
" Dokter Axel!" pekik Melody yang terkejut melihat Axel yang tidak percaya di temuinya.
" Melody, Ardian," sahut Axel yang terlihat gugup yang hanya menyapa Melody dan Ardian. Namun pada Raisa Axel yang tiba-tiba mengalihkan pandangannya yang membuat Raisa hanya diam terpaku yang masih menatap Axel yang mencoba menghindari pandangan darinya.
" Kamu mengenal mereka sayang?" tanya wanita itu. Axe menganggukkan kepalanya.
" Kamu sendiri siapanya Dokter Axel?" pertanyaan Melody mewakil kan Raisa yang memang ingin mengetahui siapa wanita yang memanggil Axel dengan sebutan sayang.
" Aku adalah tunangannya," jawab wanita itu membuat Raisa semakin terkejut mendengarnya dengan kata pertunangan dan melihat Axel dengan serius. Sementara Axel seperti gugup dan tidak bisa bicara apa-apa yang terus menghindari kontak mata dengan Raisa.
" Hmmm, begitu rupanya. Jadi kamu tunangannya," sahut Melody yang tidak bisa melanjutkan bicaranya lagi.
" Tunangan jadi Dokter Axel sudah bertunangan. Lalu selama ini apa...?" Raisa penuh tanya di dalam hatinya yang begitu terkejut dengan pernyataan yang di dengarnya yang membuatnya tidak bisa berpikiran tidak tau mengarah kemana.
" Ada apa ini sebenarnya? kenapa kamu ribut-ribut di sini?" tanya Axel yang berusaha untuk tenang.
" Sayang wanita ini. Pelayan bodoh ini telah membuat bajuku kotor kamu lihat ini. Semua gara-gara dia dasar tidak bejus. Kamu lihat apa yang di lakukannya," umpat wanita itu yang terlihat mempunyai dendam kesumat kepada Raisa dan mengadukan perbuatan Raisa pada Axel.
" Dokter Axel kami mohon maaf atas apa yang terjadi ini hanya salah paham saja. Raisa jelas tidak sengaja melakukannya," sahut Ardian yang mencoba mendamaikan situasi.
" Benar Dokter ini hanya masalah spele dan Tidka perlu di perpanjang lagi," sahut Melody menambahi.
" Salah paham bagaimana, masalah spele apa. Jelas-jelas dia itu tidak bejus dalam bekerja yang merugikan diriku. Aku harus bicara pada manager Restaurant ini supaya kau di pecat!" tunjuk wanita itu pada Raisa yang mengejutkan Ardian dan juga Melody.
" Maaf mbak itu sangat berlebihan," sahut Melody.
" Kenapa harus main lapor segala hanya karena masalah ini," sahut Ardian yang juga tidak setuju.
" Kalau tidak mau berlebihan dan tidak mau wanita ini di pecat karena laporan ku. Maka wanita ini harus berlutut dan minta maaf kepadamu!" tegas wanita itu.
Axel mendengarnya terkejut sama dengan Melody dan Ardian. Apa lagi Raisa yang terkejut dan bahkan matanya bergenang yang mana harga dirinya telah di injak-injak.
" Ayo cepat berlutut!" tegas wanita itu menatap tajam Raisa.
" Sintia sudah ayo kita pergi!" Axel menghentikan kegilaan Sintia.
" Aku tidak mau," tolak wanita bernama Sintia itu.
" Ardian, Melody, maaf sudah mengganggu kalian. Kami permisi dulu!" Axel langsung menarik wanita yang di katakannya tunangannya itu. Axel menarik paksa dan meninggalkan tempat itu.
Raisa terus melihat kepergian Axel yang sama sekali tidak menyapanya sama sekali dan seakan tidak mengenalnya.
Hufff
Melody menghela napasnya lega, " akhirnya dia pergi juga," ucap Melody lega, " kamu tidak apa-apa kan Raisa?" tanya Melody.
__ADS_1
Raisa menggelengkan kepalanya dengan wajahnya yang terlihat begitu sendu.
" Aku tidak apa-apa," jawab Raisa yang berusaha untuk tenang, " aku kembali bekerja dulu," ucap Raisa yang langsung pergi yang mencoba untuk menenagkan dirinya.
" Untung saja Dokter Axel membawa tunangannya langsung pergi. Jika tidak Raisa bisa di permalukan lebih parah lagi," ucap Ardian yang merasa lega.
" Kamu benar sayang. Keterlaluan sekali wanita itu. Raisa jelas-jelas tidak sengaja. Tetapi malah masalah di perbanyak dan membuat keributan. Padahal Raisa juga sudah meminta maaf. Dia nya saja yang mau memperpanjang segalanya," ucap Melody ikutan kesal dengan Sintia,
" Sudahlah yang penting semua sudah selesai. Raisa juga tidak apa-apa sekarang. Kita lanjutkan makan saja," ucap Ardian. Melody dengan menganggukkan kepalanya dan mereka kembali menikmati makanan mereka.
********
Sementara Raisa masuki kamar mandi dengan buru-buru yang mana Raisa langsung mencuci wajahnya di wastafel dan menatap dirinya do cermin. Di cermin Raisa melihat kembali kejadian beberapa menit yang lalu, bertemu Axel yang membuatnya begitu terkejut.
Bahkan wanita yang tadi memakinya memanggil Axel dengan sebutan sayang dan tidak hanya itu saja. Wanita itu membuat pernyataan yang mengejutkan yang mengatakan jika dia tunangan Axel.
" Apa yang terjadi sebenarnya. Apa ini sungguhan. Wanita itu tunangannya Axel. Lalu selama ini apa? Ini tidak mungkin. Apa ini alasannya dia menghindari ku, tidak mengantarku pulang, tidak ada perpisahan di antara kami. Dia pergi tanpa ada kabar dan sekarang bertemu seolah tidak mengenalku dan bahkan sudah bertunangan. Ada apa ini sebenarnya. Apa yang terjadi. Kenapa seperti ini," Raisa dengan air matanya keluar dan terasa sesak di dadanya dengan apa yang terjadi barusan.
" Hiks, hiks, ini tidak mungkin! ini sangat tidak mungkin! pasti ada yang salah dalam hal ini.Tapi semuanya benar. Jika Dokter Axel sudah bertunangan. Raisa memegang dadanya yang terasa begitu sakit. Perasaannya seolah sangat hancur yang di hancurkan Axel yang setelah sekian lama pergi dan kembali sudah dengan wanita lain.
Raisa mungkin seperti ini. Karena sudah terjalinnya hubungan dekat dengan Axel yang bukan hanya sekedar pasien dan Dokter saja. Hubungan mereka begitu dekat dan pasti sudah bermain perasaan dan yang terjadi ternyata hanyalah kekecewaan dalam kenyataan yang terjadi dan mana mungkin sangat mudah di terima.
**********
" Seharusnya kamu tidak membawaku pergi begitu saja. Kamu lihat apa dia lakukan. Pakaian ku kotor dan wanita itu terlihat tidak mengakui kesalahannya. Seharusnya dia berlutut dan minta maaf padaku," oceh Sintia yang sejak tadi mulutnya tidak berhenti mengoceh.
" Sintia sudahlah!" gertak Axel merasa pusing dengan ocehan Sintia.
" Sekarang kamu malah memarahiku," sahut Sintia dengan kesal.
" Sintia aku tidak memarahimu. Tetapi tindakanmu tadi sangat keterlaluan. Hanya perkara spele kau membesar-besarkan masalah dan tadi aku mengenal mereka. Bagaimana mungkin aku membiarkanmu melakukan hal itu di depan mereka," jelas Axel menekan suaranya.
" Lalu apa urusannya kamu mengenal mereka atau tidak. Aku bermasalah pada pelayan bodoh itu. Kamu juga mengenal pelayan itu?" tanya Sintia yang menatap Axel serius yang menunggu jawaban Axel.
Axel terdiam dengan terbayang saat-saat dia dan Raisa bersama yang mana ke-2nya sangat dekat. Layaknya orang yang berpacaran dan Axel juga mengingat eksperesi terkejut saat bertemu tadi dengannya.
" Axel kamu kenapa diam kamu mengenalnya?" tanya Sintia yang mengagetkan Axel membuat Axel tersentak kaget.
" Sudahlah jangan membahas masalah itu lagi," sahut Axel yang jawabannya tidak jelas.
" Bagaimana tidak membahasnya aku sangat kesal dengan wanita itu," sahut Sintia dengan keras kepalanya.
" Sintia cukup! kepalaku sakit mendengar ocehanmu sejak tadi. Aku sudah menegaskan jangan membahasnya lagi. Jadi cukup semuanya. Aku capek!" tegas Axel.
" Isss, kenapa jadi kamu yang capek, menyebalkan. Lihat aja, kalau aku bertemu lagi dengan wanita itu. Aku tidak akan tinggal diam. Aku akan membalasnya," umpat Sintia dengan mengepal tangannya. Axel mendengarnya hanya diam saja yang tidak menanggapi apa yang di katakan Sintia lagi.
__ADS_1
" Jadi Raisa benar-benar sudah sembuh dia bahkan jauh lebih baik sekarang. Dia sudah bekerja dan menjalani hidupnya dengan normal. Kenapa aku harus bertemu dengannya," batin Axel dengan eksperesi yang tidak terbaca dan Sintia masih bergerutu pelan di sebelahnya.
***********
Setelah makan malam Melody dan Ardian selesai. Tidak lupa mereka berpamitan pada Raisa.
" Makasih ya kalian sudah berkunjung ke Restauran ini," ucap Raisa yang mengantarkan Melody dan Ardian ke parkiran mobil.
" Raisa ini itu memang Restaurant Favorite Melody. Jadi kami ya terbilang langganan di sini," ucap Ardian.
" Oh benarkah! ya hanya aku saja yang baru bekerja di sini. Kalau begitu kita akan semakin sering bertemu nantinya," ucap Raisa.
" Iya kamu benar. Kita memang akan sering bertemu," sahut Melody.
" Ya sudah kalau begitu Raisa kami kembali dulu ya. Ini sudah malam juga. Kamu jangan lupa untuk datang ke acara pernikahan Rasti dan Evan," ucap Melody mengingatkan.
" Iya Melody untuk masalah itu kamu jangan khawatir aku pasti datang," ucap Raisa.
" Syukurlah kalau begitu. Oh iya kamu sudah tidak apa-apa kan?" tanya Melody.
" Maksudnya?" Raisa kembali bertanya dengan kebingungan.
" Masalah yang barusan terjadi," ucap Melody.
" Tidak apa-apa kok. Hal itu biasa. Terkadang Coustemer itu berbeda-beda orangnya. Ya aku sudah terbiasa dengan masalah itu. Jadi jangan di pikirkan," sahut Raisa yang mencoba untuk terlihat baik-baik saja.
" Tapi kenapa Dokter Axel kok tidak menyapa kamu ya. Kamu juga begitu, bukannya seharusnya kalian saling bertanya kabar dan malah terlihat seperti orang yang tidak mengenal saja tadi," ucap Ardian yang tiba-tiba baru kepikiran.
Raisa terdiam mendengar pertanyaan Ardian yang membuatnya tidak tau harus menjawab apa.
" Ya ampun sayang bagaimana mau basa-basi dalam menyapa. Kamu nggak lihat apa bagaimana tadi tunagannya itu. Dia itu sangat cerewet sekali. Mulutnya tidak berhenti mengoceh. Jadi apa yang harus di basa-basi kan," ucap Melody dengan kesal.
" Hmmm, benar kata Melody. Sudahlah jangan membahas masalah itu lagi. Aku tidak apa-apa kok," sahut Raisa.
" Ya sudahlah kalau begitu. Kami sebaiknya kembali. Kamu hati-hati dalam bekerja," ucap Ardian.
" Iya, terima kasih untuk dukungan kalian, salam untuk keluarga," ucap Raisa.
" Pasti Raisa, daaaaa," ucap Melody pamitan dengan melambaikan tangannya. Raisa mengangguk dengan senyuman yang menunggu Melody dan Ardian memasuki mobil.
" Axel tidak menyapaku. Karena memang semuanya sudah berakhir. Tidak ada yang perlu di pikiran. Karena selama tidak ada hubungan yang perlu di khawatirkan. Walau....." Raisa tidak sanggup melanjutkan kalimatnya yang masih terpotong.
Raisa membuang napasnya perlahan kedepan dengan panjang. Lalu meninggalkan tempatnya berdiri untuk melupakan apa yang terjadi dan menurutnya tidak perlu membahas apa yang telah terjadi.
Bersambung
__ADS_1