Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma

Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma
Bab 100 Belum siap.


__ADS_3

Malam semakin larut Melody berdiri di depan jendela yang menatap hujan rintik-rintik dengan ke-2 tangannya yang di lipat didanya. Melody tampak tampak murung dan pasti beban pikirannya entah kemana-mana yang paking utama tujuan pada keponakannya.


Ardian memasuki kamar, setelah selesai menutup semua pintu dan memeriksa keamanan lainnya. Ardian juga tadi sempat berkomunikasi dengan Evan untuk mengetahui situasi yang terjadi. Ardian melihat Melody murung membuatnya melangkah mendekati Melody.


Berdiri di belakang Melody dengan memegang ke-2 pundak Melody dan juga membuat Melody menghadap dirinya dengan memegang pipi Melody sembari mengusapnya dengan lembut.


" Ada Melody?" tanya Ardian. Melody hanya diam dan mungkin tau jika istrinya itu sedang memikirkan keponakan.


" Melody memang begitu dekat dengan Chaca, dia pasti sangat mengkhawatirkan Chaca. Aku juga ingat waktu itu, di mana Melody mendapat Vidio Chaca yang membuatnya langsung tertawa seakan melupakan semua masalah dan sudah bisa di tebak hubungan mereka memang benar-benar dekat," batin Ardian yang ikut merasa sedih dengan murungnya Melody.


" Apa mungkin untuk menelponnya?" tanya Melody melihat mata Ardian, seakan ingin meminta izin.


" Maafkan aku. Tetapi kita tidak bisa melakukan itu," jawab Ardian menegaskan yang pasti membuat Melody kecewa. Ardian langsung memeluknya dengan mengusap-usap punggung Melody.


" Melody aku tau kamu sangat mengkhawatirkanku Chaca. Aku mengerti perasaan kamu. Tetapi untuk saat ini bersabarlah. Semuanya akan kembali seperti semua. Kita akan kembali setelah masalah selesai," ucap Ardian yang terus membuat Melody untuk tetap tenang dan percaya akan apa yang di katakannya.


Ardian melepas pelukannya dari Melody dengan tangannya memegang ke-2 pipi Melody dan sedikit mengangkat wajah Melody agar sejajar dengannya.


" Kamu percayakan semua masalah ini kepadaku," ucap Ardian. Melody menganggukkan kepalanya yang memang dia tidak punya alasan selain hari percaya.


Ardian mencium kening Melody dengan lembut dan Melody memejamkan matanya lalu Ardian langsung menggendong Melody ala bridal style, Melody sempat kaget, namun tangannya mengalung di leher Ardian dan dengan perlahan Ardian melangkah menuju tempat tidur dan langsung membaringkan Melody di atas tempat tidur.


Wajah ke-2nya yang saling bertemu dan membuat Ardian mencium kembali kening Melody, Melody kembali memejamkan matanya dengan debaran jantungnya yang bergetar kencang bahkan napasnya yang juga mendadak naik turun.


Ardian menempelkan keningnya di kening Melody Ndan Melody membuka matanya perlahan dan membuat mata mereka yang saling bertemu saling menatap dengan intens dengan hembusan napas yang sama-sama saling menerpa.


" Aku mencintaimu mu Melody!" ucap Ardian dengan suara beratnya yang mengungkap cinta pada Melody.

__ADS_1


Jujur Melody bahagia mendengar ucapan cinta itu. Namun Melody tidak merespon dan hanya diam. Ardian mencium mata Melody kiri dan kanan, lalu mencium wajah pipi merah merona Melody dan menatap Melody kembali yang masih memejamkan matanya. Mata Ardian pun turun pada bibir Melody dan langsung menempelkan bibirnya dengan Melody.


Tidak ada penolakan dari Melody, tangan Melody memegang kuat lengan Ardian saat mendapatkan sensasi ciuman dari Ardian. Di mana ciuman itu semakin dalam dan semakin panas dengan gairah yang semakin naik.


Ardian sepertinya ingin meminta lebih pada Melody. Terbukti dari ciuman yang turun pada leher jenjang Melody dengan tangannya yang bahkan membuka kancing baju Melody bagian atas. Namun seketika Melody merasa gelisah dan refleks mendorong dada Ardian sehingga membuat Ardian menjauh sedikit dari atas tubuhnya.


" Aku belum siap," ucap Melody dengan mengalihkan pandangannya kesamping yang mana dia benar-benar tidak siap jika harus melakukan hubungan itu.


Wajah Ardian tidak bisa di bohongi, jika Ardian pasti kecewa. Napasnya bahkan naik turun di saat gairahnya semakin memuncak dan seketika Melody menghentikannya.


" Maafkan aku!" ucap Melody yang tidak berani melihat wajah Ardian yang berada di depannya yang tirus menatapnya.


" Aku mengerti. Aku tidak akan memaksamu," ucap Ardian dengan suara beratnya. Ardian harus mengakhirinya dengan mencium bibir Melody sekilas. Lalu mencium kening Melody dengan lembut dan langsung berbaring di samping Melody dan membawa Melody kepelukannya dan Melody memeluk Ardian dengan erat.


" Kamu marah?" tanya Melody.


" Kasih aku waktu Ardian," ucap Melody.


" Pasti," sahut Ardian memeluk lebih erat lagi Melody.


*************


Chaca yang berada di rumah sakit di temani, Dania, Marsel, Gadis, Wawan dan juga Feby.


" Dokter mengatakan Chaca sama sekali tidak ada perubahan. Aku semakin khawatir dengan kondisinya yang tak kunjung sembuh," ucap Gadis dengan wajahnya yang terlihat begitu panik.


" Kamu bersabar sayang, semoga besok ada petunjuk dengan keberadaan Melody dan juga Ardian," sahut Marsel yang hanya memberi kekuatan istrinya.

__ADS_1


" Kita doakan saja. Mama juga sangat mengkhawatirkan Melody dah Chaca jadi seperti ini," sahut Dania yang pasti tidak kalah paniknya.


" Kasihan banget Chaca, dia pasti merindukan kak Melody. Aku jadi iri dengan kak Melody. Aku saja pernah pergi, tidak bertemu Chaca lama. Tetapi Chaca tidak pernah merindukanku," sahut Feby.


" Jangan bicara seperti itu Feby. Kamu kan tau sendiri, Chaca begitu dekat dengan Melody. Jadi jelas Chaca seperti ini karena sudah ada ikatan batin dengan kedekatan mereka ber-2," sahut Wawan dengan tangannya merangkul bahu Feby.


" Kayak ikatan batin ibu dan anak saja," Celetuk Febby.


Mendengar celetukannya Febby membuat, Gadis, Marsel, Dania dan Wawan diam dan terlihat kaget bahkan mereka saling melihat.


" Mamanya aja pergi ke luar kota sampai seminggu, Chaca tidak seperti ini," lanjut Febby lagi dan keluarga itu terlihat diam mendadak seperti ada sesuatu yang di sembunyikan.


" Febby seperti yang di bilang papa kamu tadi. Chaca itu sangat dekat dengan Melody, kan Melody terus yang mengurus Chaca. Jadi wajar Chaca seperti ini," sahut Dania dengan wajahnya yang terlihat begitu gugup.


" Hmmmm, iya sih," sahut Febby.


" Aunty, pulang, pulang!" lirih Chaca yang tiba-tiba melindur dengan memanggil Melody.


" Mas, bagaimana ini?" tanya Gadis semakin panik dengan melihat air mata keluar dari kelopak mata itu dan Chaca juga terlihat menangis tanpa membuka matanya.


" Sayang, kamu jangan nangis, ya mama ada di sini, Aunty pasti kembali," ucap Gadis yang semakin panik dengan mengusap-usap pucuk kepala Chaca. Melihat putrinya seperti itu membuatnya tidak tega.


" Melody kembalilah secepatnya, lihat Chaca yang sangat merindukan kamu. Kembalilah sayang," batin Dania yang berharap Melody cepat pulang.


" Kak Melody di anggap Chaca sudah seperti ibunya aja," batin Febby yang merasa aneh dengan semuanya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2