
Melody begitu terkejut dengan apa yang di katakan Suster yang mana menyebutkan nama Rasti yang membuatnya bertanya-tanya.
" Apa Rasti yang di katakan Suster itu sama dengan Rasti yang aku cari," batin Melody dengan debaran jantungnya tidak menentu. Tidak tau kenapa tiba-tiba saja jantungnya harus berdebar seperti itu.
Melody mengatur napasnya yang mendadak naik turun. Dia tiba-tiba saja begitu gelisah dan merasa ada yang tidak beres. Ingin memastikan semuanya. Perlahan tangan Melody memegang kenopi pintu ingin mengintip siapa pasien yang di maksud oleh Suster apakah memang orang yang dicarinya.
" Sayang!" tegur Ardian membuat Melody tidak jadi menekan kenopi pintu.
" Ardian!" lirih Melody dengan hembusan napas beratnya.
" Kamu ngapain?" tanya Ardian.
" Oh, aku-aku tadi melihat Rasti di sini dan aku mencarinya. Tetapi tiba-tiba kehilangan jejak," jawab Melody.
" Lalu dia ada di dalam?" tanya Ardian.
" Aku juga tidak tau," jawab Melody.
" Ya mana mungkin juga dia dalam. Ngapain, ini kan ruangan Dokter dan Dokter Kanker lagi. Ada-ada saja," ucap Ardian merasa tidak mungkin.
Melody hanya diam yang terlihat bingung dan merasa jika Rasti memang ada di dalam dan dia tidak akan puas sebelum melihat ke beradaan Rasti, memastikan benar atau tidak.
" Hhhhhh," Ardian menghela napasnya panjang ke depan.
" Kita lihat saja ya. Rasti ada di dalam atau tidak," sahut Ardian yang tau apa yang di inginkan istrinya dan Ardian pun langsung menekan kenopi pintu untuk membuka pintu dan pintu terbuka yang menampilkan suster yang ingin keluar. Suster heran melihat Ardian dan juga Melody.
" Maaf kalian berdua sedang apa?" tanya Suster. Melody dan Ardian jadi bingung harus menjawab apa. Namun Melody berusaha untuk melihat-lihat ke dalam. Ada atau tidak Rasti di dalam.
" Oh, tidak apa-apa Suster. Kita hanya menunggu orang saja," jawab Ardian.
" Oh begitu. Ya sudah kalian menunggu diruang tunggu saja. Takutnya kalau di sini. Mengganggu nantinya," ucap Suster dengan ramah dan sopan.
" Iya Suster, maaf kita menganggu," ucap Ardian merasa tidak enak.
" Ayo sayang!" ajak Ardian memegang tangan Melody yang mengajak Melody untuk pergi dari depan ruangan itu dan Melody terlihat begitu berat sekali untuk melangkahkan kakinya.
Suster tersebut hanya geleng-geleng. Lalu meninggalkan tempat itu.
Di dalam ruangan itu memang benar apa adanya. Jika ada Rasti di sana yang sedang berbicara serius pada Dokter.
" Saya tidak ingin melakukan operasi pengangkatan rahim," ucap Rasti memutuskan.
" Ini sangat bahaya Bu Rasti jika tidak melakukan pengangkatan rahim. Jadi kita harus melakukan operasi pengangkatan rahim!" sahut Dokter mengingatkan.
" Jika rahim saya di angkat. Saya tidak akan bisa memiliki anak. Dan apa artinya untuk hidup. Kalau hanya sendiri ujung-ujungnya. Dokter tidak akan ada laki-laki yang akan menikahi wanita tanpa rahim," ucap Rasti dengan marah-marah sembari air matanya keluar.
__ADS_1
" Saya mengerti perasaan Bu Rasti seperti apa. Tetapi semua ini hanya demi kesehatan Bu Rasti. Hanya pengangkatan rahim adalah jalan satu-satunya yang harus di lakukan," jelas Dokter.
" Jika tidak melakukannya, saya juga akan mati bukan," sahut Rasti.
" Bu Rasti semua itu hanya ketentuan Allah," sahut Dokter.
" Dan sama dengan masalah kesembuhan juga ketentuan Allah. Mungkin ada cara lain untuk sembuh. Tanpa mengangkat rahim saya. Saya tegaskan sekali lagi. Saya tidak akan melakukan pengangkatan rahim," tegas Rasti.
" Jika tidak di lakukan. Tumornya bisa menyebar dan itu sangat membahayakan kondisi ibu nantinya," jelas Dokter mengatakan resikonya.
" Saya tidak peduli!" tegas Rasti yang berdiri dark tempat duduknya.
" Saya permisi dulu! terima kasih untuk saran-saran Dokter," ucap Rasti yang langsung pergi meninggalkan tempat itu.
" Bu Rasti!" Dokter memanggil Rasti. Namun Rasti tidak peduli. Karen dia memang tidak akan melakukan pengangkatan rahim.
**********
Ardian dan Melody sudah memasuki mobil yang mana mereka sama-sama memakai sabuk pengaman.
" Aku benar-benar melihat Rasti ada di rumah sakit," ucap Melody.
" Mungkin saja dia menjenguk seseorang," ucap Ardian.
" Ya tapi iya masa hilang dengan cepat dan hilangnya di tempat seperti itu lagi. Bukan di kamar-kamar pasien dan tadi Suster itu jelas-jelas menyebut nama Rasti," ucap Melody.
" Ya sudah," sahut Melody menurut saja. Ardian tersenyum dan langsung melajukan mobil dengan kecepatan santai.
Baru beberapa detik mobil Ardian pergi. Rasti sudah keluar dari rumah sakit dan langsung memasuki mobilnya.
Wajahnya begitu kesal dengan menyibak rambutnya kebelakang. Rasti juga mengusap wajahnya dengan kasar.
" Kenapa harus aku coba? apa salahku. Kenapa cobaan ini haru datang padaku. Apa aku tidak bisa bahagia sama sekali," batin Rasti yang terlihat begitu putus asa dengan cobaan yang sekarang dengan menerpanya.
Rasti menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan.
" Sudahlah Rasti. Kau jalani saja hidupmu dengan semestinya dan mungkin adalah takdir mu. Takdir yang harus kau terima," ucap Rasti pasrah dengan keaadaannya.
Ting.
Tiba-tiba Rasti mendapatkan notif pesan dan Rasti langsung membukanya.
" Tante tunggu kamu di kafe pelangi!" pesan dark Shandra membuat Rasti terkejut.
" Tante Shandra ingin bertemu. Untuk apa. Apa ada kaitannya dengan aku dan juga Evan," batin Rasti bertanya-tanya dengan penuh kebingungan.
__ADS_1
Jantung Rasti semakin berdetak tidak menentu. Namun Rasti tidak punya pilihan lain dan akhirnya Rasti memakai sabuk pengamannya dengan buru-buru dan langsung melajukan mobilnya untuk menemui Shandra yabg juga tidak tau kenapa tiba-tiba Shandra ingin bertemu dengannya.
Namun Rasti pasti sudah mempersiapkan dirinya untuk menemui Shandra. Jelas di dalam pikirannya itu ada hubungannya dengan dia dan Evan. Karena kalau tidak untuk apa menemuinya.
*********
Akhirnya Rasti menemui Shandra di kafe pelangi. Karena macet dan ternyata ada cansel pertemuan yang tadinya siang menjadi malam hari. Yang kebetulan juga hujan deras. Rasti dan Shandra duduk berhadapan dengan Rasti yang tampak gugup.
" Kamu menolak lamaran Evan?" tanya Shandra dengan suara dinginnya. Rasti diam yang tidak mampu menjawab pertanyaan itu.
" Ya. Seharusnya saya tidak menanyakan hal itu. Karena memang itu menjadi permasalahan di rumah yang membuat kacau," ucap Shandra.
" Saya tidak menyangka Rasti. Kamu bisa melakukan hal itu. Saya sering mendengar, melihat hubungan kamu dengan Evan memang seperti Tom dan Jerry yang tidak pernah berdamai sama sekali dan kamu menolak lamaran anak saya begitu saja dan bahkan memutuskan hubungan dengan cara seperti itu. Sangat pengecut dan begitu keterlaluan," tegas Shandra.
Rasti hanya diam dengan tangannya yang saling meremas, saling menekan-nekan jarinya.
" Kamu tau Rasti. Betapa bahagianya Evan menyiapkan semuanya untuk kamu. Saat dia meminta izin kepada saya. Saya melihat dengan jelas bagaimana semangatnya dia dan di pastikan anak saya begitu mencintai kamu dan saya pastikan Evan semakin dewasa yang benar-benar punya niat untuk menikahi kamu. Tetap apa kamu menghancurkan segalanya, membuat senyum di wajahnya hilang dan hanya mengurung diri. Rasa percaya dirinya hilang yang seperti tidak pantas untuk siapa-siapa. Karena sudah di tolak orang yang di cintainya yang seolah sudah di campakkan," ucap Shandra dengan penuh rasa kekecewaan membuat Rasti yang sejak tadi menunduk meneteskan air mata.
" Kamu sudah menghancurkan Evan Rasti. Dia putra ku satu-satunya dan kamu menghancurkannya berkeping-keping. Membuatnya kehilangan arah. Hanya diam dan mengurung diri. Apa kamu puas melakukan semua ini," ucap Shandra dengan menekan suaranya.
" Maafkan saya Tante," ucap Rasti dengan pelan.
" Ya. Orang seperti kamu memang hanya bisa meminta maaf. Setelah membuat kacau semuanya. Kamu hanya menganggap semua sebagai permainan. Kamu itu tidak tau diri Rasti," tegas Shandra mulai kehilangan kesabarannya untuk tidak mengeluarkan kata-kata kasarnya.
Sementara di parkiran mobil. Lea dan Alvin buru-buru keluar dari mobil.
" Itu Tante Shandra!" tunjuk Lea.
" Iya ayo kita ke sana!" ajak Alvin yang terlihat buru-buru.
Mereka mengetahui Shandra akan menemui Rasti yang mungkin Shandra ingin mengeluarkan semua unek-unek nya yang tertahan pada Rasti. Karena sudah mengecewakan putranya. Lea dan Alvin khawatir Shandra akan bicara yang tidak-tidak yang membuat Rasti sakit hati dan hanya akan memperkeruh suasana saja nantinya.
" Kamu bukannya bersyukur sudah di lamar anak saya. Tapi kamu dengan kesombongan kamu malah menghancurkan segalanya. Apa kamu begitu bahagia dengan mempermaikan Evan," ucap Shandra menekan suaranya yang mulai emosi.
" Tidak Tante. Saya tidak bermaksud untuk melakukan itu. Mungkin saya dan Evan memang tidak berjodoh," sahut Rasti dengan air matanya yang mengalir.
" Lalu kalau tidak berjodoh. Kenapa menjalani hubungan dengannya sampai bertahun-tahun. Kamu hanya memanfaatkan Evan Rasti. Kamu itu tidak tau diri. Kamu hanya gadis miskin yang harus di cintai putraku. Seharusnya kamu itu sadar banyak wanita kaya yang mengkaji Evan. Tapi dia harus memilih wanita seperti kamu. Wanita yang jelas derajatnya tidak sebanding dengan keluarga kami. Yang kamu wanita keluarganya berantakan yang hidup hanya karena..."
" Tante cukup!" gertak Lea yang datang tepat waktu dan mendengar penghinaan Shandra pada Rasti.
Rasti hanya menunduk dengan air matanya mengalir. Mungkin sangat pantas mendapat kemarahan dari Shandra, hinaan yang akhirnya di keluarkan Shandra karena sudah membuat Evan sensara.
Selama ini Shandra menerima baik Rasti. Walau tau kondisi dan keadaan keluarga Rasti yang berbanding terbalik dengan Evan.
" Apa yang tante bicarakan," ucap Lea yang mencoba menenangkan Shandra.
__ADS_1
" Tante tidak seharusnya mengatakan hal yang tidak berguna seperti itu. Apapun bisa di lakukan. Jika ingin bicara. Maka bicara baik-baik. Tanpa harus seperti ini," ucap Lea menyarankan. Dia juga melihat Rasti sudah menangis terus. Menangis tanpa suara dan air mata yang penuh.
Bersambung.