
Keesokan harinya Dinda bertemu dengan bu guru.
"Selamat pagi bu," sapa Dinda ramah.
"Selamat pagi bu.. Ada yang bisa saya bantu?" tanya bu guru.
"Ada bu makanya itu saya kesini," jawab Dinda.
"Begitu.. Apa itu bu?" tanya bu guru.
"Tadi malam kedua anak saya bercerita tentang kegiatannya di sekolah dan kenapa tadi malam kedua anak saya bercerita dengan muka sedih bahkan sampai nangis, setelah saya desak akhirnya mereka mengaku bahwa beberapa waktu lalu ada kejadian di sekolahan ya bu?" tanya Dinda membuat bu guru bingung.
"Kejadian apa bu?" tanya bu guru tak paham.
"Apakah anda masih ingat kalau anak saya Vanessa selalu dijahili oleh temannya yang bernama Fera?" tanya Dinda memastikan.
"Oh iya bu saya tau dan saya sudah menegur Fera secara langsung," jawab bu guru.
"Begitu.. Lalu setelah itu apakah anda mengatakan perbuatan Fera pada orang tuanya?" tanya Dinda.
"Tidak bu karena saya pikir itu hal lumrah bagi anak-anak," jawab bu guru dengan entengnya.
"Hal lumrah? Haha.." jawab Dinda tertawa.
"Iya kan bu, Anak-anak di usia segitu memang sering bertikai jadi ya wajar," jawab bu guru membenarkan argumennya.
"Kalau tentang Vanessa hampir di cubit mamahnya Fera, apakah anda tau?" tanya Dinda.
"Oh itu saya tidak tau, mengapa Vanessa sampai mau dicubit mamahnya Fera?" tanya bu guru berbohong.
"Tidak tau? Padahal anak saya Farel mengatakan bahwa bu guru mengetahuinya dan respon anda malah menyuruh kedua anak saya duduk di ayunan sambil menunggu saya jemput," sindir Dinda.
"Jujur saja bu langsung saja apa tujuan ibu bertemu dengan saya?" tanya bu guru kesal.
"Ya saya ingin komplain bu, bisa-bisanya anak saya selalu di ganggu temannya tetapi anda sebagai guru menganggap itu hal wajar, belum lagi tentang Vanessa yang hampir di cubit, itu anak saya mengadu loh sama mamahnya tapi malah anak saya yang di salahkan dan anda sebagai guru juga membiarkan, ini sekolahan loh bu.. Tempat anak-anak menuntut ilmu bukan tempat adu tinju, kalau dari pihak sekolahan tidak bisa mengambil tindakan tegas lebih baik kedua anak saya keluar dari sekolah ini dan pastinya akan saya viral kan," gertak Dinda membuat gurunya ketakutan.
__ADS_1
"Jangan bu saya mohon jangan viral kan kasus ini, bagaimana nanti reputasi saya dan juga sekolahan? Saya tulang punggung keluarga bu," pinta bu guru memohon.
"Anda menyuruh saya memikirkan bagaimana nasib anda juga sekolahan namun anda tidak pernah sekalipun memikirkan bagaimana psikis anak saya, apakah anda memikirkan itu?" sindir Dinda dan bu guru hanya diam.
"Saya tidak mau terlibat masalah dengan siapapun bu makanya saya membiarkan semua ini agar saya tetap bekerja, saya sangat butuh pekerjaan ini," pinta bu guru.
"Tapi sayangnya saya tidak peduli akan hal itu karena anda sendiri pun berbuat demikian, sekarang pertemukan saya dengan kepala sekolah dan juga mamahnya Fera," tantang Dinda.
"Kenapa harus sampai memanggil kepala sekolah bu?" tanya bu guru gugup.
"Beliau yang berhak memutuskan apapun yang berada di lingkup sekolah dan beliau juga harus tau apa yang sebenarnya terjadi di bawah naungannya," jawab Dinda.
"Tapi bu.." ucap bu guru ragu.
"Kalau anda tidak berkenan biarkan saya sendiri yang menemuinya," tantang Dinda lalu bu guru mengalah dan memanggil kepala sekolah dan juga mamah Fera.
"Ada apa ini?" tanya mamah Fera arogan.
"Kita tunggu kepala sekolah dulu," jawab Dinda dengan tenang.
"Maybe yes maybe no," jawab Dinda enteng.
"Selamat pagi semuanya.. Maaf baru bisa kemari tadi ada telepon dari dinas," sapa kepala sekolah lalu menyalami orang tua murid.
"Selamat pagi bu," jawab Dinda ramah.
"Pagi bu," jawab mamah Fera.
"Ada masalah apa?" tanya kepala sekolah.
"Begini bu.. Beberapa hari lalu anak saya mengalami perilaku tidak menyenangkan bahkan bisa di bilang seperti hari, karena setiap di kelas anak saya di ganggu oleh murid yang bernama Fera.. Kalau anak saya tidak menyahut panggilannya biasanya anak saya terkena kejadian yang tidak mengenakan, tidak hanya itu saja ketika anak saya mengadu pada mamahnya yang ada malah anak saya hampir kena cubit, ibu guru juga tau kejadian ini dan menganggap itu hal lumrah, bagaimana bisa yang notabene seorang guru malah mencontohkan hal yang buruk pada muridnya, tidak hanya itu saja.. Bu guru tidak terima kalau nantinya saya mem viral kan kasus ini," ucap Dinda membuat kepala sekolah terkejut.
"Apa benar yang dikatakan itu bu? tanya kepala sekolah pada bu guru.
"Be.. Benar bu," jawab bu guru tertunduk malu.
__ADS_1
"Halah masalah begini saja sampai bawa-bawa kepala sekolah, udahlah namanya juga anak-anak ya pasti ada saatnya untuk bertengkar, apa anda baru saja ya menjadi orang tua?" tanya mamah Fera.
"Jika bagi anda hal lumrah namun bagi saya itu lain bu," jawab Dinda berusaha tenang.
"Hal lain bagaimana bu?" tanya mamah Fera.
"Saya tidak pernah mencubit bahkan memukul anak saya, setiap mereka berbuat salah selalu saya tegur.. Lah anda? Anda adalah orang tua murid dari teman anak saya namun kenapa anda malah menyalahkan anak saya?" tanya Dinda.
"Ya memang anak anda salah kok kata anak saya kalau anakmu itu yang mulai duluan," jawab mamah Fera membela diri.
"Kalau memang anak saya yang mulai duluan harusnya yang ditegur anak saya bukan anak anda, jangan terus menerus membenarkan ulah anak anda," tegur Dinda.
"Halah gitu aja di perpanjang, ini mah masalah kecil," ucap mamah Fera menganggap remeh.
"Jika kejadiannya ada di anak anda apakah anda akan menganggap ini hal yang receh?" sindir Dinda tak menyangka.
"Ya tergantung bagaimana dia mem-bully anak saya kalau kelewatan ya saya kasus kan," ucap mamah Fera.
"Oh begitu.. Itu pikiran anda ya bu jadi jangan salahkan saya jika mengabulkan perkataan ibu barusan beserta sekolah ini juga," ancam Dinda membuat semuanya kaget.
"Jangan main-main bu saya punya pengacara hebat loh, saya yakin anda tidak akan menang," ucap mamah Fera angkuh.
"Kita lihat saja nanti bu.. Untuk pihak sekolah terkhusus nya anda yang notabene sebagai guru, bersiaplah.. Kalian sudah main-main dengan saya dan daritadi saya selalu mengatakan yang baik-baik namun sayangnya respon yang saya dapat justru mengecewakan, mari kita kecewa bersama," tantang Dinda tersenyum smirk.
"Saya pastikan anda menyesal sudah bermain dengan saya.. Dan saya yakin pengacara saya akan semaksimal mungkin memenangkan ini, anda tau pak Ryan Hadiningrat kan? Dia pengacara andalan saya," jawab mamah Fera angkuh.
"Dan saya yang nantinya akan lebih memastikan anda bahwa anda akan menarik ucapan itu, disaat itu tiba janganlah malu," sindir Dinda.
"Bu mohon tenang semua ini bisa di selesaikan secara kekeluargaan.. Jangan langsung membawa masalah ini ke pihak polisian," pinta kepala sekolah.
"Anda saja tidak bisa bertindak tegas dan lebih memilih pihak yang salah jadi ya jangan salahkan saya juga melakukan tindakan yang menurut saya benar," ucap Dinda tak gentar.
"Bu mohon tarik kata-kata ibu barusan, musuh ibu orang yang berpengaruh dan dia memiliki pengacara yang hebat bu," bisik bu guru.
"Sayangnya saya tidak takut bahkan tak akan gentar sedikitpun, kita lihat kejutan nantinya.. Mau anda memiliki pengacara sehebat apapun kalau anda salah ya terima saja kesalahannya," ucap Dinda sangat yakin dan berlalu pergi.
__ADS_1
Hasil mediasi hari ini Dinda anggap gagal dan sebentar lagi dia akan memberikan kejutan kepada mamah Fera bahwa Ryan Hadiningrat, pengacara yang sangat dia agungkan adalah suami Dinda Safitri.