Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma

Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma
Bab 155 Jamuan besar.


__ADS_3

Lea pun akhirnya pulang kerumahnya, karena Alvin pergi begitu saja dan membatalkan janji mereka. Setelah mematikan mesin mobilnya, Lea pun keluar dari mobilnya dan memasuki rumah.


" Syukurlah kalau malam ini tidak jadi. Ya semoga saja memang tidak akan jadi selanjutnya. Dia bukannya pria yang sangat sibuk. Aku berharap dia benar-benar sibuk terus dan bahkan melupakan perjanjian itu dariku," gerutu Lea dengan melangkah masuk kedalam rumah.


" Lea!" langkah Lea terhenti karena mendengar suara yang membuatnya membalikkan tubuh kebelakang dan melihat Widia yang memanggilnya.


" Tante!" lirih Lea yang terlihat kurang tenang.


" Kamu habis dari mana?" tanya Widia heran.


" Oh, itu Lea habis dari_ Lea habis dari rumah teman," jawab Lea dengan gugup.


" Emang undangannya tidak jadi?" tanya Widia heran.


" Ma_ maksud Tante?" tanya Lea jadi bingung.


" Bukannya tadi Melody bilang kamu pergi undangan. Lalu kenapa tiba-tiba jadi Kerumah teman," ucap Widia dengan menaikkan 1 alisnya yang bingung dengan Lea.


" Astaga Lea kamu ini kenapa bego amat sih. Bukannya kamu sudah beritahu Melody tadi. Lalu kenapa tidak mengingat alasan kamu," batin Lea yang merasa gugup sampai lupa jika tadi sudah menyiapkan alasan.


" Lea!" tegur Widia yang membuat Lea menyadarkan dirinya dari lamunannya.


" Oh, iya Tante, tadi habis dari undangan Lea Kerumah teman lama. Soalnya sudah lama tidak ketemu dan lagian di kondangan juga tadi hanya sebentar. Makanya Lea langsung ke rumah teman," ucap Lea yang memberikan alasan.


" Oh begitu rupanya," sahut Widia.


" Iya Tante seperti itu," sahut Lea dengan tersenyum kaku.


" Ya sudah kalau begitu, kamu sana langsung istirahat, Tante juga mau istirahat, ini sudah malam," ucap Widia.


" Iya Tante," sahut Lea. Widia langsung pergi..Setelah kepergian Widia. Lea menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan dengan mengusap dadanya yang merasa begitu lega.


" Argggghhh, syukurlah jika Tante tidak banyak tanya lagi, lagian Lea kamu tidak konsisten sih, yang ini kasih alasan yang ini kasih alasan untung saja alasannya bisa di gabungkan," gumam Lea merasa lega dan kembali menaiki anak tangga menuju kamarnya untuk beristirahat.


***********


Mentari pagi kembali tiba. Aktivitas pagi kembali di laksanakan seperti biasa. Namun pagi-pagi ini jauh lebih berbeda. Karena terlihat Mila bersama asisten rumah tangga memasak dengan heboh, bahkan Widia sampai turun tangan.


Melody yang keluar dari kamar heran dengan aktivitas di rumah itu, belum lagi Eyang terlihat mengatur beberapa Asisten rumah tangga untuk memberes-bereskan rumah yang membuat Melody heran. Di lihat juga Aliya ikut membantu.


Melody yang berdiri di ujung anak tangga terakhir hanya bingung. Vivi yang menuruni anak tangga berdiri di samping Melody dan menyenggol Melody dengan sikunya membuat Melody melihat kearahnya.


" Ada apa ini kak, kok kelihatan di rumah ini sibuk sekali pagi-pagi seperti ini?" tanya Melody heran.


" Aku juga tidak tau," jawab Vivi mengangkat ke-2 bahunya. " Kan baru turun juga sama seperti kamu," lanjut Vivi yang tampaknya memang tidak tau apa-apa.


" Lalu kakak sendiri kok tumben masih di sini. Memang nggak kekantor?" tanya Melody heran.


" Ini hari Minggu Melody, kamu ini bagaimana. Masa iya hari saja tidak tau," sahut Vivi.


" Melody tau ini hari Minggu. Tapi kan biasanya kakak kalau hari Minggu juga kerja. Kan kakak itu super super sibuk uang tidak tau waktu weekend," ucap Melody.


" Hmmm, benar ya begitu. Tetapi kali ini tidak. Ini libur kakak tidak bekerja. Kakak tidak percaya kalau kamu ternyata suka memperhatikan kakak sampai tau jadwal kakak bekerja," ucap Vivi dengan sedikit bangga.


" Siapa yang memperhatikan," sahut Melody.


" Vivi, Melody sedang apa kalian?" tanya Eyang yang melihat 2 orang itu malah mengobrol.


" Nggak Eyang tidak apa-apa," jawab Vivi.


" Ya sudah, sini Vivi kamu bantu susuni bunga-bunganya dan kamu Melody sana lihat ke dapur apa yang bisa kamu kerjain. Dari pada kalian berdua bergosip tidak jelas seperti itu," ucap Eyang menegaskan.


" Ya ampun Eyang siapa yang bergosip hanya mengobrol saja," sahut Vivi.


" Sama aja, ayo cepat bantuin Eyang sini," sahut Eyang.


" Baiklah," sahut Vivi yang tampak terpaksa.


" Melody kedapur dulu," sahut Melody yang langsung pergi setelah Eyang mengangguk kepalanya.


Melody yang ke dapur dan melihat begitu banyak kesibukan dengan pembagian masak ini dan itu, ada membuat makanan berat dan ada yang berkumpul-kumpul membuat makanan ringan.


" Ma!" tegur Melody menghampiri ibu mertuanya itu yang sedang mengaduk tepung.


" Melody!" sahut Widia hanya melihat sebentar.

__ADS_1


" Ada apa ini ma? kenapa Melody melihat orang-orang di rumah tampak sibuk dan pagi-pagi seperti ini mama juga memasak sangat banyak. Kayak ada acara saja?" tanya Melody dengan penuh kebingungan.


" Begini Melody, kita ada acara jamuan makan dengan beberapa pengusaha yang berhubungan dengan Perusahaan keluarga. Yang kebetulan rumah kita ini menjadi tuan rumahnya," jelas Widia.


" Hmmmm, begitu rupanya," sahut Melody.


" Memang Ardian tidak cerita apa-apa sama kamu?" tanya Widia.


" Tidak ada mah, makanya Melody heran di rumah tampak sibuk," jawab Melody.


" Iya Melody, makanya kamu juga nanti siap-siap ya. Karena pasti banyak rekan-rekan bisnis Ardian yang juga akan datang. Kamu ini istrinya Ardian jadi harus ada di sampingnya," ucap Wida mengingatkan Melody.


" Iya mah, ya Melody mau bikin kopi dulu untuk kak Ardian setelah itu nanti Melody akan membantu mama," ucap Melody yang memang tadi tujuannya keluar kamar karena suaminya ingin di buatkan teh.


" Ya sudah buatlah," sahut Ratih. Melody mengangguk dan langsung membuatnya.


Setelah selesai membuatnya Melody langsung kekamar dan melihat Ardian yang keluar dari kamar mandi dengan handuk di lilit di pinggangnya yang bisa di pastikan Ardian habis mandi dan tidak lupa keramas di pagi hari. Keramas bukan berarti habis tempur ya tadi malam. Karena memang ingin keramas aja.


" Nih kopinya!" Melody memberikan kopi itu pada suaminya.


" Makasih sayang," ucap Melody.


" Kenapa tidak bilang padaku. Kalau bakal ada acara di rumah?" tanya Melody.


" Astaga sayang aku lupa memberi tahu kamu. Rencananya pagi ini aku ingin beri tau," ucap Ardian.


" Ya sudahlah aku juga sudah tau dari mama kok," sahut Melody.


" Maaf ya sayang, aku tidak memberitahu kamu," ucap Ardian merasa bersalah dengan meneguk kopi buatan istrinya.


" Tidak apa-apa. Oh iya jam mereka datang?" tanya Melody.


" Paling jam 10 atau jam 9," jawab Ardian.


" Berarti kita tidak jadi jalan-jalan sama Chaca?" tanya Melody.


" Nanti kalau acaranya selesai. Kita jemput Chaca ya," ucap Ardian.


" Baiklah," sahut Melody.


" Ya sudah kamu juga sekarang, sebaiknya mandi. Aku juga ingin kenalkan kamu dengan istri-istri temanku," ucap Ardian.


" Begitu rupanya," sahut Ardian. Melody menganggukkan kepalanya.


" Sebentar pegang dulu!" Ardian memberikan teh itu pada Melody dan Melody bingung yang melihat suaminya menuju lemari. Ardian mengambil paper bag coklat dan kembali menghampiri istrinya.


" Untuk kamu!" ucap Ardian membuat Melody heran dengan menaikkan ke-2 alisnya.


" Apa ini?" tanya Melody yang sudah memegang paper bag tersebut. Ardian mengambil cangkir kopi yang masih di pegang istrinya itu meletakkan di atas nakas.


" Bukalah sayang!" titah Ardian. Melody mengangguk dan langsung mengeluarkan isinya yang ternyata gaun berwarna merah merah.


" Gaun!" ucap Melody tampak terkejut.


" Iya itu gaun untuk kamu," ucap Ardian.


" Sejak kapan kamu membelinya?" tanya Melody yang mencocokkan gaun indah itu ke tubuhnya yang terlihat pas untuknya.


" Aku membelinya tadi malam, saat aku kebetulan ke luar beli obat untuk mama. Aku kepikiran dengan kamu dan akhirnya memutuskan untuk mencarikan kamu gaun ya semoga cocok untuk kamu," jelas Ardian.


" Ini sangat pas. Kok tau banget ukuran tubuh aku," ucap Melody.


" Ya tau dong sayang," sahut Ardian.


" Ya sudah makasih ya sudah membelikan ku gaun indah ini. Ini hadiah pertama dari kamu setelah kita menikah," ucap Melody.


" Sama-sama," sahut Ardian dengan mengusap pipi istrinya, " kamu menyukainya?" tanya Ardian Melody mengangguk-anggukkan kepalanya.


" Ya sudah mau mandi dulu!" ucap Melody.


" Iya sayang," sahut Ardian. Melody pun akhirnya pergi memasuki kamar mandi dan gaun itu di letakkan di atas tempat tidur begitu saja.


Melody tidak jadi turun kedapur untuk membantu mama mertuanya. Karena dia harus siap-siap untuk mendampingi suaminya.


**********

__ADS_1


Rumah Ardian sudah begitu rapi tempat pertemuan para tamu-tamu di ruang tamu yang sudah di sulap indah, di bagian luar juga sudah terlihat begitu tapi dengan makanan yang sudah di siapkan dengan transparan.


Sudah ada beberapa tamu yang datang yang sekarang di jamu oleh Ardian, Arya dan Bayu. Sementara Melody masih berada di dalam kamar yang sekarang Melody sedang bersiap-siap dengan memakai gaun indah yang di belikan suaminya.


Gaun yang berbentuk duyung dengan tangannya yang turun berbentuk silang di bagian dadanya. Sehingga dada dan pundak indah Melody terlihat mulus. Rambutnya di sanggul cantik dengan 2 anak rambut di kriting di kiri dan kanannya yang membuatnya begitu cantik.


Setelah Melody memoles wajahnya dengan makeup tipis. Sekarang dia memakai anting kecil di telinganya.


Di tengah kesibukan Melody memakai anting itu tiba-tiba sebuah kalung melekat di lehernya, kalung indah yang cantik yang membuat Melody dan melihat suaminya yang ternyata yang memakaikan ke lehernya.


" Kak!" lirih Melody melihat suaminya dari cermin.


" Kamu cantik memakainya," ucap Ardian yang memasangkan kalung itu. Selesai memasangnya, Ardian melihat mencium pundak polis Melody, " sangat cantik," puji Ardian.


Melody tersenyum dan membalikkan tubuhnya melihat ke atas suaminya dengan tangannya memegang kalung yang melekat di lehernya itu, sampai dia menundukkan kepalanya.


" Ini untukku!" ucap Melody yang masih memegang kalung itu.


" Iya sayang, itu untuk kamu, kamu menyukainya?" tanya Ardian.


" Iya aku sangat menyukainya. Kamu serius memberikan ini untukku?" tanya Melody yang tampak tidak begitu percaya.


" Aku memang memberinya untukmu," ucap Ardian. Melody tersenyum dan langsung memeluk Ardian.


" Makasih kak, aku menyukainya. Padahal aku masih ada kalung yang dulu kamu berikan dan bahkan aku ingin memakainya sekarang. Karena kalung itu tidak pernah aku lepas dari leherku," ucap Melody.


" Tidak apa-apa kalung itu kamu pakai terus menerus dan kalung ini kamu pakai untuk acara formal saja," ucap Ardian.


" Makasih kak Ardian," ucap Melody yang masih memeluk Ardian.


" Sama-sama," sahut Ardian melepas pelukan itu dan memegang ke-2 pundak istrinya, " ya sudah sekarang kita turun ya. Teman-teman ku sudah menunggu!" ucap Ardian.


" Baiklah, aku semprot parfum dulu," ucap Melody.


" Baik sayang," sahut Ardian dengan tersenyum. Melody pun kembali menghadap meja rias untuk menyemprotkan parfum pada tubuhnya biar wangi. Setelah itu dia dan suaminya pun langsung keluar dari kamar dengan tangan mereka yang saling bergandengan dengan wajah yang sama-sama begitu bahagia.


*********


Ardian di acara tersebut mengenalkan istrinya pada rekan-rekan kerjanya. Di mana rekan-rekan kerja Ardian yang juga membawa istri-istrinya. Yang pasti di sana juga ada Vivi dan Mila yang mendampingi suami-suami mereka.


Acara itu memang untuk menyambut para tamu-tamu rekan bisnis yang memang setiap tahunya di adakan dan kali ini rumah Ardian yang menjadi tuan rumahnya.


Mobil mewah berhenti mengikuti parkiran mobil-mobil yang tersusun rapi di depan rumah Ardian. Supir sang pengendara mobil keluar untuk membukakan pintu mobil untuk majikannya.


Sang majikan yang ternyata Alvin yang keluar dari mobil itu dengan mengkancing jasnya hitamnya bagian tengahnya. Pria itu dengan wibawanya berjalan dengan langkah lebar memasuki rumah Ardian. Sementara sang supir kembali memasuki mobil yang pasti menunggu tuannya di dalam mobil.


Ardian dan Melody yang terlihat mengobrol bersama para tamu tiba-tiba melihat Alvin yang mencari-cari di sekitar arahnya.


" Sayang ayo kesana!" Ardian mengajak Melody ketika melihat Alvin. Melody mengangguk dan mengikut saja kemana suaminya membawanya.


" Pak Alvin!" tegur Ardian yang berdiri di belakang Alvin. Alvin membalikkan tubuhnya ketika ada yang menegurnya.


" Pak Ardian!" Alvin langsung bersamanya dengan Ardian dengan memeluknya sebentar.


" Maaf Pak Ardian say terlambat datang," ucap Alvin merasa tidak enak.


" Tidak apa-apa Pak Alvin acaranya juga baru di mulai," sahut Ardian dengan tersenyum.


" Saya tetap merasa tidak enak," sahut Alvin.


" Oh iya kenalkan ini istri saya," Ardian langsung mengenalkan Melody.


" Melody!" Melody mengulurkan tangannya dengan ramah pada Alvin, Alvin juga langsung menyambut uluran tangan itu.


" Saya Alvin," jawab Alvin, " senang bertemu dengan kamu dan maaf Pak Ardian saya tidak hadir sewaktu acara pernikahan bapak dan istri bapak," ucap Alvin sembari meminta maaf.


" Tidak apa-apa Pak, Alvin saya tau bapak itu orangnya sangat sibuk. Jadi saya dapat memakluminya," sahut Ardian dengan tersenyum.


" Bapak ini bisa saja, kita sama, kita sama-sama sibuk," sahut Alvin yang tidak kalah ramahnya berbicara berbeda dengan pembawaan wajahnya yang terlihat cuek.


" Hmmm, ya sudah kalau begitu pak Ardian apa boleh saya pinjam kamar mandinya?" tanya Alvin.


" Pasti pak Alvin di sana!" tunjuk Ardian.


" Kalau begitu saya permisi dulu. Mari pak Ardian!" ucap Alvin undur diri.

__ADS_1


" Ayo sayang kita kesana lagi," ucap Ardian. Melody mengangguk dan mengikuti suaminya yang ingin pergi kemana lagi.


Bersambung


__ADS_2