
Mereka kembali melanjutkan makan dengan menikmati sarapan itu dan Melody juga makan. Namun Ardian makan dengan pelan yang pasti asinnya minta ampun yang tidak bisa di terima lidahnya. Namun harus di terima lidahnya.
" Sial kenapa Ardian bilang enak. Padahal aku sudah mencampur banyak garam kedalamnya nasi goreng itu. Tidak mungkin Ardian tidak merasa asin," batin Raisa yang penuh dengan kebingungan.
" Apa yang terjadi kenapa Ardian tetap memakannya," sahut Novi yang tidak kalah bingungnya.
Ardian melihat semua orang makan dengan menikmati. Namun dia sendiri yang menahan rasa asin pada makanan itu.
" Aku sudah selesai," sahut Ardian yang sepertinya sudah tidak tahan untuk memakan garam.
" Ardian makanan kamu masih banyak, kenapa sudah selesai?" tanya Shandra.
" Aku sudah kenyang," sahut Ardian. Melody heran dengan Ardian yang hanya makan beberapa sendok saja.
" Aku ingin mencobanya. Sini biar aku yang menghabiskannya," sahut Raisa tiba-tiba.
" Tidak usah," sahut Ardian menolak.
" Tidak apa-apa Ardian. Kita sama-sama tidak menyukai nasi goreng jika ada bawang putihnya dan kita juga biasa menghabiskan sisa makanan satu sama lain," sahut Raisa yang mulai bikin ulah.
" Raisa itu tidak perlu. Kamu jangan samakan hal dulu sama sekarang. Ardian sudah menikah," sahut Widia dengan tegas.
" Tapi aku ingin memakannya Tante," sahut Raisa keras kepala dan bahkan ingin mengambil piring itu. Namun Melody langsung mencegahnya. Membuat Raisa melihat tajam ke arah Melody.
" Kamu jangan melakukan kebiasaan yang tidak seharusnya kamu lakukan," tegas Melody.
" Melody makanan itu hanya akan mubajir jika di buang. Keluarga ini tidak pernah membuang-buang makanan," sahut Raisa sinis.
" Aku istrinya dan jika makanan suami ku bersisa maka aku yang akan menghabiskannya. Kamu jangan kebiasaan dengan hak burukmu. Apa kamu begitu peduli dengan makanan yang terbuang. Kalau begitu makanlah makanan mas Arya. Lihat piringnya juga tersisa dan istrinya tidak memakannya. Jadi makan sana jika matamu sakit melihat makanan sisa," tegas Melody. Raisa mengepal tangannya dengan kata-kata Melody.
__ADS_1
" Iya Raisa ayo makan, sisa ku juga ada," sahut Lea lagi. Raisa benar-benar hanya membuat dirinya begitu rendah.
" Minggirlah tangan mu!" tegas Melody dan dengan terpaksa Raisa menarik tangannya kembali. Dia tidak mampu bicara apa-apa lagi dengan Melody yang mempermalukannya lagi dan lagi.
Melody pun meletakkan piring Ardian di depannya dan ingin menghabiskan makanan itu.
" Kau tidak perlu melakukannya," cegah Ardian saat Melody ingin menyendokkannya.
" Kau protes jika aku melakukannya. Jika dia melakukannya kau tidak protes," sahut Melody tampak ketus.
" Terserahmu," Ardian pun membiarkan Melody memakannya. Yang penting dia sudah mengingatkan sebelumnya dan sisanya itu urusan Melody. Melody langsung menyendokkan makanan itu kedalam mulutnya dan langsung berhenti setelah merasa asin.
Melody langsung melihat kearah Ardian dan Ardian pun masih melihatnya yang menunggu ekspresi Melody.
" Asin, kenapa bisa. Bukannya tadi rasanya tidak seperti ini dan Ardian sama sekali tidak komplen dia bahkan memakannya sampai beberapa sendok. Ini tidak bisa di makan sama sekali," batin Melody dengan wajah paniknya.
" Ardian tidak bicara apa-apa. Karena tidak ingin aku malu di depan orang," Melody seakan merasa bersalah dengan makanan Ardian yang rasanya berbeda sendiri.
" Kalau tidak terbiasa makanya jangan sok-sokan. Raisa dan Ardian sudah terbiasa seperti itu sejak dulu," sahut Novi yang membuat semakin panas.
" Sudah cukup. Bisa tidak jangan bicara masalah yang dulu lagi," sahut Eyang menegasakan. Raisa dan Novi terdiam
Melody juga diam saja yang juga tidak mungkin mengatakan makanan itu asin. Ardian sudah menyelamatkannya dan mana mungkin dia mengacaukan semuanya.
" Aku masih ingin memakannya, tapi nanti. Jadi akan aku simpan," sahut Ardian mengambil piring itu dari meja Melody dan juga sendok yang masih di pegang Melody. Ardian berdiri dan membawa piring itu kedapur. Melody hanya melihat saja kepergian Ardian.
" Jadi seenak itu nasi goreng untuk Ardian. Makanya harus di simpan segala," sahut Mila. Yang lain tersenyum melihatnya dan untuk Melody sendiri wajahnya terlihat merasa bersalah.
" Kamu berhasil Melody. Terima kasih sudah melakukan hal ini untuk kami," sahut Eyang besar yang memuji Melody. Melody mengangguk saja, dia masih kepikiran dengan Ardian.
__ADS_1
" Sial rencanaku benar-benar berantakan. Orang-orang di rumah ini benar-benar sudah menganggapnya seperti menantu," batin Raisa yang hanya bisa marah dan tidak bisa meluapkannya.
************
Setelah sarapan selesai, yang lain sudah mulai beraktivitas di luar ada yang bekerja dan ada yang sekolah. Melody memasuki kamarnya dengan membawakan sepiring roti. Saat membuka pintu kamar Ardian terlihat memakai dasinya di di depan cermin.
" Kau segitu membenciku. Sampai ingin membunuhku," sahut Ardian dengan suara dingin yang berada di depan cermin yang melihat Melody dari cermin.
" Apa maksudmu?" tanya Melody.
" Sarapan tadi sudah jelas. Kau sengaja mengasingkan punyaku dengan alasan aku menyukai bawang putih di dalam nasi goreng. Tapi pada nyatanya kau ingin membunuhku dengan tumpukan garam di dalamnya," ucap Ardian dengan kesal.
" Aku tidak melakukan itu. Aku memang mengasingkannya, karena aku tau kau tidak menyukainya dan sebelum menghidangkannya aku sudah mencicipinya. Aku tidak tau Ardian. Kalau rasanya berbeda tiba-tiba," sahut Melody yang membela dirinya.
Ardian mendengus kasar lalu membalikkan tubuhnya menghadap Melody.
" Jadi maksudmu ada setang yang membuat rasanya berbeda. Melody kau sangat kekanak-kanakan," desis Ardian.
" Jika kau sudah tau rasanya seperti itu. Lalu kenapa memakannya. Kenapa tidak mengatakan apa kepada semua orang. Jika rasanya asin dan tidak bisa di makan sama sekali," sahut Melody yang meninggikan suaranya.
" Aku bukan sepertimu yang suka mencari keributan di mana saja. Jika tadi aku bicara. Kau bicara seperti ini di meja makan. Ungkit sana ungkit sini. Apa lagi yang terjadi sarapan pun harus di dasari perkelahian," jawab Ardian menegaskan pada Melody yang tidak ingin ribut saat di meja makan tadi.
" Kau ingin mengatakan jika aku di rumah ini hanya menimbulkan keributan," sahut Melody dengan matanya yang memerah.
" Itu kenyataan. Kamu sangat suka mempertontonkan pertengkaran kita didepan semua orang," tegas Ardian menekan suaranya.
" Keterlaluan kamu. Aku tidak akan mencari masalah. Jika tidak ada yang menggangguku dan tadi aku tidak berbuat apa-apa untuk makanan itu. Aku akan membuktikannya kepadamu dan jika aku mendapatkan buktinya. Kau harus adil untuk," sahut Melody dengan penuh kemarahan pada Ardian.
" Aku hanya membawakanmu sarapan. Tapi kau sudah menuduhku yang tidak-tidak," sahut Melody meletakkan piring itu di atas tempat tidur dan langsung pergi begitu saja yang penuh dengan kemarahan. Ardian membuang napasnya perlahan kedepan dan melihat sarapan yang di bawakan Melody.
__ADS_1
Bersambung