
Tawa bahagia mewarnai kebahagian di dalam ruang perawatan Ardian. Yang sembuhnya Ardian dan juga hadirnya anggota keluarga baru di rumah itu.
" Ya sudah Ardian kamu itu sebaiknya banyak-banyak istirahat. Biar kamu cepat pulang," ucap Eyang besar memberikan saran.
" Iya Oma pasti. Makasih untuk semuanya yang sudah mendoakanku," sahut Ardian.
" Jangan berterima kasih. Itu sudah tugas keluarga," sahut Widia.
" Iya. Hmmm oh iya. Lalu bagaimana dengan Tante Novi dan Raisa?" tanya Ardian yang kelihatan penasaran dan memang dia belum mendengar cerita itu dan di ingatannya terakhir dia mengingat Rasti dan Novi saling menyerang.
" Ardian Tante Novi tewas di tempat dan Rais sendiri sedang mengalami gangguan jiwa dan sudah di pindahkan ke rumah sakit jiwa," sahut Evan yang mengambil alih untuk bicara.
" Sungguh!" sahut Ardian yang tampak begitu terkejut.
" Iya Ardian itu kenyataannya," sahut Rasti.
" Sudahlah Ardian jangan memikirkan masalah itu. Masalah itu selesai tanpa tersisa apapun. Sekarang yang penting kamu sudah ada di sini. Melody ada di sini bersama kita semua yang kita pentingkan sekarang untuk menata hidup di masa depan dan lupakan masa lalu," ucap Eyang besar memberikan sedikit arahan.
" Benar, kita sudah lupakan semuanya," sahut Widia menambahi.
" Iya. Mama dan Eyang benar," sahut Ardian. Ardian kembali melihat ke arah Melody, " maafkan aku Melody jika begitu banyak kesalahan yang aku lakukan kepadamu. Aku benar-benar minta maaf untuk semuanya," ucap Ardian yang dengan tulus meminta maaf pada istrinya.
" Aku juga minta maaf, belum bisa menjadi istri yang baik untukmu. Aku berjanji akan berusaha jauh lebih baik lagi dan kita berdua akan sama-sama belajar," sahut Melody. Ardian mengangguk-angguk.
" Alhamdulillah akhirnya masalah Melody dan Ardian selesai juga. Alhamdulillah ya Allah. Semoga kedepannya kehidupan Ardian dan Melody baik-baik saja," batin Dania yang bahagia melihat kebahagian anak dan menantunya.
" Akhirnya aku bisa melihat Melody kembali ceria lagi. Ya semoga tidak ada yang memisahkan dia dengan Ardian lagi," batin Wawan yang begitu lega.
" Huhhhh, untung saja Tante Novi sudah tidak ada. Jadi Ardian dan Melody sudah tidak ada pengganggu lagi. Si Raisa juga sudah sakit jiwa. Itu pelajaran untuknya yang dulu bisa-bisanya membuat Melody sakit jiwa dan sekarang dia merasakannya," batin Rasti yang lega dengan kebahagian yang di dapatkannya.
" Permasalah terberat akhirnya selesai. Bukan penjara yang menyelesaikan semuanya. Tetapi justru kematian. Dan Ardian aku bisa melihat bagaimana dia yang sudah banyak berubah. Dia benar-benar bertanggung jawab pada Melody sampai mempertaruhkan nyawanya. Ya Ardian sudah banyak berubah. Syukurlah kalau begitu," batin Marsel yang kepercayaannya pada Ardian sudah 100 persen yang mempercayai Ardian.
__ADS_1
" Alhamdulillah menantuku bisa bersama anakku kembali. Ya mereka sudah mulai sama-sama dewasa untuk pernikahan mereka dan Melody juga sekarang sedang mengandung," batin Widia yang tidak kalah haru, bahagia, lega dan tersenyum lepas.
Di tengah kebahagian mereka tiba-tiba Lea dan Alvin akhirnya datang juga keruangan itu.
" Hmmm, Ardian," sapa Lea yang terlihat gugup saat masuk keruangan itu bersama Alvin.
Mungkin karena datang bersama Alvin. Makanya Lea menjadi gugup dan iya banyak mata yang tertuju padanya yang seperti bertanya-tanya.
" Bagiamana keadaan kamu?" tanya Lea.
" Aku baik-baik saja," sahut Ardian.
" Bukannya ini Pak Alvin rekan bisnis keluarga kita," sahut Mila yang memang mengenali Alvin.
" Iya saya Alvin," sahut Alvin dengan sopan memperkenalkan dirinya. Walaupun yang lain sudah tau.
" Terimakasih Alvin kamu sudah datang melihat Ardian," sahut Eyang besar. Alvin hanya mengangguk saja.
" Benarkah!" sahut Eyang tidak percaya.
" Benar Eyang. Kebetulan Alvin banyak membantu kami. Thanks Alvin untuk semuanya," ucap Ardian yang berterima kasih dengan tulus ke pada Alvin.
" Sama-sama. Apa yang aku lakukan memang sewajarnya," sahut Alvin.
" Itu tidak wajar Alvin. Kamu itu berlebihan dengan apa yang kamu lakukan," sahut Eyang.
" Saya melakukan itu pasti karena suatu alasan dan semua itu saya lakukan karena hubungan saya dengan Lea," sahut Alvin yang langsung to the point mengatakan yang sebenarnya dan langsung melihat ke arah Lea yang mana Lea sudah dek-dekan sejak tadi yang tidak siap dengan apa yang di katakan Alvin mengenai hubungan mereka
" Melakukan demi Lea. Hubungan Maksudnya?" tanya Mila heran.
" Hmmm, begini saya dan Lea sedang..."
__ADS_1
" Maksud Alvin karena aku adalah sepupu Ardian dan itu yang di maksud dengan hubungan," sahut Lea memotong pembicaraan Alvin dengan cepat.
Alvin jelas terkejut mendengar perkataan Lea yang sengaja memotong pembicaraannya yang kelihatan jika Lea tidak mau memberitahu hubungan mereka.
" Iya Eyang. Jadi Alvin itu memang sebaik itu. Karena kebetulan kita juga kenal. Jadi dia ikut membantu menolong aku dan juga Melody. Iya Alvin," ucap Lea tersenyum kaku yang menyembunyikan hubungannya dengan Alvin.
Wajah Alvin terlihat tidak suka melihat tindakan Lea yang seperti itu.
" Apa-apaan Lea. Bukannya sebelumnya sudah di sepakati semuanya. Kenapa dia masih berusaha untuk menutupi semuanya," batin Alvin yang terlihat kesal.
" Kenapa ekspresi mereka terlihat aneh," batin Rasti yang terus mencurigai hubungan mereka.
" Sebenarnya ada apa dengan Lea. Aku bisa melihat Alvin terlihat serius kepadanya. Tetapi kenapa justru Lea yang terlihat seperti tidak siap," batin Melody yang mengamati apa yang terjadi antara Alvin dan Lea.
" Makasih ya Alvin. Kamu sudah menolong aku dan Melody dan terima kasih juga untuk bantuan kamu untuk keluarga kami. Kami benar-benar berhutang banyak pada kamu," ucap Lea tersenyum pada Alvin. Alvin tidak menanggapi dan hanya menunjukkan wajah datar.
" Benar kata Lea Alvin Terima kasih untuk semuanya," sahut Eyang besar.
" Sama-sama," sahut Alvin dengan suara datar, " ya sudah kalau begitu saya kembali dulu. Masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan. Kamu cepat pulih Ardian," ucap Alvin pamit.
" Iya sama-sama Alvin sudah banyak meluangkan waktunya," sahut Ardian. Alvin mengangguk dan menundukkan kepalanya. Lalu setelah itu. Alvin langsung pergi begitu saja yang tidak ada basa-basi dan terlihat Lea cemas dengan perginya Alvin yang biasa saja.
" Apa Alvin marah kepadaku," batin Lea yang mendadak cemas.
" Hmmm, aku angkat telpon sebentar keluar," sahut Lea yang pergi begitu saja yang beralasan ada telpon masuk.
" Telpon siapa. Perasaan tidak ada yang menelpon, aneh sekali," batin Rasti.
" Aku tidak tau jalan pikiran Lea. Aku hanya berharap masalahnya benar-benar baik-baik saja," batin Melody.
Bersambung
__ADS_1