
Malam hari tiba Ardian memasuki kamar dan Melody sudah berada di atas tempat tidur di mana Melody sudah tertidur lelap. Tertidur lurus dengan tangannya berada di atas perutnya yang masih memegang handphonenya yang mana tadi Melody sedang vidio call bersama keponakannya dan sampai ketiduran.
Ardian menghampiri tempat tidur, berdiri di samping Melody. Ardian menatap wajah teduh yang tertidur itu.
" Kamu yang pergi saat itu Melody. Aku yang kehilangan kamu. Aku tidak pernah menghiyanati kamu. Tetapi kamu yang pergi. Tapi apa Melody kamu mengalami semua itu setelah hubungan kita berakhir. Jika kamu tidak sanggup dengan semua resiko itu. Kenapa pergi saat itu. Kamu membenciku, keluargamu kalian semua membenciku," ucap Ardian yang berbicara pelan di depan Melody.
Ardian menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Ardian mengambil handphone yang di tangan Melody. Layar itu masih hidup dan ternyata Vidio Call itu masih hidup di mana Chaca keponakannya juga tertidur miring yang hanya memperlihatkan wajahnya.
Ardian tersenyum dan mematikan melihat lucunya keponakan Melody dan langsung mematikan handphone itu, meletakkan di atas nakas. Ardian menarik selimut sampai ke dada Melody.
Ardian melihat Melody sebentar lalu langsung menyusul untuk beristirahat berbaring di samping Melody yang pasti jauh di ujung dan tidak melewati batas yang dibuat Melody guling yang berada di tengah.
***********
Mentari pagi kembali tiba. Raisa dan Novi berada di dalam kamar. Rumah terlihat begitu ramai dengan sanak keluarga yang mulai berdatangan untuk acara resepsi pernikahan besok. Acara resepsi akan di adakan di rumah. Karena memang rumah mereka luas jadi memang lebih baik di adakan di rumah dari pada di gedung.
Banyak para pekerja yang menyulap luasnya taman belakang untuk menjadikan tempat itu sebagai resepsi mewah. Sementara Raisa dan Novi berdiri di dekat jendela di dalam kamar yang terlihat begitu gelisah melihat semuanya lancar-lancar saja.
" Tante apa Tante yakin sudah memberikannya pada Melody?" tanya Raisa.
" Ya iyalah Raisa," sahut Novi.
" Kalau memang iya. Lalu kenapa tidak ada hasilnya. Melody tidak histeris. Dan lihat semuanya berjalan begitu lancar," ucap Raisa.
" Tante juga tidak tau dan mungkin Melody belum melihatnya," sahut Novi yang juga bingung.
" Lalu bagaimana Tante. Semuanya akan sia-sia. Kalau sampai seperti ini," ucap Raisa semakin panik.
" Kamu tenang dulu, Tante akan coba pastikan dia melihat Vidio itu atau tidak," sahut Novi.
" Bagaimana caranya, Tante mau kekamarnya. Lalu memaksanya untuk melihatnya yang u ada semua masalah bertambah banyak," sahut Raisa dengan kesal.
" Raisa kamu tenanglah. Kamu jangan berpikir yang tidak-tidak. Kamu tenang aja. Tante akan coba untuk memastikannya," sahut Novi.
__ADS_1
" Ya sudah sana, aku sudah capek dengan semuanya," sahut Raisa kesal. Novi pun langsung pergi, keluar dari kamar untuk memastikan kaset itu sudah di lihat Melody atau belum.
**********
Melody berada di kamar terlihat menyisir rambutnya di depan cermin. Ardian keluar dari kamar mandi dengan pakaian kaus dan celana training dengan handuk yang berada di lehernya. Ardian berjalan menuju sofa melihat beberapa tumpukan berkas-berkas pekerjaannya di atas meja.
Namun Ardian melihat kaset yang berada di atas meja tepat berada di samping laptop membuat Ardian heran dengan apa yang di temukannya.
" Kaset apa ini?" tanya Ardian yang melihat ke arah Melody.
" Tidak apa-apa. Hanya rekaman dari keponakanku," jawab Melody sambil memberi polesan make up di wajahnya.
" Begitu rupanya," sahut Ardian biasa saja. Ardian pun memebereskan meja yang terlihat berantakan itu.
Tok-tok-tok-tok. Pintu di ketuk membuat Ardian berdiri dan membuka pintu.
" Selamat pagi Pak Ardian!" sapa seorang wanita dengan ramah dan di belakang wanita itu ada 2 wanita lagi.
" Pagi. Ada apa ini?" tanya Ardian.
" Untuk apa?" tanya Ardian heran.
" Bukannya seharusnya kamarnya harus di sulap menjadi kamar pengantin. Jadi kami ingin membuat kamar bapak sedemikian rupa," sahut wanita itu.
" Aku rasa itu tidak perlu," sahut Melody yang sudah datang saja berdiri di belakang Ardian.
" Tapi bu Melody ini memang harus di lakukan," sahut wanita tersebut.
" Aku tidak mau," sahut Melody yang tetap Melody.
" Melody, jangan membantah. ini memang harus di lakukan," sahut Mila yang tiba-tiba datang.
" Itu terlalu berlebihan dan aku rasa itu tidak perlu," sahut Melody yang tetap kekeh dengan pendiriannya.
__ADS_1
" Ayo keluar! biarkan mereka melakukannya," sahut Ardian memegang lengan Melody yang mengajaknya keluar.
" Aku tidak mau," sahut Melody yang menolak.
" Kamu sudah berjanji akan melakukan tugas mu sebagai istri dan tugas utama adalah taat pada suaminya. Jadi jangan protes lagi. Biarkan mereka melakukannya!" tegas Ardian yang langsung membawa Melody keluar dari kamar.
" Kalian masuklah, silahkan sulap kamar ini menjadi seindah mungkin!" titah Mila.
" Baik Bu," sahut wanita itu dan akhirnya masuk kedalam dengan membawa alat-alat mereka.
**********
Sementara Ardian membawa Melody turun kebawah di mana banyak orang yang lalu lalang berlewatan yang memang super super sibuk.
" Ardian lepaskan aku!" berontak Melody yang melepaskan tangannya dari Ardian.
" Kamu ini apa-apaan sih," sahut Melody kesal.
" Melody sudahlah, kamu jangan membantah ini itu lagi. Itu hanya kamar. Jadi jangan memperbesar masalah," ucap Ardian.
" Siapa yang memperbesar masalah. Aku memang tidak ingin kamarku harus seperti ini seperti itu. Hanya untuk sakit mata dan aku juga tidak nyaman," sahut Melody menegaskan.
" Melody hanya 1 hari saja. Jadi nyamankanlah," tegas Ardian.
" Tapi tetap saja aku...."
" Aunty Melody," suara panggilan itu membuat Melody menghentikan kata-katanya dan melihat yang memanggilnya ternyata keponakannya Chaca yang sekarang berlari mengejar Melody. Wajah Melody yang tadinya mengkerut berubah menjadi senyum indah dan berjongkok mengulurkan ke-2 tangannya menyambut pelukan untuk keponakan kesayangannya itu.
" Chaca ya ampun," sahut Melody yang langsung memeluk Chaca dengan erat. Dua sudah tidak tau berapa lama dia tidak memeluk keponakannya itu. Dua begitu merindukannya.
" Hmmm Tante kangen banget sama kamu," sahut Melody dengan gemas. Chaca datang bersama Marsel dan Gadis yang mana pasangan suami istri itu sekarang sedang berdiri di belakang Chaca. Tatapan Marsel pada Ardian tetap sama begitu sangat membenci.
" Chaca juga kangen sama aunty," sahut Chaca yang melepas pelukan itu dan Melody langsung menciumi gemas wajah Chaca. Baginya Chaca adalah boneka yang membuatnya gemes seperti sekarang ini.
__ADS_1
Melihat Melody yang begitu bahagia membuat Ardian merasa tenang. Melody memang akan semakin cantik jika wajah itu mengeluarkan senyum dari pada setiap hari marah-marah tidak jelas.
Bersambung