
" Semoga saja suami yang dia cintai itu bisa bertindak," ucap Marsel yang ala lagi jika bukan mengatakan Ardian. Mungkin karena saking bencinya. Jadi menyebutkan namanya saja Marsel ogah.
" Aku juga berharap seperti itu sayang. Melody sudah banyak berkorban bahkan mengalah. Jika Ardian masih menye-menye ini mau itu mau sama saja sia-sia semua yang di lakukan Melody," sahut Gadis.
" Kamu benar, lama-lama aku memang akan membunuh Ardian. Jika dia terus saja menyakiti Melody," sahut Marsel dengan mengepal tangannya.
" Lalu apa rencana kamu. Jika memang benar mereka akan membebaskan Raisa. Itu artinya mereka akan datang dan membicarakan masalah pelaporan itu. Apa yang harus kamu lakukan?" tanya Gadis.
" Aku tidak akan melakukan apa-apa. Aku hanya akan melihat bagaimana Ardian bertindak setelah ini. Aku ingin melihat apakah dia akan diam dengan keputusan keluarganya mengikutinya atau apa yang akan di lakukannya. Aku ingin tau apa yang akan di lakukan pria brengsek itu. Setelah banyaknya pengorbanan yang di lakukan Melody," sahut Marsel dengan wajahnya yang merah.
" Aku juga setuju dengan kamu. Mungkin itu cara yang terbaik," sahut Gadis.
Pembicaraan Gadis dan Marsel yang di dalam kamar terdengar oleh Dania yang ada di luar kamar.
" Sekeras apapun kamu dengan pendirian kamu. Tetapi mama yakin di dalam hati kamu paling kecil kamu begitu menyayangi adikmu kamu mengkhawatirkan adikmu. Mama yakin itu Marsel," batin Dania yang merasa lega yang telah mendengar pembicaraan Marsel dan Gadis yang sama-sama khawatir sama Melody.
Marsel memang tidak akan mungkin tidak kepikiran dengan Melody. Masalahnya dengan Melody memang sangat besar bahkan Marsel mengusir Melody dari rumah itu karena hanya takut Chaca yang di bawa Melody.
************
Chaca sekarang dengan berada di kamarnya yang sedang di suapi Febby makan.
" Aunty!" tegur Chaca.
" Iya sayang," jawab Febby.
" Boleh tidak Chaca Vidio call Aunty Melody?" tanya Chaca yang sepertinya sudah sangat merindukan Melody.
" Chaca rindu sama Aunty Melody!" tanya Febby.
__ADS_1
Chaca menganggukkan kepalanya, " bentar aja kok. Chaca hanya mau tanya kapan Aunty datang, itu aja kok. Chaca tidak akan banyak-banyak bicara lagi sama Aunty. Janji pokoknya," sahut Chaca sampai mengangkat dua jarinya untuk berjanji agar di beri izin Febby.
Sementara Febby pasi kebingungan yang tidak tau harus berbuat apa. Dia juga takut di marahi kakaknya. Karena sebelumnya kakaknya berpesan untuk Febby tidak membiarkan Chaca berkomunikasi dengan Melody.
" Aunty!" tegur Chaca memegang tangan Febby yang terlihat Chaca mulai merengek.
" Bolehkan Aunty?" tanya Chaca lagi.
" Chaca!" suara dari depan pintu membuat Chaca dan Febby melihat yang mana suara itu ternyata milik Gadis yang mungkin saja juga mendengar permintaan manja anaknya itu.
" Chaca mau tidur Aunty sudah tidak mau makan lagi," sahut Chaca takut dengan Gadis. Di pikiran Chaca pasti mamanya itu akan marah-marah ketika dia ketahuan ingin menelpon Melody. Jadi sebelum di marahi Chaca lebih baik tidur.
" Chaca yakin sudah selesai makannya?" tanya Febby. Chaca mengangguk dan Febby memberinya minum dan setelah itu membangun Chaca untuk rebahan, menyelimuti Chaca dan Chaca berbaring miring membelakangi arah pintu yang mana pasti membelakangi mamanya.
Febby pun membawa piring dan langsung keluar dari kamar yang mana saat ingin berhadapan dengan Gadis. Febby yang cuek melewati kakak iparnya begitu saja.
" Febby!" Gadis menghentikan langkah Febby.
" Makasih kamu sudah mau menjaga Chaca. Dia masih marah sama kakak, makanya dia tidak mau kakak pegang ataupun kakak ajak bicara," ucap gadis.
" Dia bukan tidak mau. Tetapi dia takut pada kakak dan juga kak Marsel," sahut Febby berterus terang dengan apa yang di pikirkannya. Dia bahkan bicara tanpa membalikkan tubuhnya.
" Kak Gadis, jangan mencuri kebebasan Chaca, dia masih kecil dan tidak tau apa-apa. Jadi stop hentikan semuanya. Kasihan Chaca. Perasaannya pasti tidak pernah tenang dan penuh pertanyaan yang sama sekali tidak dapat di mengertinya," ucap Febby memberikan masukan dan pencerahan pada kakak iparnya yang egois itu.
" Kamu tidak mengerti apa-apa Febby. Kamu tidak tau apa yang aku rasakan," sahut Gadis.
" Kakak juga sendiri tidak tau apa yang di rasakan kak Melody dan juga Chaca," sahut Febby, " aku rasa aku juga tidak perlu bicara banyak-banyak. Karena tidak ada gunanya juga pendirian kakak dan kak Marsel akan tetap. Jadi aku lebih baik tidak berpendapat apapun," sahut Febby yang akhirnya langsung memilih pergi. Dari pada bicara dengan kakak iparnya yang menurutnya hanya akan membuat dia naik darah.
" Semua orang memang menyalahkanku," batin Gadis menoleh ke dalam kamar melihat Chaca masih tetap pada posisinya diam dan tidak mau bicara dengan Gadis.
__ADS_1
************
Untuk menjalankan rencananya dengan sebisa mungkin. Mobil Lea akhirnya berhenti di depan kantor polisi pasti Lea akan menemui Rio karena merasa hanya Rio satu-satunya yang bisa menyelesaikan masalahnya.
Lea yang masih berada di dalam mobil terlihat mengatur napasnya dengan perlahan, kepalanya masih melihat ke sekitarnya. Yang mana Lea antara yakin dan tidak untuk memasuki kantor polisi itu.
" Baiklah kamu harus menemuinya Rio, Semua ini harus kamu lakukan Lea, kamu harus tenang," batin Lea yang benar-benar yakin untuk menemui Rio.
Dengan keyakinannya akhirnya Lea keluar dari mobilnya. Lea juga langsung memasuki kantor polisi.
Lea langsung menemui Rio setelah meminta izin pada polisi. Rio sekarang sudah berada di depannya di mana ke-2 tangan Rio di borgol yang di letakkan di atas meja.
" Apa?" tanya Rio yang tanpa basa-basi.
" Aku ingin bicara serius denganmu," ucap Lea yang sebenarnya dia begitu dek-dekan. Namun terlihat berpura-pura untuk tenang.
" Baiklah katakan apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Rio.
" Mengenai Raisa," sahut Lea. Mendengarnya nama Raisa Rio sudah berdecak kesal bahkan hembusan napas bertanya sangat jelas terlihat.
" Jangan menyebutkan nama wanita itu di depanku. Aku tidak ingin mendengarnya," ucap Rio yang begitu kesalnya mendengar nama Raisa yang sudah membencinya.
" Aku tau begitu membencinya. Tetapi dia juga sudah di penjara. Apa itu bisa mengurangi rasa kesalmu padanya?" tanya Lea.
" Ya lumayan, paling tidak wanita itu sudah merasakan apa yang aku rasakan," sahut Rio dengan nada santainya.
" Tapi dia akan keluar, mungkin besok atau jangan-jangan akan hari ini dia akan keluar," sahut Lea membuat Rio kaget.
" Kenapa bisa?" tanya Rio yang jelas begitu terkejut yang tidak percaya jika memang benar Raisa akan keluar dari penjara. Karena Setaunya Raisa di penjara dan mana mungkin keluar secepat itu.
__ADS_1
Bersambung