
Ardian melihat mamanya. Mamanya terlihat pasrah. Namun menyimpan rasa kekecewaan yang begitu besar.
" Kamu benar-benar anak kurang ajar," maki Eyang lagi yang terus menyumpahi Ardian.
" Eyang, jika Eyang marah-marah terus tanpa memberi tahu apa yang terjadi. Sampai kiamat pun Ardian tidak akan tau apa yang terjadi," ucap Ardian.
" Kamu memang tidak akan tau kesalahan kamu sampai kiamat. Karena kamu adalah satu-satunya manusia yang hati dan pikirannya sudah di tutup," sahut Eyang yang terus mengomel tanpa memberi tahu kesalahan Ardian.
" Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa Eyang begitu marah? apa yang aku lakukan?" batin Ardian dengan penuh kebingungan.
" Kamu lihat ini!" ucap Eyang yang akhirnya memberi tahu kesalahan Ardian. Di mana Eyang memperlihatkan laptop.
Ardian pun melihat laptop yang berada di atas meja itu yang ternyata itu adalah Vidio Melody yang berada di rumah sakit jiwa.
" Lepaskan aku! lepaskan aku! aku ingin mati! lepaskan!" teriak Melody yang tidak terkendalikan yang berada di atas ranjang dan di sana ada mama dan papanya yang menenagkannya.
" Pergi kalian semua!" teriak Melody yang mendorong sang mama yang mengenai meja.
" Mah," sahut Wawan panik dan langsung membantu Dania istrinya. Dengan kesempatan itu Melody melihat ada gunting dan ingin menusukkan pada diri.
" Melody apa yang kamu lakukan!" teriak Wawan yang mencegah kebodohan putrinya. Melody yang sudah berdiri yang berdiri di sudut ruangan melihat ke-2 orang tuanya dengan penuh tatapan kosong.
" Semuanya sudah berantakan. Tidak ada gunanya lagi aku hidup. Semuanya sudah hancur. Kak Ardian telah menghiyaniku, dia hanya mempermainkanku saja. Aku telah di tipu selama ini. Lalu untuk apa hidup. Aku tidak ingin hidup!" teriak Melody.
__ADS_1
Sangat wajar Melody seperti itu. Saat Ardian meninggalkannya usianya masih 17 tahun masih sangat begitu labil dan pasti pikirannya sangat pendek sampai ingin melakukan percobaan bunuh diri.
" Aku membenci semuanya, aku benci semuanya!" teriak Melody yang kehilangan akal sehatnya.
" Sayang kamu jangan seperti ini. Kamu dengarkan mama. Hidup kamu masih panjang. Jangan menyia-nyiakannya," sahut Dania yang berusaha membujuk Melody.
" Tidak, tidak ada gunanya, sama sekali tidak ada gunanya, tidak," sahut Melody yang tersenyum dengan aliran air matanya yang begitu deras. Pikirannya memang sudah tidak menentu yang diinginkannya hanya mati saat itu dan memang benar pada intinya dia harus mati mati dan mati.
Melody memejamkan matanya yang ingin menusuk dirinya dan hal itu tidak jadi yang mana Marsel datang saat itu. Marsel langsung mencegah perbuatan gila Melody menepis kasar benda tajam itu dan menampar Melody sampai Melody terjatuh kelantai.
" Apa kamu gila!" teriak Marsel. Melody yang terduduk di lantai memeluk tubuhnya dan seperti orang sakit jiwa dengan ketakutan dan begitu bergetar memeluk tubuhnya.
" Hanya karena laki-laki kamu seperti ini. Kamu lihat tempat ini hah! rumah sakit jiwa untuk wanita bodoh seperti kamu," teriak Marsel menunjuk-nunjuk Melody di mana Melody yang ketakutan memeluk tubuhnya.
" Sadarlah Melody, sadar!" teriak Marsel dengan rahang kokohnya yang mengeras. Seorang kakak pasti sangat hancur dengan adiknya yang kehilangan akal sehat. Karena hanya seorang laki-laki. Marsel bahkan tidak kuasa menahan tangisnya saat menyesal memukul adiknya.
Vidio tersebut mampu membuat mata Ardian bergenang. Jujur air mata itu ingin jatuh. Namun masih tertahan. Ternyata bukan hanya Vidio itu yang ada terdapat satu Vidio di mana Marsel ternyata menemui Ardian saat Ardian dan Raisa ingin memasuki mobil yang terparkir di depan rumah Ardian. Rumah yang sama yang sekarang di tempati Melody.
" Ardian!" teriak Marsel membuat Ardian dan Raisa tidak jadi memasuki mobil. Marsel dengan penuh kemarahannya langsung menghampiri Ardian dan langsung memukul Ardian. Raisa yang ada pada saat itu kaget melihatnya.
" Hey! apa yang kamu lakukan!" teriak Raisa yang mencegah Marsel yang ingin memukul Ardian lagi. Raisa mendorong-dorong Marsel pergi dari Ardian.
" Diam kamu jangan ikut campur!" teriak Marsel menunjuk Raisa dengan mata Marsel yang ingin keluar.
__ADS_1
" Kamu menyuruhku jangan ikut campur. Jelas aku ikut campur. Kamu sudah memukul pacarku!" teriak Raisa dengan suaranya mengelegar. Mendengar kata pacar membuat Marsel kaget.
" Apa kamu bilang, pacaran," sahut Marsel terasa sesak mendengarnya dan langsung melihat Ardian kembali.
" Bajingan kamu Ardian!" teriak Marsel yang kembali memukul Ardian dan Raisa pun berusaha menarik-narik Marsel.
" Jadi ini alasan kamu yang sudah meninggalkan Melody. Kamu pacaran dengan wanita ini," teriak Marsel yang sudah tidak memukul Ardian lagi.
" Aku tidak pernah meninggalkannya dia yang meninggalkanku," sahut Ardian dengan suara seraknya.
" Bajingan kamu. Kamu masih berani membantah," ucap Marsel yang tidak bisa mengendalikan dirinya dan kembali ingin memukul Ardian.
" Hentikan!" teriak Raisa berdiri di depan Ardian, " aku akan menelpon polisi jika kamu masih berani memukulnya!" ancam Raisa dengan menunjuk tepat di wajah Marsel.
" Kamu dengar ya. Melody itu hanya anak SMA, anak yang pikirannya terlalu jauh untuk cinta-cintaan. Dia dan Ardian tidak ada hubungan apa-apa. Dan kamu jangan menyalahkan Ardian atas apa yang terjadi padanya. Kamu tidak dengar sendiri apa kata Ardian. Dia yang sudah meninggalkan Ardian. Anak kecil yang sok tau dan pergi sesukanya," tegas Raisa yang memberi peringatan pada Marsel. Sementara Ardian hanya diam tanpa ada penyesalan dan apapun.
" Kurang ajar kalian berdua. Kalian berbahagia di atas penderitaan adikku. Kamu Ardian kamu sudah menghancurkan mimpi-mimpi Melody. Dia sangat mencintaimu. Tapi kau benar-benar menyakitinya dan dengan mudahnya kau berpacaran dengan wanita ini dan kau wanita yang sok tau. Mau kau pacaran, menikah sekalipun dengannya aku bersumpah atas nama adikku. Kau boleh memiliki tapi aku bisa menjamin kau tidak akan mendapatkan hatinya. Kau bisa pacaran dengannya sampai bertahun-tahun atau berabad-abad. Tapi kau dengar baik-baik. Selama itu juga kau hanya akan menderita. Kau tidak akan pernah bahagia. Termasuk kau Ardian. Kau akan terus hidup dalam penyesalanmu sampai saat nanti adikku sendiri yang menghancurkan mu," tegas Marsel kepada Ardian dan Raisa dengan sumpah yang di berikannya ke pada ke-2 orang itu.
" Nikmati kebahagian kalian. Dasar pengecut," ucap Marsel yang langsung pergi dari hadapan Ardian dan juga Marsel.
Video itu akhirnya berakhir dan Ardian hanya membuang napasnya kasar. Dengan wajahnya memerah. Ardian mengusap wajahnya kasar dengan ke-2 tangannya dan melihat ke arah mamanya. Widia langsung membuang mukanya yang seolah tidak ingin mempunyai anak seperti Ardian.
" Sudah tau apa yang kamu lakukan. Itu adalah efek dari perbuatan kamu. Baru efeknya. Tapi tidak tau apa yang kamu lakukan. Sampai anak orang bisa seperti itu," ucap Eyang besar dengan suaranya yang rendah. Suara yang penuh rasa kekecewaan.
__ADS_1
Ardian diam yang tidak bisa mengatakan apa lagi. Bahkan dia juga tidak tau. Jika ini pernah terjadi pada Melody.
Bersambung