RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Terkikis


__ADS_3

"Bulshit! Gampang banget bilang gitu kek gak ada beban!" umpat Dinda.


"Sekarang kamu kok jadi kasar gini?" tanya Ryan kaget.


"Why? Kaget??? Aku kasar karena mas duluan yang memulai, setidaknya per hari dimana mas Ryan ketahuan di butik sama wanita lain, detik itu juga aku bersikap keras mas!" jawab Dinda.


"Semua yang kamu tuduhkan gak ada buktinya sayang, aku ke butik cuma mengantarkan aja, gak lebih," bantah Ryan.


"Semoga saja itu benar, belum aku menyelesaikan wanita bernama Indah, sudah kamu tambahi dengan Frida!" sindir Dinda.


"Percayalah jika tak ada wanita lain selain kamu, aku berani bersumpah, kamu dan anak-anak prioritas ku," pinta Ryan bersimpuh di kaki Dinda.


"Gak gini juga mas!" protes Dinda menjauh.


"Apa sudah habis rasa percayamu kepadaku?" tanya Ryan memastikan.


"Menurutmu mas?" tanya balik Dinda.


"Menurutku, iya.. Kamu sudah mengikis rasa percaya terhadapku, asal kamu tau sayang, selama ini aku banting tulang untuk kalian agar bisa hidup enak, aku sampai mengambil job dadakan diluar kota seperti ini juga demi kalian, berapa banyak klien wanita yang sudah aku bantu masalahnya? Apakah diantara mereka semua ada yang berhubungan lebih dari sekedar lawyer dan klien? Ada gak? Hanya karena bu Frida terlihat lebih dekat langsung kamu berasumsi diantara kami ada hubungan khusus," jawab Ryan penuh penekanan. Jengah rasanya selalu dituduh tanpa bukti yang jelas apalagi semuanya hanya kebetulan saja. Memang benar waktu itu Ryan ada datang ke butik, tapi itu hanya mengantarkan tante Indah saja, selebihnya ia langsung pergi, sedangkan dengan Frida, baru kali ini ia merasa heran menghadapi klien seperti dia, seperti sudah putus urat malunya, Ryan juga tak menyangka jika Frida berani masuk ke kamarnya padahal mereka sudah sama-sama memiliki pasangan.


Mendengar penuturan dari hati ke hati membuat Dinda tak kuasa menahan air mata, rasa emosi yang sedari tadi meledak kini tiba-tiba meredam. Apakah ini yang dinamakan kekuatan cinta?


Suasana mendadak hening cukup lama, tak ada diantara keduanya yang lebih dulu berbicara, Dinda terlalu fokus meresapi apa yang akhir-akhir ini terjadi dan juga ia menilai sikapnya apakah terlalu berlebihan atau memang pantas begitu, namun berbanding terbalik dengan Ryan. Ia justru ingin membuat istrinya tetap percaya kepadanya, memang sampai saat ini tak ada wanita lain selain Dinda. Entah istrinya memiliki pemikiran berlebihan darimana hingga sikapnya bisa sampai sejauh ini, dari awal bertemu dengan Dinda dan akhirnya memutuskan untuk menjadikan pendamping hidup, baru kali ini Dinda bersikap tak seperti biasanya. Padahal dari dulu dia selalu percaya dengan Ryan, tak pernah sekalipun Dinda mempermasalahkan klien-klien suaminya.


"Masih ragu kah kamu padaku?" tanya Ryan.

__ADS_1


"Entahlah.. semua kejadian demi kejadian terjadi secara bersamaan, waktunya pun berdekatan, bagaimana bisa aku bersikap seolah semuanya baik-baik saja, lagipula aku melihatnya secara langsung, tak ada omongan dari sana sini," jawab Dinda meragukan.


"Tolong percayalah.. Aku tidak selingkuh atau bahkan memiliki wanita lain, percayalah.. Apa selama ini sikapku kepadamu juga anak-anak kurang? Apa selama ini aku selalu jahat ke kalian?" tanya Ryan.


"Jangan mengungkit jika semua sikapmu tidak ikhlas mas!" tegur Dinda kesal.


"Tidak.. Siapa yang bilang jika aku tidak ikhlas? Aku ikhlas, sungguh.. Jika hanya keburukan saja yang kamu ingat tentangku, bagaimana sikapku selama ini yang selalu membebaskan mu diluar sana, membebaskan mu bekerja, pergi ke acara temanmu bahkan terkadang kamu ke luar kota untuk healing, selama itu siapa yang handle anak-anak? Baby sitter? Gak kan.. Aku yang handle, aku.. Sedangkan ini, baru aja aku ambil job diluar kota tapi keraguanmu sungguh luar biasa, ingat Din.. Ucapan adalah doa, pikiran buruk jika terus menerus kamu pelihara malah akan membuatmu tak tenang sendiri, ingat..kamu seorang ibu, semua ucapan dan pikiranmu mudah dikabulkan oleh Tuhan" tegur Ryan.


Speechless.. Tentu saja, Dinda juga merasa ada yang aneh dengan dirinya, ia terlalu mencurigai suaminya hingga nekat datang kesini, memang wanita yang bernama Indah kedapatan datang ke butik bersama suaminya namun ketika disana pun tak ada suaminya menemani, jadi bisa saja kan jika Ryan hanya mengantar, kalau pun mengantar, kenapa harus masuk ke dalam rumah dulu dan durasinya sangat lama, siapa yang bisa berpikir dengan jernih?


Dan kejadian ini.. Baru saja Dinda masuk ke kamar hotel suaminya, tiba-tiba ada suara ketukan pintu dan masuklah wanita yang mengaku kliennya, drama apalagi coba yang harus Dinda hadapi???


Keadaan yang semakin canggung membuat Ryan malas berlama-lama didalam kamar, ia segera menarik dirinya untuk mencari angin sekaligus memesan hotel yang kosong, biarlah kamar ini dipakai istrinya.


"Cari angin, boring!" jawab Ryan dingin dan tanpa menatap Dinda.


"Cari angin apa cari bu Frida?" sindir Dinda.


"Terserah apa yang kamu katakan! Gak percaya yasudah! Capek aku memintamu untuk percaya!" jawab Ryan lalu bergegas keluar.


Ketika Ryan berjalan keluar, kebetulan sekali ada Frida yang berjalan menuju kamarnya, ia baru saja berbelanja camilan ke sebuah minimarket depan hotel.


"Pak Ryan.. Ngapain malam-malam keluar?" tanya Frida genit.


"Mau membeli sesuatu di minimarket depan, permisi," pamit Ryan yang malas menanggapi kliennya itu.

__ADS_1


"Beli sesuatu apa sih pak? Udah malam kok ngeluyur gitu, gak baik loh buat kesehatan," ucap Frida namun Ryan sama sekali tak menanggapi. Tak kehabisan ide, Frida dengan jahil mengikuti Ryan untuk memastikan apa benar lawyer nya membeli ke minimarket, karena instingnya berkata lain, ia merasa jika lawyer nya sedang ada masalah dengan istrinya.


"Loh.. Bu Frida kok ngikutin suami saya? Ada apa?" tanya Dinda yang mendadak mensejajarkan langkah.


"Loh.. Kamu.. Kapan kamu ada disebelah saya?" tanya Frida kaget.


"Sejak tadi, jangan keasyikan melihat suami orang bu, perhatikan juga suami anda!" sindir Dinda.


"Eh jaga ucapan anda ya bu! Siapa yang bilang kalau saya ngeliatin suamimu," bantah Frida.


"Saya tau sejak tadi anda membuntuti suami saya, kalau gak ada niat mata-mata ya tinggal jalan bersebelahan dong," sindir Dinda.


"Kalau saya jalan berduaan dengan suamimu nanti situ cemburu!" cibir Frida.


Mendengar ada sedikit perdebatan dibelakangnya membuat Ryan menoleh untuk memastikan, alangkah kagetnya Ryan ketika tau siapa saja yang daritadi membuntuti nya.


"Sayang.. Bu Frida, kalian berdua lagi ngapain?" tanya Ryan hanya memastikan.


"Ini mas.. Klien mu daritadi buntuti kamu terus loh makanya aku tanyain eh dia gak ngaku," jawab Dinda.


"Bukannya anda bilang mau ke minimarket depan? Kok jalan kearah resepsionis?" tanya Frida kepo.


"Oh.. Suami saya mau tanya sama resepsionis ada gak ruangan yang lebih besar? Soalnya kasur segitu buat berdua terlalu sempit bagi kami, maklumlah malam ini kan kami mau melepas rindu," jawab Dinda memancing emosi Frida, benar saja raut tak suka tergambar jelas di wajah Frida.


"Cih.. Sok paling asik kalau di ranjang!" ejek Frida lalu bergegas pergi.

__ADS_1


__ADS_2