
Ardian terus mengobati luka di dahi Melody, mengobati lembut, sementara Melody yang awalnya marah-marah sudah diam. Namun tetap saat Adian mengobatinya tidak ingin melihat wajah Ardian. Wajahnya terus kearah kanannya dan membiarkan Ardian mengobatinya.
Selesai memberi plaster pada dahi yang luka itu. Mata Ardian menatap manik pipi Melody yang memerah bekas tamparan itu. Ardian mengusap lembut pipi itu. Namun tiba-tiba terjatuh tetes air mata dari bola mata Melody.
Tidak tau betapa hancurnya perasaan Melody yang tidak bisa di jelaskan. Selain rasa sakit di wajahnya pasti juga hatinya yang tidak bisa melakukan apa-apa dan lelah dengan semuanya. Mundur salah mengikuti alur juga semakin menyiksanya dan harus di tumpahkannya dalam kelemahan air matanya.
Ardian menatap manik bola mata Melody yang terus mengeluarkan air mata. Seakan memiliki kontak batin membuat Ardian merasa tersentuh pada air mata yang jatuh itu.
Ardian langsung memeluk Melody. Namu bukan Melody namanya jika tidak memberontak dengan mendorong-dorong dada bidang itu menjauh dari tubuhnya.
" Lepaskan aku! lepaskan aku!" ucap Melody dengan suara seraknya yang begitu pelan yang berusaha melepaskan diri dari pelukan itu. Ardian tidak peduli dan terus memeluknya dengan mengusap rambut Melody di bagian belakang.
" Apa kamu puas melakukan semua ini kepadaku. Sampai kapan semuanya seperti ini. Apa semua ini belum cukup. Apa kamu sudah puas Ardian!" ucap Melody dalam tangisnya yang begitu pecah di pelukan Ardian.
Tidak ada jawaban yang di keluarkan Ardian. Mau menjawab apapun akan sama. Bagi Melody dia memang penyebab semuanya. Jadi sudahlah Ardian hanya mengikuti alur yang sudah terjadi.
" Aku membencimu Ardian! aku sangat membencimu. Sampai matipun aku akan tetap membencimu!" umpat Melody yang terus menangis.
Ardian sama sekali tidak peduli dengan makian atau apapun yang keluar dari mulut Melody. Suara umpatan itu sudah tidak ada. Suara isakan itu pun sudah tidak ada dan tangan yang dari memberontak mendorongnya pun sudah lemas.
Apa lagi jika pasti Melody tidak pingsan. Lea memang benar. Melody bukan wanita kuat. Baik secara fisik maupun mental. Jika Melody kuat. Pasti masa lalunya dan Ardian bisa terlupakannya dan memulai hidup barunya. Tetapi tidak ternyata Melody walau sudah beberapa tahun lalu tetap seperti ini. Tetap merasa sakit. Karena memang dia wanita yang lemah.
__ADS_1
" Maafkan aku Melody!" Ardian akan mengatakan maaf jika Melody sudah tidak sadarkan diri. Apa salahnya meminta maaf. Jika Melody bangun. Mungkin hatinya Melody juga lama-lama akan luluh.
Melody yang sudah pingsan di pelukan itu Ardian langsung menggendongnya ala bridal style dan membawanya ke atas tempat tidur. Ardian membaringkan dengan perlahan menatap nanar wajah itu dengan mengusap-usap lembut pipi Melody yang begitu merah.
Ardian tau Melody begitu menderita. Tetapi tidak bisa mengambil tindakan yang tegas. Selalu mengatakan posisi yang serba salah dan Harun menjadi satu-satunya orang yang bertanggung jawab dengan semua masalah yang terjadi.
Pukulan dari Marsel di terimanya tanpa membalas atau menyanggah makian Marsel sedikitpun. Penderitaan Melody dari dulu tidak akan ada artinya dengan apa yang akan di terimanya.
Ardian pun ikut berbaring di samping Melody dan membawa Melody kedalam pelukannya, mengusap-usap pucuk kepala itu dan perlahan memejamkan matanya yang tertidur untuk sama-sama menenangkan diri.
************
Mentari pagi kembali tiba, sinar di pagi hari yang begitu cerah yang masuk dari sela-sela jendela tidak mampu membuat pasangan suami istri Melody dan Ardian yang masih tertidur dalam posisi yang sama. Di mana Ardian masih tetap memeluk Melody tertidur lelap dalam ringkupan selimut.
" Mungkin ini takdir kamu Melody. Allah punya caranya. Dan tidak mungkin tidak ada hikmah dark semua ini. Mama yakin kamu wanita kuat yang bisa melewati semua ini. Percayalah Melody Ardian menikahimu juga karena alasan yang sudah di pikirkannya. Jika dia masih memikirkan mimpimu di saat kamu ingin pergi selamanya yang itu artinya dia memikirkanmu sepanjang hidupnya. Walau tidak bersamamu. Masih ada cinta di antara kalian yang membuat kalian berduan bertahan sampai saat ini," batin Dania yang meneteskan air mata terharu dengan apa yang di lihatnya.
Tidak ingin mengganggu menantunya dan anaknya itu. Dania pun memilih keluar dari kamar menutup pintu kamar dengan perlahan agar Melody dan Ardian tidak bangun. Kejadian tadi malam pasti membuat Dania tidak tenang dan ingin membawa paksa anaknya pulang. Tetapi dia mengurungkan niatnya ketika melihat pemandangan yang manis itu.
***********
Perlahan mata Melody terbuka, merasa berat di pinggangnya yang seperti ada tangan di yang melingkar. Melody melihat di depannya dan terkejut melihat di mana wajah Ardian sudah begitu dekat dengannya. Wajah Ardian masih terluka membuat Melody melihat dengan sendu wajah itu.
__ADS_1
Melody perlahan mengangkat tangan Ardian dari pinggangnya. Dengan hati-hati dia melakukannya. Karena dia begitu takut Ardian bangun. Melody bergeser sedikit dengan duduk dan mengambil kotak obat di atas nakas.
Melody pun yang hatinya harus tersentuh karena luka itu. Membuatnya mengambil tindakan untuk mengobati luka di wajah tampan Ardian.
Melody melakukannya dengan pelan-pelan. Dan sangat hati-hati. Karena takut Ardian akan bangun dan mungkin akan beda cerita kalau Ardian bangun.
Dengan menundukkan kepalanya pada wajah Ardian, Melody mengobatinya dengan lembut. Namun tiba-tiba dengan perlahan Ardian membuka matanya dan mendapati wajah Melody di hadapannya yang sangat dekat dengannya dengan rambut Melody bahkan menusuk-nusuk di wajahnya.
Tangan Melody yang di wajah Ardian mendadak bingung harus apa, melanjutkan atau pergi. Kegugupan itu terlihat dari keduanya dan bahkan mata mereka saling bertemu yang saling menatap.
Mata yang sama-sama berputar mengamati wajah masing-masing dengan perasaan yang pasti kembali bergetar. Kayaknya jatuh cinta seperti 5 tahun lalu. Kegugupan rasa canggung di rasakan keduanya. Dan bukannya ada yang saking sadar malah betah dengan kondisi tersebut.
tok-tok-tok-tok
ketukan pintu menyelamatkan kecanggungan keduanya yang akhirnya saling menyadarkan dan Melody langsung menjauh menutupi kegugupannya masing-masing. Melody beranjak dari tempat tidur bukannya membuka pintu malah memasuki kamar mandi.
Ardian menarik napasnya panjang dan mau tidak mau dia yang harus membuka pintu kamar dan ternyata Aliya yang mengetuk pintu.
" Om di tunggu di bawah bersama kak Melody!" ucap Aliya.
" Iya, kami akan segera turun," ucap Ardian. Aliya mengangguk dan langsung pergi.
__ADS_1
Bersambung.