
Dinda dan Ryan turun dari mobil dengan posisi di kepung bodyguard bertubuh tinggi tegap dan berbadan besar.. Mukanya pun tak kalah menyeramkan dari preman.
"Sialan ternyata bukan orang sembarangan," batin mamah Fera geram dan maju mendekati Dinda namun sayang terhalang oleh bodyguard.
"Berani maju selangkah lagi maka aku congkel mata anda," ancam bodyguard membuat Fera ciut.
"Jangan beraninya sama cewek.. Mari satu lawan satu," tantang salah satu preman.
"Bagaimana pak?" tanya bodyguard memastikan.
"Jangan gegabah yang ada kalian nanti, membuat kegaduhan di sekolah anakku, diam saja dan terus lindungi kami terutama istriku," perintah Ryan dan bodyguard menurut.
"Cih.. Percuma bayar mahal kalau gak digunain untuk saling adu kekuatan," ejek mamah Fera dan Ryan sudah mulai emosi lalu menemui mamahnya Fera.
"Pak.. Pak Ryan Hadiningrat? Anda kah itu?" tanya mamah Fera tak percaya.
"Ya ini saya apa perlu memperkenalkan diri lagi? Jadi ini toh yang sudah mengusik ketenangan istri dan anak saya," ucap Ryan dengan tenang.
"Istri? Anak? Jadi..." tanya mamah Fera kaget.
"Ya.. Ryan Hadiningrat yang anda bilang adalah pengacara andalan anda itu adalah suami dan ayah dari anak-anak saya," ucap Dinda penuh penekanan.
"Gak.. Kalian jangan berbohong, setau saya pak Ryan belum menikah," ucap mamah Fera tak percaya.
"Ya itu dulu ketika terkahir bertemu dengan anda tapi sekarang saya sudah menikah dan memiliki dua anak kembar, jadi apa anda masih akan memperpanjang masalah receh ini?" sindir Ryan.
"Pak.. Awalnya saya sudah mengajak damai namun istri anda menolaknya dengan mentah-mentah jadi ya saya hadapi dong pak," sanggah mamah Fera.
"Jelas saya menolak karena anda begitu meremehkan saya dan menganggap masalah ini receh apalagi anda selalu mengagungkan Ryan Hadiningrat yang jelas-jelas istrinya di depan mata anda.. Siapa disini yang kalah? Anda atau saya? Katanya mau membuat saya menangis-nangis? Mana??" tanya Dinda menantang.
"Saya belum kalah ya dan tidak akan kalah, camkan itu.. Untuk pak Ryan.. Anda jahat," teriak mamah Fera sambil berlalu pergi di ikuti beberapa preman yang kebingungan.
"Gimana sih ini? Gak biasanya bu bos lemah seperti ini," keluh salah satu preman.
"Iya nih ada hubungan apa antara bu bos sama pria tadi? Kalau bos besar tau bisa berabe nih urusannya," keluh preman satunya.
Setibanya di rumah Dinda bersiap mencecar beberapa pertanyaan yang sedari tadi mengganjal di hatinya..
"Akhirnya sampai rumah juga.." ucap Ryan lega.
"Ada yang mau aku bahas mas," ucap Dinda serius.
"Apa itu?" tanya Ryan heran.
"Kamu kenal dengan mamahnya Fera?" tanya Dinda serius.
"Ya gimana ya bilangnya.. Kalau kenal sih bisa di bilang enggak tapi kalau dikatakan enggak ya kenal tapi aku gak tau namanya," jawab Ryan bingung.
"Kok bisa aneh begitu mas?" tanya Dinda.
__ADS_1
"Ya begitu deh.." jawab Ryan terkesan menutupi sesuatu.
"Mas Ryan tau apa pekerjaan dia?" tanya Dinda.
"Tau.. Suka menjajakan tubuh kan," jawab Ryan dengan entengnya.
"Jangan-jangan..." ucap Dinda menggantung dengan sorot mata tajam.
"Jangan-jangan apa sayang? Aku pernah jadi pelanggan dia gitu? Maaf suamimu ini tidak seburuk itu," tanya Ryan tersinggung.
"Lantas kamu tau darimana mas kalau dia dulunya bekerja seperti itu?" cecar Dinda.
"Nama dia di kalangan teman-temanku sangat terkenal sayang karena dia dulunya pernah menjadi primadona.. Ya gak bisa di pungkiri ya kalau dulunya aku suka nongkrong di klub malam bahkan karaoke.. Nah dia sering di booking oleh temanku," ucap Ryan jujur.
"Tapi kenapa dia seperti kecewa padamu mas?diantara kalian sebenarnya ada apa?" cecar Dinda.
"Gak ada apa-apa.. Memang dia dulunya pernah mengejar ku namun aku selalu menolaknya, yah kamu tau sendiri kan sayang bagaimana watak perempuan seperti dia? Kalau tidak tercapai keinginannya bakal terus di kejar.. Nah suatu hari aku menjebaknya untuk bertemu di sebuah hotel," ucap Ryan terpotong oleh kesalahpahaman Dinda.
"Menjebak di hotel? Wow.. Lalu kalian bersenang-senang gitu? Ya cara kasarnya kamu modusin dia, pengen orangnya tapi gak pengen pacari," tuduh Dinda.
"Astaga keji sekali tuduhan mu, dengarkan aku selesai bicara dulu," ucap Ryan tersinggung.
"Keji? Kamu mas yang keji.. Menjebak kok di hotel ya jelas dia mau," sindir Dinda cemburu.
"Tapi bukan aku yang di sana," ucap Ryan.
"Dengarkan dulu sampai selesai," pinta Ryan.
"Untuk apa?? Supaya aku tau bagaimana masa lalu suamiku bersama wanita penghibur," sindir Dinda membuat Ryan murka.
"Dinda.. Jaga bicaramu," perintah Ryan marah besar.
"Kenapa kamu jadi membentak ku mas? Segitunya kamu membela dia," ucap Dinda kecewa dan berlinang air mata.
"Bukan begitu maksudku namun aku mohon dengarkan semuanya sampai selesai.. Kamu ini salah paham dan tuduhan mu sungguh keterlaluan sayang," ucap Ryan merasa bersalah.
"Semua sudah jelas mas.. Kamu membela dia dan malah membentak aku yang notabene istrimu sendiri," ucap Dinda kecewa.
"Maafkan aku sayang.. Mari kita selesaikan masalah ini dengan kepala dingin, kalau kamu mau menenangkan diri akan aku beri waktu, asalkan jangan ada salah paham lagi di antara kita," ucap Ryan memberi pengertian.
"Aku akan tenang jika di rumah ibu," jawab Dinda lirih.
"Aku mohon jangan pergi lagi dari rumah," pinta Ryan memohon.
"Kamu membentak ku mas dan aku belum bisa menerima itu," ucap Dinda tak mau dibantah.
"Apa kata ibu kalau tau kita sering berdebat?? Aku mohon bersikaplah dewasa.. Pikirkan anak-anak juga ya, jangan memisahkan anak-anak dariku," bujuk Ryan.
Lalu ponsel Dinda berdering dan yang menelpon adalah mamah Fera.
__ADS_1
"Dia lagi dia lagi.." gumam Dinda kesal dan membiarkan panggilan.
"Siapa yang telpon?" tanya Ryan.
"Wanita penghibur mu mas," sindir Dinda dengan wajah dingin.
"Sayang.. Jangan berkata seperti itu lagi," pinta Ryan.
"Memang benar kan? Nah ini orangnya telepon lagi," jawab Dinda sambil menunjukkan hpnya.
"Angkatlah.." perintah Ryan membuat Dinda semakin kesal.
"For what? Kamu ingin bernostalgia mas atau mau booking dia?" sindir Dinda kesal.
"Dinda..." ucap Ryan geram.
"Angkatlah.." jawab Dinda menyerahkan ponselnya.
"Ok.. Akan aku loud speaker," jawab Ryan lalu mengangkat telepon.
"Halo?" ucap Ryan.
"Hai baby.. Long time no see, gak nyangka ya kita bertemu lagi ketika kamu sudah beristri apalagi istrimu adalah teman sekelas anakku," ucap mamah Fera dengan suara centil.
"Katakan langsung tujuanmu menelpon istriku," ucap Ryan ketus.
"Slow baby.. Mari kita nostalgia dulu," ucap mamah Fera menggoda.
"Ingat ya kita tidak pernah memiliki hubungan apapun dan tidak pernah sekali pun aku menerima perasaanmu, jadi jangan bersikap seolah kita pernah ada hubungan khusus.. Cepat katakan ada apa kamu menelpon istri saya atau aku blokir nomer mu," gertak Ryan.
"Aw.. Galak sekali sih.. Jangan begitu dong baby," jawab mamah Fera gemas. Tanpa di sadari olehnya ada suaminya yang mendengarkan obrolan istrinya..
"Bagus sekali.. Beraninya lo memiliki pria lain," ucap suaminya mengagetkan mamah Fera.
"Papah? Sejak kapan ada disini?" tanya mamah Fera kelabakan dan panggilannya belum di matikan sehingga Ryan dan istrinya bisa dengan jelas mendengar obrolan mereka.
"Sejak tadi ketika lo dengan murahannya merayu pria lain.. Mau cari gara-gara?" tanya suaminya geram.
"Bukan begitu pah.. Bukan.." ucap mamah Fera ketakutan.
"Katakan padaku siapa pria itu," tantang suaminya.
"A..aku gak tau siapa dia pah," jawab mamah Fera berbohong.
"Berani membohongi ku siap-siap saja hukuman menanti.. Ingat karena diriku sekarang kamu bisa menjadi wanita sungguhan, wanita utuh dan tidak perlu susah payah menjajakan tubuh" gertak suaminya.
"I..iya pah aku tau itu," jawab mamah Fera ciut.
"Berani sekali dia bermain api di belakangku, pokoknya aku harus mencari info siapa pria yang di telpon istriku itu," batin suaminya langsung berlalu pergi dan mamah Fera baru ingat kalau panggilannya masih berlangsung dan dia langsung mematikannya.
__ADS_1