
Melody dan Ardian mencari-cari di mana Rasti dan Rasti sama sekali tidak di temukan yang membuat mereka berdua kebingungan dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke tempat penginapan.
Dan ternyata di tempat penginapan, Alvi, Lea dan Evan sudah sampai, mereka mendudukkan Evan di sofa dan langsung dan menenangkan Evan.
" Evan kamu tenang ya. Kamu jangan mikir apa-apa dulu. Mungkin ini hanya salah paham. Kita bicara dengan Rasti baik-baik dulu. Melody dan Ardian pasti akan kembali," ucap Lea mencoba menenagkan Evan yang terlihat prustasi. Di mana Evan terlihat diam saja yang pikirannya benar-benar begitu kosong.
" Evan kamu dengarkan Lea. Kamu harus tenang dulu. Semua akan baik-baik saja," sahut Alvin yang juga memberikan nasehat yang sama dengan istrinya.
Di detik kemudian Ardian dan Melody pun sampai.
" Melody Ardian, bagaimana?" tanya Lea.
" Kami tidak menemukan Rasti. Apa dia sudah pulang?" tanya Melody.
" Aku juga tidak tau. Soalnya kamu juga baru sampai," jawab Lea.
" Kami juga mencari-carinya dan menghubunginya. Namun Rasti tidak mengangkat telponnya," sahut Ardian.
" Lalu kemana dia?" tanya Alvin.
Mereka melihat ke arah Evan yang tampak bengong yang tidak punya pikiran apa-apa lagi. Yang hanya merasa dunianya sudah hancur dan tidak tau apa yang harus di lakukannya bahkan dia seakan merasa apa yang barusan terjadi hanyalah mimpi buruk saja.
" Kalau begitu biar aku lihat sebentar ke kamarnya," sahut Melody yang mungkin merasa Rasti sudah pulang sebelum Lea dan Alvin pulang.
" Semoga saja Rasti benar-benar pulang," ucap Lea.
Ardian mendekati Evan dengan mengusap bahu Evan memberi ketenangan pada Evan yang terlihat begitu hancur.
" Kamu harus tenang. Percayalah semuanya akan baik-baik saja. Ini hal yang biasa terjadi. Tidak semua wanita yang kita lamar akan menerima kita. Jadi percayalah ini hanya biasa saja. Jangan putus asa," ucap Ardian yang memberikan semangat pada Evan.
" Kenapa semua tiba-tiba seperti ini. Kenapa Rasti jadi begini. Biasanya Rasti tidak seperti itu. Apa yang salah. Apa aku melakukan kesalahan dalam lamaranku. Apa ada yang salah?" tanya Evan seperti orang kebingungan .
__ADS_1
" Evan kamu jangan berpikiran seperti itu. Tidak apa-apa Evan. Tidak ada yang terjadi. Seperti kata Ardian. ini hal yang biasa. Jadi kamu harus tenang," sahut Lea. Evan menunduk dengan mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya yang benar-benar kebingungan.
" Rasti tidak ada di kamarnya," sahut Melody yang sudah kembali dari mengecek Rasti.
" Apa maksud kamu?" tanya Lea.
" Aku tidak tau kemana Rasti. Dia tidak ada di kamarnya dan bahkan barang-barang sudah kosong," jawab Lea.
Mendengar hal itu membuat semua orang terkejut. Evan juga terkejut dan melihat Melody dengan serius.
" Apa Rasti tidak ada di kamarnya?" tanya Alvin.
" Iya aku sudah melihatnya, bahkan kamarnya juga kosong," jawab Melody sekali lagi.
" Apa itu artinya dia pulang?" sahut Lea.
" Masalah itu aku kurang tau. Tapi kemungkinan iya, dia tidak ada di sini. Jadi di mana lagi. Kalau dia bukan kembali," ucap Melody dengan wajah paniknya.
" Kita semua tenang dulu. Jangan sampai memperkeruh suasana. Harus berpikir tenang dan luas. Dan Rasti mungkin saja masih di sekitar sini. Dia tidak mungkin langsung pulang malam-malam seperti ini," sahut Ardian yang mencoba menangkan semua orang yang bertambah cemas.
Sementara Evan sudah pasrah saja yang hanya diam dengan tertunduk yang pasti juga khawatir pada Rasti. Meski telah di kecewakan Rasti
" Aku coba cek penerbangan malam ini," sahut Alvin yang langsung mengambil handphonnya yang mencoba secepatnya bergerak.
" Semoga saja Rasti tidak apa-apa. Semoga dia bisa di hubungi dan tidak langsung mempunyai ide untuk pulang duluan," ucap Melody dengan harapannya pada sahabatnya itu.
Mereka semua semakin cemas dengan Rasti yang tingkahnya ada-ada saja. Bukannya memberikan alasannya kenapa menolak lamaran Evan. Malah lari begitu saja.
" Tidak ada penerbangan malam ini," sahut Alvin yang selesai mengecek penerbangan.
" Berarti Rasti tidak pulang malam ini. Rasti kemungkinan masih ada di sekitar sini dan mungkin tidak jauh dari tempat ini," sahut Melody.
__ADS_1
" Ya sudah begini saja. Aku sama Alvin akan mencari Rasti. Semoga Rasti bisa di temukan, Melody kamu sama Lea dan Evan menunggu di sini saja. Kalian coba menghubungi dari panggilan telepon. Kalau ada kabar. Kabari kami. Begitu juga dengan kami," ucap Ardian yang memutuskan langsung.
" Aku setuju sama Ardian. Biar kami cari Rasti saja. Pasti Rasti belum jauh dari sini," sahut Alvin yang langsung setuju begitu saja.
" Ya sudah kalian pergilah. Langsung kabari kami setelah itu," sahut Lea.
Ardian mengangguk dan berpamitan pada istrinya dengan memeluknya sebentar.
" Ayo Alvin!" ajak Ardian. Alvin mengangguk dan juga memeluk Rasti sebentar sekedar untuk berpamitan.
" Evan kita sekarang istirahat ya. Kamu harus tenang," bujuk lea
" Benar Evan. Rasti pasti ketemu dan semua masalah pasti akan selesai. Jadi kamu jangan khawatir," sahut Melody menambahi. Evan hanya diam saja yang tidak mampu bicara apa-apa. Melody dan Lea saling melihat dan mereka sama-sama membantu Evan berdiri. Agar Evan bisa beristirahat di dalam kamar.
***********
Sementara Rasti ternyata sedang berjalan kaki yang berjalan menyeret kopernya dengan menangis terisak-isak dengan perasaannya yang begitu sedih. Beberapa kali Rasti menyeka air matanya dengan bayangan yang melintas di pikirannya yang mengingat-ingat hubungannya dengan Evan.
Masa-masa bahagia mereka, masa-masa ribut mereka. Semua di ingat Rasti dalam kenangan yang indah yang membuat air matanya semakin mengalir. Dia bahkan mengingat bagaimana sebelumnya Evan telah melamarnya yang berlutut dan begitu bahagianya wajah Evan saat melamarnya.
" Maafkan aku Evan, maafkan aku! aku tidak bisa menjadi istrimu. Maafkan aku yang sudah membuatmu kecewa. Maafkan aku Evan," ucap Rasti yang menangis terisak-isak dengan perasaannya yang begitu hancur.
Dia merasa bersalah. Karena sudah menyakiti Evan, " aku mencintaimu Evan, aku mencintaimu. Maafkan aku Evan, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak pantas untukmu Evan, aku tidak pantas," ucap Rasti yang semakin menyebut nama Evan semakin melukai hatinya. Semakin merasa bersalah pada Evan.
*********
Sama dengan Evan yang duduk di pinggir ranjang yang memegang handphone yang wallpaper adalah foto dirinya dan juga Rasti. Di foto itu ke-2nya terlihat tersenyum dengan penuh kebahagiaan. Tanpa beban sama sekali. Tanpa ada masalah. Bahkan foto itu di ambil saat malam mereka makan pertama kali di Jepang setelah berhasilnya rencana Ardian.
" Apa salahku Rasti. Apa aku tidak pantas menjadi suamimu. Makanya kamu menolakku. Apa aku salah Rasti. Apa aku kurang sempurna untukmu. Bukannya lamaran ini sudah kita bahas sebelumnya dan bukannya kita sudah saling memberi kode. Kalau kita akan menuju hal itu. Lalu kenapa kamu harus seperti ini Rasti," ucap Evan yang begitu terpukulnya dengan keputusan Rasti yang menolak lamarannya.
Mungkin Evan sedikit lebay. Lamaran di tolak langsung mewek. Tapi mungkin hal itu juga merupakan hal yang wajar. Evan juga manusia biasa sama dengan yang lainnya. Jadi sangat wajar hal itu. Walau dia seorang pria.
__ADS_1
Bersambung