
"Vika?? Kok namanya persis nama calon istriku? Apa jangan-jangan Vika yang sama? Eh tunggu dulu, ini kan kamarnya mantan Vika, astaga kenapa gue baru nyadar sih!! Fixs.. Vika ada didalam sana dan terlibat masalah ini," gumam Dito yang tiba-tiba masuk membuat semuanya tertuju pada Dito.
"Vik.. Vika? Jadi Vika yang tadi disebut-sebut itu kamu? Calon istriku?" tanya Dito tak percaya dan ia semakin syok melihat Vika hanya berbalut selimut.
"Dit..Dito," ucap Vika dengan suara serak, sedari tadi Vika hanya bisa menangis dan menangis, kini penderitaannya makin lengkap karena calon suaminya tau semua ini. "Lengkap sudah," batin Vika sedih.
"Kamu tega, Vik! Sebentar lagi kita mau menikah, kenapa kamu menyerahkan yang bukan seharusnya kepada mantan pacarmu? Apa ini yang disebut jatah mantan?" pekik Dito emosi, ia tak sanggup melihat pemandangan yang membuat hatinya sakit.
"Maaf.. Maafkan aku, sungguh aku pun juga tak mau semua ini terjadi," pinta Vika berlinang air mata.
"Gak mau karena sudah ketahuan! Coba kalau belum ketahuan, pasti bakal lanjut terus! Kamu jahat, Vik!" pekik Dito.
"Tolong maafkan aku," rengek Vika memegang tangan Dito namun langsung ditepis.
"Don't touch me! Aku gak tau bisa memaafkan mu atau tidak!" pekik Dito berlalu meninggalkan mereka semua,
Akhirnya Vika juga Ryan dibawa ke kantor untuk menyelesaikan masalah, mau gak mau Dito harus ikut menyaksikan semua ini karena ia kekasih dari Vika.
"Setelah semua terjadi dan semuanya terungkap, apa yang ingin anda lakukan pak Ryan?" tanya sekuriti.
"Saya sebelumnya sudah mengatakan ini pada Vika namun dia selalu saja menolak," jawab Ryan.
"Apa yang anda inginkan?" tanya sekuriti.
"Tolong jangan katakan itu, kondisi akan semakin rumit," rengek Vika mengiba.
"Katakan saja semuanya disini, jangan lagi ada yang disembunyikan! Kalian ini sudah tertangkap basah harusnya malu!" umpat Dinda.
"Saya akan menikahinya pak!" ucap Ryan tegas.
__ADS_1
"A..APA??" pekik Dinda syok, begitu juga dengan Dito, mereka berdua orang yang tersakiti kini semakin sakit dengan ucapan Ryan.
"Jika memang begitu adanya, maka segera lakukan, memang seharusnya begitu pak, kalian sudah melakukan hubungan suami istri, jadi memang alangkah baiknya menikah untuk menghindari hal yang tak diinginkan," jawab satpam setuju lalu dibuatkan surat pernyataan yang bertanda tangan materai.
Setelah mereka semua menandatangani surat pernyataan, sekuriti meminta mereka segera mengemasi barang dan cek out. Memang ini jadwal Vika harus check out karena besok sudah mulai bekerja, daritadi Vika celingukan mencari dimana Dito berada, kenapa setelah menandatangi surat pernyataan tak terlihat lagi batang hidungnya?
"Bagus kamu mas! Bisa-bisanya berbicara seenak jidatmu!!!" protes Dinda kesal.
"Aku sudah merusaknya jadi gak mungkin aku melepaskan dia begitu saja," jawab Ryan lirih.
"Tapi dia hampir menikah mas! Kamu bukan hanya merusak! Tapi sudah menghancurkan semuanya!" pekik Dinda.
"Aku tetap akan bertanggung jawab," kekeh Ryan.
"Kamu gak memikirkan perasaanku juga anak-anak mas?" pekik Dinda mempertanyakan.
"Memikirkan, tapi Vika juga layak untuk dipikirkan," ucap Ryan.
"Aku gak ada bermaksud menyakiti siapapun, aku hanya mempertanggung jawabkan apa yang sudah aku lakukan, aku gak mau dikira pengecut," jawab Ryan.
"Tinggalkan pria seperti dia, jangan sia-siakan sisa hidupmu untuk merasakan sakit akibat keegoisannya," tegur Rio.
"Mantan suami sepertinya sedang cari muka," sindir Ryan.
"Lebih baik cari muka ketimbang melukai hati," sindir balik Rio.
"Seperti situ gak pernah menyakiti Dinda saja, miror please!" sindir Ryan.
"Aku sudah berubah dan aku menyesal telah meninggalkannya," jawab Rio.
__ADS_1
"Lebih baik pergi dari sini daripada terus menghadapi manusia seperti dia, ayo mas, kasihan anak-anak menungguku," ajak Dinda yang lelah menghadapi suaminya.
***
Hingga akhirnya sepekan kemudian Ryan pulang ke rumah, urusan disana sudah selesai dan semenjak skandal itu terungkap, Vika sulit sekali dihubungi, Vika sengaja menghilang dan meninggalkan Ryan. Apa Vika lebih memilih calon suaminya? batin Ryan merasa sangat kesal, dia sudah membelanya mati-matian bahkan dengan tega mengatakan pada Dinda jika ingin menikahi Vika, tapi balasannya?
Selama di rumah, baik Dinda maupun Ryan seperti orang tak kenal, mereka terlihat saling berbincang jika di hadapan anak-anaknya saja.
"Din.." sapa Ryan ketika mereka berdua di kamar.
"Hmm.." jawab Dinda ketus.
"Apa kamu masih marah?" tanya Ryan.
"Menurutmu?" jawab Dinda ketus.
"Aku minta maaf, aku merasa aku salah, maafkan aku, tak seharusnya aku mengatakan itu," rengek Ryan.
"Kenapa baru sekarang menyadari? Karena Vika tak lagi menghubungimu ya?" sindir Dinda seolah tau apa yang ada di pikiran suaminya.
"Bukan.. Ini murni rasa bersalah ku, aku menyesal sudah mengatakan itu semua padamu, aku juga memikirkan bagaimana anak-anak ke depannya jika kita saling meninggikan ego," sanggah Ryan.
"Kamu memikirkan anak-anak? Kemarin kemana mas? Dari kemarin yang kamu pikirkan siapa? Orang yang memenuhi hati dan pikiranmu siapa? Vika?? Iya mas? Kamu baru loh izin padaku ketika mau berangkat luar kota, kamu bilang di sana memang bekerja, tak ada hal aneh bahkan ketika aku samperin kamu kesana, kamu bilang jika semua kerja kerasmu untuk kami, kamu sampai rela mengambil job diluar kota demi membahagiakan kami, jadi ini namanya membahagiakan? Dengan membuat skandal sama mantan pacar kamu, begitu? Kamu mas yang berbahagia, kamu yang merasa puas, tapi kami? Apa kamu gak mikir bagaimana pusingnya aku setiap anak-anak menanyakan kemana kamu, kenapa pergi selama itu, apa saja pekerjaanmu disana sampai gak pulang-pulang, apa aku harus menjawab yang sejujurnya? Aku harus menjawab jika papahnya sedang bersenang-senang dengan wanita lain, itu yang kamu mau?? Oh apa perlu aku mengatakan pada anak-anak jika papahnya mau menikah lagi, jadi nanti anak-anak punya dua mamah, sepertinya harus ya bilang begitu?" sindir Dinda dengan suara penuh penekanan. Sudah habis air mata untuk Ryan, sakit yang diberikan sangat bertubi-tubi sehingga air matanya enggan keluar lagi. Entah jika nantinya Ryan bener menikahi Vika apakah ia akan merasakan sakit atau justru hatinya sudah mati rasa.
"Maaf jika aku sudah terlalu menorehkan luka di hatimu, maaf aku sangat menyesal, tolong maafkan aku," rengek Ryan.
"Tak segampang itu," jawab Dinda tanpa menoleh sedikitpun.
"Apa yang harus aku lakukan biar kamu memaafkan aku?" tanya Ryan.
__ADS_1
"Jangan tanya padaku, tanya pada Tuhan-mu, pantaskah kelakuan kamu dimaafkan? Kemarin bicaramu seolah tanpa dosa, kenapa sekarang ini seperti orang paling tersakiti," sindir Dinda.
"Apa aku gak pantas mendapatkan maaf mu?" tanya Ryan sedih, ia merasa sangat menyesal sudah berkata seperti itu sehingga sekarang Dinda tersakiti.