
Ardian membawa Melody untuk jalan-jalan di taman hiburan. Kebetulan hari Minggu jadi taman hiburan itu tampak terlihat rame. Melody masih berada di dalam mobil bersama Ardian dan Melody melihat di sekelilingnya dengan wajahnya yang penuh kebingungan.
" Kamu ngapain bawa aku kemari?" tanya Melody.
" Ya buat reflesing supaya pikiran kamu itu jernih," ucap Ardian.
" Memangnya aku anak kecil apa yang harus datang ketempat taman hiburan kayak gini," ucap Melody dengan wajah mengkerutnya.
" Kamu itu memang anak kecil. Sudah ayo turun. Jangan banyak berpikir," ucap Ardian membuka sabuk pengamannya dan langsung turun dari mobil terlebih dahulu.
" Dia kenapa sih. Aneh banget," gumam Melody dengan wajah penuh kebingungan. Tetapi mau tidak mau Melody pun harus turun untuk mengikuti Ardian. Kepala Melody berkeliling melihat di sekitarnya ramainya tempat itu dan memang kebanyakan orang tua yang membawa anaknya.
" Ayo!" ajak Ardian yang langsung menggenggam jemari Melody dan mengajaknya berjalan. Hal itu mengagetkan Melody sikap Ardian yang aneh itu.
" Dia kenapa sih. Apa dia sakit," batin Melody yang terus penuh kebingungan.
" Jika aku tanya padanya apa yang terjadi, Melody pasti diam dan mungkin apa yang terjadi tadi malam pasti ada sangkut pautnya dengan kata-kata Melody. Aku bisa melihat Melody sedang mengalami trauma, makanya menjadi wanita yang sensitif berlebihan. Jika aku memaksa kehendakku dengan apa yang terjadi sebaiknya aku membuat sendiri untuk Melody nyaman bersamaku, mempercayaiku dan akhirnya mengatakan apa yang terjadi," batin Ardian yang ingin bermain halus pada Melody untuk menjawab semua rasa penasarannya.
" Karena hanya putus tidak mungkin membuatnya depresi," batinnya lagi yang terus menggenggam tangan Melody.
" Kamu beli tiket apa?" tanya Melody.
" Ontang anting ayunan tinggi," tunjuk Ardian. Melody melihat arah jemari itu membuat Melody kaget melihat orang-orang berteriak dengan di putar-putar di ayunan yang tinggi itu.
" Kok dua tiketnya?" tanya Melody panik.
__ADS_1
" Ya kamu satu lah," sahut Ardian.
" Aku nggak mau, aku takut," tolak Melody.
" Nggak akan apa-apa, ayo!" paksa Ardian menarik tangan Melody. Namun Melody menahan tubuhnya yang tidak ingin di bawa Ardian pergi. Namun Ardian memaksa Melody dengan menggendong pinggang Melody dari belakang dan Melody hanya meronta-ronta saja dengan Ardian yang memaksanya.
Melody tidak bisa berbuat apa-apa. Dia harus menaiki wahana yang masih tidak ada apa-apa itu di mata Ardian. Melody berteriak-teriak yang tubuhnya di ayun-ayun dengan kencang. Namun memang terlihat emosinya keluar semua. Ardian hanya ketawa-ketawa melihat Melody yang ketakutan.
Tidak tau sebenarnya Ardian ingin membahagiakan Melody. Atau justru ingin membuat jantung Melody berhenti selesai menaiki ayunan yang mengerikan itu. Ternyata Ardian mengajaknya menaiki wahana halilintar dan bayangkan betapa gilanya Melody lagi.
Walau berteriak-teriak dengan semua permainan yang di naikinya. Namun terlihat wajahnya yang begitu bahagia dengan beberapa kali menunjukkan senyumnya. Walau ada kesalnya dengan Ardian.
Dari ayunan yang melayang-layang, halilintar, roller coaster, para layang yang begitu mengerikan sekarang masa santainya di mana Ardian dan Melody terlihat sedang menaiki mobil-mobil senggol yang mana dia dan Ardian saling menyerang dan pasti itu dari hati sekali Melody yang sengaja beberapa kali menyenggol mobil Ardian karena kesal. Namu pasti di balas oleh Ardian.
Ternyata Melody dan Ardian yang terlihat happy dalam menikmati wahana itu di lihat oleh Lia. Yang mana Lia tadi mengikuti mobil mereka.
" Lalu apa yang terjadi tadi malam. Melody sudah lama tidak kumat dan kenapa tiba-tiba kumat," batin Lia yang penuh kebingungan.
Lia pun akhirnya pergi dari tempat itu dan tidak jadi memberitahu Ardian dengan kejadian yang sebenarnya yang menang dialah kuncinya. Ardian maupun Lea hanya korban kesalah pahaman dari Melody yang tiba-tiba pergi saat itu.
Melody merasa di jebak Lea bersama Ardian dan di tinggalkan Lea dan Ardian saat itu. Makanya Melody juga membenci Lea. Namun tidak separah dengan Ardian.
Selesai dengan semua wahana yang di naiki dari pagi sampai sudah sore hari membuat Melody kelelahan dan duduk di salah satu bangku dengan memegang perutnya yang mual dan ingin muntah-muntah. Karena benar-benar pusing dengan semua wahana mengerikan itu. Namun membuat pikirannya jauh lebih baik.
Ardian datang dengan membawa 2 botol air mineral dan satu mangkuk sup. Ardian meletakkan 1 mangkok sup itu di samping Melody dan membukakan tutup botol air mineral. Lalu memberinya pada istrinya.
__ADS_1
" Minumlah!" ucap Ardian dan Melody langsung mengambilnya dan meneguknya.
" Kamu belum makan seharian, kamu makan dulu," ucap Ardian meniup sup panas itu dan langsung menyendokkan pada Melody dan Melody langsung membuka mulutnya.
" Sudah enakan?" tanya Ardian. Melody menganggukan kepalanya.
" Makan lagi!" titah Ardian dan Melody menurut saja. Mungkin suasana hatinya sedang baik. Makanya menurut saja pada suaminya yang duduk di sampingnya dan menyuapinya dengan lembut yang jujur membuat Melody bergetar dan nyaman dengan perlakuan Ardian kepadanya.
" Kamu masih mau naik roller coaster?" tanya Ardian. Melody langsung menggeleng cepat.
" Aku tidak mau lagi. Bisa-bisa aku jantungan," ucap Melody menolak. " Kita pulang saja, aku capek," sahut Melody.
" Nanti saja pulangnya. Tanggung soalnya ada balon udara malamnya. Kita naik itu," ucap Ardian.
" Itu sama aja tinggi," sahut Melody yang wajahnya sudah mengkerut.
" Iya Melody, tapi ketinggiannya bisa melihat keindahan di bawah. Jadi ikuti aja. Ini ada di Indonesia hanya 5 tahun sekali. Jadi ikuti aja," ucap Ardian menegaskan yang memang tidak satupun apa yang di tolak Melody Ardian menurutinya. Jadi percuma menolak Ardian tetap akan memaksa Melody.
**********
Malam hari tiba akhirnya Melody dan Ardian sudah berada di lapangan dengan orang-orang yang ingin menaiki Balon udara. Wajah Melody terlihat tegang namun melihat balon udara yang berterbangan di atas sana membuat Melody tersenyum yang harus di akuinya itu begitu indah dengan lampu di bagian pucuknya. Sementara Ardian masih berbicara dengan para petugasnya.
" Kenapa dia mendadak menjadi orang yang sok manis. Sejak tadi pagi dan sampai detik ini. Dia bahkan tidak sekalipun membalas ucapanku yang menyebalkan. Apa Ardian sedang berusaha untuk memperbaiki segalanya. Apa mungkin dia benar-benar serius untuk memperbaikinya," batin Melody yang terus melihat Ardian.
Melody harus mengakui dia begitu bahagia hari ini dengan semua perlakuan Ardian kepadanya.
__ADS_1
Bersambung