
"Saya terima nikah dan kawinnya Dinda Safitri binti Soetono dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Ryan dengan suara gemetar namun tegas. Dalam sekali tarikan nafas Ryan secara sah mengucapkan ijab qabul.
"Bagaimana saksi? Sah?" tanya penghulu.
"Sah.." jawab para saksi dengan kompak.
"Alhamdulillah.." ucap penghulu lalu melanjutkan doa-doa.
"Mulai sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri, semoga pernikahan kalian sakinah, mawardah dan warrahmah," ucap penghulu.
"Aamiin.." jawab kedua mempelai berbarengan lalu saling melempar senyum.
"Dinda.. Mulai sekarang dan seterusnya aku adalah suami kamu.. Apapun yang terjadi padamu adalah tanggung jawabku dan apapun baik dan buruk mu akan aku terima dengan ikhlas, mari kita membina rumah tangga hingga ke surga," ucap Ryan meneteskan air mata saking terharunya.
"Mas Ryan.. Mulai hari ini dan seterusnya aku sudah sah menjadi istrimu, akan aku abdikan jiwa dan ragaku untuk melayani dan patuh terhadapmu mas," ucap Dinda dengan suara bergetar dan menitikkan air mata.
"Setelah ini kita akan selalu saling mengisi dan menerima kekurangan satu sama lain, setelah ini apapun suka dan duka akan kita tanggung bersama, terima kasih sudah mau menerimaku menjadi suamimu," ucap Ryan tulus.
"Aku juga berterima kasih karena mas Ryan sudah mau menerima aku yang seorang janda beranak dua, aku yang beruntung bisa di persunting olehmu mas," ucap Dinda terharu.
"Mommy.. Om pengacara? Hore.. Kalian akhirnya menikah," ucap Farel membuyarkan sesi keromantisan mereka.
"Iya sayang sekarang om pengacara adalah papah kamu, are you happy?" tanya Dinda sambil mengusap rambut anaknya lembut.
"I'm so happy mom.. Bolehkah Farel panggil om pengacara dengan sebutan papah?" tanya Farel yang sontak membuat Ryan kaget.. Ia tak menyangka anaknya Dinda begitu tulus menerimanya.
"Of course.. I'm happy to hear that," jawab Ryan bangga.
"Thanks papa.." jawab Farel lalu memeluk Ryan di hadapan banyak orang.
"Papah sangat sayang padamu dan juga Vanessa, kalian penyemangat papah.." ucap Ryan sambil memeluk Farel.
__ADS_1
"Thanks pah.. Jagain mommy ya jangan sampai mommy sedih, nanti papah aku sentil loh," ucap Farel dengan wajah menggemaskan membuat kedua mempelai tertawa bahagia.
"Yes.. I'm promise boy," jawab Ryan sambil menahan tawa.
Lalu Dinda dan Ryan bergegas ke kamar untuk berganti busana.. Acara resepsi di adakan 2 jam setelah acara akad, jadi tidak ada waktu keduanya untuk bersantai.
Acara resepsi pun berjalan dengan lancar dan penuh akan keharuan, banyak tamu undangan yang memanjatkan doa agar keduanya menjadi keluarga sakinah, mawwardah dan warrahmah.. Namun ada seseorang yang hari ini hatinya merasa sakit melihat orang yang di sayangi kini sudah bersanding dengan orang lain, ia adalah Rio. Dia memang sengaja datang ketika resepsi karena ia tidak bisa melihat dan mendengar secara langsung proses ijab qabul mereka, bisa-bisa nantinya dia merusak acara sakral itu.
"Dinda.. Baru kali ini setelah kita bercerai aku melihatmu sangat bahagia, tawamu sungguh riang dan terasa tanpa beban, mengapa kau tunjukkan tawa indah mu di depan Ryan dan orang banyak sedangkan aku disini sedang tidak baik-baik saja terlebih hatiku, kalau boleh jujur hari ini hatiku sangat hancur Din.. Dunia serasa tidak berpihak padaku dan semua terasa sungguh kejam.. Kalian tidak memikirkan perasaanku hari ini, kalian bersenang-senang di atas penderitaan ku, mantan suamimu.." batin Rio mengamati Dinda dan Ryan yang terlihat sangat serasi dan bahagia dari kejauhan.
Vanessa yang kebetulan sedang mengambil minum menyadari kalau papahnya datang. Niat hati ingin menyapa menjadi urung di lakukan karena Vanessa melihat raut kesedihan di wajah papahnya itu.. Lalu ia memilih memberitahu mommy nya.
"Mom.. Mommy..." ucap Vanessa setengah, berteriak sambil menarik gaun Dinda.
"Iya Vanessa sayang ada apa?" tanya Dinda penasaran.
"Mom lihat di sana," tunjuk Vanessa di tengah kerumunan tamu undangan.
"Mommy gak tau?" tanya Vanessa heran.
"Tidak tau sayang makanya mommy bingung siapa yang di maksud, tamu undangan kan banyak," ucap Dinda penasaran sambil melihat tamu undangan lebih jeli.
"Mommy.. Yang Vanessa maksud tuh papah, di sana ada papah.. Daritadi papah lihatin mommy dan papah Ryan terus," ucap Vanessa.
"Mas Rio? Dia datang? Tapi kenapa gak langsung bersalaman denganku?" batin Dinda heran.
"Mom.." ucap Vanessa kesal karena mommy nya tidak merespon malah bengong.
"Iya sayang.. Maaf maaf mommy soalnya juga lihat dimana papah kamu," alibi Dinda.
"Udahlah sayang ngapain sih urusin dia.. Fokus saja sama pernikahan kita, mau dia nantinya ketemu kita atau pun tidak biarkan menjadi urusan dia yang penting kita sudah mengundangnya, jangan karena kedatangannya kamu nanti sampai gak fokus dan acara menjadi tidak meriah lagi," tegur Ryan kesal campur cemburu.
__ADS_1
"Iya mas maaf.. Aku hanya menghargai apa yang di sampaikan Vanessa, maaf.." ucap Dinda lirih dan kembali fokus ke acara.
"Nah begitu... Ingat sayang waktu kamu datang ke pernikahan Rio dan Sisil, bagaimana respon mereka? Yang kamu terima malah penghinaan kan? Kamu seperti tidak di anggap siapa-siapa," tegur Ryan mengingatkan.
"I.. Iya mas kejadian itu akan selalu aku ingat, sekarang aku sudah menemukan kebahagiaanku jadi aku gak mau siapapun merusaknya," jawab Dinda dengan sangat yakin. Bagi Dinda ini saat baginya untuk melupakan masa lalu dan membuang semua hal yang menyakitkan bagi dirinya, ia hanya menginginkan kebahagiaan dan pikiran yang tenang.
"Aku setuju denganmu," jawab Ryan tersenyum bahagia lalu mereka fokus ke acara dan melupakan keberadaan Rio.
Tamu undangan sudah mulai sepi dan pelaminan Dinda dan Ryan sudah tidak ada lagi tamu yang bersalaman, kini waktunya Rio menemui kedua mempelai dan bersikap seolah semuanya baik-baik saja.
"Hai Din.. Hai Pak Ryan," sapa Rio sumringah.
"Iya mas, makasih sudah berkenan datang," ucap Dinda sungkan karena di sebelah ada suaminya.
"Hai juga pak Rio.. Terima kasih ya sudah menyempatkan waktunya untuk datang di pernikahan kami," ucap Ryan terlihat bahagia.
"Iya sama-sama, selamat ya untuk pernikahan kalian semoga menjadi keluarga yang bahagia dan sejahtera selalu.." ucap Rio tersenyum meskipun hatinya sakit.
"Makasih mas.." jawab Dinda lirih.
"Thanks doanya pak.." jawab Ryan senang.
"Sama-sama.. Oh iya untuk kamu Din, mungkin begini ya rasanya ketika kamu datang ke pernikahan ku dengan Sisil dulu?" tebak Rio.
"Begini rasanya? Maksudnya gimana mas?" tanya Dinda kebingungan.
"Ya maksudnya tuh rasa sesak di dada, hari ini aku pun juga merasakan yang sama, tapi mungkin saja perasaanku ini lebih sakit karena aku tidak ada kesempatan lagi untuk hidup bersamamu.. Kamu sudah menemukan pengganti ku dan kalian terlihat serasi," curhat Rio yang membuat Dinda tak enak hati karena mantan suaminya begitu blak-blakan mengutarakan isi hatinya.
"Maksudnya bagaimana ya bapak Rio yang terhormat? Anda ceritanya curhat di hari bahagia kami? Anda menyesal sudah menyia-nyiakan istri saya waktu dulu? Begitu kan maksud anda? Anda sepertinya sudah kehilangan muka dan harga diri ya pak, bisa-bisanya mengatakan itu di depan suaminya langsung.. Saya juga punya hati pak, setidaknya hargai saya yang sekarang sudah sah menjadi suaminya Dinda.. Apa pantas anda mengatakan itu?" sindir Ryan penuh penekanan dan cemburu.
"Mas lebih baik kamu pulang saja, tolong mas jangan merusak hari bahagiaku dengan mas Ryan.. Aku tidak pernah meminta apapun namun tolong bahkan aku memohon padamu, pergilah mas.. Biarkan kami menyelesaikan hari bahagia ini dengan baik dan seharusnya, kita sudah lama berpisah dan sudah lama pula aku membuang perasaan di hatiku untukmu, selama ini aku diam karena kamu adalah ayahnya anak-anakku namun sekarang tidak lagi.. Aku sudah tidak mau lagi kamu ganggu mas, jika ingin bertemu maka bertemulah dengan kedua anakmu dengan selayaknya, jangan ada embel-embel lain.. Aku sudah wanita bersuami jadi aku harus membatasi apapun yang berkaitan denganmu tanpa seizin suamiku, pulanglah.. Fokuslah dengan pernikahanmu.. Ada Sisil di sana yang membutuhkanmu, kamu yang memilihnya menjadi istrimu jadi tolong baik buruknya dia harap kamu bersedia menerima dan membimbingnya, jangan lagi nantinya kamu menyesal" tegur Dinda dengan tegas dan akhirnya Rio memutuskan pulang.
__ADS_1