RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
DINDA BENCI RIO


__ADS_3

Setelah suster Mei selesai melaksanakan tugasnya dan mendapatkan bonus fantastis, ia menuju kamar mandi untuk buang air kecil. Setelah selesai ia ingin kembali ke ruang bayi namun ternyata di persimpangan jalan bertemu Diki-kepala rumah sakit baru yang kebetulan teman SMA nya.


"Mei.." sapa Diki seraya melambaikan tangan.


"Oh hei Diki," jawab Mei menoleh.


"Ada yang ingin gue bicarakan," ucap Diki serius.


"Apa itu?" tanya Mei penasaran.


"Gue baru terima surat pengunduran dirimu dan jujur gue kaget kenapa semua ini tiba-tiba Mei? Apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu?" tanya Diki penasaran.


"Maaf jika gue membuat surat pengunduran diri secara tiba-tiba tapi gue sudah memikirkannya secara matang," jawab Dinda berbohong.


"Ini salah satu rumah sakit terbaik dan merupakan rumah sakit kalangan elite loh Mei.. Gak semua pelamar bisa lolos, kamu salah satu yang beruntung dan sekarang kamu membuang kesempatan emas itu, coba pikirkan lagi," bujuk Diki.


"Maaf tapi gak bisa, gue harus secepatnya resign dan pergi dari sini," jawab Mei seperti menyembunyikan sesuatu.


"Hmm maaf nih bukan maksud gue ikut campur atau apa, tapi kalau boleh tau apa alasanmu mengajukan resign?" tanya Diki dengan hati-hati.


"Ya ada pokoknya, gue gak bisa jelasin.. Gue ingin terbebas," jawab Dinda membuat Diki bertanya-tanya.


"Memang selama ini hidupmu kurang nyaman?" tanya Diki penasaran.


"Ya nyaman.. Cuma akhir-akhir ini ada yang menggangu hidup gue dan ini salah satu alasan gue resign mendadak, gue udah gak sanggup lagi Dik," ucap Mei sendu.


"Siapa yang sudah menganggu mu?" tanya Diki penasaran.


"Ada pokoknya, maaf ya gue harus balik kerja lagi, see you next time Diki," ucap Mei sebagai salam perpisahan.


"Kalau lo berubah pikiran segera kabari gue, akan gue bantu lo masuk lagi kesini, gue gak ikhlas menyetujui surat resign mu, gue yakin karirmu akan bagus disini," ucap Diki menepuk bahu Mei pelan dan Dinda hanya tersenyum manis lalu bergegas pergi.


"Gue sangat bersyukur sekali bisa masuk di rumah sakit ini, memang yang di katakan Diki itu semuanya benar, namun gue harus menepati janji.. Gue gak mau kalau akhirnya gue ikut terlibat di permasalahan mereka," batin Mei.


Kini suster Mei sudah kembali ke ruang jaga dan ia gugup karena banyak sekali orang yang berkumpul di sana, sebelum masuk ia mengatur nafas se netral mungkin agar tidak ada yang mencurigainya.

__ADS_1


"Selamat siang sus," sapa Mei ramah dan pura-pura tak tahu.


"Siang.. Kebetulan suster Mei ada di sini, Sus ada kasus, bayi laki-laki dari pasien Ny. Dinda hilang," ucap suster Ika merasa bersalah.


"APA?? Kok bisa sih Sus? Tadi sebelum saya tinggal semua bayi di sini komplit kok dan mereka sedang tertidur," Akting suster Mei sungguh apik.


"Makanya itu Sus kami semua heran, padahal saya meninggalkan ruangan ini hanya sebentar tetapi tiba-tiba Nyonya Dinda menangis histeris menyadari kalau bayinya hilang," ucap suster Ika sedih.


"Haduh gimana ya Sus, kita setelah ini terkena masalah dong, sudah di cek seluruh penjuru ruang rumah sakit? Apa sebelumnya tidak ada hal yang mencurigakan?" tanya Mei sok polos.


"Sudah Sus bahkan satpam pun kami suruh menutup seluruh gerbang keluar dan masuk, siapa tau pelakunya masih disini namun sayangnya tidak ada yang mencurigakan, reputasi rumah sakit nantinya akan tercemar," ucap suster Ika sedih.


"Oh iya Sus kita kan belum liat jejak CCTV, coba kita cek dulu semoga kita bisa mengetahui pelakunya, jujur saya gak mau kalau nantinya dapat peringatan dari rumah sakit apalagi sampai di pecat, susah masuk di rumah sakit sebesar ini sus," ucap suster Nia.


"Ahh sialan!!! Kalau mereka sampai cek CCTV bisa-bisa terbongkar dong kalau gue yang ambil bayinya, haduh kenapa bodoh banget sih gue.. Rumah sakit ini kan full CCTV," batin Mei panik namun semaksimal mungkin tidak di perlihatkan pada kawannya.


Ketika mereka menuju ruang kontrol, dewi fortuna sedang berpihak pada suster Mei. Petugas yang jaga mengatakan bahwa CCTV sedang rusak dan akan di perbaiki. Setidaknya untuk kali ini suster Mei bisa bernafas lega dan aman.


Setelah siuman, Dinda langsung histeris karena ia kehilangan anak laki-laki nya. Ia yakin jika pelakunya adalah Rio dan Sisil, mereka diam-diam sudah merencanakan ini.


"Dinda.. Yang tenang nak, semua akan di proses kepolisian dan pihak rumah sakit akan bertanggung jawab," ucap Sri mencoba menenangkan.


"Tidak perlu mah, setelah selesai urusan di rumah sakit, Dinda akan langsung menghampiri rumah mas Rio. Dia lah dalang semua ini, tak perlu menggunakan polisi semua sudah jelas mengarah ke sana bu," ucap Dinda geram.


"Kamu tidak ada bukti nak jadi jangan langsung menuduh, nanti yang ada kita di tuntut balik," ucap Sri memperingatkan.


"Dinda kali ini tidak menggunakan jalur hukum melainkan menggunakan cara kekeluargaan, jika cara ini tidak mempan baru hukum yang akan bertindak, semua bukti jelas bu, jadi Dinda tidak akan gentar," ucap Dinda geram dan penuh emosi.


"Serius kamu akan mendatangi rumah suamimu?" tanya Sri memastikan.


"Tentu.. Salah siapa dia berani mengusik Dinda," ucap Dinda geram.


"Jangan gunakan emosimu nak," pinta Sri.


"Tenang saja bu, Dinda sudah siap hati dan mental menghadapi mereka," ucap Dinda mantap.

__ADS_1


***


Di satu sisi Rio sudah berhasil membawa anaknya pulang ke rumahnya dengan selamat, kedatangan anak Rio di sambut hangat kedua orang tuanya.


"Cucuku..." sapa Mayang lalu menggendong anaknya Rio.


"Sesuai perkataan Rio kan mah, Rio bakal membawa salah satu anak Rio karena mau bagaimana pun Rio berhak merawat anak ini, dia darah daging Rio," ucap Rio tersenyum kemenangan.


"Tapi caramu salah, bawa anakmu ya beserta ibunya, kasihan anakmu butuh asi," ucap Mayang tak setuju.


"Mamah gak usah bela Dinda terus kenapa sih, zaman sudah modern mah.. Di supermarket banyak yang menyediakan susu formula, gak usah di buat ribet deh mah," ucap Rio kesal.


"Mau semahal dan sebagus apapun susu formula yang kamu berikan ke anakmu tetap yang terbaik itu ASI, jangan karena keegoisan mu membuatmu tutup mata dengan hak yang seharusnya di dapat anakmu," ucap Mayang kesal.


"Mah.. Rio capek sekali jadi jangan ajak Rio berdebat," keluh Rio lalu pergi ke kamar.


"Mau anak tapi kok gak mau mengurusnya, apalagi nanti setelah menikah dengan Sisil, apa bisa mereka berdua mengurus bayi," gumam Mayang sedih sambil menatap cucu yang di gendongnya.


***


Di rumah sakit Dinda lebih banyak melamun, ia sedih harus terpisah dengan anaknya apalagi ini jam anak-anaknya minum ASI. Dinda tak hentinya menangis memikirkan bagaimana nasib anaknya di sana.


"Sudah Din, ibu tau ini berat untukmu tapi ibu mohon jangan terus terpuruk, kasihan anakmu nanti ASI mu seret, kamu sudah ada rencana untuk mengambil alih anakmu?" tanya Sri.


"Biarkan seperti ini dulu bu, biarkan mereka merasa puas dulu," ucap Dinda lirih.


"Kamu serius membiarkan anakmu bersama mereka?" tanya Sri tak percaya.


"Tentu tidak bu, ini hanya sementara saja, Dinda akan memperjuangkan semua ini sekuat tenaga," ucap Dinda berlinang air mata.


"Ibu akan selalu mendukungmu nak, semoga keajaiban berpihak pada kita," harap Sri.


"Harus bu.. Mas Rio harus membayar mahal setiap tetes air mata yang Dinda keluarkan, Dinda sangat membenci mas Rio bu, benciiii," ucap Dinda emosi.


**

__ADS_1


"Hai boy mulai hari ini dan seterusnya kamu akan sama papah, setelah ini papah harus pasang badan berperang dengan mamah mu, sebenarnya papah gak mau memisahkan kalian namun papah sudah terlanjur janji dengan tante Sisil," gumam Rio sambil menimang anaknya.


__ADS_2