
"Adain reuni yuk Din, lo ada kontak teman sekolah kita dulu gak?" ajak Aldo.
"Ada sih malahan ada grupnya dan pernah sekali adain reuni," ucap Dinda membuat Aldo iri.
"Ih gak ajak-ajak.. Boleh dong gue ikut gabung ke grup," pinta Aldo.
"Boleh saja.." jawab Dinda.
"Mana nomormu? Sini aku save setelah itu masukkan gue ke grup," tanya Aldo lalu tanpa banyak pikir Dinda memberikan nomer ponselnya pada Aldo dan seketika itu juga Aldo sudah masuk grup setelah Dinda memberitahu adminnya.
"Dah masuk kan," tanya Dinda memastikan.
"Udah.. Thanks Din," jawab Aldo senang.
"Sama-sama.. Oh ya kebetulan gue mau balik kerja lagi nih, lagi numpuk kerjaannya," pamit Dinda.
"Yahh cepat banget sih," ucap Aldo kecewa.
"Mau gimana lagi gue juga harus kerja Aldo," jawab Dinda sungkan.
"Yasudah.. Next time kalau mau kesini hubungi gue ya ntar gue siapin tempat khusus," ucap Aldo yang di jawab anggukan oleh Dinda.
"Oke deh siap.. Ntar gue ajak seluruh karyawan gue juga ah," goda Dinda.
"Bangkrut dong Din," rengek Aldo.
"Just kidding, yasudah gue pergi dulu ya thanks loh gratisannya," pamit Dinda lalu bergegas kembali ke kantor.
"Ya meskipun pertemuan ini singkat tapi setidaknya gue tau nomor hpnya jadi kapanpun gue bisa hubungi dia.. Senyummu kenapa masih sama saja seperti dulu, gini kan jadi rindu.." batin Aldo memandang foto profil Dinda.
Setelah pertemuan tak sengaja dengan Dinda waktu itu membuat Aldo selalu memikirkannya hingga terngiang di ingatannya ketika mereka berdua bercengkrama riang. Setelah pertemuan itu hari-hari Aldo lewati dengan bahagia dan membuatnya semakin semangat bekerja.
***
Sudah seminggu semenjak pertemuan itu namun hingga detik ini tak pernah sekalipun Aldo memulai komunikasi dengan Dinda, ia terlalu pengecut bahkan gerogi padahal hanya chat biasa, namun berkat tekatnya yang bulat membuat Aldo mantap mengirim pesan pada Dinda, jujur saja setiap hari Aldo merasa rindu pada Dinda dan selalu menanti kedatangannya.
Tingg.. Suara pesan masuk di ponsel Dinda.
__ADS_1
"Hai Dinda Safitri, tau kan ini siapa?" isi chat Aldo.
"Hai juga, hmm siapa ya? Gak tau gue," goda Dinda diiringi emoticon ketawa terbahak.
"Astaga jahatnya dikau," balas Aldo menggunakan emoticon menangis.
"Haha.. Yaya Aldo, ada apa?" balas Dinda.
"Nah gitu dong, jangan sombong banget ah jadi orang," goda Aldo.
"Idih.. Kalau gue sombong udah pasti gak akan balas chat mu," balas Dinda.
"Hehe iya iya.. Oh ya btw lo sibuk gak?" tanya Aldo memastikan.
"Gak begitu, why?" tanya Dinda penasaran.
"Dateng dong ke kafe gue pas jam makan siang," pinta Aldo.
"Gratis gak nih?" goda Dinda.
"Gratis deh.." jawab Aldo.
"Sure.. Ntar ya kesini pas jam makan siang, gue reservasi ruangan dulu," pinta Aldo.
"Gue ajak karyawan gue ya cuma satu orang," ucap Dinda.
"Hmm baiklah no problem," jawab Aldo. Baginya yang terpenting adalah bisa bertemu dengan Dinda kembali.. Rasa rindu yang dipendam akhirnya nanti akan berbuah manis.
"Ok.. See you soon," ucap Dinda sembari memberi emoticon jempol.
"Ok see u," balas Aldo bahagia hingga melompat-lompat karena saking bahagianya.
"Yes yes yes Dinda bakal kesini lagi, yee.." sorak bahagia Aldo. Untung saja ruangannya kedap suara jadinya Aldo bisa leluasa mengutarakan isi hatinya.
Menunggu hingga jam istirahat sungguh lama bagi Aldo namun dirinya harus sabar karena Dinda di sana juga sedang bekerja.. Akhirnya yang ditunggu pun tiba, sesuai omongannya tadi, Dinda datang bersama Fio.
"Hai Dinda.. Akhirnya datang juga," sapa Aldo yang langsung membukakan pintu.
__ADS_1
"Eh.. Sampai kaget gue, keliatan seneng banget lu.. Pasti karena gue bawa dia ya," goda Dinda melirik Aldo lalu Fio bergantian.
"Apaan sih bu," ucap Fio tersipu malu.
"Udah deh Din jangan mulai rusuh, dah yuk masuk," protes Aldo lalu Dinda hanya tertawa dan berjalan masuk.
"Mau pesan apa?" tanya Aldo.
"Lo tanya siapa nih? Gue apa Fio, oh iya kenalin dia namanya Fio.. Dan Fio kenalin ini teman sekolah saya dulu namanya Aldo Maheswara, cakep kan namanya?" ucap Dinda membuat keduanya saling tersipu malu, sebagai bentuk menghormati Dinda akhirnya Aldo mengulurkan tangan pada Fio, bak gayung disambut.. Fio pun menerima uluran tangan Aldo dan terjadilah saling bersalaman.
"Ehem.. Jangan-jangan nanti kalian cinlok nih," goda Dinda lalu keduanya saling melepaskan tangan.
"Din.." pekik Aldo kesal dan Fio diam tertunduk malu.
"Jadian juga gak papa, lo masih singel kan?" tanya Dinda memastikan.
"Masih kok, tapi kan gue maunya.." jawab Aldo hampir saja keceplosan.
"Maunya apa? Ha? Langsung tukar nomor? Gercep banget lu," goda Dinda.
"Maunya gue itu sama lo Dinda.. Kenapa gak peka sih. Dari dulu anggapan nya selalu saja bercanda," batin Aldo sedih.
"Din udah deh buruan mau pesan apa, Fio juga mau pesan apa?" tanya Aldo mengalihkan obrolan lalu akhirnya Dinda dan Fio memesan makanan yang berbeda, Dinda memesan beef steak sedangkan Fio memesan chicken steak.
"Kalau lo tiap kesini pesannya beef steak terus bisa bangkrut gue Din," protes Aldo.
"Yah kapan lagi dapat rezeki nomplok, lagian lo sendiri yang suruh kesini kan?" jawab Dinda sembari tertawa.
"Astaga ada ya temen kayak lo, lihat tuh Fio.. Bos mu diluar jam kerja ya aslinya begini, rusuh," ucap Aldo membeberkan sifat Dinda dan Fio hanya tersenyum manis saja.
"Dia karyawan gue mana berani berkomentar buruk, bisa gue potong gajinya," ucap Dinda dan Fio mengiba.
"Eh jangan dong bu," rengek Fio yang di jawab ketawa oleh Dinda.
"Bercanda Fio.." jawab Dinda dan Fio bernafas lega.
Setelah makanan datang kini mereka menikmatinya dengan sangat nikmat, Dinda tidak sadar jika sedari tadi Aldo mencuri pandang.. Fio yang merasa ada sesuatu maksud terselubung Aldo merasa harus memberitahu ini pada bosnya lebih awal.
__ADS_1
"Kenapa gue merasa jika Aldo ada rasa ya sama bu Dinda? Kalau iya pokoknya gue harus kasih tau dari awal.. Jangan sampai bu Dinda nanti terjebak olehnya, memang sih dia humble namun takut aja kalau lama-lama bu Dinda nyaman.. Bagaimana nanti nasib keluarganya atau jangan-jangan Aldo belum tau jika bu Dinda sudah berkeluarga?" batin Fio penuh perdebatan.
"Sial... Padahal gue kan maunya berduaan sama Dinda kenapa malah dia beneran ajak karyawannya sih, menganggu saja.. Gue udah nunggu momen ini lama banget woiii, semua rusak karena Fio, mana Dinda mau jodohin gue sama dia lagi, kapan lo sadar sih Din kalau gue tuh ada rasa sama lo sejak dulu ketika kita satu bangku," batin Aldo sebal karena momen yang seharusnya PDKT menjadi makan siang biasa.