo Ryan? Ini.. Ini.." ucap Vika gugup.

__ADS_1


__ADS_2