
Setelah hampir seharian Dinda tertidur akibat pengaruh obat bius, kini Dinda sudah sadar meskipun belum pulih total.
"Ma...Mas," panggil Dinda lirih.
"Sayang? Akhirnya kamu sudah siuman, aku senang sekali sayang," ucap Ryan sangat bahagia dan tak henti memeluk sang istri.
"A..apa aku me..melahirkan mas?" tanya Dinda.
"Gimana ya gue ngomongnya, gue gak boleh salah menjawab karena gue takut nantinya Dinda bakalan syok, ia baru saja siuman," batin Ryan bimbang.
"Mas?" panggil Dinda lagi.
"Hmm iya sayang alhamdulillah kamu sudah melahirkan, anak kita cowok sayang dan apa kamu tau? Dia tampan seperti papahnya loh, makasih ya sayang kamu memang wanita hebat," puji Ryan.
"Tapi usia kandungan ku belum mencukupi mas, apa anak kita baik-baik saja?" tanya Dinda khawatir.
"Tenang saja sayang anak kita kuat kok, dia sehat dan sekarang lagi tidur ya meskipun tak dapat di pungkiri anak kita harus tetap di inkubator agar tetap hangat tapi kamu jangan khawatir ataupun cemas, dokter bilang anak kita sehat sayang," ucap Ryan mencoba menenangkan istrinya agar tidak panik.
"Syukurlah mas aku lega mendengarnya, aku takut anak kita nantinya kenapa-napa, usia kandungannya kan baru 7 bulan mas," ucap Dinda lega.
"Kata dokter gak papa sayang usia segitu melahirkan, banyak kok pasien urgent seperti kamu nyatanya anaknya pada tumbuh sehat kan? Nantinya anak kita juga akan seperti itu, kita rawat bersama-sama," ucap Ryan penuh keyakinan.
"Iya mas aku percaya kamu akan merawat anak-anak kita dengan baik," jawab Dinda tersenyum bahagia.
"Bukan hanya aku tapi juga kamu, sekarang anak kita ada 3," ucap Ryan bahagia.
"Gak kerasa ya mas?" ucap Dinda tak menyangka.
"Iya sayang kalau kamu mau nanti kita buat lagi, oke?" goda Ryan.
"Mas.. Aku aja belum pulih bisa-bisanya kamu memikirkan hal kayak gitu," protes Dinda.
"Manusiawi sayang habisnya aku bahagia banget bisa menjadi seorang papah," ucap Ryan antusias.
"Tapi ya gak secepat itu juga mas," protes Dinda.
"Iya sayang iya.. Yasudah aku panggilkan dokter dulu ya, kamu gak papa kan aku tinggal sendiri?" tanya Ryan memastikan.
"Iya mas gak papa kok," jawab Dinda setuju.
"Bentar ya sayang," pamit Ryan mencium kening Dinda lalu keluar kamar untuk menemui dokter. Bisa saja Ryan memanggil via telepon kamar namun ia gak mau kalau nantinya dokter mengatakan kondisi anaknya pada Dinda makan dari itu Ryan sengaja mendatangi ruang dokter untuk membuat sebuah perjanjian rahasia.
Di ruang dokter.
"Permisi dok maaf menganggu waktunya," sapa Ryan sambil berjalan mendekat.
__ADS_1
"Pak Ryan Hadiningrat? Silahkan duduk," jawab dokter mempersilahkan duduk.
"Makasih dok," jawab Ryan lalu duduk berhadapan dengan dokter.
"Ada yang bisa saya bantu pak? Apa istri anda sudah siuman?" tanya dokter menebak.
"Iya Pak alhamdulillah sudah siuman," jawab Ryan senang.
"Lalu kenapa anda tidak menghubungi saya via telepon kamar? Mengapa malah anda datang langsung kesini?" tanya dokter heran.
"Itu dia dok saya mau meminta bantuan dokter," ucap Ryan sungkan.
"Perihal apa pak?" tanya dokter penasaran.
"Mengenai kondisi anak saya, tolong jangan beritahu keadaan yang sebenarnya pada istri saya dok, saya takut nanti dia syok dan kondisinya tidak stabil," pinta Ryan.
"Tapi kalau tidak diberitahu yang sebenarnya nanti malah mempersulit kami pak, nantinya kan mau gak mau istri anda akan datang ke ruang inkubator untuk menyusui anak anda, apa nantinya istri anda tidak akan bertanya?" tanya dokter menimbang keputusan.
"Anda bisa menggunakan istilah medis untuk menjelaskan pada istri saya intinya jangan beritahu keadaan yang sebenarnya dok, setelah keadaan istri saya tenang barulah nanti akan saya beritahu," pinta Ryan.
"Baiklah jika ini demi kesembuhan pasien," jawab dokter menuruti.
"Terima kasih banyak dok," ucap Ryan senang.
Di ruang rawat inap Dinda, kamar VVIP no 2
"Sayang dokternya udah datang tuh," ucap Ryan yang hanya dijawab anggukan kepala.
"Selamat siang ibu Dinda Safitri, senang sekali rasanya ketika mendengar dari suami anda bahwa anda sudah siuman," sapa dokter ramah.
"Iya dok saya pun juga kaget bisa ketiduran sebegitu lamanya," jawab Dinda malu.
"Iya bu memang itu efek obat bius soalnya kan anda di bius total, malah biasanya banyak pasien yang bangun tengah malam," jawab dokter yang membuat Dinda kaget.
"Ah iya kah dok? Duh untung saya bangunnya cepat, gini aja saya sedikit menyesal karena tidak bisa melihat dan menimang anak saya," ucap Dinda sedih.
"Anak anda dalam pengawasan kami bu jadi tenang saya, semua akan baik-baik saja, ibu fokus saja dengan kesembuhan ibu," ucap dokter.
"Maksud dokter anak saya sedang kritis?" tanya Dinda syok.
"Bukan begitu bu.. Ketika anda sedang dalam pengaruh obat bius anak anda selalu dalam pengawasan kami dan sesekali suami anda mengecek langsung, jadi sekarang anda fokus dengan kesembuhan anda dulu biar nantinya anak anda juga tambah sehat," ucap dokter berusaha tidak membuat pasien curiga.
"Tapi rasanya masih kurang kalau belum melihatnya langsung dok," rengek Dinda.
"Saya periksa kondisi anda dulu ya," ucap dokter mengalihkan obrolan dan Dinda hanya menurut saja.
__ADS_1
Setelah kondisi Dinda dinyatakan normal dan baik-baik saja kini dokter pamit keluar.
"Mas aku mau nengok anak kita," pinta Dinda.
"Besok saja sayang apa kamu gak dengar perintah dokter?" larang Ryan.
"Memang kenapa sih mas apa aku salah kalau mau nengok anakku sendiri, anak kandungku loh mas, aku yang melahirkannya," protes Dinda.
"Bukan begitu sayang, kondisimu belum pulih," ucap Ryan mencoba memberi pengertian.
"Kata dokter sudah normal kok," protes Dinda.
"Tetap saja kamu harus istirahat," suruh Ryan.
"Nanti kalau anak kita harus gimana mas? Seharian loh aku gak memberinya asi," tanya Dinda.
"Sudah kesepakatan antara aku, dokter dan juga suster untuk sementara memberikan anak kita susu formula, maaf sayang jika keputusan yang aku ambil hanya sepihak, ini demi keselamatan keduanya," ucap Ryan sedih.
"Harusnya diskusi dulu denganku dong mas," protes Dinda marah.
"Maaf.. Tapi kondisinya kamu tak kunjung siuman apalagi anak kita sempat rewel jadinya dengan berat hati kami memberikannya susu formula, nanti setelah kondisimu stabil dan benar-benar sehat baru kamu boleh menyusui anak kita, percayalah aku juga gak mau keadaan seperti ini, semua ini terpaksa dan demi keselamatan kalian berdua, aku gak bisa memilih salah satu diantara kalian," ucap Ryan merasa bersalah.
"Baiklah mas apapun itu aku terima, ya memang aslinya ini sangat membuatku sedih.. Asi ku berlimpah mas tapi kalian memberikannya susu formula, aku sebenarnya ingin cairan yang pertama kali masuk di tubuh anakku ya asi ku," ucap Dinda sedih.
"Maaf ya sayang.." ucap Ryan sedih.
"Iya mas.. Boleh aku melihat anakku?" tanya Dinda sekali lagi.
"Boleh sayang tapi besok ya, hari ini kamu wajib istirahat penuh," perintah Ryan dan Dinda hanya mendesah pasrah.
"Untuk mengobati rasa sedih Dinda lebih baik aku tunjukkan saja foto anak kita waktu selesai di mandiin, kan disitu belum terpasang selang di tubuhnya, tapi kalau nanti Dinda geser-geser foto selanjutnya gimana? Apa dicetak saja ya? Aha benar.. Cetak saja," batin Ryan lalu menghubungi sekretarisnya dengan mengirimkan foto anak kecil, Ryan menyuruh sekretarisnya untuk di cetak sekarang juga.
Tanpa banyak bertanya, sekretarisnya segera melaksanakan perintah bosnya dan ketika sudah selesai di cetak tak hentinya sekretaris Ryan memandangi foto bayi anak bosnya.
"Tampan sekali sih, wajahnya mirip papahnya dan kulitnya putih kemerah-merahan mirip mamahnya, perpaduan pasangan yang sempurna, ah indah sekali hidup bosku.. Kapan ya aku bisa seperti mereka? Memang sih pak Ryan menikah di usianya yang sudah sangat matang tapi beliau mendapat pasangan yang tepat, apa gue harus berumur dulu agar mendapatkan pasangan yang tepat?" batin sekretarisnya sambil memandangi foto anak bosnya.
Setelah puas memandangi foto bayi yang tampan itu, sekretaris Ryan segera mengirimkan ke rumah sakit dimana istri bosnya dirawat.
Ketika Ryan sedang berbincang ringan dengan istrinya, ada chat masuk dari boy yang isinya membuat Ryan murka.
"Sorry man jika isi chat gue ini nantinya akan membuat hubungan kita buruk, tapi jauh dari lubuk hati gue yang paling dalam gue gak ada maksud seperti itu, gue beneran gak menyangka jika anak buah gue lalai dalam menjalankan tugasnya, memang gue perintahkan mereka jika nantinya Rio mempersulit kerja mereka maka mereka boleh mengusik keluarganya tapi gue udah mewanti-wanti untuk tidak menyentuh anaknya Rio.. Sayangnya anak buah gue lupa dan akhirnya terjadilah seperti ini, gue minta maaf man.. Mereka tidak mencelakai anak-anakmu, mereka hanya memantau dari kejauhan saja, tanyakan saja pada anakmu apakah mereka merasa diawasi oleh seseorang," isi chat boy yang membuat Ryan kecewa.
"Kalau boleh jujur juga, gue kecewa denganmu man.. Kita berteman lama namun kali ini anak buah mu membuat celaka istri gue, karena dia sekarang ini istri gue harus melahirkan di usia kandungan yang masih 7 bulan.. Gue meminta bantuan mu untuk menghancurkan Rio Suganda tetapi yang gue dapat malah istri gue yang celaka, sudahlah man.. Rencana kita cukup sampai disini saja, setidaknya uangmu juga udah balik meskipun belum 100 persen kan," jawab Ryan yang membuat boy semakin merasa bersalah. Tak mau hanya saling membalas chat, boy memilih esok hari terbang langsung ke Indonesia untuk bertatap muka dengan Ryan. Ia tidak mau jika karena hal ini pertemanan mereka jadi renggang.
Dan untuk anak buahnya boy, mereka sudah mendapatkan hukuman yang setimpal, boy memilih menghajar mereka secara brutal lalu memberhentikan mereka meskipun hanya sementara. Ada 5 anak buahnya yang harus dirawat di rumah sakit akibat salam olahraga dari boy yang terlalu keras namun boy tetap bertanggung jawab dengan membiayai semua pengobatan anak buahnya secara penuh.
__ADS_1