
Rumah sakit.
Raisa pagi ini pergi kerumah sakit sebelum berangkat bekerja. Raisa ingin memeriksa kan dirinya memastikan benar atau tidaknya dia telah mengandung. Raisa dengan wajah yang tidak bersemangatnya duduk di hadapan Dokter.
" Bu Raisa saya akan buatkan resep untuk mencegah mual-mual ya," ucap Dokter sembari tangannya menulis dan Raisa hanya diam dengan pikirannya yang kosong.
Pernyataan dari Dokter membuat dirinya semakin frustasi dan jalan pikirannya yang benar-benar sudah buntu. Menahan tangis di wajahnya.
" Ini Bu Raisa!" ucap Dokter memberikan pada Raisa selembar resep itu. Namun Raisa tidak mengambilnya dan terlihat masih melamun.
" Bu Raisa!" tegur Dokter dan Raisa tersentak kaget.
" Ini resepnya!" ucap Dokter lagi yang memberikan pada Raisa.
" Oh iya maaf Dokter," ucap Raisa yang terlihat gugup dan langsung mengambil resep tersebut dan langsung keluar dari ruangan Dokter tanpa berpamitan.
Dokter wanita tersebut hanya heran dengan Raisa yang pergi begitu saja. Padahal dia belum memberikan pesan apa-apa pada Raisa masalah kandungannya.
Raisa keluar dari ruangan Dokter dengan terburu-buru yang ingin pergi jauh-jauh dan mungkin ingin berteriak sekencang-kencangnya untuk menenagkan pikirannya.
Namun siapa sangka jalannya Raisa terburu-buru harus bertabrakan dengan Melody yang juga ada di rumah sakit.
" Auhhhh," lirih Melody saat bahunya di tabrak Raisa dan membuat Raisa terduduk di lantai.
" Raisa!" pekik Melody heran dan langsung berjongkok membantu Raisa.
" Kamu tidak apa-apa?" tanya Melody. Raisa menggelengkan kepalanya. Bahwa dia memang tidak apa-apa.
" Ya ampun kamu seharusnya jalan pelan-pelan," ucap Melody yang membantu Raisa mengambil barang-barang di lantai dan tangan Melody memegang resep obat yang Raisa.
Raisa terkejut melihat Melody terlihat membacanya dan dengan cepat Raisa mengambilnya dari tangan Melody.
" Maaf aku tidak sengaja menabrak mu. Aku harus pergi," ucap Raisa buru-buru berdiri dan pergi begitu saja.
" Raisa!" panggil Melody yang melihat Raisa berlari dengan kencang.
" Sayang!" ucap Ardian yang tiba-tiba datang dan langsung membantu Melody untuk berdiri.
" Sayang kamu kenapa?" tanya Ardian yang memeriksa kondisi istrinya ada yang lecet atau tidak.
" Aku tadi tidak sengaja bertabrakan dengan Raisa," jawab Melody.
" Raisa. Lalu di mana dia?" tanya Ardian.
__ADS_1
" Di buru-buru pergi. Tapi...." Melody terdiam sesat.
" Kenapa Raisa memegang resep obat untuk wanita hamil," batin Melody yang ternyata sempat membacanya dan jelas Melody tau karena dia hamil dan obat yang di konsumsinya sama dengan Raisa.
" Tapi apa sayang?" tanya Ardian menunggu jawaban istrinya.
" Tidak apa-apa. Ya sudah ayo kita temui Dokter," ucap Melody yang kelihatan tidak mau membahas masalah Raisa dengan suaminya. Karena apa yang di pikirannya belum tentu terjadi.
*********
Makam malam di kediaman Ardian. Di mana makan malam lengkap dengan semuanya. Pasti Lea dan Alvin tidak ada di sana. Karena sudah tinggal di rumah sendiri. Namun terlihat juga Evan dan Rasti kosong. Sementara yang lain sudah mulai makam bersama.
" Kenapa Rasti dan Evan belum turun juga?" tanya Eyang besar.
" Ya ampun Eyang. Namanya juga pengantin baru. Jadi maunya di kamar terus. Mana ada laparnya," sahut Vivi.
" Tuh mereka sudah datang," sahut Mila yang melihat Rasti dan Evan yang sudah turun dan lihatlah Rasti harus keramas. Orang-orang yang mengerti hanya tersenyum melihat pasangan itu sama-sama keramas.
" Ayo kalian duduk. Makan malam dulu!" sahut Shandra.
" Iya mah," sahut Evan menarik kursi untuk mempersilahkan istrinya. Kalau manten memang harus Romantis-romantisan.
" Kalian itu harus makan. Supaya nanti ada tenaga buat tempur lagi," celetuk Vivi.
" Kak Vivi apa-apaan sih. Ada anak kecil," sahut Evan yang malu-malu dan Rasti hanya diam saja sekarang.
" Tante Rasti dan Om Evan apa tidak kedinginan mandi malam-malam begini keramas lagi?" tanya Aliya.
Orang-orang yang ada di sana jadi canggung sendiri mendengar pertanyaan Aliya.
" Benar, Dani aja kalau makan malam pasti kedinginan," sahut Dani menambahi dan para orang-orang yang mengerti di sana akan bingung harus menjawab apa pertanyaan anak-anak yang polos itu.
" Tidak kok tidak kedinginan," sahut Evan berusaha santai menjawab pertanyaan keponakannya itu.
" Sudah-sudah jangan membahas masalah mandi lagi. Sekarang kita melanjutkan makan kita," ucap Widia.
" Ayo Dani, Aliya kalian makan lagi," sahut Bayu.
" Iya pah," jawab Aliya dan Dani dengan serentak.
" Hmmm, Mila kamu nanti kerumah Raisa. Kamu anterin pesanan Eyang untuknya," ucap Eyang
" Mila nggak bisa mah karena aku dan Mila mau menghadiri acara teman kami," sahut Bayu. Dia harus bicara terlebih dahulu. Karena istrinya itu bisa saja mengiyakan. Mila memang menantu yang paling penurut.
__ADS_1
" Begitu rupanya," sahut Eyang.
" Iya Eyang, maaf ya. Mila sudah janji mau menemani mas Bayu," jawab Mila yang merasa tidak enak.
" Ya sudah kamu saja Vivi yang mengantarkannya," sahut Eyang melempar pada Vivi.
" Maaf eyang aku nggak bisa bayiku kalau malam suka rewel yang lain aja deh," sahut Vivi yang menolak tanpa ada segannya.
" Biar aku aja Eyang yang ketempat Raisa," sahut Melody mengambil alih.
" Kamu tidak apa-apa?" tanya Eyang.
" Tidak apa-apa," jawab Melody.
" Biar aku temani sayang," sahut Ardian.
" Kamu kan setelah ini mau pergi sama mas Arya, menemui klien. Jadi nggak apa-apa aku sendirian," sahut Melody mengingatkan jadwal suaminya.
" Tapi kamu nggak mungkin menyetir," ucap Ardian. Semenjak kecelakaan Melody memang tidak berani menyetir. Ada trauma sedikit yang di alaminya.
" Aku di antar supir. Jadi tidak apa-apa aku pergi sendiri," sahut Melody dengan santai.
" Ya sudah kalau begitu," sahut Ardian yang memberikan izin.
" Kamu hati-hati ya Melody," ucap Widia yang memberikan pesan.
" Iya mah," jawab Melody.
" Sekalian aku juga bisa mencari tau ada apa dengan Raisa sebenarnya. Aku yakin Raisa sebenarnya tidak baik-baik saja," batin Melody yang ternyata mempunyai niat lain.
*********
Setelah selesai makan malam. Akhirnya Melody langsung bergegas ketempat Raisa untuk membawakan hal-hal yang di suruh Eyang besar. Melody di antar supir dan sekarang mobil itu sudah berhenti di depan rumah Raisa.
Melody melihat keluar jendela, melihat rumah Raisa dan melihat rumah itu gelap. Ini memang pertama kali Melody mengunjungi Raisa.
" Apa Raisa belum pulang bekerja," batin Melody yang tidak ada tanda-tanda orang ada di dalam.
Melody menghela napasnya kedepan, " Pak tunggu di sini ya," ucap Melody.
" Baik non," sahut supir. Melody langsung keluar dari mobil tersebut.
" Semoga Raisa pulangnya tidak lama," batin Melody yang melangkah mendekati rumah Raisa yang mungkin akan menunggu di teras rumah.
__ADS_1
Bersambung