Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma

Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma
Bab 190 Kritis.


__ADS_3

Ardian belum melewati masa kritisnya. Ardian juga belum bisa di besuk sama sekali. Karena kondisinya yang memang semakin parah. Melody hanya berdiri di depan pintu yang terdapat kaca sedikit untuk melihat Ardian dari luar.


Air mata Melody tidak hentinya keluar melihat kondisi suaminya yang begitu parah. Terlihat Ardian yang telanjang dada dengan tempelan selang-selang di dadanya yang tidak tau apa itu.


Selain itu terlihat juga bagian mulutnya di beri selang, tubuh Ardian hanya terbantu dengan alat medis saja dengan monitor jantung yang ada di sampingnya.


" Kapan kamu akan bangun. Kamu harus bangun, Ardian aku tidak bisa seperti ini tanpa kamu. Aku mohon bangunlah. Seharusnya kamu tidak perlu mengorbankan diri kamu," ucap Melody yang terus mengeluarkan air mata menangisi suaminya yang berada di dalam sana yang sama sekali tidak bisa di gapainya.


Tiba-tiba sebuah tangan lembut mengusap pundaknya yang membuat Melody melihat ke belakang yang ternyata adalah Rasti.


" Sabar ya Mel, semuanya pasti baik-baik saja. Ardian akan secepatnya bangun. Kamu harus lebih bersabar lagi," ucap Rasti yang tidak henti-hentinya memberi semangat untuk Melody.


Melody tidak bisa menjawab apa-apa dan hanya mengangguk saja dan Rasti memeluknya sembari mengusap-usap pundaknya.


Eghek, Ehegk. Tiba-tiba Melody merasa ingin muntah sampai menutup mulutnya dengan melepas pelukannya dari Rasti.


" Kamu kenapa Melody?" tanya Rasti panik.


Melody menggelengkan kepalanya dengan memegang perutnya yang tiba-tiba terasa begitu mual.


" Kamu sudah makan?" tanya Rasti yang khawatir pada Melody. Melody menggelengkan kepalanya.


" Melody kamu harus pikirkan diri, kesehatan kamu juga. Jangan seperti ini Melody. Kamu harus makan. Kalau kamu sakit Ardian akan marah pada kamu," ucap Rasti memberi saran.


" Aku tidak apa-apa Rasti, aku hanya pusing itu saja," jawab Melody memegang kepalanya yang terasa berat.


" Ya sudah kalau begitu. Sebaiknya kamu istirahat dulu. Biar aku cari makan sebentar ya," ucap Rasti yang begitu khawatir pada Melody.


" Nggak usah Rasti. Bagaimana mungkin aku bisa makan. Jika Ardian saja masih seperti itu. Aku tidak mau makan Rasti," sahut Melody menolak tawaran Rasti karena suaminya yang masih di rawat.


" Melody kamu jangan punya pikiran seperti itu. Ardian sedang berjuang di dalam sana untuk bertahan hidup dan kamu juga harus lebih semangat di bandingkan dia. Kamu harus makan supaya kondisi tubuh kamu tidak terganggu. Seperti yang aku bilang tadi. Jika terjadi sesuatu kepada kamu. Maka Ardian akan marah. Jadi jangan mencari penyakit," ucap Rasti yang memberi nasehat pada sahabatnya itu.


" Kamu makan yah, maag kamu pasti kambuh. Karena belum makan. Perut kamu kosong. Jadi kamu harus makan," ucap Rasti yang terus membujuk Melody.

__ADS_1


" Ya sudah tunggu di sini ya. Aku akan membelikan makanan dulu untuk kamu!" ucap Rasti sembari mengusap bahu Melody.


" Maaf merepotkan!" ucap Melody yang merasa tidak enak.


" Tidak apa-apa. Aku pergi sebentar ya!" ucap Rasti. Melody menganggu pelan dan Rasti pun langsung pergi untuk membelikan makanan untuk sahabatnya itu.


Melody pun duduk dengan memegang perutnya yang memang sejak tadi mual-mual dan belum lagi dengan kepalanya yang terasa berat.


" Rasti benar. Aku memang harus menjaga kondisi tubuhku. Aku tidak bisa tidak mempedulikan kesehatanku. Semuanya demi Ardian di dalam sana. Aku tidak boleh sakit," ucap Melody yang mendengarkan apa kata Rasti. Dia tidak boleh spele dengan kesehatannya dan nanti pasti juga berpengaruh untuk Ardian.


**********


Rasti ke luar dari rumah sakit untuk membeli makanan yang tadi di katakannya pada Melody. Tiba-tiba Lela melihat Rasti.


" Rasti!" panggil Lea membuat langkah Rasti terhenti dan menoleh ke arah suara dari sebelah kanannya yang mana ternyata adalah Lea yang sekarang sedang menghampirinya.


" Lea!" sapa Rasti.


" Aku mau cari makanan untuk Melody. Dia kelihatan lemas sekali. Melody kurang memperhatikan kesehatannya. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya. Makanya aku ingin membelikannya makanan dulu," jawab Rasti.


" Memang di dalam tidak ada orang yang lain kemana?" tanya Lea.


" Baru pulang. Mungkin sebentar lagi nanti akan datang lagi," jawab Rasti.


" Hmmm, begitu rupanya," sahut Lea.


" Kamu sendiri dari mana?" tanya Rasti.


" Aku dari rumah mau kemari sih. Tapi tadi ketemu Evan. Dan aku sekalian nanya perkembangan urusan polisi sama Evan," jawab Lea.


" Lalu bagaimana?" tanya Rasti yang memang belum penasaran.


" Ya sesuai proses hukum dan Novi juga sudah meninggal," ucap Lea. Rasti tampaknya tidak tau hal itu sampai dia begitu terkejut.

__ADS_1


" Tante Novi meninggal?" tanya Rasti yang kelihatan schok.


" Hmmm, kamu benar. Tante Novi meninggal. Karena luka tembak yang di alaminya yang begitu parah," jawab Lea.


" Lalu Raisa bagaimana?" tanya Lea yang juga penasaran dengan Raisa.


" Raisa masih hidup, tembakan yang di lakukan Novi kepadanya hanya di bagian bahunya. Dan dia sekarang juga di rumah sakit ini dan polisi juga mengawasinya," jelas Lea.


" Lalu menurut kamu bagaimana ini selanjutnya?" tanya Rasti.


" Yang jelas pasti di tangani polisi dan aku dengar dari Evan. Alvin juga ikut membantu Polisi dan bahkan anak buah Alvin ikut mengawasi Raisa," jelas Lea.


Mendengar nama Alvin membuat Rasti menatap wanita di depannya itu dengan mengintimidasi.


" Ada apa?" tanya Lea heran.


" Kamu begitu dengan Alvin. Kalian punya hubungan special?" tanya Rasti yang sudah ingin menanyakan hal itu dari zaman purba kala. Hanya saja waktunya tidak bertemu.


" Kamu itu bicara apa. Memang hubungan apa," sahut Lea tampak gugup yang sepertinya belum ingin orang-orang tau jika dia dan Alvin memang sudah punya hubungan special. Mungkin bagi Lea ini belum waktu yang tepat untuk membahas masalah hubungan ini.


" Ya aku melihat aja. Kalian begitu dekat dan dia juga ikut untuk mencarimu dan bukankah kamu juga ke perusahaannya sebelum di culik," ucap Rasti yang rasa ingin taunya semakin kuat.


" Apa yang kamu bicarakan Rasti. Alvin itu rekan bisnis keluarga. Ya dia banyak membatu Perusahaan keluarga kami dan dia juga dekat dengan Ardian. Jadi pasti hanya karena itu saja. Nggak ada yang istimewa," ucap Lea yang masih mengelak dengan hubungannya bersama Alvin yang baru bersemi.


" Lalu kenapa kamu ke perusahaannya?" tanya Rasti yang benar-benar begitu kepo.


" Tidak apa-apa. Aku hanya ada keperluan saja," jawab Lea yang pasti ada saja jawabnya untuk menutupi hubungan itu.


" Kenapa sih Lea tidak jujur aja dengan kedekatannya dan Alvin yang memiliki tanda tanya. Padahal kan jelas ada sesuatu," batin Rasti.


" Aduh, Rasti kenapa sih kepo amat jadi orang. Memang untuk apa dia itu harus tau dengan hubungan kami," batin Lea yang merasa kurang nyaman dengan Rasti yang ingin tau dengan hubungannya dan juga Alvin.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2