Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma

Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma
Bab 91. Selamat.


__ADS_3

Melody dan Ardian yang jatuh bersamaan kesungai sama-sama terbawa arus yang deras dengan Ardian yang terus memegang tangan Melody. Karena jika berpisah akan beda ceritanya lagi. Hujan deras itu semakin deras membuat ke-2nya bertambah kesulitan mengimbangi arus yang deras.


Melody sudah beberapa kali kelelap air sampai napasnya sudah tidak stabil.


" Melody kamu bersabarlah," ucap Ardian panik yang sekarang memeluk pinggang Melody agar tidak lepas darinya, sampai akhirnya tangan Ardian menangkap 1 ranting kayu yang membuat mereka tertahan dalam melawan arus.


" Ayo Melody pegang!" perintah Ardian yang menyuruh Melody untuk memegang ranting itu. Agar Melody bisa ke pinggir sungai dan naik ke daratan.


" Ayo cepat kamu naik!" ucap Ardian panik. Melody yang sudah lemas bahkan sudah tidak sanggup untuk naik dan bahkan tangannya kembali lepas dari kayu itu dan hanya dengan pengagang 1 tangan Ardian yang di pinggangnya.


" Melody bertahanlah! aku di sini bersamamu," ucap Ardian yang berusaha untuk menguatkan Melody.


" Aku lelah, aku sudah tidak sanggup lagi," ucap Melody dengan suara pelannya.


" Melody apa yang kamu katakan. Kamu harus kuat, kita harus naik," ucap Ardian, Melody diam saja tanpa mengeluarkan suara apa-apa.


" Kamu dengarkan aku, pegang kuat tanganku. Aku akan naik terlebih dahulu, jangan melepas sedikitpun Melody," ucap Ardian dengan mengangguk pelan.


Ardian pun berusaha untuk naik dengan ranting yang cukup kokoh itu dan Melody hanya memegang pinggang Ardian, memegangnya kuat walau tenaganya sudah tidak ada lagi.


Dengan usaha yang banyak Ardian berhasil naik. Namun Melody yang lemas perlahan tangannya terlepas dari pakaian Ardian dan hendak terbawa arus. Namun dengan cepat Ardian menangkap tangan Melody menggenggamnya dengan erat.


" Bertahan Melody, pegang kuat Melody!" ucap Ardian dengan sekuat tenaganya menarik Melody keatas dan Melody yang pandangannya sudah mulai sayu berusaha untuk semangat dan mencoba kuat sampai akhirnya Ardian juga berhasil menarik Melody kedaratan.


" Argggh!" teriak Ardian yang langsung terbaring dan dan Melody langsung jatuh kepelukan Ardian, telungkup di dada bidang Ardian dengan napas mereka yang sama-sama tersenggal-senggal dengan dada yang kembang kempis.


" Kamu tidak apa-apa?" tanya Ardian pada Melody yang dia atas tubuhnya. Tidak ada jawaban dari Melody dan Ardian perlahan memejamkan matanya yang terlihat lelah yang masih di bawah guyuran air hujan yang begitu deras.


*************

__ADS_1


Cahaya sinar matahari begitu cerah di mana Ardian dan Melody tepat di bawah sinar matahari itu dengan posisi mereka yang sudah berbeda. Melody tidak di atas tubuh Ardian lagi. Melainkan sekarang Melody berada di pelukan Ardian. Dengan kepalanya yang berada di dada Ardian.


Tidak tau jama berapa sekarang. Tetapi sekarang matahari tepat di atas mereka dan pakaian ke-2nya terlihat mengering. Mungkin karena sinar matahari yang membuat pakaian ke-2nya sama-sama kering di badan.


Ardian mengkerutkan dahinya dengan mengerjap-ngerjapkan matanya saat merasa silau di matanya dan saat mata itu terbuka Ardian kembali memejamkannya. Karena cahaya matahari yang mengusik matanya sampai Ardian membutuhkan telapak tangannya untuk menutup cahaya matahari yang tepat padanya itu.


Dadanya yang terasa berat membuat Ardian langsung menurunkan kepalanya dan melihat Melody yang ada di dada bidangnya yang bernapas dengan berat.


" Melody!" lirih Ardian memanggil nama Melody dengan suara serak. Namun Melody tidak merespon sama sekali. Ardian pun mengangkat perlahan kepalanya untuk melihat Melody.


Namun sama sekali tidak bisa di lihatnya membuat Ardian dengan perlahan menggeser tubuh Melody dari atas dadanya, setelah Melody berhasil kepada dari pelukannya dan berbaring di sampingnya, Ardian yang begitu lemah mencoba untuk duduk.


" Melody bangun! bangun Melody!" Ardian membangunkan Melody dengan kedua tangannya memegang pipi Melody dengan jarak wajahnya yang dekat pada Melody.


Beberapa kali membangunkan tidak ada respon dan Melody tetap tenang dalam tidak sadarkan dirinya. Ardian mulai panik dan mencoba mengecek nadi Melody yang memang masih ada denyut nadi. Jarinya juga di letakkan di bawah hidung Melody dan terasa hangat yang mendapatkan hembusan napas dari Melody.


Sekali dia melakukannya tetap tidak bisa di lakukan, Ardian juga memompa dada Melody, namun tetap tidak bisa dan Ardian kembali memberi napas buatan.


Uhuk uhuk uhuk uhuk uhuk uhuk Melody langsung terbatuk dengan keluar air dari dalam mulutnya, Melody batuk-batuk dengan tubuhnya yang langsung di miringkannya dan sedikit meringkuk. Dengan terus batuk-batuk.


" Melody kamu tidak apa-apa?" tanya Ardian panik dengan memegang wajah Melody yang mana Melody terus batuk-batuk. Ardian pun mengangkat sedikit tubuh Melody membuat Melody duduk dan langsung memeluknya.


" Syukurlah jika kamu tidak apa-apa. Maafkan aku Melody, semua ini gara-gara aku, maafkan aku Melody, maafkan aku," ucap Ardian yang memeluk erat Melody Nyang masih saja batuk-batuk dengan dadanya yang memang terasa begitu sesak.


**************


Setelah beberapa jam Melody sudah merasa jauh lebih baik dan sekarang dia duduk dengan ke-2 lututnya. Ardian tidak tau di mana. Namun tidak lama akhirnya Ardian datang dengan membawakan kelapa muda dan Ardian langsung duduk di samping Melody.


" Ayo minum dulu!" ucap Ardian dengan membantu Melody untuk Melody dan Melody pun menerima air kelapa itu dan ketika melewati tenggorokannya sangat lumayan segar dan memberikan sedikit tenaga untuknya.

__ADS_1


" Sudah?" tanya Ardian, Melody mengangguk dan meminum sisa dari Melody. Jujur dia juga kehausan dan butuh minuman.


" Di mana kita?" tanya Melody yang baru bersuara sekarang.


" Aku tidak tau. Aku tidak melihat ada orang di sini," jawab Ardian.


" Lalu di mana kamu mendapatkan kelapa itu?" tanya Melody.


" Di ujung sana?" jawab Ardian.


" Kalau ada pohon kelapa. Berarti ada kehidupan," ucap Melody.


" Kamu benar, nanti kita akan mencari jalan keluarnya. Kamu masih lemah, jadi istirahatlah dulu," ucap Ardian dengan lembut.


" Aku sudah tidak apa-apa. Lebih baik kita cepat pergi dari sini," ucap Melody.


" Iya akan pergi dari sini," jawab Ardian. Melody mengangguk dan kembali memeluk lututnya.


" Maaf!" ucap Melody tiba-tiba membuat Ardian melihat ke arahnya.


" Minta maaf soal apa?" tanya Ardian.


" Aku terlalu marah yang akhirnya tidak sadar mendorongmu dan hampir saja kamu kehilangan nyawa," ucap Melody.


" Itu bukan salah kamu. Itu juga kesalahan ku dan seharusnya aku saja yang jatuh," ucap Ardian dengan terus Melody. Melody hanya diam dan tidak bicara apa-apa lagi.


" Kamu jangan memikirkan apa-apa lagi. Setelah sudah merasa jauh lebih baik. Kita akan sama-sama pergi dari sini," ucap Ardian Melody hanya mengangguk pelan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2