
Keluarga Melody bicara dengan kepala dingin sebentar agar tidak terjadi salah paham yang berlebihan. Sementara Melody di kamarnya untuk menenangkan dirinya dan Ardian di belakang rumah di daerah kolam renang.
" Argggghhh!" teriak Ardian mengusap wajahnya kasar dengan mengacak rambutnya frustasi wajahnya terlihat memerah yang juga seperti meluapkan emosinya.
" Kenapa semuanya bisa seperti ini!" teriak Ardian. Dia juga mungkin menyesal dengan apa yang terjadi pada Melody. Apa lagi orang tua Melody mengetahuinya dan dia mendapat kemarahan Marsel yang memang sangat membenci Ardian dari zaman purbakala.
Ardian mengingat kata-kata Melody saat Melody membela dirinya. Tidak membela sih lebih melindunginya dari Marsel yang meluapkan emosinya kepadanya. Ardian melihat tatapan Melody yang seakan lelah dengan semua yang terjadi padanya. Dia juga manik mata Melody yang takut jika dia kenapa-kenapa. Tidak tau itu benar atau tidak. Atau hanya Ardian saja yang kegeeran.
" Ardian!" lirih Raisa yang tidak tau sejak kapan berdiri di belakang Ardian dengan membawakan kotak obat. Ardian berbalik dan melihat wajah Raisa yang di basahi air mata.
" Maafkan aku. Gara-gara membela diriku. Kaku jadi seperti ini," ucap Raisa. Entah kapan Ardian membelanya. Raisa kadang-kadang pikirannya melarat-larat.
" Ngapain kamu di sini? Masuklah!" titah Ardian.
" Hiks. Aku ingin mengobatimu. Aku tidak bisa melihatmu terluka seperti ini," ucap Raisa.
" Cukup Raisa! kamu jangan memperbesar masalah lagi. Kamu lihat apa yang terjadi. Aku rasa sudah cukup semuanya. Jangan seperti ini lagi," ucap Ardian sedikit tegas.
" Ardian. Aku tau kamu mempercayaiku dan tidak mungkin aku melakukan itu tanpa ada sebabnya. Melody selalu berkata kasar dan kamu tau kata-katanya seperti apa. Wanita mana yang tidak sakit hati. Pria yang di cintainya di katakan sampah, di buang, menjadi bekas, sisa. Aku tanya sama kamu apa aku akan diam dengan apa yang di katakan Melody kepadamu," ucap Raisa yabg terus mencari pembelaan.
" Ardian mungkin telingamu juga sering mendengarkan kata-kata itu dari mulutnya dan kamu diam saja. Tapi aku tidak bisa diam. Melihat orang yang aku cintai di perlakukan seperti itu," lanjut Raisa dengan tangisannya.
" Tapi kamu tidak perlu bermain tangan kepadanya Raisa," sahut Ardian.
" Aku bermain tangan karena aku membela harga diri dari pria yang aku cinta dan lihat aku mengorbankan semuanya, aku mendapatkan balas dari mamanya dan juga makian teguran dan semua aku dapatkan hanya untuk membela harga dirimu. Aku mengorbankan semuanya Ardian," tegas Raisa.
__ADS_1
" Kalau begitu jangan lakukan itu lagi. Melody seperti itu ada sebabnya. Aku sangat mengenalnya. Di menjadi wanita seperti itu. Juga karena kebenciannya padaku, padamu termasuk. Jadi tolong jangan sengaja mencari gara-gara dengannya. Jika kamu tidak menggangunya. Maka dia juga tidak akan mengganggumu. Aku sudah berkali-kali mengatakan kepadamu Raisa. Tolong mengerti posisiku dan jangan menambahi masalah," ucap Ardian menegaskan dengan suara rendah.
" Kamu benar-benar membelanya Ardian. Aku sudah mengorbankan semuanya dan kamu masih saja membelanya," batin Raisa dengan penuh kemarahan.
" Kamu kembalilah kekamarmu. Aku tidak ingin menambahi masalah," ucap Ardian.
" Aku hanya ingin mengobati lukamu," ucap Raisa.
" Tidak perlu," sahut Ardian. " Aku permisi!" ucap Ardian yang melangkah pergi dari hadapan Raisa.
Raisa yang melihat kepergian Ardian mengejarnya dan memeluk Ardian dari belakang yang membuat Ardian menghentikan langkahnya.
" Aku juga wanita Ardian. Aku sudah mengorbankan segalanya dan menerima semuanya atas apa yang kamu lakukan. Aku mohon. Kamu juga harus tau perasaanku seperti apa. Aku juga terluka. Aku juga bisa gila Ardian. Jika aku hanya terus di perlakukan seperti ini," ucap Raisa yang memeluk erat Ardian.
Melody yang sudah di lihat Ardian langsung menutup tirai jendela kamar itu dengan cepat. Ardian melihat Raisa dengan ekor matanya dan melepas tangan Raisa dari pinggangnya.
" Aku mau istirahat!" ucap Ardian yang pergi begitu saja meninggalkan Raisa yang tetap sendirian.
" Ardian kamu tidak akan mungkin lepas dari ku. Kamu juga dulu terlihat mencintai Melody dan tidak bisa lepas darinya dan kamu lihat dengan sekejap aku bisa memisahkan mu darinya. Termasuk semua ini. Bukan Raisa namanya jika tidak bisa kembali menyusahkanmu darinya," batin Raisa dengan mengepal tangannya.
************
Melody terlihat sibuk membuka laci-laci yang sepertinya mencari sesuatu. Tidak lama Ardian memasuki kamar dan melihat Melody yang sibuk sendiri. Ardian mendekati Melody berdiri di belakang Melody dan memegang lengan Melody.
" Lepaskan aku!" berontak Melody dengan penuh kekesalan. Ardian tidak melepasnya dan Melody mendorongnya dan melepaskan tangannya dari Ardian. Lalu pergi menuju meja rias yang seperti mencari-cari lagi.
__ADS_1
Ardian membuka salah satu laci dan mengambil kota obat dan kembali menghampiri Melody yang membelakanginya.
" Mau ngapain kamu? pergi!" usir Melody yang melihat Ardian dari depan kaca yang berdiri di belakangnya. Ardian diam dan tetap berdiri. Melody yang kesal membalikkan tubuhnya dan mendorong Ardin. Namun kali ini Ardian tidak mempan di dorong dan malah memegang pinggang Melody dan mengangkat tubuh kecil itu duduk di atas meja.
" Ardian lepaskan aku! apa yang kamu lakukan!" berontak Melody dengan memukul-mukul Ardian.
" Diamlah!" gertak Ardian. Melody mengangkat kepalanya dan melihat wajah pria yang berdiri di depannya.
" Mau apa kamu?" tanya Melody dengan kesal yang merapatkan giginya. Ardian yang menghimpit tubuh Melody diam saja tidak menjawab. Tangannya membuka kotak obat yang mengambil kapas dan di berikan air alkohol.
" Jangan menyentuhku!" tolak Melody saat Ardian ingin mengusap kapas itu pada dahinya.
" Kamu diam lah. Apa salahnya menurut!" ucap Ardian dengan suara rendah.
" Aku bisa melakukannya sendiri," ucap Melody menegaskan yang menatap tajam Ardian.
" Jika kamu bisa melakukannya. Dari tadi pasti sudah kamu obati. Jangan sampai kakakmu datang lagi dan melihat adik kesayangannya belum di obati yang itu artinya dia akan membunuhku," ucap Ardian tetap lembut bicara. Melody diam dan tidak bicara apa-apa lagi dengan membuang wajahnya kekirinya yang sangat tidak ingin melihat Ardian.
Ardian tidak mempedulikan penolakan Melody dan langsung mengusapkan kapas di dahi Melody yang terluka.
" Isssss... pelan-pelan!" lirih Melody merasa perih pada lukanya. " Kau sengaja melakukannya? tuduh Melody.
Ardian diam saja dan tetap melanjutkan mengobati Melody yang duduk di atas meja rias dan dia berdiri di depan Melody dengan wajahnya yang begitu dekat melihat Melody mengobati Melody dengan lembut dan Melody beberapa kali berdesis kesakitan.
Bersambung
__ADS_1