RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Menemui Frida dan Ryan


__ADS_3

Penerbangan hari ini terasa cukup membosankan dan terkesan lama bagi Dinda, rasanya ingin sekali ia memiliki jurus sayap terbang sehingga bisa sampai ke tempatnya Ryan dalam sekejap mata. Apalagi sempat terjadi penundaan selama 15 menit karena ada masalah dengan salah satu mesin di pesawatnya semakin membuat Dinda kesal.


Tiba di kota tujuan, Dinda lekas menghubungi Fitri untuk menanyakan dimana kamar suaminya, ia tak mau datang kesana dan banyak bertanya pada resepsionis. "Fit.. Sorry gue ganggu lagi, tau gak dimana nomor kamar suami gue? Kebetulan gue ada disini nih, gak sabar gue mau nemuin dia," tanya Dinda via chat.


"Gue lupa-lupa inget sih Din, kayaknya waktu itu resepsionis bilang ada dikamar 307 apa 337 ya, duh lupa gue, sorry banget," jawab Fitri sedikit mengecewakan Dinda.


"Yah.. Oke gak papa, ntar gue tanya langsung ke suami gue aja, dia nanti jujur apa enggak," jawab Dinda.


"Sorry banget ya Din, gue gak tau kalau akhirnya lo nyamperin kesini, kalau butuh bantuan jangan segan hubungi gue dan kalau mau menginap juga boleh kok," jawab Fitri yang tak dibalas oleh Dinda. Fokusnya saat ini untuk menyelesaikan praduga yang menari-nari di otaknya ini.


Dinda beberapa kali menghubungi Ryan namun tak juga dibalas, rasa geram menyelimuti dirinya. Akhirnya Dinda nekat datang ke kamar 307 terlebih dahulu, siapa tau benar disana ada suaminya.


Cukup lama Dinda mengetuk pintu sampai akhirnya keluarlah perempuan masih muda yang wajahnya cantik dan tubuh putih bersih, wanita itu memakai kimono dan rambut dililit handuk, sepertinya baru keramas.


"Cari siapa kak?" tanya wanita muda yang cantik.


"Apa benar ini kamarnya atas nama Ryan?" tanya Dinda hati-hati.


"Ryan? Ryan siapa ya kak? Disini adanya saya dan suami saya namanya Brian bukan Ryan," tegas wanita itu.


"O..oh.. Maaf kak berarti saya salah kamar, permisi," pamit Dinda malu bukan main.


Emosi yang susah ia kendalikan malah kini membuatnya malu sendiri, untung saja penghuni kamar 307 tidak menindaklanjuti lebih lanjut sehingga Dinda bisa pamitan dengan sedikit tenang.


Berjalan lurus tanpa tujuan yang pasti membuat Dinda sampai didepan lift, ingin sekali ia pulang namun ia seperti mendengar suara suaminya sedang berbincang dengan seseorang, untuk memastikan, akhirnya Dinda bersembunyi di belakang tembok lift.


"Loh.. Kok tiba-tiba liftnya kebuka sendiri?" tanya Ryan kaget.


"Iya nih.. Padahal kita belum pencet, apa jangan-jangan..." jawab Frida bergidik ngeri.


"Jangan berpikir negatif dulu, bisa aja tadi ada yang mau masuk terus gak jadi karena tiba-tiba ada barang yang tertinggal," sangkal Ryan.


"Harusnya kita tau orangnya dong atau gak kita denger lah suara sepatunya, lah ini? Hening mas Ryan," bantah Frida.

__ADS_1


"Terserah deh, saya capek jadi saya mau balik ke kamar," jawab Ryan malas debat. Mau ada orang gak jadi masuk lift kek atau memang kejahilan makhluk tak kasat mata kek, yang terpenting tujuan Ryan kesini buat bekerja dan tak menganggu. Frida yang ketakutan pun akhirnya ikut masuk ke dalam lift, hanya mereka berdua saja yang ada didalam. Perasaan Dinda seketika semakin sesak, kenapa harus ada wanita itu di setiap langkah suaminya?


Merasa situasi sudah aman, Dinda mengecek kemana mereka akan keluar lift, ternyata keduanya berada dalam satu lantai yang sama, yaitu lantai 6.


"Oke mas mari kita lihat seberapa jauh wanita itu akan berani mendekatimu," gumam Dinda lalu masuk kedalam lift.


Ting.. Suara lift terbuka, sekarang Dinda berada di lantai 6, banyak kamar disini dan lagi-lagi Dinda bingung harus menuju kamar nomor berapa. Karena tak mau kejadian salah kamar terulang lagi, akhirnya Dinda menelpon suaminya.


"Halo mas, kamu udah selesai kerjanya?" tanya Dinda basa-basi.


"Udah kok, baru aja masuk ke kamar," jawab Ryan.


"Oh.. Sibuk juga ya ternyata, memang kamu di hotel mana mas?" tanya Dinda memancing.


"Bukannya aku udah kasih tau ya waktu itu?" tanya balik Ryan.


"Maaf mas aku lupa, tinggal kasih tau apa susahnya," jawab Dinda sedikit kesal.


"O.. Nomor kamarnya?" tanya Dinda tak sabar.


"Harus detail begitu ya sayang?" tanya Ryan heran.


"Harus dong.. Katanya dalam hubungan gak boleh ada yang dirahasiakan, gak ingat mas? Tempo hari kamu ketangkap basah datang ke butik bersama wanita paruh baya, bisa aja kan kamu menambah waktu disini dengan alasan lain," sindir Dinda.


"Astaga.. Masih aja dibahas, next time aja ya hari ini aku capek banget, sumpah, aku rasanya juga pengen pulang," pinta Ryan.


"Makanya sebutin dikamar nomor berapa, lagian kalau kamu bohong pun mana aku tau mas, gak mungkin aku samperin kesana," jebak Dinda.


"Aku ada dikamar 337 lantai 7, ada lagi yang mau ditanyakan?" tanya Ryan.


"Gak ada.. Thanks mas, good night," jawab Dinda lalu mematikan panggilan. Seketika Dinda berjalan menyusuri setiap pintu sambil memperhatikan nomornya, tepat di ujung sana kamar suaminya berada


"Ini dia.. Semoga didalam sana gak ada wanita itu," gumam Dinda deg-degan karena ia tak bisa membayangkan bagaimana rasanya melihat langsung suaminya berada dalam satu kamar dengan wanita lain.

__ADS_1


Ting tong ting tong.. Suara bel kamar Ryan, berhubung Ryan mendapat kamar yang suite, jadinya ia bisa membalas suara bel lewat suara, ia ingin memastikan siapa yang bertamu. "Siapa?" tanya Ryan.


"Cleaning servis," jawab Dinda membuat suaranya sedikit mengecil agar suaminya percaya.


"Oh Oke masuk aja," jawab Ryan dari dalam lalu Dinda tak langsung membuka pintu, ia menetralisir perasaannya dulu agar terlihat tenang.


Karena merasa tak juga membuka pintu, akhirnya Ryan berjalan ke depan dan membukakan pintu. "Sudah saya bilang masuk saj.." ucap Ryan terpotong, ia kaget jika didepannya ini adalah istrinya, Dinda. Merasa seperti mimpi, akhirnya Ryan memukul pipinya cukup keras dan merasakan sakit.


"Sa.. Sayang? Beneran ini kamu?" tanya Ryan memastikan.


"Siapa lagi kalau bukan Dinda Safitri? Apa ada disini yang wajahnya mirip denganku?" tanya Dinda.


"Gak.. Gak ada, kamu kok bisa sampai sini? Tadi kan kita baru aja teleponan, oh apa jangan-jangan," tanya Ryan terpotong.


"Benar sekali.. Ketika aku menelpon aku hanya memastikan apakah kamu benar di hotel ini atau tidak dan nomor kamarnya juga, apa itu salah?" tanya Ryan penuh penekanan.


"Gak.. Sama sekali gak salah," jawab Ryan gugup.


"Oke baiklah, lalu?" tanya Dinda menggantung.


"Lalu? Maksudnya apa sayang?" tanya Ryan tak mengerti.


"Hadeh.. Lalu kamu membiarkan aku berada diluar dan berdiri terus seperti ini?" sindir Dinda.


"Astaga maaf sayang maaf.. Ayok masuk, kamu pasti capek ya perjalanan kesini," ajak Ryan lalu mereka berdua masuk.


"Mau makan apa atau mau minum apa? Biar aku pesankan," tanya Ryan penuh perhatian namun Dinda hanya menggeleng, ia tak butuh makan dan minum karena yang ia butuhkan adalah penjelasan, siapa Frida dan juga Indah, apakah mereka berdua orang yang sama?


Ketika Ryan kembali menawari istrinya, ada suara bel lagi yang membuatnya penasaran. "Siapa?" tanya Ryan dari dalam.


"Ini aku.. Frida, ngapain sih dikunci segala?" tanya Frida dengan ekspresi kesal.


"Frida? Wanita yang kamu bilang klien kamu itu mas? Biarkan masuk," jawab Dinda dengan tegas.

__ADS_1


__ADS_2