Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma

Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma
Bab 184


__ADS_3

" Lalu sekarang bagaimana ?" tanya Alvin.


" Oh iya Alvin, ini handphone kamu," Melody memberikan hp Alvin yang memang sengaja di ambilnya sebelum pergi dan Alvin pun langsung mengambil handphone tersebut.


" Sepertinya ada komunikasi yang sempat terhubung. Kamu lihat dulu!" ucap Ardian. Alvin hanya menganggukkan kepalanya dan langsung melihat ponselnya.


" Iya, ini orang-orang ku. Mereka sudah dekat. Untung saja ada jaringan di waktu yang tepat. Karena aku mengintip GPS kepada mereka sebelumnya. Jadi pasti mereka akan datang," ucap Alvin.


" Kamu menyuruh orang-orang kamu?" tanya Rasti.


" Iya. Karena lihatlah. Polisi saja tidak datang sampai detik ini. Tidak bisa melakukan apa-apa. Padahal Marsel sudah melapor dan sebelumnya mengatakan kepada kita jika polisi sudah ke lokasi. Tetapi kenyataannya kita yang pertama sampai dan tidak ada siapa-siapa yang kita temui selain musuh. Jadi aku juga sebelumnya bertindak untuk jaga-jaga dan lihatlah sangat berguna bukan!" jelas Alvin.


Yang lainnya mengangguk-angguk mendengar perkataan Alvin.


" Alvin memang sepintar itu. Dia selalu menggunakan taktik untuk menghadapi musuh-musuhnya. Seharusnya percaya kepadanya. Karena Rio saja bisa selesai. Apalagi 2 orang itu. Ya dia memang tidak seharusnya di ragukan," batin Lea.


" Siapa di sana!" tiba-tiba terdengar suara yang besar yang membuat mereka ber-6 kaget dengan mata yang terbuka lebar dan mulut menganga.


" Sial!" umpat Ardian.


" Bagaimana ini?" tanya Melody panik. Kala mendengar suara langkah kaki yang mendekat dan Evan juga mengintip dan melihat banyaknya orang-orang itu yang berjalan pelan-pelan menuju tempat mereka bersembunyi.


" Mereka sungguh banyak. Kita tidak akan bisa melawan mereka. Karena ada wanita di sini. Yang bisa-bisa nanti kita jika berperang melawan mereka. Kita bisa lengah sehingga Lea, Melody dan Rasti bisa di bawa mereka. Jadi sebaiknya kita harus lari dari sini. Kita harus membuat mereka berpencar," ucap Ardian.


" Maksudnya?" tanya Evan.


" Mereka itu banyak dan harus di lawan sedikit demi sedikit. Alvin, Lea kalian lari ke ujung sana. Rasti dan kamu Evan lagi keasana dan aku sama Melody akan ke sana. Kita akan bertemu kembali di mobi. Jika semuanya benar-benar aman," ucap Ardian mengambil tindakan dengan cepat.


" Baiklah kalau begitu aku setuju. Itu cara yang terbaik untuk menghadapi mereka sampai anak buahku datang," sahut Alvin yang lainnya ikut mengangguk.


" Kita semua harus hati-hati dan sebisanya harus meloloskan diri. Hanya kita yang bisa menyelamatkan diri kita masing-masing," ucap Ardian memberi pesan.

__ADS_1


" Iya semua akan baik-baik saja. Kita memang harus percaya pada diri kita untuk bisa selamat dari orang-orang tersebut," sahut Evan.


" Baiklah aku juga setuju. Jika kita harus berpencar," sahut Rasti yang sepertinya semuanya sudah benar-benar setuju untuk berpencar sesuai dengan apa yang di katakan Ardian sebelumnya.


" Alvin, tolong jaga Lea. Aku tidak bisa menjaganya karena aku harus menjaga Melody. Aku menitipkannya kepadamu," ucap Ardian yang mempercayai Alvin untuk menjaga sepupunya itu. Karena dia tidak mungkin lari bersama Melody dan Lea. Kalau ketangkap mana mungkin Ardian menghadapi orang-orang jahat itu dan di sisi lain ada 2 wanita yang pasti juga akan di serang.


" Kau jangan khawatir aku akan menjaganya," sahut Alvin yakin sambil menoleh ke arah Lea dengan tatapan matanya yang tulus.


Lea ingin pingsan saat itu juga mendengar hal itu. Yang mana Alvin ini ternyata begitu manis.


" Lea kamu harus hati-hati. Terus di dekat Alvin," ucap Ardian mengingatkan sepupunya itu. Lea menganggukkan kepalanya.


" Baiklah! Evan kau juga hati-hati. Dan Rasti kau harus menjaganya. Dia tanggung jawabmu," ucap Ardian mengingatkan sepupunya itu.


" Iya Ardian kau tidak perlu khawatir aku akan menjaga Rasti," sahut Evan.


" Kau juga Ardian jaga Melody. Kau harus ingat kata-kata kak Marsel. Dia tidak akan mengampuni kali ini. Jika Melody sampai kenapa-kenapa," sahut Rasti memberi ingat.


" Baiklah kita jangan membuang waktu lagi. Sekarang kita harus pergi!" ucap Ardian menggenggam tangan Melody.


Evan juga sama menggenggam tangan kekasihnya yang mana mereka itu sangat sering ribut. Alvin pun menggenggam tangan Lea yang membuat Lea kaget dan jujur jantungnya ingin berhenti berdetak saat itu juga.


Dan tidak membuang waktu dengan bersamaan mereka akhirnya berlari dengan kencang seperti angin ****** beliung.


" Woy!" teriak salah seorang musuh yang melihat orang-orang itu berlarian dengan ke berbagi arah.


" Kejar mereka!" perintah yang satunya yang mungkin adalah bosnya dan langsung mengejar Ardian dan yang lainnya yang mana mereka juga mengejar dengan cara berpencar sesuai dengan apa yang di katakan Ardian tadi yang memang itu adalah rencana mereka.


*********


Ardian dan Melody terus berlari dengan tangan mereka yang saling menggenggam yang berlari di hutan kegelapan yang hanya mendapatkan cahaya dari sinar rembulan di langit yang indah.

__ADS_1


" Kesana!" Ardian langsung membawa Melody ke kiri yang tampaknya ada tempat persembunyian dan mereka terlihat duduk bersandar di bawah pohon dengan mengatur napas yang naik turun dengan wajah yang di basahi keringat.


" Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Ardian panik dengan memegang ke-2 pipi Melody yang mana Melody terlihat begitu lelah sekalu.


" Aku tidak apa-apa. Aku hanya lelah," jawab Melody.


" Bersabarlah Melody. Kita akan segera lolos dari mereka," ucap Ardian memberi ingat.


" Iya aku tau itu. Dan aku percaya itu," sahut Melody yang terlihat begitu lemas yang mana memang terus berlari dan bagaimana mereka tidak lemas.


**********


Sementara di tempat yang berbeda terliaht Alvin dan Lea yang di bawah pohon yang mana Alvin terlihat mengurut kakinya yang tadi keseleo.


Lea sejak tadi hanya merintih kesakitan saat kaki itu di urut Alvin.


" Ini tidak akan apa-apa," ucap Alvin mengangkat kepalanya melihat Lea.


" Iya. Sakitnya juga sudah mulai hilang," ucap Lea yang terlihat mengatur napasnya yang terasa sesak. Karena dia juga lelehan.


" Kau bisa berjalan?" tanya Alvin dengan lembut.


" Kita istirahat sebentar. Aku benar-benar lelah," jawab Lea.


" Baiklah jika itu maumu. Aku rasa mereka tidak mengejar kita lagi," ucap Alvin yang melihat di sekelilingnya. Namun Lea terus melihat wajah Alvin.


" Alvin begitu perhatian kepadaku," batin Lea yang terus melihat wajah Alvin yang terlihat mencemaskan dirinya.


" Aku yakin ini tempat yang aman," ucap Alvin melihat ke arah Lea yang mana Lea masih melihatnya yang membuat mata mereka saling bertemu. Mereka saling melihat dengan wajah yang berdekatan, dengan tatapan yang begitu intim.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2