
Lea pun langsung ke luar dari rumah sakit. Kepala Lea mencari-cari di mana keberadaan Alvin yang sebelumnya Alvin mengatakan ada di depan.
" Di depan mana dia?" tanya Lea yang terus melihat-lihat kesekitar nya yang mencari-cari di mana Alvin kekasihnya itu.
Tiba-Toba sebuah pelukan sudah memeluknya dari belakang yang membuatnya terkejut dan langsung melihat ke belakang dengan wajahnya yang panik.
" Alvin!" lirih Lea yang panik dan berusaha untuk melepas pelukan dari Alvin. Namun Alvin tidak mau dan tetap memeluknya dengan erat.
" Sebentar saja. Aku itu merindukan kamu," ucap Alvin berbisik di telinga itu yang terus menempelkan pipinya pada Lea.
" Alvin ini di tempat umum. Bagaimana jika ada yang melihat," ucap Lea panik yang terus melihat orang-orang di sekitarnya. Takut ada yang melihatnya.
" Memang kenapa tempat umum. Apa ada yang salah?" tanya Alvin yang terus memeluknya yang mana Alvin terlihat bucin dan tampaknya memang tidak peduli di mana keberadaannya. Mau tempat umum atau tidak.
" Salah dong Alvin. Aku malu tau dengan kamu yang seperti ini. Tidak enak di lihat orang," ucap Lea yang begitu tidak nyaman dan terus saja berusaha menghindari Alvin, menggeser tangan Alvin dari pinggangnya. Alvin benar-benar kelewat batas yang tidak mau melepas pelukannya itu sama sekali.
" Sebentar saja Lea," ucap Alvin.
" Baiklah! peluk aku sampai 1 menit saja. Setelah itu lepas," sahut Lea menghela napas dan mengalah untuk Alvin yang benar-benar bucin padanya.
" Jika kamu diam seperti ini. Ini jauh lebih baik. Aku bisa merasakan kehangatan tubuh kamu," ucap Alvin.
" Iya, terserah kamu," sahut Lea dengan tersenyum. Sebenarnya di peluk seperti itu membuatnya begitu bahagia dan nyaman yang juga dia paling suka di peluk.
" Dasar murahan!" tiba-tiba terdengar suara sinis yang membuat Lea dan Alvin terkejut. Lea lebih terkejutnya saat melihat mamanya dan dengan cepat Lea melepas tangan Alvin dari pinggangnya.
__ADS_1
" Mama!" lirih Lea dengan wajah kagetnya melihat Iriana sudah di depannya dan Alvin juga kaget yang pasti mengenali wanita itu mengingat mereka juga pernah bertemu sebelumnya.
" Murahan teriak murahan. Kamu bilang apa kemarin. Kau yang murahan. Kamu tidak berkaca dengan diri kamu. Di tempat umum seperti ini. Bisa-bisanya kamu malah berbuat seperti ini dengan dia..." ucap Iriana menjeda omongannya dan menatap Alvin dengan selidik yang mengamati Pria itu.
" Sudah berapa kali kamu pake wanita ini?" tanya Iriana sinis. Mendengarnya Lea terkejut dengan matanya berkaca-kaca.
" Apa yang mama bicarakan. Mama jangan menuduhku sembarangan," sahut Lea dengan tubuhnya yang bergetar.
" Menuduh kau bilang, di tempat umum saja kau berani seperti ini dengan pria. Lalu apa kabar jika di tempat tertutup. Huhhhh kalian pasti sering..."
" Cukup!" sentak Alvin. Alvin sejak tadi sudah menahan dirinya yang mana Lea di rendahkan ibunya sendiri, " jangan sembarangan menilai Lea seperti itu. Lea bukan wanita seperti itu. Bukannya anda adalah orang tuanya. Bagaimana mungkin. Orang tua bisa sanggup bicara seperti itu kepada anak sendiri. Seorang ibu seharusnya melindungi anaknya dan mengayominya. Bukan seperti ini," ucap Alvin yang memberikan nasehat kepada Iriana.
Mendengar kata-kata Alvin. Mana mungkin masuk kedalam otak Iriana yang adanya dia itu masa bodo dan tidak peduli sama sekali.
" Maaf nyonya jika bicara saya lancang. Saya ini mungkin tidak ada hubungan darah dengan Lea. Tetapi saya bisa menjamin jika Lea lebih menganggap saya sebagai seorang ibu. Di bandingkan anda yang tidak siapa-siapa yang hanya nama sebagai ibu. Tetapi tega menyakiti dan melukai perasaan anaknya," jelas Alvin dengan kata-katanya yang pedas yang tidak peduli siapa wanita yang di ajaknya bicara itu.
" Kau," geram Iriana.
" Kenapa anda marah tidak terima," sahut Alvin.
" Alvin sudah, sebaiknya kita pergi. Kita jangan di sini," sahut Lea yang mencegah keributan antara mamanya dan juga kekasihnya itu.
" Aku peringatkan untuk anda stop menghina Lea. Lea itu wanita baik-baik. Jangan sekali-kali merendahkannya. Apa lagi merendahkannya di depanku. Jika itu sampai terdengar di telingaku lagi. Maka jangan salahkan aku. Jika akhirnya aku tidak menganggap kau ibunya dan aku bisa melakukan apa saja kepadamu," ancam Alvin yang tidak main-main dengan ucapannya.
" Kau berani mengancamku," ucap Iriana dengan kemarahannya.
__ADS_1
" Anggaplah ini hanya peringatan kecil saja," sahut Alvin menggenggam tangan Lea dan langsung membawa wanitanya pergi dari hadapan seorang ibu yang memang tidak mempunyai hati.
" Argggghhh kurang ajar. Berani sekali dia mengataiku seperti itu. Lea juga dia malah membela Pria itu. Anak kurang ajar," umpat Iriana yang emosi sendiri. Dia yang mencari keributan dia juga yang marah sendiri. Ya tau sendiri Alvin tidak akan membiarkan Lea sampai di rendahkan. Pasti Lea sakit hati dengan perkataan Iriana. Apa lagi perkataan itu dari ibu kandungnya sendiri.
***********
Melody masih tetap berada di ruangan Ardian. Masih menjaga Ardian. Awalnya Dokter tidak mengijinkan Melody untuk berlama-lama di dalam kamar Ardian. Namun karena usaha Marsel lagi. Akhirnya Melody masih tetap berada di dalam kamar Ardian untuk menjaga suaminya, menunggu suaminya kapan akan sadar dari komanya.
Yang mana sekarang Melody tertidur di samping Ardian. Dengan posisi duduk dan kepalanya yang berada di atas tempat tidur tepat di sebelah Ardian. Tangannya terus saja menggenggam tangan Ardian dengan erat.
Di dalam kamar itu memang hanya ada Melody dan Ardian saja. Yang lain tidak di perbolehkan masuk sama sekali. Jadi Melody tetap berada di sisi suaminya.
Di dalam tidurnya Melody. Melody terbayang akan indahnya kebersamaannya dengan Ardian. Dari mereka bertemu pertama kali sampai hari-hari yang mereka jalani. Dari berpacaran sampai masa-masa sulit yang mereka hadapi yang membuat mereka akhirnya berpisah.
Pertengkaran-pertengkaran hebat di antara keduanya. Saat menikah. Semua itu terbayang di dalam tidurnya Melody. Sampai akhirnya mampu membuat air mata Melody menetes dalam keadaan tidur. Mungkin dia kembali menyampaikan perasaannya pada suaminya dalam tidurnya yang bicara dari hati ke hati kepada suaminya.
Ternyata Ardian yang juga masih dalam keadaan koma. Tiba-tiba meneteskan air mata dari pelupuk matanya. Mungkin apa yang di bicarakan Melody dari hatinya kontak pada Ardian. Makanya Ardian ikut menangis.
Di detik berikutnya tiba-tiba mata Ardian bergerak-gerak. Dan tidak lama perlahan mata itu terbuka. Awalnya terbuka sipit namun terbuka dengan sempurna.
Mata Ardian seperti mencari-cari sesuatu yang tidak di ketahui apa yang di carinya. Namun merasa ada sesuatu di sampingnya membuat Ardian melihat ke bawah dan melihat seorang wanita yang wajahnya tidak terlihat. Namun dia tau siapa itu. Ya dia merasakan itu adalah istrinya.
Bersambung
.
__ADS_1