Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma

Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma
Bab 222 kata-kata Chaca.


__ADS_3

Akhirnya acara lamaran dan sekalian Pertunangan Lea dan Alvin berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan sama sekali. Walau tadi sempat Lea dan Alvin ketahuan bertemu diam-diam. Tetapi untung saja Eyang juga datang. Sebelum Alvin menuntaskan rindunya pada calon istrinya.


Ya kedatangan Eyang cukup menegangkan dan belum lagi Alvin yang harus kecewa. Karena tidak jadi menuntaskan kerinduannya kepada Lea calon istrinya itu.


Semua tamu undangan sudah pulang para kerabat juga juga sudah pulang. Termasuk keluarga Melody. Tetapi Chaca tidak ikut pulang. Ingin menginap bersama mami dan papinya.


Di dalam kamar Melody Chaca yang telungkup di atas tempat tidur dengan menggmbar-gambar. Sementara Melody sedang menghapus make-up nya yang duduk di depan cermin.


" Chaca belum mau tidur?" tanya Melody sembari mengusap make-upnya dengan kapas wajah.


" Sebentar lagi mami," jawab Chaca.


" Ya sudah sayang, kalau mau tidur jangan lupa cucu muka, gosok gigi dulu ya," ucap Melody mengingatkan.


" Baik mami," jawab Chaca, " Hmmm, oh iya mami tadi itu acara apa. Kenapa Tante Lea sama Om Alvin di tepuk tangani?" tanya Chaca yang harus tau apa yang terjadi. Karena anak sekecilnya pasti banyak ingin taunya dan tingkat penasarannya yang tinggi.


" Itu acara lamaran dan pertunangan Tante Lea dan Om Alvin," jawab Melody.


" Apa itu tunangan dan lamaran?" tanya Chaca. Melody menghela napas melihat anaknya itu dari depan cermin.


" Tunangan dan lamaran itu. Adalah hal yang sakral menuju pelaminan. Yang mana sebentar lagi Tante Lea dan Om Alvin akan menikah," jawab Melody menjelaskan sedikit pada Chaca.


" Seperti mami dan papi?" tanya Chaca.


" Iya sayang, seperti mami dan papi yang sudah menikah," jawab Melody sambil terus membersihkan wajahnya.


" Lalu kenapa dulu mami dan papi tidak ada seperti Tante Lea dan Om Alvin?" tanya Chaca membuat Melody menghentikan pekerjaannya dan melihat Chaca serius dari depan cermin.


" Mami dan papi tidak seperti Tante Lea dan Om Alvin. Bahkan mami langsung saja tinggal di rumah papi dan katanya Oma. Mami sudah menjadi istrinya papi. Tapi kan mami dan papi tidak ada lamaran atau tunangan seperti yang barusan mami katakan?" tanya Chaca dengan polosnya yang benar-benar kebingungan melihat perbedaan itu.


Sementara Melody hanya diam saja. Ya karena dia memang hanya di nikahi saat dia tidak sadar. Tanpa ada proses lamaran, tunangan dan bahkan keluarga Ardian tidak memintanya untuk menjadi istrinya. Dan terkesan dia menikah dengan terpaksa.


Ternyata pertanyaan dari Chaca itu di dengar Ardian. Saat Ardian ingin memasuki kamar. Ardian juga melihat Melody yang tiba-tiba diam dan bahkan ekspresi dari istrinya sedih.


" Chaca!" tegur Ardian membuat Melody juga membuatkan lamunannya.

__ADS_1


" Iya papi," jawab Chaca.


" Ayo gosok gigi. Ini sudah malam. Chaca harus tidur," ucap Ardian yang mencairkan suasana.


" Baik papi!" sahut Chaca yang langsung menutup buku gambarnya dan menyusun peralatan gambarnya. Chaca juga langsung turun dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi sebelum tidur.


Ardian menghela napas dan duduk di pinggir ranjang tepat di samping Melody. Ardian juga menggeser kursi Melody. Sehingga Melody berhadapan degannya.


" Ada apa?" tanya Ardian dengan memegang pipi Melody. Melihat wajah Melody yang begitu sendu.


" Tidak apa-apa," jawab Melody bohong.


" Bagaimana mungkin tidak apa-apa. Aku melihat wajah kamu sangat di tekuk. Apa karena perkataan Chaca tadi?" tanya Ardian yang seolah tau apa yang di rasakan istrinya.


Melody diam dan tidak menjawab pertanyaan Ardian lagi.


" Maafkan aku Melody. Jika aku menikahimu secara paksa dan seharusnya proses-proses yang berkesan di dalam hidupmu terjadi. Tetapi aku menikahimu bahkan tanpa persetujuan mu," ucap Ardian merasa bersalah pada Melody.


Memang apa yang barusan di katakan Chaca. Mampu menyadarkan Melody. Jika dia itu berbeda. Tidak seperti wanita yang lainnya yang jika ingin menikah akan melalu proses yang berkesan.


" Aku minta maaf Melody!" ucap Ardian lagi dengan mengusap-usap pipi Melody.


" Ya sudah kamu jangan sedih lagi ya," ucap Ardian. Melody mengangguk dengan mengeluarkan senyum tipisnya.


" Aku mau menyusul Chaca kekamar mandi, aku juga mau ganti baju sekalian," ucap Melody.


" Iya, jawab Ardian.


Melody pun langsung bangkit dari duduknya dan menyusul Chaca kekamar mandi.


" Maafkan aku Melody. Kau merasa tidak sempurna. Karena kesalahanku yang terlalu egois saat itu," batin Ardian yang merasa bersalah.


***********


Hari ini kebetulan hari Minggu. Chaca di ajak Ardian dan Melody untuk jalan-jalan. Melody juga tiba-tiba katanya ingin keliling Jakarta. Ya katanya mau melihat kendaraan yang berjalan. Memang aneh sih. Tetapi mungkin karena Melody yang sedang hamil jadi ngidamnya aneh-aneh.

__ADS_1


Mereka di dalam mobil yang berhenti di lampu merah. Chaca duduk di belakang, mami dan papi nya duduk di depan. Melody yang melihat keluar jendela. Tiba-tiba menelan salivanya saat melihat penjual rujak. Ardian pun yang tadinya fokus melihat ke depan memperhatikan istrinya itu.


" Kamu mau?" tanya Ardian. Melody menganggukkan kepalanya.


" Chaca juga mau rujak?" tanya Ardian menoleh kebelakang.


" Mau pi. Tetapi jangan di kasih bumbu," jawab Chaca yang tidak tahan makan pedas.


" Baik sayang, papi beli dulu ya. Kamu jagain mami," ucap Ardian.


" Baik papi," jawab Chaca dan Ardian langsung keluar mobil untuk membeli rujak yang tiba-tiba di inginkan istrinya.


" Habis ini kita mau kemana mami?" tanya Chaca.


" Jalan-jalan aja sayang keliling Jakarta," Jawa Melody. Chaca hanya mengangguk saja.


" Memang Chaca ada gitu tempat yang mau di kunjungi?" tanya Melody.


" Tidak ada. Chaca nemani mami, papi sama dedek bayi aja jalan-jalannya," jawab Chaca.


" Makasih sayang," sahut Melody dengan tersenyum lebar.


Tidak lama Ardian pun kembali ke mobil dengan membawakan banyak rujak.


" Sayang banyak sekali," ucap Melody yang terkejut.


" Special untuk kamu," jawab Ardian.


" Tetapi ini tidak mungkin habis," ucap Melody.


" Pasti habis. Kamu kan kalau makan itu lahap," ejek Ardian, " ini untuk Chaca!" Ardian juga memberikan untuk putrinya.


" Makasih papi," sahut Chaca.


" Ya sudah sayang kamu makan!" titah Ardian.

__ADS_1


" Mau di suapi," sahut Melody yang mendadak manja membuat Ardian tersenyum dan dengan senang hati menyuapi istrinya. Chaca hanya senyum-senyum dengan mami dan papinya yang saking romantisan di dalam mobil. Untung Chaca tidak banyak tanya lagi dalam hal itu.


Bersambung


__ADS_2