RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Rio Penguntit


__ADS_3

Rio diam-diam sudah menyadap handphone Dinda tanpa sepengetahuan orangnya, Rio membayar mahal seorang hacker agar bisa memantau apa saja isi chat mantan istrinya itu.


"Halo bagaimana?" tanya Rio via telpon.


"Sudah beres bos, sekarang gue minta bayaran," ujar hacker.


"Beres asalkan kerjaan mu memuaskan," jawab Rio dengan sombongnya.


"Sudah gue hubungin ke HP anda bos jadi sekarang bisa leluasa memantau apa saja isi chat sang target," ujar hacker.


"Sip.. Good job, tunggu transferan gue, gak ada 1 menit akan ada notifikasi di hpmu," jawab Rio lalu mentransfer sejumlah uang pada hacker.


"Maafin gue harus pakai cara seperti ini, jujur saja gue gak mau kalau lu bersanding dengan pria lain, harusnya cuma gue yang berhak mendapatkan mu," gumam Rio lalu memantau HP Dinda.


10 menit kemudian ada notifikasi masuk dari Ryan yang mengajak Dinda beserta kedua anaknya makan siang, bak gayung di sambut.. Dinda langsung menerima ajakan Ryan. Rio yang mengetahui ini langsung segera menuju lokasi agar tidak terkesan menguntit.


###


Di Restoran western ternama.


"Farel dan Vanessa mau pesan apa nih?" tanya Ryan sambil memberikan buku menu.


"Mommy mau makan apa?" tanya Vanessa.


"Hmm mommy pesan fettucini neopolitan aja deh, kamu pesan apa sayang?" tanya Dinda pada kedua anaknya.


"Vanessa mau spaghetti juga deh, fettucini bolognase," ucap Vanessa lalu menutup buku menu.


"Hmm Farel mau makan beef steak and spaghetti," ucap Farel juga menutup buku menu.


"Kamu pesan apa pak?" tanya Dinda pada Ryan.


"Pesan paketan aja deh biar kenyang, grill beef+pasta+mushroom sup," jawab Ryan.


"Mbak udah di catat kan orderannya?" tanya Dinda pada waiters.


"Anak-anak mau pizza gak?" tanya Ryan.


"Mau om.." jawab mereka serempak.


"Oke, mbak tambah beef pizza size large ya," ucap Ryan pada waiters.


"Baik kak untuk minumannya?" tanya waiters.

__ADS_1


"Vanessa mau chocolate float," ucap Vanessa.


"Farel mau strawberry smoothies," ucap Farel.


"Oke sayang.. Kamu apa mas?" tanya Dinda.


"Apa ya? Alpukat float aja deh, kamu?" tanya Ryan.


"Aku lagi pengen minum yang seger, Lychee squash aja deh enak kayaknya," ucap Dinda lalu menyerahkan buku menu.


"Baik kak pesanannya sudah saya catat, mohon di tunggu," ujar waiters lalu pergi.


Setelah kepergian waiters, Farel terus menatap seseorang di seberang mejanya dengan intens, ia merasa mengenali orang itu dan benar saja wajahnya mirip dengan papah Rio.


"Mommy.. Itu kayak papah bukan sih?" tanya Farel sambil terus menatap seseorang yang mirip dengan Rio.


"Mana sayang?" tanya Dinda melihat sekeliling.


"Itu mom di seberang meja kita, kayaknya itu papah deh," tunjuk Farel dengan kekeh.


"Oh iya sepertinya memang papah kamu," jawab Dinda berusaha melihat dengan jelas.


"Dia memang mantan suamimu dan dia ada di sana sudah sedari tadi," ucap Ryan sengit.


"Kok kamu tau pak? Kenapa tidak bilang?" tanya Dinda terkejut.


"Papah lihatin sini mah, papah.." teriak Farel melambaikan tangan pada Rio.


"Farel? Vanessa? Dinda? Kalian ada di sini juga?" tanya Rio akting sembari menghampiri mereka.


"Iya mas sekalian makan siang," jawab Dinda.


"Selamat siang Pak Rio, senang bertemu dengan anda kembali," sapa Ryan cool dan mengulurkan tangan.


"Senang juga bertemu dengan anda," jawab Rio sedikit jutek.


"Papah kok sampai sini, ada perlu apa?" tanya Farel.


"Tadi papah habis meeting sama klien," jawab Rio berbohong.


"Tumben sekali meeting di restoran seperti ini mas, biasanya di kafe, meeting room, ballroom," ucap Dinda heran.


"Kebetulan klien ku pemegang saham di restoran ini jadi sekalian di traktir," alibi Rio dan Dinda hanya ber oh ria.

__ADS_1


"Berarti papah udah makan dong ?" tanya Farel.


"Sudah dong boy, kenapa memangnya?" tanya Rio.


"Kalau belum kan papah bisa makan dulu," jawab Farel.


"Terima kasih perhatiannya boy, papah sudah makan kok malah ini kenyang sekali perut papah, makanan di sini enak semua loh," ucap Rio senang.


"Wah asyik dong makan ku jadi lahap," ucap Farel girang.


"Papah boleh menemani kalian makan siang?" tanya Rio dan seketika membuat Dinda dan Ryan terkejut.


"Kursinya gak pas papah," ucap Vanessa dan Ryan langsung menahan tawa.


"Sialan beraninya pengacara itu mengejek gue," batin Rio kesal.


"Mas lebih baik mengurus urusanmu yang lain aja deh siapa tau kerjaan mu banyak, kami hanya ingin makan siang," usir halus Dinda.


"Benar itu pak, kami ingin menikmati momen makan siang bersama ya hitung-hitung latihan ketika nanti menjadi keluarga," sindir Ryan.


"Jangan terlalu obsesi pak nanti jatuhnya sakit hati," sindir Rio mengejek.


"Saya rasa itu pantasnya di sematkan pada anda," sindir Ryan elegan.


"Apa maksud anda berbicara seperti itu?" tanya Rio mulai emosi.


"Sudah jangan di teruskan lagi, kalian kalau bertemu pasti ujung-ujungnya debat, bisa gak sih hargai privasi kami mas? Kita sudah punya kehidupan masing-masing jadi tolong jangan usik kami lagi, biarkan kami bahagia dengan cara kami sendiri," ucap Dinda dengan tegas dan Rio merasa tertampar dengan perkataan Dinda.


"Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama mereka, apa itu salah? Kalau bukan bertemu seperti ini mana bisa aku menghabiskan waktu dengan mereka? Setiap kali aku ke rumah selalu ada saja alasanmu ketika aku ingin mengajak mereka pergi," ucap Rio iri.


"Karena kamu sendiri yang mulai berulah mas, coba kalau dulu kamu tidak menculik anakmu sendiri, mungkin perasaan trauma ku tidak akan ada mas, mungkin aku akan membebaskan kamu bertemu mereka, kamu sendiri biang dari semua ini," ucap Dinda tegas.


"Maafkan aku.. Dulu pikiranku sangat kacau dan tidak memikirkan dampak ke belakangnya," ucap Rio menyesal.


"Yang lalu biarlah berlalu kini semua sudah berubah dan diantara kita sudah memiliki kehidupan masing-masing, jadi tolong hargai arti sebuah privasi," sindir halus Dinda.


"Izinkan aku menghabiskan waktu bersama kedua anak kita kali ini saja," pinta Rio.


"Mereka tidak menyambut baik kedatangan mu mas jadi seharusnya kamu sadar diri," sindir Dinda.


"Kenapa kedua anak kita lebih dekat dengan pengacara mu itu daripada aku yang notabene ayah biologisnya, kenapa Dinda?" tanya Rio tak terima.


"Kenapa malah bertanya denganku mas? Tanyakan saja pada mereka, aku tidak pernah memaksa mereka harus dekat dengan pak Ryan," tanya Dinda heran.

__ADS_1


"Pah.. Farel dekat sama om pengacara karena om pengacara orang baik, om pengacara selalu bikin Farel dan adik senang, gak pernah bikin nangis, oh iya om pengacara juga selalu bisa membuat mommy happy, jadi jangan bicara teriak-teriak lagi sama mommy," ucap Farel menatap Rio sendu dan mampu membuat Rio mati kutu.


"Anakku.. Seharusnya dia membela dan memilih aku karena aku ini ayahnya, kenapa sekarang posisinya tergantikan oleh pengacara itu... " batin Rio sedih.


__ADS_2