
Pagi hari kembali tiba. Kamar Melody dan Ardian tampak sepi. Yang mana Melody masih tetap tertidur di atas ranjang dengan dia yang sudah berbaring. Terdengar suara air dari dalam kamar mandi yang sepertinya Ardian sedang berada di dalam kamar mandi.
Memang benar apa adanya Ardian berada di kamar mandi dan sekarang Ardian sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk di lilit di pinggangnya.
Ardian melihat Melody yang masih tertidur dengan selimut yang tidak menutupi tubuh Melody. Ardian pun langsung menarik selimut sampai ke dada Melody dan saat melakukan hal itu tiba-tiba Melody terbangun dan Ardian masih tetap dalam posisinya dengan memegang ke-2 ujung selimut.
" Ngapain kamu? apa yang kamu lakukan? tanya Melody dengan matanya yang melotot yang kelihatan panik dengan Ardian yang tubuhnya begitu dekat dengan Melody.
" Aku tidak mau berbuat apa-apa. Aku hanya menyelimutimu," sahut Ardian yang melepas tangannya dari ujung selimut.
" Kamu jangan mencari kesempatan dalam kesempitan," ucap Melody dengan ketus yang mencoba untuk duduk.
" Siapa yang mencari kesempatan," sahut Ardian gelang-gelang. Namun Melody mencoba tenang walau tadi dia begitu panik dengan Ardian yang tiba-tiba ada di dekatnya.
Tok-tok-tok-tok.
Pintu kamar mereka di ketuk yang membuat Ardian yang mengambil kemejanya dan memakainya. Lalu langsung menuju pintu kamar dan membuat pintu kamar itu.
" Kak Mila," ucap Ardian.
" Kakak mau membantu Melody untuk bersiap-siap," sahut Mila yang memang menjadi tugasnya untuk membantu Melody. Karena tidak ada Suster di rumah itu.
" Hmmm, ya sudah kalau begitu, silahkan masuk," sahut Ardian mempersilahkan kakak iparnya itu.
" Mau ngapain?" tanya Melody yang terlihat ketus.
" Tidak ada apa-apa Melody, kamu kan tidak bisa ke kamar mandi sendiri. Kakak hanya membantu kamu itu saja. Kakak tidak melakukan apa-apa. Lagian beberapa hari ini semenjak kamu tinggal di sini kan kakak yang membantu kamu," sahut Mila dengan santai.
" Oh begitu rupanya," sahut Melody. Mila tersenyum.
__ADS_1
" Ya sudah kakak bantulah Melody aku sebentar lagi juga akan siap," sahut Ardian.
" Hmmm, ya sudah kalau begitu," sahut Mila.
Ardian pun langsung mengambil pakainnya dari lemari dan buru-buru kembali memasuki kamar mandi untuk bersiap-siap.
" Apa tidur kamu nyenyak?" Tanya Mila. Melody mengangguk saja. Yang jelas mana mungkin dia nyenyak.
" Apa aku hari ini akan tetapi?" tanya Melody yang mengingat kata-kata Mila tadi malam.
" Iya Melody hari ini kamu akan terapi," jawab Mila.
" Aku harus rajin trapi. Agar aku cepat sembuh. Aku tidak bisa seperti ini terus. Aku tidak mau. Raisa dan juga tantenya akan semakin memijakku. Aku yakin mereka ber-2 hanya ingin membuatku lemah dan akhirnya mengalah. Tidak kamu bukan Melody yang bisa di kelabui seperti dulu lagi. Kamu sudah berbeda Melody," batin Melody kemantapan hatinya.
" Kamu akan tetapi hari ini. Kamu harus semangat ya. Agar kamu cepat sembuh. Kamu bisa berjalan seperti dulu lagi," ucap Mila. Melody hanya mengangguk saja.
**********
Melody menjalankan terapi dengan bersungguh-sungguh. Dia memang berniat ingin cepat-cepat berjalan. Sebelumnya tujuan Melody untuk berjalan adalah untuk bercerai dari Ardian. Pergi dari kehidupan Ardian untuk selama-lamanya.
Tetapi setelah dia mendengar apa yang di katakan Raisa dan Novi. Melody mengurungkan niatnya untuk bercerai. Dia ingin membalas perbuatan orang-orang yang sudah menyakitanya dulu. Baru akan mengakhiri pernikahannya.
Melody terapi bersama ahli terapi. Selain itu wanita yang sekitar 40 tahunan itu juga mengajak Melody untuk belajar berjalan. Dia berusaha menuntun Melody agar bisa berjalan.
Melody benar-benar semangat melakukannya. Dia tidak ingin membuang kesempatan. Dan wanita yang membantunya itu yang memang ahli juga begitu lembut, tenang dan sangat sabar menghadapi Melody yang memiliki niat yang tekat untuk bisa berjalan.
************
Hari demi hari di lalu Melody yang fokus untuk belajar berjalan. Sama seperti sekarang ini. Melody sudah bisa berdiri dan berjalan menggunakan alat berjalan Walker walau kakinya masih mengesot- mengesot. Tetapi Melody percaya akan bisa secepatnya berjalan dia tidak akan patah semangat.
__ADS_1
" Ayo kak Melody, semangat, semangat kak!" sahut Aliya yang berdiri 5 meter di depan Melody yang memberikan Melody semangat.
Melody bertambah semangat dengan Aliya yang selalu mendukungnya. Melody bahkan bisa tersenyum. Yang mana selama ini senyumnya sudah hilang karena pernikahan itu dengan Ardian.
Ternyata di atas balkon, Eyang besar, Shandra dan Widia sedang mengamati Melody yang belajar berjalan. Eksperesi wajah Widia jelas begitu bahagia dengan Melody yang semakin lama semakin bisa berjalan.
Pasti dia lega. Karena memang Melody sudah menjadi tanggung jawabnya. Karena dia benar-benar selalu memantau perkembangan Melody.
" Setelah dia berjalan. Apa tanggung jawab Ardian akan selesai?" tanya Shandra tiba-tiba.
" Apa maksud kamu Shandra?" tanya Eyang besar.
" Keluarga Melody ingin Ardian bertanggung jawab untuk kesembuhan Melody. Dan mereka juga mengatakan jika Melody sembuh. Ardian baru menceraikan Melody," sahut Shandra yang mengingat kata-kata Marsel.
" Tetapi kalau Melody yang meminta cerai," sahut Widia.
" Mbak Widia. Masih lumpuh saja Melody sudah berteriak-teriak ingin di ceraikan secepatnya dan apalagi jika dia sembuh. Dia pasti akan meminta cerai," sahut Shandra.
" Sudah-sudah, apa yang kalian bahas. Jangan membahas masalah perceraian di rumah ini. Menikah bukan untuk bercerai. Jadi jangan membahasnya," sahut Eyang besar yang pusing mendengar kata perceraian.
" Bukan begitu mah. Lagian untuk Melody dan Ardian memang mengarah kepada hal itu. Lagian masih ada Raisa yang harus di pertanggung jawabkan," sahut Shandra mengingatkan. Eyang besar dan Ratih seketika berpikir ketika nama Raisa di sebutkan.
" Kita jangan lupa keluarga Raisa menitipkan Raisa kepada kita. Kita juga tidak bisa mengabaikannya. Kita juga harus bertanggung jawab atas dirinya. Kita bukan keluarga yang lupa kacang pada kulitnya. Dahulu. Nenek Raisa Mbah Wani sudah membantu keluarga kita. Bahkan kita tidak pernah membalasnya. Jadi kita tidak boleh mengabaikannya. Raisa juga tanggung jawab keluarga kita," ucap Shandra menegaskanw yang mengingatkan mama dan juga kakaknya itu.
Eyang besar dan Ratih sama-sama terdiam. Mereka memang tidak bisa mengabaikan Raisa begitu saja. Karena pada dasarnya Raisa juga tanggung jawab mereka. Tetapi Melody juga tidak bisa di lepas begitu saja. Kembali lagi permasalahan gara-gara pemikiran Ardian yang sangat singkat.
" Horeeeee kak Melody bisa berjalan," teriak Aliya yang membuat ke-3 orang itu kaget dan melihat Melody yang berjalan tanpa alat bantu apapun.
Bersambung
__ADS_1