
Setelah kepergian Marsel untuk bicara pada Dokter. Sekarang Melody di bantu Dania dan Widia untuk duduk yang mana ingin memberi Melody makan.
Agar Melody bisa memiliki tenaga mengingat dia belum makan sejak tadi pagi. Dan pasti perutnya juga kosong.
" Kamu makan dulu ya sayang!" ucap Dania yang mengambil makanan dari tangan Febby yang sebelumnya sudah di belikan Febby tadi.
" Iya Melody makanlah dulu. Agar kondisi kamu membaik," ucap Gadis.
" Benar mami. Mami harus makan. Biar Dede bayi di perut mami tidak kelaparan. Sama seperti dedek bayi di perut mama. Mama sering kasih makan agar tidak kelaparan," ucap Chaca yang memang sekarang dia punya Dede bayi 2 dari mama dan sekarang dari maminya yang masih sama-sama di dalam perut.
Chaca memang terus memberikan semangat untuk Melody. Kehadiran Chaca memang memberikan semangat untuk Melody. Apa lagi mendengar kepolosan Chaca.
" Iya Chaca mama akan makan sayang kamu jangan khawatir ya," jawab Melody.
Chaca tersenyum dengan menganggukkan kepalanya dan Dania langsung memberikan Melody makanan dengan menyuapi Melody.
" Nanti kalau kamu ada keluhan pusing atau mula. Kamu beri tahu mama ya," sahut Dania yang begitu khawatir pada Melody.
" Benar Melody. Kamu itu juga tanggung jawab kami. Jadi kamu jangan khawatir ya. Kalau ada apa-apa. Kamu langsung beritahu kami saja. Kamu harus mau berbagi dengan kami," sahut Shandra yang memberikan saran dan waktunya untuk ikut memperhatikan Melody.
" Benar Melody kamu jangan khawatir kami akan terus ada untuk kamu. Jadi apapun yang kamu keluhkan kamu harus berbagi dengan kami. Kamu itu juga tanggung jawab kami. Karena Ardian akan marah jika kami tidak bejus untuk menjaga kamu," ucap Evan.
" Terima kasih untuk kalian semua yang selalu ada untukku," ucap Melody yang merasa lega.
__ADS_1
Melody hanya mengangguk saja. Dia begitu bahagia dengan orang-orang yang selalu mendukungnya memberinya semangat disaat dia benar-benar terpuruk.
Dania terus saja menyuapinya makan. Sebenarnya perasaan Melody belum juga stabil. Sejak tadi dia ingin sekali menangis. Namun masih di tahannya. Karena tidak mungkin menangis di depan orang-orang yang begitu mengkhawatirkannya. Dia juga harus semangat.
Apa lagi ada bayi di dalam kandungannya yang harus di jaganya yang membuatnya jauh lebih semangat dalam menunggu Ardian yang masih sekarat di dalam sana.
Tidak lama Marsel pun kembali ke ruangan Melody. Yang mana Marsel sudah bicara dengan Dokter. Kedatangan Marsel membuat semua orang melihat Marsel.
" Apa kata Dokter?" tanya Evan.
" Ayo kamu bisa melihat Ardian," ucap Marsel.
" Alhamdulillah, kalau begitu," sahut semuanya dengan serentak.
**********
Setelah makan Melody pun akhirnya di perbolehkan ke ruangan Ardian. Akhirnya Dokter pun memberikan kesempatan untuk Melody melihat suaminya. Dalam kondisi yang masih lemah. Melody di antar Gadis dan Febby untuk ke kamar Ardian.
" Kakak tunggu di luar ya, kamu bicarakan dengan Ardian. Nanti ada apa-apa kamu panggil kakak jika ada yang lain," ucap Gadis.
" Iya kak. Makasih ya kak," jawab Melody. Gadis mengangguk dan langsung pergi bersama Febby meninggalkan Melody untuk menjenguk Ardian. Memberikan waktu untuk Melody menemui suaminya. Karena Melody baru pertama kali melihat Ardian secara langsung setelah Ardian memasuki rumah sakit.
Setelah kepergian Gadis dan Febby. Melody langsung duduk di samping Ardian. Di mana di dalam kamar itu begitu senyap yang hanya terdengar suara mesin jantung yang berdetak. Melody menatap nanar suaminya yang terbaring lemah, dengan mulut yang di beri selang dengan dada yang terbuka dan penuh dengan tempelan alat mesin yang tidak bisa diketahui apa itu namanya hanya dari pihak kedokteran yang tau.
__ADS_1
Tangan Melody langsung meraih tangan Ardian dengan menciumnya dengan lembut meletakkan di pipinya dengan air matanya yang sudah begitu cepat menetes.
" Sayang kamu apa kabar. Apa masih sakit sayang. Kenapa kamu harus melakukan semuanya untukku. Kenapa harus mengorbankan diri kamu untukku. Kamu tidak perlu melakukan itu. Aku sangat takut Ardian saat melihat kamu seperti ini. Apa lagi saat melihat kamu berlumur darah. Aku begitu takut. Aku takut mendengar suara kamu yang tidak jelas dan menahan sesuatu," ucap Melody dengan air matanya yang terus menetes yang bicara pada suaminya yang tetap diam terbaring kaku.
" Sayang aku sudah di sini. Aku sudah menunggu kamu beberapa hari ini. Kenapa kamu tidak bangun juga. Kenapa kamu tidak berbicara kepadaku. Apa kamu tidak merindukanku. Apa kamu tidak mencintaiku. Sayang aku sangat merindukanmu. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak bisa terus seperti ini. Tanpa kamu ada di sisiku. Semua orang mengkhawatirkan kamu. Kamu harus bangun sayang," ucap Melody yang terus menangis yang berbicara dengan Ardian.
" Kamu tau tidak sayang. Jika aku datang kemari ingin memberikan kabar bahagia untuk kamu. Kamu tau jika sekarang Alla memberikan kita kepercayaan lagi. Selain untuk menjaga Chaca dia memberikan kita anugrah di tengah ujian berat yang kita hadapi ini," ucap Melody.
Tangan Melody langsung meraih tangan Ardian dan di letakkannya di perutnya dengan membuat tangan itu mengusap-usap lembut perutnya.
" Sayang aku sekarang sedang mengandung. Iya aku mengandung anak kita. Aku hamil sayang. Aku hamil anak ke-2 sayang. Kamu bisa merasakan nya kan jika dia ada di perutku," ucap Melody yang terus berbicara dengan Ardian yang sama sekali tidak merespon dirinya.
" Sayang kamu harus bangun. Kita harus sama-sama merawat anak kita kak Ardian. Aku tidak Bisa merawat anak kita sama-sama. Kak Ardian kenapa kamu belum bangun juga. Sudah 3 hari kamu tidak sadarkan diri. Bangunlah sayang," ucap Melody yang terus berbicara pada Ardian yang tetap tertidur.
Sementara Ardian sendiri tetap tidak sadarkan diri. Melody terus menangis di samping suaminya. Berbicara pada suaminya yang berharap sampai ke hatinya yang mana dia sudah menceritakan pada suaminya dengan kehamilannya yang baru 6 Minggu.
Seharusnya dia dan Ardian sudah bahagia bersama dengan penuh kebahagiaan sekarang. Dan mungkin saling berbicara masalah kehamilan. Tetapi Ardian yang tidak sadarkan diri membuatnya harus berbicara bicara sendiri pada Ardian.
Ternyata yang lainnya menunggu di luar. Mereka saling melihat dan sama-sama terharu melihat Melody di dalam sana.
" Ya Allah kasihan sekali Melody. Kapan Ardian akan sadar. Kasian dia ya Allah. Dia begitu merindu suaminya. Kasian dia ya Allah," batin Gadis.
Bersambung
__ADS_1