RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Menghindar


__ADS_3

"Ayolah.. Aku gak mau kalau masalah ini, berlarut-larut, aku ingin masalah ini segera selesai," ucap Ryan meminta.


"Mari kita selesaikan di pengadilan," ajak Dinda membuat Ryan syok.


"Apa? Pengadilan? Buat apa? Rumah tangga kita akan baik-baik saja sampai seterusnya," tolak Ryan.


"Itu bagimu belum tentu bagiku," jawab Dinda tegas.


"Ayo kita buktikan semuanya," ajak Ryan.


"Gak perlu lah mas buat apa toh semua sudah terjadi, KDRT dan perselingkuhan tidak bisa termaafkan," ucap Dinda tegas.


"Tapi aku tidak melakukan keduanya," bantah Ryan.


"Terserah kamu deh mas, aku pusing memikirkannya.. Capek ngomong sama orang yang gak mau salah," ucap Dinda pasrah.


"Memang aku gak salah sayang," rengek Ryan.


"Jangan membela diri sendiri, oh iya habis ini anak-anak pulang jadi aku gak mau kalau kita terlihat habis bertengkar.. Pergilah bekerja dan nikmati waktumu bersamanya," usir Dinda.


"Gak akan.. Anak-anak biar aku yang jemput," ucap Ryan langsung di cegah oleh Dinda.


"Biarkan aku saja karena setelah itu aku mau ke rumah ibu untuk menenangkan pikiran," tolak Dinda lalu mengambil kunci mobil.


"Jangan tinggalkan aku sendirian, disini kita masih sebentar menempati," rengek Ryan.


"Bermohon lah sama dia mas," sindir Dinda.


"Gak akan pernah, ayo sayang kita selesaikan ini segera dan kita memulai dari awal," ucap Ryan memohon sambil bersimpuh di kaki Dinda.


"Kamu kenapa sih mas? Bangun," tanya Dinda terkejut lalu membantu Ryan berdiri.


"Aku tidak berselingkuh dan sampai kapanpun akan begitu, aku hanya cinta padamu saja," ucap Ryan dengan jujur dan memegang kedua bahu Dinda.


"Don't touch me," bantah Dinda menepis tangan Ryan.


"Ayolah sayang jangan begini terus," pinta Ryan namun di cuekin oleh Dinda dan dia lebih memilih menjemput anaknya.


"Sial.. Ini semua berkat Vika, awas saja kau," gumam Ryan sangat murka dan mengepalkan tangannya.


Di perjalanan Dinda tak hentinya menangis karena meratapi nasibnya yang selalu malang, Dinda selalu saja di sakiti oleh yang di sayangnya.


"Mas Rio... Mas Ryan, kalian ternyata sama saja, sempat gue berpikir bahwa kamu adalah sosok suami idaman yang bisa menjadi contoh kedua anakku, itulah mengapa alasanku menerima pinangan mu mas, tapi ternyata baik kamu dan juga mas Rio ternyata sama saja..harta sudah membutakan mata kalian," batin Dinda menangis histeris sambil menyetir.


Setibanya di sekolah si kembar, Dinda berusaha bersikap seolah semuanya baik-baik saja.. Ia mengusap air mata dan mengatur nafas setenang mungkin.

__ADS_1


"Mommy..." sapa kedua anaknya sambil masuk ke mobil.


"Hei anak-anak mommy, yuk masuk," ajak Dinda dan mereka langsung menuju rumah ibunya.


"Mom.. Ini bukan arah ke rumah deh," ucap Farel sambil melihat sekeliling jalan.


"Iya kak.. Ini arah rumah ibu," ucap Vanessa menimpali.


"Benar sekali.. Kita main ke rumah ibu ya, kalian mau?" tanya Dinda antusias.


"Serius mom? Mau.. Mau.." ucap keduanya kegirangan.


"Oke.. Lets go.." ajak Dinda semangat.


Setibanya di rumah ibunya Dinda kini si kembar langsung berlari ke pelukan ibunya.


"Ibu..." ucap si kembar memeluk ibunya.


"Cucu ibu.. Kangen sekali dengan kalian," ucap Sri membalas pelukan cucunya.


"Bu.. Apa kabar? Maaf bu kami datang kesini gak kabar-kabar dulu," tanya Dinda sungkan.


"Ish kamu ini kayak sama siapa saja, ini juga rumah kamu jadi kapanpun kamu bisa kesini," sanggah Sri lalu Dinda hanya tersenyum kikuk.


"Oh mas Ryan lagi kerja bu, ini kan masih jam kerja.. Ibu ini lupa," alibi Dinda.


"Oh iya maaf ibu sudah tua, yasudah yuk masuk," ajak Sri lalu mereka semua masuk.


"Farel dan Vanessa ganti baju dulu ya, mommy udah bawain baju ganti buat kalian, nih," ucap Dinda sambil memberikan dua tas.


"Siap mommy.." jawab keduanya lalu masing-masing menerima tas.


"Enaknya suasana rumah ibu, adem.." ucap Dinda sambil memejamkan mata.


"Rumah barumu juga adem nduk, malah sangat bagus dari rumah pemberian kami," ucap Sri merendah.


"Ah tapi enak suasana disini bu, sejuk dan alami karena banyak pepohonan dan bunga, kalau di perumahan mah penghijauannya buatan jadi sama saja bu, sejuk karena AC," jawab Dinda.


"Yang penting kalian punya rumah sendiri, suamimu sangat memperhatikan kalian," jawab Sri menyanjung Ryan.


"I..iya bu," jawab Dinda kikuk.


"Kalian tidak lagi ada masalah to?" tanya Sri.


"Masalah? Gak ada kok bu," bantah Dinda.

__ADS_1


"Jangan berbohong sama ibu, rumah tanggamu dengan ibu jauh lebih lama ibu jadinya ibu paham kedatangan mu kemari untuk lari dari masalah," tebak Sri dan Dinda langsung diam seribu bahasa, ia tidak bisa jika harus berbohong dengan ibunya.


"Benar kan.. Masalah apa yang sedang kalian hadapi?" tanya Sri lembut.


"Mas Ryan.. Mas Ryan se..selingkuh bu huhuhu," ucap Dinda terbata dan air mata sudah lolos jatuh ke pipinya.


"APA?? YANG BENAR SAJA KAMU DINDA," pekik Sri kaget.


"Buat apa Dinda berbohong bu, Dinda melihatnya langsung di depan mata kepala Dinda sendiri.. Tadi pagi Dinda mendadak datang ke kantor mas Ryan dan di sana.." ucap Dinda terpotong karena tak kuasa meneruskan kalimatnya.


"Di sana apa? Katakan pada ibu," desak Sri.


"Di sana Dinda melihat ada wanita lain berada di pangkuan mas Ryan bu huhuhu.. Bagaimana Dinda gak sakit hati," ucap Dinda menangis.


"Astaga.. Ibu gak menyangka suamimu seperti itu, ketika memintamu saja sungguh manis sekali kata-katanya.. Ternyata dia tidak ada bedanya dengan mantan suamimu itu," ucap Sri geram.


"Apalagi Dinda bu, seolah dunia runtuh seketika melihat hal menjijikan itu.. Bisa-bisanya mas Ryan kekeh kalau diantara mereka tidak ada hubungan sedangkan pihak perempuan saja dengan bangganya mengakui itu semua, Dinda sempat ragu harus percaya dengan siapa bu.." keluh Dinda.


"Tapi kalau semisal perkataan suamimu itu benar?" tanya Sri bimbang.


"Maling mana mau yang mengaku bu, kalau pun ada penjara penuh.. Awalnya memang Dinda gak percaya tapi malam harinya si cewek itu chat mas Ryan mengajak makan siang, kalau memang tidak ada hubungan buat apa dia datang ke kantor pagi-pagi sekali," ucap Dinda berpikir logis.


"Saran ibu sebaiknya kamu selidiki dengan baik, meskipun ibu kecewa dengan perbuatannya tapi hati kecil ibu mengatakan kalau suamimu itu tidak bersalah, coba saja diam-diam selidiki," nasehat Sri.


"Diam-diam selidiki? Kalau nanti mereka beneran ada hubungan malah Dinda tambah sakit hati bu, sakittt..." ucap Dinda memegang dadanya.


"Ibu tau.. Nanti biar ibu minta tolong mas mu menyelidiki ini semua, sementara itu kamu fokus saja sama anak-anak dan pekerjaan," nasehat Sri.


"Nanti malah tambah runyam gimana bu?" tanya Dinda khawatir.


"Percayalah mas mu pikirannya dewasa, ibu yakin mas mu tidak akan gegabah apalagi ibu akan menceritakannya secara detail," ucap Sri.


"Baiklah.. Dinda percaya sama ibu, makasih ya bu selalu ada untuk Dinda, maafkan Dinda sudah membuat ibu kerepotan dan kecewa berulang kali," ucap Dinda tak enak hati.


"Sst.. Kamu anak ibu jadi ini sudah tugas ibu membantumu ketika sedang ada masalah, untuk hari ini kamu mau menginap apa pulang?" tanya Sri memastikan.


"Dinda rencana mau menginap disini bu sama anak-anak juga, apakah boleh?" tanya Dinda.


"Tentu saja boleh.. Kayak sama siapa saja," jawab Sri heran.


Ketika perasaan Dinda sudah mulai lega kini ponselnya berbunyi dan Dinda sangat kaget siapa yang menghubungi..


"Hai kamu Dinda kan? Ini gue.. Vika," isi chat Vika membuat Dinda kaget sekaligus geram.


"Darimana dia tau nomer gue?" batin Dinda geram dan meremas hp mahalnya.

__ADS_1


__ADS_2