Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma

Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma
Bab Penjelasan.


__ADS_3

Ardian dan Alvin masih berusaha mencari keberadaan Rasti. Bahkan mereka menggunakan bantuan dari orang-orang yang di kenal Alvin di Jepang untuk mencari keberadaan Rasti.


Yang ternyata Rasti sudah berada di salah satu hotel yang pasti Rasti datang ke sana untuk menginap. Karena memang Rasti tidak bisa pulang. Karena tidak adanya penerbangan malam itu.


Rasti menerima kartu dari resepsionis hotel. Rasti menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Lalu kembali melanjutkan langkahnya dengan menyeret kopernya.


" Rasti!" langkah Rasti terhenti ketika ada yang memanggilnya dan membuat Rasti membalikkan tubuhnya dan melihat kebelakang nya yang ternyata Ardian dan Alvin. Hal itu membuat Rasti begitu terkejut.


" Ardian, Alvin!" lirih Rasti dengan wajah paniknya. Ardian dan Alvin saling melihat dan menghampiri Rasti yang masih diam di tempatnya.


" Ardian Alvin, bagaimana kalian bisa menemukanku?" tanya Rasti dengan gugup.


" Jadi kamu menyadari kalau kamu menyadari kalau kamu pergi begitu saja. Pergi setelah membuat semua orang panik, semua orang khawatir, cemas. Karena kepergian kamu yang tiba- tiba-tiba," ucap Ardian marah-marah pada Rasti.


" Maaf tapi aku memang harus pergi. Ada hal yang mendadak yang harus aku kerjakan," ucap Rasti yang ingin pergi dengan menyeret kopernya. Namun Ardian menahan tangan Rasti yang berada di kopernya.


" Hal mendadak seperti apa. Hal mendadak yang buru-buru pergi untuk menghindari kami semua?" tanya Ardian.


" Rasti apa sebenarnya yang terjadi. Kenapa kamu tiba-tiba meninggalkan Evan begitu saja. Kamu bisa menolak lamarannya. Tapi tidak pergi begitu saja dan bahkan sampai keluar dari penginapan malam-malam seperti ini," ucap Alvin dengan kesal.


" Aku minta maaf sudah merepotkan kalian. Tetapi aku punya alasan sendiri untuk masalahku dan Evan dan iya itu permasalahan kami berdua dan sebaiknya kalian berduan jangan mencampuri urusan ku. Kalian berdua sebaiknya pergi dari sini. Karena aku juga mau istirahat," ucap Rasti menegaskan.


" Kamu bilang mau istirahat. Apa kamu tidak memikirkan semua yang mengkhawatirkanmu dan bahkan tidak bisa beristirahat dan kamu dengan mudahnya mengatakan untuk beristirahat. Kamu sadar tidak dengan apa yang kamu bicarakan. Kenapa seenaknya seperti ini Rasti," ucap Ardian dengan kesalnya.


" Sudahlah Ardian, aku minta maaf dengan apa yang aku lakukan. Tolong kasih aku waktu. Aku mau istirahat. Aku akan menyelesaikan masalahku dengan Evan. Aku bisa mengurusnya. Aku memutuskan untuk pergi dari Hotel karena aku nggak mau membuat suasana semakin keruh," ucap Rasti.


" kamu yang memperkeruh suasana Rasti!" sahut Alvin.


" Jika memang aku yang memperkeruh suasana. Makanya aku pergi dari sana. Jadi tolong beri aku kesempatan untuk beristirahat. Aku juga harus menenangkan diriku," ucap Rasti dengan lembut.


Ardian dan Alvin saling melihat dan mereka saling menganggukkan kepala.

__ADS_1


" Baiklah kalau begitu. Aku dan Alvin akan pergi. Rasti aku hanya berharap kamu bisa bicara kepada kami. Aku berharap kamu bisa berpikir jernih. Kamu bisa menyelesaikan masalah ini dan jangan berlarut-larut. Apapun itu kamu dan Evan orang terdekat ku. Jadi hargai aku dan apapun yang terjadi harus bercerita kepada kami," ucap Ardian.


Rasti mengangguk dengan tersenyum tipis, " baiklah kalau begitu," sahut Rasti.


" Ayo Alvin kita sebaiknya pergi!" ajak Ardian.


" Hmmm, ingat ya Rasti untuk tidak pergi begitu saja," ucap Alvin mengingatkan. Rasti mengangguk saja. Ardian dan Alvin akhirnya meninggalkan tempat itu. Rasti menghela napasnya dan kembali melanjutkan langkahnya untuk menuju kamarnya.


************


Ardian sudah pulang kembali ke penginapan tanpa membawa Rasti. Ardian juga sudah memasuki kamar dan berada di atas tempat tidur dengan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang dan Melody yang berada di pelukannya.


" Sayang apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Melody di pelukan suaminya.


" Aku juga tidak tau Melody. Rasti tidak mengatakan apa-apa saat aku dan Alvin menemuinya," jawab Ardian.


" Sebelumnya semuanya baik-baik saja. Tidak ada masalah. Saat aku memberikan pakaian kepada Rasti dia juga terlihat semangat dan aku rasa menolak tanpa ada alasan tanpa ada sesuatu merupakan hal yang janggal," ucap Melody.


" Hmmmm, apa yang terjadi kenapa semuanya seperti ini?" tanya Melody lagi dengan mengeluarkan napas beratnya.


" Kita berdoa saja Melody semoga besok kamu sama Lea bisa bicara dengan Rasti. Semoga memang ini hanya penolakan saja. Bukan karena ada sesuatu," ucap Ardian dengan penuh harapan.


" Aku juga berharap seperti itu. Aku coba akan menemui Rasti besok dan bicara baik-baik padanya. Semoga hubungannya dengan Evan juga baik-baik saja," ucap Melody.


" Iya kita doakan saja. Sekarang ada sebaiknya kita istirahat," ucap Ardian. Melody mengangguk dan memeluk suaminya dengan erat. Ardian mengusap-usap rambut Melody dengan mengecup kening Melody. Perlahan Melody memejamkan matanya. Dia juga begitu lelah karena kejadian hari ini.


**********


" Ini sangat aneh. Pasti ada sesuatu yang terjadi," sahut Lea yang berdiri di pinggir ranjang dan Alvin sendiri bersandar di kepala ranjang.


" Rasti itu mencintai Evan. Mana mungkin dia menolak Evan begitu saja. Bahkan Rasti sangat ingin sekali menikah dengan Evan. Tapi kok tiba-tiba malah kayak gini," oceh Lea dengan mulutnya yang merocos terus.

__ADS_1


" Sayang sudah besok aja kita bahas masalah itu. Ayo sini kita istirahat, aku capek. Kamu juga pasti," sahut Alvin mengulurkan tangannya agar di sambut istrinya.


" Tapi sayang aku tidak puas. Kalau masalah ini belum selesai," sahut Lea.


" Sudah besok aja. Kita istirahat dulu!" bujuk Alvin lagi. Lea menghela napasnya dan langsung menganggukkan kepalanya dan menyambut uluran tangan suaminya itu dan memeluk suaminya.


" Jangan menceritakan masalah mereka lagi. Kita istirahat dulu. Besok saja kita membahas mereka. Pasti akan ada penyelesaian masalahnya," ucap Alvin.


" Iya sayang, aku tidur, walau tidak bisa," sahut Lea. Alvin tersenyum memeluk erat istrinya itu.


************


Akhirnya Rasti sudah bisa di ajak bicara. Di mana Melody dan Lea langsung menemuinya. Mereka mengobrol santai di Restaurant yang ada di hotel tersebut.


" Rasti apa yang terjadi kenapa tiba-tiba seperti ini?" tanya Melody dengan wajah sendunya. Rasti tersenyum melihat Lea dan Melody.


" Tidak ada yang terjadi Melody. Bukankah seorang wanita harus memikirkan matang-matang untuk menikah dan aku hanya belum siap untuk menikah dengan Evan," jawab Rasti tenang.


" Rasti kalau memang belum siap. Ya bilang aja belum siap. Tetapi kamu kenapa malah memutuskan hubungan kamu dengan Evan. Itu sangat tidak masuk akal. Masa iya hanya karena Evan melamar kamu. Kamu jadi putus dengan dia. Sementara selama ini kalian sering ribut nggak sampai kayak gitu," sahut Lea.


" Justru itu Lea. Aku melihat Evan sangat serius untuk menikah dan sementara aku belum siap untuk menjadi istrinya. Karena pernikahan itu bukanlah mudah. Jadi aku hanya tidak siap. Itulah alasanku," ucap Rasti.


" Tidak mungkin rasanya. Aku yakin pasti ada sesuatu yang di sembunyikan Rasti. Masa iya hanya karena itu saja," batin Melody yang terus memperhatikan Rasti


Rasti melihat Melody dan memegang tangan Melody, " tidak ada apa-apa Melody. Aku baik-baik saja," ucap Rasti meyakinkan Melody.


" Aku sangat mengenal kamu Rasti. Mengenal kamu dan juga Evan. Aku bagian dari hubungan kalian. Aku sangat berharap kamu tidak menyembuyikan apa-apa dari ku. Aku teman kamu dan aku ingin jika kamu berbagi apapun kepadaku," ucap Melody.


Rasti mengangguk-angguk dengan senyumannya. " aku tidak menyembuyikan apa-apa percayalah," sahut Rasti.


Baik Melody ataupun Rasti sama-sama tidak percaya dengan apa yang di katakan Rasti. Semakin Rasti bicara semakin mereka merasa ada sesuatu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2