Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma

Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma
Bab 94 Memberinya ketenangan.


__ADS_3

Melody dan Ardian masih tetap dengan posisi mereka yang duduk bersebelahan dengan merenungi apa yang terjadi.


" Lalu di mana teman-temanmu?" tanya Melody.


" Aku tidak tau Melody komunikasi kami semuanya berakhir. Untuk Lea dan Siska yang saat itu juga pergi. Karena juga masuk dalam jebakan Rio. Makanya mereka pergi tiba-tiba. Aku hilang komunikasi dengan mereka semua dan bahkan terakhir aku hanya mendapatkan paket dari Lia salah satu orang yang ada di Villa itu," ucap Ardian.


" Lia," sahut Melody yang mencoba-coba mengingat siapa Lia.


Dan bahkan Melody membayang wajah orang yang menyuruhnya pergi dengan samar-samar. Melody memang tidak mengingat Lia dan tidak bisa membedakan Dokter Lia dan Lia yang menyuruhnya pergi waktu itu.


" Iya, aku mengetahui apa yang terjadi sama kamu. Karena mendapat kiriman paket. Di mana aku melihat semua perbuatan Rio, Ari dan juga Boy. Aku mengetahuinya semua dari Lia dan sebelum kita terjatuh. Lea juga mengirim pesan kepadaku menunjukkan bukti baru. Jika Lia selama ini mendapat ancaman dan tidak bisa memberikan bukti itu kepadaku," jelas Ardian lagi.


" Jadi Lea juga sudah tau semuanya?" tanya Melody.


" Aku rasa dia berusaha mencari tahu apa yang terjadi. Karena kebetulan aku dan Lea bertemu di Villa saat malam aku pergi. Di mana saat Villa terbakar dan ada Raisa di sana," ucap Ardian lagi yang membuat Melody semakin kaget.


" Apa kamu ingin mengatakan. Jika Raisa membakar Villa?" tebak Melody lagi. Ardian mengangguk.


" Raisa tidak pernah ke Kalimantan selama ini. Aku tidak tau bagaimana dia merencanakannya. Tetapi dia tidak ke Kalimantan melainkan ada di Jakarta dan membakar Villa yang kemungkinan banyak bukti di sana," ucap Ardian membuat Melody benar-benar shock mendengarnya.


" Apa itu artinya. Raisa dan Rio masih mengawasi kita?" tebak Melody. Ardian mengangguk.


" Tetapi aku sudah puas jika aku tau apa yang terjadi yang sebenarnya. Tapi ada yang ingin aku tanyakan kepada kamu," ucap Ardian.


" Apa?" tanya Melody. Ardian mendekatkan dirinya pada Melody menghadap Melody dengan memegang ke-2 tangan Melody.


" Melody katakan kepadaku. Apa setelah kejadian itu kamu hamil?" tanya Ardian dengan hati-hati. Melody mendengarnya kaget dan bahkan tiba-tiba tubuhnya bergetar dengan menatap mata Ardian. Ardian pun melihat Melody yang mendadak panik.

__ADS_1


" Baiklah jika kamu tidak menjawabnya tidak apa-apa," ucap Ardian yang tidak ingin memaksa Melody untuk menjawab pertanyaannya. Melody melepas tangannya dari Ardian dan langsung membalikkan tubuhnya membelakangi Ardian dengan memeluk ke-2 lututnya.


" Iya aku hamil?" jawab Melody dengan suara bergetarnya, yang memberanikan diri untuk mengingat kejadian setelah Ardian mencampakkan.


" Karena aku mengatakan kepada kak Marsel aku di perkosa dan akhirnya aku hamil mereka tidak meminta pertanggungjawaban mu. Karena mereka tidak tau jika kamu pelakunya," ucap Melody yang membuat Ardian terdiam yang semakin merasa bersalah.


" Jika kamu tanya di mana anak yang aku kandung, anak itu tidak ada. Aku tau karena setelah aku tes kehamilan dan mengetahui jika aku hamil, keluargaku hanya menengakanku dan tidak ingin bertanya siapa perlakukannya dan juga tidak mau mencari atau menemui pelakunya. Dan setelah itu aku tidak tau lagi apa yang terjadi, aku tidak ingat apa-apa," ucap Melody yang terlihat cemas dan bahkan tubuhnya begitu bergetar yang seolah ketakutan.


Ardian yang melihat reaksi Melody yang seperti itu langsung mendekati Melody dan memeluknya dari belakang untuk menenangkan Melody dan Melody kelihatan nyaman dan tidak takut sehingga membalikkan tubuhnya dan memeluk Ardian yang seakan dia membutuhkan Ardian.


Ardian cukup kaget dengan reaksi Melody yang memeluknya seakan ingin berlindung yang membuat Ardian pun memeluknya dengan erat sembari mengusap-usapnya rambut Melody yang memberi Melody ketengan dan juga kenyamanan.


" Melody memang tidak mengingat apa-apa. Dia pernah masuk rumah sakit jiwa dan Melody mana mungkin mengetahui bagaimana dia mengandung. Tetapi suster yang aku tanya mengatakan jika saat itu Melody mengandung dan bahkan keluarganya membawanya saat kandungannya mulai membesar yang itu artinya Melody tetap mengandung dan tidak keguguran. Melody tidak tau jika dia tetap mengandung makanya dia tidak mengingatnya. Lalu di mana anak itu," batin Ardian yang kepikiran dengan bayi yang di kandung Melody yang pasti adalah darah dagingnya.


*********


Tanpa alas kaki Melody dan Ardian berjalan dengan tangan yang saling menggenggam yang berjalan yang mengharapkan cahaya dari rembulan yang Alhamdulillah begitu terang.


" Auhhhh!" lirih Melody tiba-tiba saat telapak kakinya merasa tertusuk.


" Kamu kenapa Melody?" tanya Ardian yang mendadak panik.


" Aku tidak tau, sakit," ucap Melody yang berusaha untuk mengangkat telapak kakinya yang berusaha untuk melihat apa yang terjadi. Ardian langsung berjongkok dan melihat telapak kaki Melody tertancap duri.


" Ada duri!" ucap Ardian.


" Kamu tahan ya, aku akan mencabutnya," ucap Ardian. Melody mengangguk dengan memegang bahu Ardian dan Ardian langsung mencabutnya dengan cepat. Rasa sakit yang di rasakan Melody terlihat dari pegangan erat Melody meremas bahu Ardian.

__ADS_1


" Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Ardian dengan mengangkat kepalanya melihat Melody. Melody hanya menggelengkan kepalanya. Padahal jelas dia sangat kesakitan. Melody juga beberapa kali membuang napasnya perlahan untuk menghilangkan rasa sakitnya.


Ardian langsung membalikkan tubuhnya berjongkok membelakangi Melody.


" Naiklah!" pinta Ardian yang menyuruh Melody naik dalam gendongannya.


" Untuk apa?" tanya Melody.


" Kamu tidak mungkin berjalan dalam keadaan seperti ini. Jadi naiklah aku akan menggendongmu," ucap Ardian.


" Tidak usah, aku bisa berjalan pelan-pelan," ucap Melody menolak.


" Jangan keras kepala. Kita tidak sampai tujuan jika kamu seperti itu dan iya yang ada luka kamu akan semakin parah," ucap Ardian.


" Ayo cepat jangan berpikir," ucap Ardian mendesak memegang tangan Melody meletakkan di pundaknya dan dengan ragu Melody pun akhirnya naik ke punggung Ardian dan Ardian langsung menggendong Melody.


" Kamu yakin tidak apa-apa?" tanya Melody yang khawatir jika Ardian justru malah kesulitan karena menggendongnya.


" Aku tidak apa-apa," jawab Ardian.


" Aku tidak berat kan?" tanya Melody pelan.


" Tidak berat. Aku hanya kaget karena sudah lama tidak menggendongmu dan ternyata tidak ada yang berubah," ucap Ardian yang mengingatkan Melody dengan masa-masa saat mereka pacaran.


" Jalanlah dengan benar jangan bicara. Nanti jatuh," sahut Melody yang kelihatan tidak mau jika Ardian mengungkit-ungkit masa-masa mereka berpacaran. Ardian hanya tersenyum miring dah terus berjalan dengan Melody yang berada di belakangnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2