
" Sayang apa yang di katakan Chaca, dedek bayi maksudnya," tanya Ardian yang memegang tangan Melody yang berdiri di sampingnya, " apa Chaca salah bicara. Apa yang di maksud adalah dedek bayi di perut kak Gadis?" tanya Ardian yang masih berpikiran. Jika mungkin yang hamil adalah Gadis. Karena Setaunya memang yang hamil itu Gadis.
" Bukan papi. Dedek bayi itu bukan hanya di perut mama papi. Tetapi ada di perut mami juga, jadi Chaca itu punya 2 dedek bayi. Dari perut mama dan dari perut mami juga," ucap Chaca yang menjelaskan begitu bijak.
Orang-orang yang ada di kamar itu melihat Chaca hanya senyum-senyum saja pasti mereka tau. Jika Melody belum mengatakan apa mengenai kehamilannya. Buktinya Ardian seperti orang bingung.
" Apa Melody tidak memberitahu pada Ardian jika dia hamil ya," batin Rasti yang kebingungan.
" Sepertinya Melody masih belum memberitahu Ardian. Makanya wajah Ardian terlihat bingung seperti itu," batin Evan yang tidak kalah sama berpikirnya.
" Melody apa kamu tidak mengatakan pada Ardian yang sebenarnya?" sahut Widia yang bertanya pada Melody.
" Yang sebenarnya. Maksudnya bagaimana mah, apa yang sebenarnya?" tanya Ardian heran.
" Melody kamu tidak memberitahu suami kamu tentang kehamilan kamu?" sahut Dania yang langsung to the point memperjelas semuanya.
Ardian mendengarnya jelas kaget. " Hamil!" pekik Ardian yang begitu terkejut mendengarnya dan melihat ke arah Melody yang benar-benar ingin tau apa yang sebenarnya terjadi. Mata terus melihat Melody yang mana Melody masih terlihat resah, sementara suaminya sudah sangat penasaran.
" Sayang kamu kenapa diam saja. Katakan apa yang di katakan Chaca dan juga apa yang di katakan mama. Apa kamu hamil?" tanya Ardian yang benar-benar ingin tau apa yang sebenarnya terjadi.
Melody menghela napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Lalu tangan yang di genggam suaminya di letakkannya di perutnya yang seolah mengusap perutnya.
" Iya sayang apa yang di katakan Chaca dan apa yang di katakan mama adalah benar. Jika sekarang aku sedang hamil," ucap Melody yang akhirnya mengakui kehamilannya. Mungkin tadinya dia ingin Supraise pada suaminya dan Chaca sudah memberitahu langsung saja.
" Kamu serius hamil?" tanya Ardian yang terlihat shock yang masih tidak percaya dengan apa yang di katakan Melody.
__ADS_1
" Hmmm, aku sedang mengandung. Aku mengandung anak kamu. Ada janin di dalamnya yang mana itu adalah anak kita ber-2. Jadi aku hamil 6 Minggu dan aku juga baru mengetahui ini kemarin," ucap Melody yang menjelaskan dengan detail masalah kehamilannya dengan matanya yang berkaca-kaca.
Ardian juga yang mendengar pernyataan itu terharu dengan matanya berkaca-kaca yang benar-benar tidak percaya mendapatkan kabar bahagia tersebut.
" Alhamdulillah ya Allah," ucap Ardian begitu terharunya dan langsung memeluk Melody. Yang berdiri di sampingnya memeluk erat pinggang itu.
" Ini sungguhan kan sayang?" tanya Ardian yang masih tidak percaya.
" Ini sungguhan. Aku tidak mungkin berbohong," jawab Melody.
" Ya Allah terima kasih dengan karunia indah yang kau berikan ini. Terima kasih sudah memberikn karunia terindah untuk kami. Terima kasih telah mempercayakan istri hamba untuk mengandung anak kami," ucap Ardian yang begitu bahagia mendengar kabar bahagia itu yang air matanya sudah menetes yang begitu terharu.
Melody juga terharu bahkan sama sampai menetes air mata dengan mengusap-usap kepala suaminya. Yang lainnya yang menjadi penonton tersenyum bahagia melihat kebahagian yang double-double.
Ardian melepas pelukan itu dan sekarang mengusap-usap perut Melody dengan mencium lembut perut Melody.
Ardian melihat ke arah Melody, " kamu jaga anak kita ya. Makasih sudah memberikan hadiah yang paling terindah untukku," ucap Ardian yang menatap dalam-dalam istrinya itu.
Melody mengangguk-anggukkan kepalanya dengan senyumannya yang lebar yang juga terharu dengan situasi yang di alaminya.
" Iya sayang. Ini memang menjadi kado terindah untuk kita ber-2. Dan tadinya aku ingin memberitahu setelah kamu pulang dari rumah sakit. Setelah kondisi kamu benar-benar pulih. Aku ingin memberikan Supraise untuk kamu, tetapi Chaca anak pintar ini harus bicara terlebih dahulu. Jadi nggak jadi deh aku memberitahukan kamu secepatnya," ucap Melody yang ternyata tadinya punya rencana lain. Namun di gagalkan Chaca begitu saja.
" Kamu sih Chaca, pakai bongkar-bongkar segala. Lihat mami kamu tidak jadi kasih Supraise untuk papi kamu," sahut Febby dengan geleng-geleng.
" Ups, maaf Chaca tidak tau. Chaca keceplosan," sahut Chaca dengan polosnya yang menutup mulutnya dengan tangannya menutup mulutnya.
__ADS_1
" Makanya Chaca itu tanya mama dulu. Kalau mau apa-apa. Lihat rencana mami Melody jadi gagal kan jadi mami Melody sedih," sahut Gadis.
" Iya mama maafin Chaca ya mami. Chaca sudah beritahu papi duluan. Kan Chaca tidak tau apa-apa. Chaca tidak bermaksud untuk membuat mami sedih," sahut Chaca dengan wajahnya merasa bersalah.
" Tidak apa-apa Chaca. Papi justru senang, karena Chaca bilang duluan pada papi. Dengan begitu mami kamu tidak akan pernah bisa memberi papi Supraise. Jadi terima kasih Chaca sudah menggagalkan rencana mami kamu," sahut Ardian yang mendukung Chaca. Dia juga tidak mau Chaca merasa bersalah.
" Lalu mami marah?" tanya Chaca memastikan.
" Tidak sayang. Kenapa harus marah. Mana mungkin mami marah dengan kebahagian yang kita dapatkan hari ini. Papi sembuh dan Chaca akan punya 2 dedek bayi. Jadi bagaimana mungkin mama marah. Jadi mama bahagia sayang," sahut Melody dengan mengusap-usap pipi Chaca dengan tersenyum yang seperti tidak ada apa-apa yang terjadi.
" Mami juga tidak sedih?" tanya Chaca yang belum yakin.
" Tidak sayang kenapa harus sedih," sahut Melody, " Chaca jangan memikirkan apa-apa lagi. Mami sama sekali tidak marah. Justru mami sekarang senang sekali. Karena Chaca sudah menyampaikan sama papi dan mami tidak perlu lagi menyampaikannya," sahut Melody yang harus membuat Chaca tidak kepikiran.
" Oh, begitu. Ya sudah kalau begitu. Alhamdulillah," sahut Chaca yang tersenyum lebar.
" Ya sudah sekarang papi sudah sembuh dan itu artinya Chaca juga harus bantuin mami buat jagain papi dan pasti dedek bayinya," sahut Gadis.
" Lalu bagaimana dengan dedek bayi di perut mama?" tanya Chaca.
" Ya harus Chaca jagain juga," sahut Gadis.
" Ya capek deh," sahut Chaca menepuk jidatnya dengan wajahnya yang lesu yang membuat orang-orang diruangan itu tertawa-tertawa.
" Belum apa-apa Chaca sudah mengeluh, dasar anak bandel," gemes Febby mencubit pipi Chaca.
__ADS_1
Bersambung