
Melody masih tetap berjaga untuk menunggu Ardian yang sampai detik ini Ardian belum bisa juga di kunjungi. Melody hanya tetap berdiri di depan pintu untuk melihat suaminya yang tetap ada di sana.
" Mami!" tiba-tiba terdengar suara yang sangat khas baginya membuat Melody membalikkan tubuhnya yang ternyata Chaca datang bersama, Gadis, Marsel dan juga Febby.
" Chaca!" lirih Melody yang langsung berlutut untuk menerima pelukan dari Chaca yang sudah berlari ke arahnya dan begitu sampai Melody langsung memeluk erat Chaca dengan derain air matanya yang mengalir deras.
Melody juga pasti begitu merindukan Chaca putrinya yang mungkin sekarang akan memberikannya obat untuk hari ini.
Chaca melepas pelukan itu dan mengusap air mata Melody, " mami kenapa nangis. Bukannya kata mama dan papa kalau papi Ardian akan baik-baik saja. Lalu kenapa harus menangis," ucap Chaca yang terus mengusap air mata Melody.
" Chaca benar. Papi akan baik-baik saja dan mami menangis hanya karena merindukan Chaca," jawab Melody yang harus berbohong. Padahal dia sangat takut jika Ardian kenapa-kenapa.
" Hmmmm, begitu rupanya," jawab Chaca.
" Iya sayang makasih ya, Chaca sudah mau datang kemari. Mami sangat senang Chaca ada di sini," ucap Melody.
" Lalu apa Chaca boleh lihat papi?" tanya Chaca.
" Belum bisa sayang. Karena papi masih di tangani Dokter," ucap Melody.
" Ya sudah kalau begitu mami jangan menangis lagi. Kita berdoa saja supaya papi cepat sembuh dan kita bisa bertemu dengan papi," ucap Chaca.
" Iya sayang," jawab Melody yang kembali memeluk Chaca.
Gadis dan Marsel saling melihat. Begitu juga dengan Febby yang melihat kakaknya itu dengan sendu. Dia tau apa yang di rasakan kakaknya sebenarnya. Istri mana yang tidak sedih ketika melihat suaminya berada di ruangan UGD dalam keadaan kritis dan tidak siuman sampai detik ini.
" Ardian mengorbankan dirinya demi Melody. Sekarang dia di dalam sana berusaha untuk hidup. Dia menjaga amanahku membawa Melody kembali pulang dengan selamat. Tetapi bukan berarti Ardian. Kamu harus mengorbankan nyawa kamu. Lihat istrimu dua begitu mengkhawatirkan mu dan terus menangis. Maka bangunlah Ardian. Tanggung jawabmu masih banyak ke pada adikku. Kau harus terus membahagiakannya," batin Marsel yang begitu kasihan kepada Melody yang tidak henti-hentinya menderita.
" Ya Allah semoga saja Ardian cepat siuman. Kasihan Melody jika seperti ini terus. Aku tidak tau apa yang harus kami lakukan untuk membuatnya tetap tenang, kasihan dia," batin Gadis yang juga begitu simpatik melihat adik iparnya itu.
Melody kembali melepas pelukannya dari Chaca.
" Chaca tetap di sini ya, temani mami!" ucap Melody yang membutuhkan anaknya itu.
" Iya mami, Chaca akan terus tetap di sini," jawab Chaca.
Melody mengangguk tersenyum tipis mengusap pipi Chaca dengan lembut dan berdiri. Namun saat berdiri tiba-tiba Melody merasa kemah dengan memegang kepalanya.
" Kak Melody!" Febby langsung gercep mendekati Melody dengan memegang tangan Melody yang mana Melody terlihat begitu lemas. Marsel dan Gadis pun mendekati Melody.
__ADS_1
" Kamu tidak apa-apa Melody?" tanya gadis begitu paniknya.
Melody tidak menjawab lagi dan pandangannya yang begitu gelap dan terlihat begitu membayang dan akhirnya membuatnya tidak sadarkan diri.
" Melody!" teriak semuanya panik dengan Melody yang hampir jatuh ke lantai dan untung saja Marsel menahan tubuh adiknya itu.
" Ya Allah Melody, apa yang terjadi Melody," ucap Gadis panik.
" Kak Melody bangun. Kakak kenapa sampai seperti ini. Bangun kak!" Febby juga tidak kalah paniknya.
" Mami kenapa? kok mami tidak sadar?" tanya Chaca heran.
" Ayo sayang, kamu bawa Melody!" titah Gadis dengan paniknya. Marsel mengangguk dan langsung menggendong adiknya itu untuk di periksa Dokter. Dan yang lainnya mengikuti dengan Febby yang menggendong Chaca agar cepat berjalan.
**********
Sekarang Dokter sedang menangani Melody yang berada di kamar perawatan. Sementara Marsel, Febby, Gadis dan Chaca menunggu di luar dan bahkan Dania, Wawan, Widia, Eyang dan Shandra juga menunggu di luar yang mana mereka juga khawatir pada Melody. Mereka semua menunggu Dokter keluar dari ruangan itu dengan wajah mereka yang penuh dengan kepanikan.
" Kenapa Melody seperti ini?" tanya Widia yang panik.
" Mungkin dia terlalu memikirkan Ardian. Makanya tidak perduli dengan kesehatannya. Makan tidak menentu, tidur tidak tau pernah atau tidak. Makanya dia seperti itu," sahut Shandra.
" Bersabarlah mah, Melody pasti baik-baik saja," ucap Gadis menenangkan mertuanya itu.
*********
Rasti dan Evan mendengar Melody pingsan langsung menuju rumah sakit yang mana ke-2nya sama-sama turun dari mobil dan bertepatan dengan Lea yang juga keluar dari mobil yang mana dia di antar Alvin dan Lea langsung memasuki rumah sakit yang bertemu dengan Evan dan juga Rasti.
" Lea!" ucap Rasti.
" Rasti, Evan, bagaimana keadaan Melody?" tanya Lea dengan wajah paniknya.
" Kita juga belum tau. Karena kita juga baru sampai," jawab Rasti.
" Ya sudah kalau begitu sebaiknya kita ke dalam," sahut Evan. Rasti dan Lea mengangguk dan langsung pergi memasuki rumah sakit.
*************
Keluarga yang lainnya masih menunggu Dokter dengan penuh kecemasan dan tidak lama akhirnya Dokter pun keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
" Dok bagaimana ke adaan putri saya?" tanya Dania dengan wajah paniknya.
" Bu Melody sudah siuman," jawab Dokter.
" Alhamdulillah," sahut semuanya dengan serentak yang merasa bersyukur.
" Apa yang terjadi padanya Dok. Apa dia baik-baik saja?" tanya Wawan.
" Bu Melody terlalu banyak pikiran, sakit kepala, mual-mual yang di alaminya beberapa hari ini. Itu karena Bu Melody sedang mengandung," jawab Dokter.
Mendengar Melody hamil membuat semuanya kaget dan bahkan kabar bahagia itu terucap dari mulut Dokter bersamaan dengan Rasti, Evan dan Lea datang.
" Maksud Dokter menantu saya sedang hamil?" tanya Widia yang ingin memastikan.
" Benar Bu. Bu Melody mengandung 6 Minggu," jawab Dokter memperjelas kata-katanya.
" Alhamdulillah," sahut semuanya yang merasa bahagia dengan kehamilan Melody yang tidak mereka duga-duga.
" Saya mohon sama keluarga tolong di perhatikan pasien. Karena dia masih hamil muda dan kondisinya yang masih kurang stabil, jadi tolong terus di sisinya. Agar bayinya tetap sehat," ucap Dokter memberikan saran.
" Baik Dokter. Kami akan melakukannya. Terima kasih Dokter untuk sarannya," sahut Wawan.
" Lalu apa kami sudah bisa melihatnya ke dalam?" tanya Eyang.
" Silahkan, tapi tetap jaga kondisinya ya," ucap Dokter.
" Iya Dokter," jawab Eyang.
" Baiklah kalau begitu. Saya permisi dulu!" ucap Dokter pamit dan langsung pergi.
" Alhamdulillah Melody hamil," ucap Shandra yang merasa ikut bahagia.
" Kasihan kak Melody, di saat kabar bahagia itu ada. Kak Ardian malah masih kritis," batin Febby yang begitu prihatin dengan kondisi kakaknya.
" Sebaiknya kita kedalam sekarang. Kita lihat kondisinya," sahut Marsel memberi saran.
Yang lainnya mengangguk dan langsung memasuki kamar Melody untuk mengecek kondisi Melody.
Bersambung
__ADS_1