RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Kembar diculik (2)


__ADS_3

Dinda tiba di sekolahan dan ia terkejut karena kedua anaknya sudah tidak ada di sekolahan bahkan kondisi sekolahan kini sudah sepi.


"Vanessa.. Ryan.. Kalian dimana?" pekik Dinda mencari ke sekeliling sekolahan namun tak ada jawaban.


"Maaf Bu cari siapa?" tanya satpam sekolah.


"Cari anakku pak kenapa dia tidak ada di sini?" tanya Dinda cemas.


"Loh bukannya tadi sudah di jemput ya bu?" tanya satpam terkejut.


"Siapa yang menjemput pak?" tanya Dinda tak kalah terkejutnya.


"Saya pikir tadi di jemput papahnya bu jadi ya saya biarkan saja," ucap pak satpam.


"Suamiku?" gumam Dinda lirih dan menelpon Ryan untuk memastikan.


"Halo sayang?" sapa Ryan.


"Mas apa tadi kamu jemput anak-anak?" tanya Dinda cemas.


"Enggak tuh biasanya kan kamu," jawab Ryan heran.


"Loh? Serius mas.. Jangan bercanda dong," pinta Dinda menangis histeris.


"Beneran sayang.. Kalau aku jemput pastinya udah kabari kamu sedangkan ini saja aku masih di kantor, ada apa sayang? Semuanya baik-baik saja kan?" tanya Ryan panik.


"Berarti Farel dan Vanessa diculik mas.. Huhuhu.. Farel... Vanessa... Kalian dimana nak...." pekik Dinda menangis histeris lalu jatuh ke lantai sekolahan karena saking lemas nya mengetahui kedua anaknya di culik.


"APA? YANG BENAR SAJA KAMU SAYANG.. INI GAK LUCU LOH... TUNGGU AKU DI SANA," Pekik Ryan sangat syok dan bergegas menghampiri istrinya di sekolahan.


"Bu.. Ada apa ini bu?" tanya satpam juga panik.


"BAPAK INI GIMANA? BISA-BISANYA GAK TAU KALAU ANAK SAYA DI CULIK.. KERJA ANDA ITU APA, HAH?!!" pekik Dinda emosi.


"Ha? Diculik? Setau saya tadi papahnya bu yang jemput.." ucap satpam tak percaya.

__ADS_1


"SAYA BARUSAN TELEPON SUAMI SAYA DAN DIA TIDAK MENJEMPUT MEREKA, KALAU BUKAN AKU MAUPUN SUAMIKU LANTAS SIAPA? SUDAH PASTI ANAKKU DI CULIK.. AKAN AKU TUNTUT SEKOLAHAN INI, MAKIN LAMA MAKIN BANYAK BOBROKNYA," ancam Dinda sangat marah dan berlinang air mata.


"Maafkan kami bu tapi sungguh tadi anak ibu seperti di jemput papahnya, kalau orang lain yang jemput gak mungkin dong mereka nurut bahkan mereka tadi di gendong kok bu," ucap satpam semakin membuat Dinda emosi.


"APA BAPAK TAU POSISINYA ANAK SAYA SADAR ATAU PINGSAN.. MEREKA MEMBOPONG ANAK SAYA BISA SAJA BARUSAN DI KASIH OBAT BIUS, MIKIR SAMPAI SAJA DONG.."pekik Dinda terus menyalahkan satpam sekolahan.


Ryan tiba di sekolahan dan langsung menghampiri istrinya.


"Gimana sayang apakah ada petunjuk?" tanya Ryan dengan panik.


"Gak ada mas.. Petunjuk dari pak satpam membuatku makin murka," jawab Dinda kesal.


"Maaf Pak.. Apa yang bapak katakan pada istri saya sehingga dia bisa semarah ini?" tanya Ryan penasaran.


"Sebelumnya saya minta maaf yang sebesar-besarnya pak.. Saya beneran tidak tau kalau anak anda di culik, saya pikir anak anda di jemput oleh papahnya soalnya tadi mereka di gendong dan diam saja jadi yasudah saya tidak curiga pak.. Tetapi barusan istri anda mengklarifikasi bahwa anda tidak menjemput mereka bahkan istri anda mengatakan jika kemungkinan anak anda di culik dan dibius," ucap satpam membuat Ryan murka.


"Kenapa anda tidak bisa lebih memperhatikan mana siswa yang di jemput keluarganya dan mana yang bukan? Benar kata istri saya kalau bisa saja anak saya di culik secara anda tadi, mengatakan bahwa anak saya di gendong.. Kalau mereka tidak membius terlebih dahulu sudah pasti kedua anak saya meronta," tegur Ryan.


"Maafkan saya pak.. sungguh saya tidak tau," ucap satpam sekolah merasa bersalah.


"Baik Pak mari ikut saya," ajak satpam menunjukkan letak CCTV sekolahan.


"Ini pak ruangannya.. Saya membebaskan anda untuk mengakses CCTV bahkan kalau perlu di, dokumentasikan juga di perbolehkan," ucap satpam menyalakan monitor CCTV.


"Harus diizinkan lah kan ini semua kesalahan pihak sekolahan, mau saya tuntut sekolahan ini? Ingat ya sekolahan ini sudah dua kali menyalahi keluarga saya," ucap Ryan ketus dan satpam hanya diam saja.


Lalu Ryan mengakses CCTV dan di sana terlihat jelas anaknya sebelum di gendong terlebih dahulu di bius. Ryan tak luput mendokumentasikan momen itu sebagai bukti.


"Lihat pak.. Lihat nih.. Anak saya dibius kan makanya dia mau di gendong," pekik Dinda kesal.


"Maafkan saya bu yang lalai menjaga anak ibu di area sekolah," ucap satpam menyesal.


"Mas ini gimana? Anakku gimana mas? Dia ada dimana? Sedang apa? Aku takut penculiknya menyakiti anakku mas," tanya Dinda khawatir.


"Tenang dulu sayang.. Jangan panik ya, biar aku coba handel semua ini," ucap Ryan menenangkan istrinya yang cemas sekali.

__ADS_1


"Iya mas.." jawab Dinda pasrah.


"DAN UNTUK BAPAK.. INI GAK BISA DI BIARIN YA, POKOKNYA SEKOLAHAN HARUS BERTANGGUNG JAWAB ATAS HILANGNYA ANAK-ANAKKU," pekik Dinda tersulut emosi.


"Bu.. Saya sungguh minta maaf.. Saya akui kalau saya telah lalai," ucap satpam menyesal.


"BUKAN HANYA LALAI TAPI JUGA ABAI.. GAK ANDA GAK GURUNYA SEMUANYA CUEK TERHADAP ANAK SAYA.. APA SALAH ANAK SAYA PADA KALIAN, HA???!!!" pekik Dinda.


"Sayang udah ah.. Kita fokus mencari anak kita dulu," ucap Ryan tak mau memperpanjang masalah.


"Tapi mereka gak bisa di biarin mas.. Bisa-bisanya bapak ini bilang kalau anak-anak di jemput papahnya bahkan diam saja di gendong jadi bapak ini langsung masuk lagi ke sekolah tanpa melihat dengan pasti bagaimana anak-anak di bius.. Ini termasuk tindakan membahayakan mas, setelah anak-anak ketemu lebih baik keluar saja dari sekolah ini," ucap Dinda sangat geram.


"Itu bisa di pikir nanti lebih baik sekarang kita pulang ke rumah sembari kamu menenangkan diri.. Biar aku cari keberadaan anak-anak," ucap Ryan mencoba menenangkan lalu mereka pulang ke rumah.


Di perjalanan ada nomor tidak dikenal yang menelpon Ryan, awalnya Ryan mengabaikannya sampai akhirnya nomor itu terus menerus menelpon bahkan berganti video call.


"Siapa sih mas?" tanya Dinda penasaran.


"Gak tau sayang soalnya nomor baru," ucap Ryan bingung.


"Angkat saja siapa tau penting," ucap Dinda lalu Ryan menerima panggilan dan mereka berdua terkejut ketika melihat kedua anaknya sedang di ikat dengan mulut di tutup lakban.


"ASTAGA.. VANESSA FAREL," pekik Dinda histeris.


"Hai bapak Ryan Hadiningrat terhormat, lihatlah siapa yang di ikat ini? Pasti anda mengenalnya dong haha," ucap pria dengan suara bass membuat keduanya bingung.


Ryan memilih memberhentikan mobilnya di pinggir jalan dan meladeni panggilan misterius itu.


"SIAPA ANDA DAN KENAPA MENCULIK ANAK SAYA, APA SALAH MEREKA?" pekik Ryan emosi.


"Haha santai bapak Ryan yang terhormat.. Memang anak anda tidak ada salah apapun pada saya justru yang bersalah adalah ANDA," ucap pria dengan ketawa menggelegar.


"APA SALAH SAYA? KATAKAN SEKARANG DAN SEGERA LEPASKAN KEDUA ANAK SAYA," pekik Ryan emosi.


"Salah anda adalah berani berhubungan dengan istri orang.. Kalian sudah berani bermain api di belakang saya jadi ya ini balasannya, balasan rasa kesal saya," ucap pria itu membuat Dinda murka namun Ryan tampal bingung.

__ADS_1


"SEJAK KAPAN SAYA MEMILIKI HUBUNGAN DENGAN ISTRI ORANG.. SAYA SAJA SUDAH ADA ISTRI YANG SANGAT SAYA CINTAI, LAGIAN SIAPA NAMA ISTRI ANDA DAN JUGA SIAPA ANDA.. MARI KITA SELESAIKAN SEMUA KESALAHPAHAMAN INI," pekik Ryan.


__ADS_2