Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma

Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma
Bab 254 Bertemu Raisa.


__ADS_3

Hari ini adalah hari di mana Rasti yang akan menemui Dokter yang di katakan Alvin kemarin. Evan, Melody dan Ardian menemaninya dan untuk Alvin dan Lea memang tidak bisa untuk menemani Rasti karena mereka siap-siap untuk pindah rumah.


Setelah sampai di rumah sakit Suster membawa mereka semua ke ruangan Dokter yang akan di temui mereka untuk konsultasi.


" Silahkan duduk, saya akan panggilkan Dokternya sebentar!" ucap Suster dengan ramah.


" Terima kasih suster," sahut Melody.


Mereka menduduki sofa yang ada di sana. Di lihat dari wajah Rasti di mana Rasti begitu cemas, Rasti sangat gelisah yang sepertinya merasa takut.


" Semuanya akan baik-baik aja," ucap Melody yang memegang kuat tangan Rasti.


" Iya Melody," jawab Rasti yang harus yakin. Dia harus semangat. Karena orang-orang yang lainnya begitu semangat.


Tidak lama pintu ruangan Dokter itu akhirnya di buka dan Dokter wanita yang berkaca mata memasuki ruangan itu.


" Selamat pagi semuanya!" sapa Dokter itu tersenyum.


" Selamat pagi Dokter," sahut mereka dengan serentak.


" Saya Dokter Gita. Dokter yang kemarin berkonsultasi dengan Pak Alvin," sahut Dokter Gita dengan mengulurkan tangannya dengan ramah berkenalan dengan orang-orang yang menunggu di sofa itu.


" Baiklah yang mana pasiennya?" tanya Dokter Gita setelah selesai berkenalan dengan satu persatu.


" Saya Dokter," sahut Rasti.


" Dengan Bu Rasti?" tanya Dokter. Rasti mengangguk.


" Baik kalau begitu saya akan periksa ibu sebentar, saya akan kembali cek hasil medis dan juga periksa lab dan cek darah sebentar," ucap Dokter itu. Rasti mengangguk saja.


" Mari!" ajak Suster menuntun Rasti ke ruangan periksa yang ada di ruangan itu yang tertipu dengan tirai.


" Semoga saja ada hal baik yang datang," ucap Melody dengan harapannya yang besar.


" Kita berdoa saja. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja," sahut Ardian.


Melody mengangguk dia juga mengharapkan hal yang sama yang pasti sama juga dengan Evan yang menginginkan hal itu.


**********


Rasti di periksa cukup lama oleh Dokter tersebut. Melody dan Ardian mencari makanan untuk di kunyah. Karena memang tidak enak jika mulut tidak memakan sesuatu. Sementara Evan masih menunggu Rasti dengan setia yang sudah 30 menit tetapi belum selesai juga.


" Ardian dan Melody berada di Restaurant di depan rumah sakit yang mana Ardian dan Melody berdiri di depan kasir untuk mengambil makanan mereka yang sebelumnya yang sudah mereka pesan.


Melody melihat-lihat keluar Restaurant dan tiba-tiba melihat orang yang masuk ke dalam Restaurant itu.


" Raisa, Dokter Axel!" lirih Melody pelan. Suara pelannya membuat Ardian mendengarnya dan melihat ke arah Melody.


" Ada apa sayang?" tanya Ardian heran.


" Raisa dan Dokter Axel?" jawab Melody yang mata Melody masih melihat ke arah Dokter tersebut.


" Mereka ada di sini juga?" tanya Ardian heran.


" Dan itu artinya Raisa sudah baik-baik saja," sahut Melody.


" Aku juga tidak tau sayang. Ya sudah ayo kita sapa mereka!" ajak Ardian setelah mengambil makanan yang sudah di bungkus. Melody mengangguk dan akhirnya mengikuti Ardian.

__ADS_1


" Kita makan di sini ya!" ucap Axel dengan lembut pada Raisa. Raisa mengangguk dengan melihat-lihat di sekelilingnya yang di lihat dari wajahnya. Raisa masih kurang nyaman karena bertemu orang-orang yang berbeda-beda.


" Kamu duduk!" Axel dengan baiknya menarik kursi dan mempersilahkan Raisa untuk duduk.


" Makasih!" ucap Raisa dengan pelan.


" Sama-sama," sahut Alex tersenyum.


" Kamu mau pesan apa?" tanya Axel.


" Aku tidak tau mau makan apa," jawab Raisa yang mungkin masih kelihatan begitu bingung. Harap di maklumi itu hal yang sangat wajar.


" Baiklah biar aku yang pesankan," sahut Axel. Raisa mengangguk saja yang mengikuti saja apa kata Axel.


" Dokter Axel!" sapa Ardian. Axel melihat ke arah suara itu melihat Ardian dan Melody. Raisa juga melihatnya. Namun langsung menunduk yang kelihatan Raisa tidak punya keberanian untuk menemui 2 orang itu.


" Ardian Melody," sapa Axel dengan ramah. Melody tersenyum dan melihat ke arah Raisa yang masih tetap menunduk dengan memencet-mencet jarinya.


" Iya Dokter, kami sedang membeli makanan dan melihat Dokter. Sedang apa di sini?" tanya Ardian.


" Raisa kelihatannya sangat bisa di rumah terus. Jadi aku mengajaknya untuk makan bersama," ucap Axel.


" Hmmm, begitu rupanya," sahut Ardian.


" Apa kabar Raisa?" tanya Melody dengan pelan.


" Aku-aku-aku tidak akan jahat lagi padamu," jawab Raisa. Lain di tanya lain yang di jawab. Ardian dan Melody saling melihat dan Axel seolah mengerti apa yang di rasakan Raisa.


" Raisa aku tidak bermaksud apa-apa kepadamu. Aku hanya ingin menayakan kabarmu mu saja," ucap Melody dengan lembut.


" Aku tidak akan mengganggu hubungan kalian lagi," sahut Raisa yang berbicara dengan bibirnya yang bergetar yang terlihat ketakutan.


" Raisa kamu tenang dulu. Mereka tidak ingin melakukan apa-apa," sahut Axel menenangkan Raisa.


" Benar Raisa," sahut Melody.


" Melody sudahlah sebaliknya kita pergi saja. Raisa sepertinya belum Siam untuk bicara dengan kita. Jadi biarkan saja dia," ucap Ardian menyarankan.


" Ya sudah kalau begitu. Dokter Axel kami pergi dulu. Titip Raisa ya. Sungguh kami tidak bermaksud untuk melakukan apa-apa pada Raisa," ucap Melody.


" Saya mengerti. Raisa memang belum siap. Saya juga berharap kalian dapat memaklumi semuanya," sahut Axel.


" Ya sudah kami kembali dulu," sahut Ardian yang langsung mengajak istrinya. Sebelum Raisa nantinya akan kumat lagi.


" Raisa kamu tenang ya. Mereka itu bukannya orang baik. Mereka datang hanya ingin menanyakan kabar kamu saja. Mereka juga sudah pulang. Jadi kamu jangan takut," ucap Axel mencoba menenangkan Raisa.


" Apa mereka akan memaafkan ku?" tanya Raisa.


" Mereka sudah memaafkan kamu. Jangan di pikirkan lagi. Sekarang sebaiknya kita makan ya. Kamu dan aku datang ketempat ini untuk makan," ucap Axel dengan lembut.


" Kamu maukan makan bersamaku?" tanya Axel dengan lembut menatap dalam-dalam Raisa.


Raisa menganggukkan kepalanya dengan pelan. Axel tersenyum lega.


" Baiklah saya akan pesankan makanan yang membuat kamu akan ketagihan," ucap Axel berusaha untuk mencairkan suasana hari Raisa yang pastinya penuh dengan ketakutan dengan kehadiran Melody dan Ardian.


Raisa masih takut jika Melody tidak memaafkannya. Padahal Melody sudah melupakan semua masalah itu. Karena bagi Melody semuanya sudah berakhir dan lebih baik memaafkan tanpa adanya dendam lagi. Karena hubungannya dan Ardian juga sudah baik-baik saja.

__ADS_1


**********


Raisa dan Axel terlihat makan dengan santai. Raisa juga sudah banyak perubahan bahkan makan terlihat seperti bukan orang sakit. Dia baik-baik saja dan tidak apa-apa sama sekali. Hanya saat Melody dan Ardian yang datang tadi membuatnya sedikit takut. Namun Axel kembali berhasil membuat suasana hatinya baik dan tidak takut dengan apapun.


" Kamu mau tambah lagi?" tanya Axel melihat makanan Raisa sudah habis.


" Tidak, aku rasa cukup ini saja," jawab Raisa.


" Baiklah kalau begitu," sahut Axel.


" Hmmm, tapi...." Raisa tiba-tiba berbicara dengan gantung membuat Axel melihatnya dengan serius.


" Tapi apa Raisa?" tanya Axel sangat menunggu lanjutan kalimat itu.


" Apa kita tidak membawa makanannya untuk Suster?" tanya Raisa dengan takut-takut membuat Axel tersenyum.


" Kamu ingin membawa untuk mereka?" tanya Axel.


Raisa menganggukkan kepalanya, " mereka selalu memberiku makan dan apa salahnya memberi mereka juga makan," jawab Raisa yang berbicara pelan yang terlihat masih takut-takut.


" Baiklah Raisa kita akan membawa untuk mereka," jawab Axel. Raisa mengangguk dengan tersenyum.


" Oh iya setelah ini kamu mau kemana lagi?" tanya Axel.


" Apa masih boleh pergi?" tanya Raisa.


" Iya Raisa jelas masih boleh. Bagaimana kamu mau kemana lagi. Saya akan membawa kamu kemanapun yang kamu inginkan," ucap Axel.


" Terserah Dokter saja," jawab Raisa. Axel mengangguk dengan tersenyum.


" Kamu akan secepatnya sembuh Raisa. Aku melihat perkembangan mu semakin meningkat. Kamu pasti sembuh Raisa," batin Axel sebagai Dokter dia pasti ingin yang terbaik untuk pasiennya dan termasuk kesembuhan pasiennya yang di inginkannya.


*********


Raisa dan Dokter Axel berjalan-jalan sejak tadi. Di mana Axel memberi kenyamanan untuk Raisa agar mempercepat kesembuhan Raisa. Yang mengingat Raisa perkembangannya memang semakin meningkat.


Setelah berjalan-jalan seharian mereka pulang malam hari sampai kerumah. Di mana Raisa yang tertidur di dalam mobil. Axel tersenyum penuh arti yang melihat Raisa tertidur.


" Dia pasti begitu lelah hari ini," ucap Axel.


Axel membuka sabuk pengamannya dan langsung keluar dari mobil. Axel membuka pintu mobil di bagian Raisa melihat Raisa yang tertidur lelap. Axel membuka sabuk pengaman Raisa dan kembali melihat ke arah Raisa di mana Raisa yang tertidur pulas. Sangat lama Axel melihat wajah itu. Dia menatap dengan penuh arti.


" Ada apa denganku. Kenapa aku merasa jika aku begitu berlebihan kepadanya. Tidak mungkin aku...." Axel tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Ada getaran yang tidak biasa di dengarkan di hatinya yang membuatnya seperti merasakan ada sesuatu yang aneh.


Axel membuyarkan lamunannya dan langsung melanjutkan pekerjaannya membuka sabuk pengaman Raisa dan langsung menggendong Raisa ala bridal style yang keluar dari mobil menuju kamar Raisa.


" Saat berjalan menaiki anak tangga Rais terbangun dan menyadari keberadaannya yang berada di gendongan Dokter Axel.


" Dokter!" lirih Raisa yang merasa tidak enak.


" Iya Raisa!" sahut Dokter yang tetap melanjutkan langkahnya.


" Turunkan aku!" ucap Raisa yang merasa gugup.


" Hampir sampai. Tidak apa-apa, kamu pasti lelah," ucap Dokter dengan lembut. Raisa semakin gugup dan terlihat canggung di gendongan Axel sampai akhirnya sampai di kamar dan Axel merebahkan Rais dengan hati-hati di atas ranjang.


Masih belum melepas tangannya dari Raisa. Axel menatap Raisa dalam-dalam. Di mana wajah mereka yang begitu dekat yang tanpa ada jarak

__ADS_1


" Kenapa perasaanku aneh. Saat Dokter menatapku seperti itu?" tanya Raisa dengan suara gugupnya membuat Axel menelan salivanya menatap Raisa dalam-dalam dengan penuh keintiman.


Bersambung


__ADS_2