
Rumah sakit.
Melody sekarang sedang di tangani Dokter di mana kondisi Melody begitu kritis, Melody mengalami luka parah dan memang harus di tangani beberapa Dokter.
Ardian dan Evan menunggu di luar. Kondisi Melody dalam keadaan kritis. Luka yang di alaminya begitu parah.
" Kenapa Melody bisa sampai seperti ini?" tanya Ardian.
" Aku minta maaf Ardian. Aku menyuruhnya buru-buru menemuiku. Aku sangat membutuhkannya aku ada masalah dengan Rasti dan kamu tau sendiri hanya Melody yang bisa membantuku. Aku tidak tau. Kalau kejadiannya akan seperti ini," ucap Evan merasa bersalah dengan wajahnya yang penuh peneysalan.
" Keterlaluan kamu. Kamu itu Pria. Tapi apa-apa kamu selalu saja menyusahkannya. Sekarang lihat akibatnya. Jika seperti ini siapa yang harus bertanggung jawab. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya," ucap Ardian tampaknya sangat emosi yang sekarang memarahi Evan.
Evan yang mengakui kesalahannya hanya menunduk dengan Ardian yang mengoceh kepadanya.
Ardian dan Melody adalah mantan kekasih. Tetapi dia sangat peduli dengan Melody. Dia tetap panik dan takut terjadi sesuatu pada Melody. Apa lagi saat melihat Melody kritis seperti itu. Panik cemas. Semua itu datang tiba-tiba. Seperti mempunyai ketakutan tersendiri.
" Aku minta maaf," lirih Evan lagi. Ardian tidak menggubrisnya lagi. Dua hanya mencoba menenangkan dirinya.
**********
Setelah mengurus Melody dan orang tuanya datang Ardian pun langsung pulang kerumahnya. Karena sudah ada yang menjaga Melody. Dia juga tidak mau mencari keributan dengan kakak Melody yang pasti sangat membencinya.
" Ardian kamu dari mana?" tanya Widia sang mama yang melihat Ardian memasuki rumah.
" Iya Ardian, kamu dari mana. Dan kenapa kamu seberantakan ini. Pakaian kamu kenapa penuh darah seperti ini?" tanya Raisa yang juga panik.
" Melody kecelakaan dan aku membawanya kerumah sakit," ucap Ardian jujur.
" Apah, Melody masuk rumah sakit," sahut Mila dengan panik.
" Iya kak,"
__ADS_1
" Dan kamu pergi menemuinya," sahut Raisa yang langsung posesif.
" Aku capek, aku istirahat dulu," sahut Ardian yang langsung pergi. Karena pasti jika dia banyak bicara dengan Raisa yang ada mereka akan ribut.
" Ardian! Pangil Raisa. Namun Ardian tetap pergi dan Raisa ingin mengejar. Namun di hentikan oleh Novi.
" Sudah Raisa, biarkan dia Istirahat. Kamu dan Ardian akan semakin ribut. Jika kamu mengejarnya," ucap Novi menyarankan.
" Tapi...," sahut Raisa. Yang semakin kesal dengan Ardian yang bisa-bisanya menolong Melody.
" Ya Allah kenapa Melody kecelakaan apa yang terjadi padanya," batin Widia yang terlihat cemas.
" Keluarga ini kenapa sih. Kenapa wajah mereka begitu khawatir mendengar Melody kecelakaan. Kenapa dia tidak mati aja sekalian," batin Raisa semakin kesal.
*********
Ardian memasuki kamarnya dia duduk di pinggir ranjang sambil membuka satu persatu kancing kemejanya. Darah di pakaiannya adalah darah Melody dan pikirannya masih tidak tenang. Apalagi jika mengingat apa yang terjadi tadi. Di mana dia menyaksikan luka pada Melody yang membuatnya ketakutan.
" Ya Allah aku mohon berikan kesembuhan kepadanya," batin Ardian yang hanya berdoa saja.
**************
2 Minggu berlalu.
Melody masih tetap di rumah sakit dalam keadaan koma. Kecelakaan tunggal yang di alami Melody membuat Melody koma sudah selama 2 Minggu semakin lama kondisi Melody semakin parah. Melody bahkan bertahan hanya dengan alat mesin.
Ke-2 orang tuanya, Dania dan Wawan tidak bisa melakukan apa-apa. Selain berdoa untuk kesembuhan Melody. Mereka sebagai orang tua hanya itu yang bisa di lakukan, bahkan sudah pasrah dengan Melody yang tidak sadarkan diri.
Pagi ini ibu Ardian kerumah sakit. Walau Melody dan Ardian sudah putus tapi tetap sang ibu ingin mengetahui kondisi Melody. Apa lagi sudah selama 2 Minggu Melody tidak sadarkan diri.
Dan Melody juga kecelakaan akibat dari Evan yang tak lain adalah sepupu Ardian. Evan dan Melody memang dekat. Makanya meski putus. Melody tidak bisa lepas dari keluarga itu. Karena hubungan Melody yang sangat dekat dengan Evan.
__ADS_1
Karena Melody selalu jadi penengah untuk hubungan asmara Evan dan juga Rasti teman Melody yang tak lain kekasih Evan. Dan selalu Melody yang mendamaikan pasangan itu.
Widia di temani Ardian kerumah sakit. Bukan hanya Ardian, Evan dan Rasti juga menemani. Saat mereka sampai terlihat Dania dan Wawan yang berbicara serius dengan Dokter. Ada juga adiknya Feby dan juga kakaknya Marshel dan kakak iparnya Gadis.
" Apa maksud Dokter?" tanya Dania dengan suara beratnya yang di rangkul oleh suaminya.
" Kami sudah berusaha Bu. Tetapi kondisi Melody tidak bisa kami selamatkan," ucap Dokter dengan keputusannya.
Dari kejauhan 5 meter. Ardian, Evan, Rasti dan Widia kaget mendengar hal itu.
" Ini semua gara-gara ku," ucap Evan yang merasa bersalah akibat dari perbuatannya.
" Dokter, itu tidak mungkin. Bukannya anak saya masih bernapas. Jantungnya juga masih berdetak," sahut Dania yang tampak tidak terima dengan hal itu.
" Melody hanya di bantu alat medis saja. Ibu dan bapak harus mengikhlaskan Melody. Karena sesungguhnya kondisinya sekarang hanya menyiksa dirinya," ucap Dokter.
" Apa maksud Dokter?" sahut Marsel.
" Alat di tubuhnya harus di lepas dan ketika alat itu di lepas. Melody akan pergi dengan tenang dan semua keputusan ada pada keluarganya. Membiarkannya koma dan di bantu dengan mesin. Atau melepaskannya dan memberinya ketengan," jelas Dokter memberikan keputusan yang berat.
" Ya Allah. Kenapa semua terjadi. Kenapa engkau berikan kami cobaan seberat ini, aku belum sanggup kehilangan putriku," ucap Dania yang tidak sanggup jika harus memilih. Nyawa Melody jauh lebih berharga dari apapun.
" Mah, kita harus mengikhlaskan Melody. Walau ini berat. Kita sangat menyayanginya dan melakukan semua ini untuk kebahagiannya. Jadi mari kita iklaskan dia," ucap Wawan yang mengambil tindakan. Namun Dania semakin menangis yang tidak rela kehilangan Melody.
" Mungkin ada yang di ingin kan Melody. Sebelum dia pergi. Bapak sama ibu bisa melaksanakan kemauannya. Agar kalian sebagai orang tua tidak menyesal dan merasa lega melepas kepergian Melody," ucap Dokter.
" Tidak ada Dokter. Melody anak yang baik dan selalu menurut. Dia tidak pernah menuntut apapun kepada kami. Hanya saja anak itu hanya mempunyai 1 impian untuk saya sebagai ayahnya menikahkannya. Tapi ternyata takdir berkata lain dan saya tidak bisa melakukan itu," ucap Wawan tampak menyesal karena tidak akan pernah melaksanakan impian Melody.
" Dia memang sangat memimpikan pernikahan. Tetapi mungkin kematian adalah jodohnya," sahut Dania dengan tangisannya yang tidak terbendung.
Bersambung
__ADS_1