RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Sisil Menemui Ibunya


__ADS_3

Mendengar perusahaan akan di akusisi Sisil langsung kaget, apakah sampai segitu parahnya kondisi perusahaan suaminya itu.


"Astaga apa benar mas Rio mau bangkrut? Memang berapa banyak sih hutangnya? Padahal saldo gue pun udah jadi korbannya tapi masih saja gak nutup," gumam Sisil yang tak sengaja menabrak vas bunga hingga pecah.


Pyar... Suara vas bunga pecah, Rio dan kedua orang tuanya refleks menoleh ke asal suara.


"Siapa di sana?" tanya Rio yang menuju sumber suara.


"Aku mas, maaf.." jawab Sisil menampakkan diri.


"Sejak kapan kamu disitu?" tanya Mayang.


"Daritadi mah ketika mamah menyuruh mas Rio menceraikan Sisil dan memulihkan perusahaan," sindir Sisil dan Mayang kaget akan jawaban menantunya itu.


"Tuh dengarkan mah makanya jangan asal bunyi.. Perhatikan juga perasaan Sisil," tegur Suganda kesal dan Mayang menunduk malu.


"Udahlah jangan ribut dong.. Rio pening nih," pinta Rio merelai.


"Silahkan mas kalau kamu mau gugat aku di pengadilan jika itu membuat mamah dan papah kamu bahagia, aku memang tidak bisa memberikan keturunan seperti Dinda namun setidaknya penyebab aku kehilangan rahim bukan karena kesalahanku namun karena aku menolong mamah mu," ucap Sisil lalu beranjak pergi. Rio sempat mengejarnya namun ditahan oleh Mayang.


"Biarkan dia pergi sesuka hatinya.. Nanti juga dia bakal pulang, mana bisa dia hidup di jalanan," ucap Mayang mencegah Rio mengejar Sisil.


"Tapi mah?" ucap Rio terpotong.


"Buktikan perkataan mamah ini, lihat 1-2 hari apakah Sisil akan kembali kesini atau tidak," ucap Mayang dengan serius dan Rio hanya bisa menuruti kemauan mamahnya.


Di perjalanan Sisil tak hentinya menangis karena meratapi nasibnya yang malang. Pengorbanannya pada sang mertua kini sudah tidak ada artinya lagi dan tergantikan oleh Dinda, andai dia tidak refleks menolong mamah Mayang mungkin saat ini Sisil sudah bisa merasakan bagaimana rasanya jadi ibu.


****


Sesampainya di rumah ibunya kini Sisil bergegas masuk dan langsung memeluk ibunya dengan erat.


"Mamah..." panggil Sisil yang membuat Ira terkejut.


"Sisil? Kamu sudah bebas?" tanya Ira kaget dan Sisil mengangguk.


"Kok secepat ini? Kenapa gak kabari mamah kan bisa mamah jemput," tanya Ira penasaran.

__ADS_1


"Sisil banyak mendapatkan remisi mah jadi bisa bebas dengan cepat, bagi pak polisi selama ini Sisil berperilaku baik," ucap Sisil.


"Syukurlah mamah senang mendengarnya, mamah lega bisa melihatmu lagi Sil," ucap Ira bahagia dan memeluk anaknya, seketika Sisil menangis histeris dan membuat Ira penasaran.


"Kamu menangis? Kenapa? Ada masalah apa?" tanya Ira penasaran.


"Sebelum kesini terlebih dahulu Sisil ke rumah mas Rio.. Sisil berharap mas Rio menyambut kedatangan Sisil seperti mamah ini namun kenyataannya malah Sisil sedih, mas Rio menuduh Sisil kabur lagi dari penjara dan mamahnya menyuruh mas Rio untuk menceraikan Sisil hiks.. hiks.." ucap Sisil sembari menangis.


"Loh memang kesalahan apa yang kamu buat sampai mertuamu suruh kamu cerai dari Rio?" tanya Ira kaget sekaligus penasaran.


"Karena anak.. Lagi-lagi Sisil dibandingkan dengan mantan istrinya mas Rio," ucap Sisil lirih sembari tambah menangis.


"Kurang ajar sekali keluarganya Rio.. Bukannya berterima kasih karena nyawa mamahnya selamat malah yang ada menyakiti hati anakku terus, ayo kita ke rumah suamimu sekarang," ajak Ira tidak terima.


"Jangan mah.. Biarkan saja mereka dengan jalan pikirannya, Sisil mau menenangkan pikiran disini mah," tolak Sisil.


"Ketika kamu keluar apa Rio gak ada niat mencegah mu?" tanya Ira penasaran.


"Gak tau mah.. Sisil gak menengok ke belakang, hati Sisil terlalu sakit mendengar permintaan mamah Mayang, entah sekarang mas Rio mau menceraikan Sisil atau tidak Sisil pasrah mah," ucap Sisil sedih.


"Mamah akan selalu ada untukmu, jika kenyataannya kamu dan Rio sudah tidak berjodoh maka jangan lagi kamu mengemis padanya maupun keluarganya," ucap Ira.


"Salahnya sendiri kamu kasih suamimu begitu saja, makanya kalau cinta jangan kebangetan.. Logika tetap jalan, mamah saja kesal karena kamu memberikan cuma-cuma," protes Ira.


"Habisnya mas Rio butuh banget mah, itu saja belum, menutup hutangnya," ucap Sisil membuat Ira kaget.


"Ha? Kok bisa sih memang berapa banyak hutang suamimu?" tanya Ira.


"Sisil juga gak tau mah yang pasti sekarang keadaan keluarga mas Rio berbeda, katanya posisi perusahaan mas Rio terancam di akusisi seseorang mah," ucap Sisil dan semakin membuat Ira syok.


"Sisil.. Sisil.. Bukannya setelah menikah hidup enak bak ratu malah sekarang nelangsa, sudahlah jangan diharapkan lagi suami macam Rio.. Mulai sekarang carilah kerja," ucap Ira dan Sisil menimang perkataan mamahnya.


"Kerja apa mah?" tanya Sisil bingung.


"Nanti biar mamah carikan.. Sekarang kamu fokus saja sama memanjakan tubuh, nyalon yuk.." ajak Ira.


"Duit Sisil menipis mah, ini aja Sisil belum merubah penampilan," ucap Sisil pesimis.

__ADS_1


"Pakai uang mamah aja, kita rombak semua penampilanmu agar cantik seperti dulu lagi, buat suamimu menyesal," ucap Ira menggebu.


"Mana mungkin mas Rio menyesal mah.. Dia menyesal ya cuma sama mantan istrinya," ucap Sisil pesimis.


"Sudah ah yuk nyalon dan segera kerja, tunjukkan pada suamimu kalau kamu sukses tanpa dia," ucap Ira memotivasi dan Sisil mengangguk setuju.


Di salon tak sengaja Sisil bertemu dengan Dinda yang kebetulan juga disitu. Rasa malu menyeruak dirinya tak kala melihat penampilannya yang mirip buruk rupa sedangkan Dinda semakin menawan.


"Pantas saja mas Rio dan juga mamah Mayang sangat menyesal sudah menyia-nyiakan Dinda rupanya sekarang Dinda semakin menawan dan terawat, apa aku pantas duduk bersebelahan dengannya?" batin Sisil minder.


"Sisil.. Sini duduk," panggil Ira yang membuat perhatian Dinda teralihkan dengan arah tangan Ira.


"Itu kan mamahnya Sisil? Berarti yang dipanggil Sisil suaminya mas Rio dong?" batin Dinda dan benar saja dia melihat Sisil sedang berdiri mematung di pintu masuk.


"Mbak mau masuk atau gak?" tanya petugas salon dan Sisil tersadar dari lamunannya.


"Astaga ini anak kenapa sih melamun aja daritadi, sini loh masuk," ajak Ira menarik tangan Sisil. Mamah Ira tidak menyadari jika ada Dinda disini.


"Sabar dong mah jangan tarik-tarik gini," bisik Sisil malu namun Ira tak mempedulikan.


"Permisi.. Ini benar Sisil kan dan ini mamahnya?" tanya Dinda memastikan dan Ira langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Benar.. Oh kamu toh," jawab Ira angkuh.


"Kamu udah keluar Sil?" tanya Dinda pelan.


"Udah.." jawab Sisil ketus.


"Syukurlah.. Selamat ya atas kebebasan mu," ucap Dinda turut bahagia.


"Udah deh jangan sok baik aslinya kan kamu senang kalau anak saya di penjara, iya kan?" tuduh Ira membuat Dinda kaget.


"Maaf saya tidak seperti yang anda maksud," sanggah Dinda dengan santun.


"Hei jangan playing victim deh, yang membuat anak saya masuk penjara kan situ," sindir Ira.


"Karena memang anak anda terbukti salah," jawab Dinda tenang.

__ADS_1


"Ahh kalau kamu memang baik ya harusnya tidak memasalahkan ini ke jalur hukum, jangan selalu menggunakan kekuasaan suamimu," sanggah Ira dan Dinda hanya diam saja, mau membela seperti apapun rasanya percuma.


"Biarkan dia menggonggong dengan sendirinya, mau kebenaran dikatakan sebenar apapun tidak akan mempan pada mereka, lebih baik diam," batin Dinda yang sudah kembali ke kursinya.


__ADS_2