
Mentari pagi yang cerah telah kembali lagi. Bila tempat acara ulang Ardian senyap dengan teman-teman Ardian yang tertidur di ruang tamu dengan sembarangan yang pasti semalaman mereka berpesta.
Di kamar di mana seharusnya Melody, Lea dan Siska tidur. Kamar itu terlihat berantakan dengan pakaian yang berserakan di lantai dan di mana di atas ranjang itu Ardian dan Melody berada di atas ranjang dengan tubuh polos mereka yang tertutup selimut.
Ardian sudah bangun dengan duduk di atas ranjang yang beberapa kali mengusap kasar wajahnya dengan ke-2 tangannya, mengusap kepalanya kasar dengan sekalian meremasnya setelah menyadari apa yang terjadi malam itu. Napasnya begitu berat jika mengingat kebodohannya. Sementara Melody yang di sampingnya yang berbaring miring di belakangnya ternyata juga sudah bangun.
Melody beberapa kali menyeka air matanya yang menangis tanpa suara yang penuh ketakutan dengan apa yang di lakukannya dengan kekasihnya.
Ardian menoleh ke arah Melody dan melihat pergerakan tubuh Melody bergetar.
" Apa yang kau lakukan Ardian. Apa kau gila. Kenapa kau tidak mengendalikan dirimu. Kau sudah merusak masa depan Melody. Kau benar-benar brengsek Ardian, tolol, bego, bajingan," maki Ardian di dalam hatinya yang menyadari kebodohannya sendiri.
Ardian menarik napasnya panjang dan membuatnya perlahan kedepan lalu mendekati Melody memegang bahu Melody. Namun Melody langsung menggeser bahunya yang tidak mau di sentuh oleh Ardian. Marah pasti, tidak tau marah pada dirinya sendiri. Atau marah pada kekasihnya yang pasti pada dirinya sendiri juga.
" Melody maafkan kakak," ucap Ardian dengan suara serak. Suara penuh penyesalan.
" Melody masih sekolah. Bagaimana ini. Mama, papa dan kak Marsel pasti marah, apa yang harus Melody lakukan," ucap Melody yang menangis dengan suaranya yang bergetar.
Ardian pun mendekatinya kembali dan berusaha untuk menenangkannya. Namun Melody tetap ingin menjauh. Namun Ardian memeluk Melody dari belakang dan tidak akan melepaskannya.
" Ini salah kakak. Kakak akan bertanggung jawab untuk semua ini. Kamu jangan takut," ucap Ardian memberikan janji pada Melody. Agar Melody tenang.
" Tanggung jawab seperti apa. Bagaimana akibatnya lebih banyak. Melody masih sekolah. Apa yang harus Melody lakukan, Melody takut," ucap Melody.
" Sayang kamu tenang ya, kamu jangan takut, kakak akan terus di sisimu tidak akan meninggalkan kamu," ucap Ardian yang berusaha untuk membujuk Melody. Dan Melody pasti tidak bisa tenang dengan apa yang terjadi saat itu.
" Ardian kau benar-benar kelewatan. Kenapa kau bisa berbuat sejauh ini," batin Ardian yang terus menyalahkan dirinya yang berusaha untuk menenangkan dirinya.
*************
__ADS_1
Setelah lumayan tenang, akhirnya Melody sudah mandi dan sudah berganti pakaian, begitu juga dengan Ardian. Ardian meletakkan handuk di tempatnya dan melihat Melody yang pasti begitu murung. Melody terlihat membereskan kamar itu. Ardian pun mendekatinya dan langsung memeluknya lagi.
" Kita akan tetap bersama Melody. Sampai kapanpun itu. Kamu jangan takut," ucap Ardian yang terus memberikan Melody kekuatan agar tidak takut dengan apapun. Melody yang di pelukan Ardian mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Ardian. Terlihat air mata di wajah Melody menetes dan Ardian langsung mengusapnya.
" Jangan menangis," ucap Ardian. Melody mengangguk, Ardian pun mencium kening Melody.
" Kita pulang hari ini ya," ucap Melody.
" Iya kita pulang. Tapi kamu masih marah?" tanya Ardian dengan menatap sendu kekasihnya itu. Melody menggelengkan kepalanya.
" Kita sudah sama-sama memahaminya bukannya tadi kita sudah saling bicara. Kita ber-2 tidak menginginkannya. Kita tidak menginginkan hubungan terlarang ini terjadi. Kakak melakukannya karena tidak menyadarinya dan pengaruh dari alkohol dan juga teman-teman kakak yang memaksa kakak dan Melody sendiri juga tidak melarang atau menghentikan semuanya karena sama semua di luar kesadaran kita dan jika Melody mendengarkan kakak untuk tidur sendiri. Hal ini tidak akan terjadi. Jadi Melody tidak bisa marah dengan kakak," ucap Melody yang terus menangis. Ardian mengusap terus air mata itu.
" Maaf ya Melody. Maafkan kakak," ucap Ardian. Melody menganggukkan kepalanya dan Ardian kembali memeluk erat Melody.
" Kita akan menghadapinya sama-sama percayalah," ucap Ardian yang mencoba untuk memberikan ketengan pada Melody. Melody mengangguk mendengarnya.
***********
Melody yang beres-beres di dalam kamar untuk pulang pagi itu dan Ardian yang memanaskan mobil serta membereskan keperluan lainnya.
Ceklek tiba-tiba pintu kamar Melody di buka dengan kuat.
" Sudah selesai kak?" tanya Melody membalikkan tubuhnya dan kaget melihat yang masuk adalah Rio.
" Kak Rio, ada apa?" tanya Melody panik dengan masuknya Rio kedalam kamarnya.
" Ardian sudah selesai dan sekarang tinggal gikiranku," ucap Rio yang melihat nakal tubuh Melody dari bawah sampai atas yang membuat Melody kaget dan takut.
" Apa maksud kakak?" tanya Melody panik.
__ADS_1
" Melody pertemanan kami itu penuh dengan berbagi. Setelah Ardian selesai bermaidengan mu tadi malam dan sekarang giliran kami," ucap Rio yang masih berdiri di depan pintu dan yang terus menatap nakal Melody.
" Jangan kurang ajar kepada ku keluar dari sini, jika tidak aku akan teriak!" ucap Melody yang berteriak dengan keras. Mendengar hal itu membuat Rio mendengus tersenyum.
" Silahkan kamu teriak. Orang -orang di sini tidak akan ada yang peduli. Karena orang-orang di sini. Hanya tinggal menunggu giliran. Karena kamu hadiah ulang tahun Ardian yang harus di bagi-bagi," ucap Rion.
" Tutup mulutmu!" teriak Melody.
" Lihat ke jendela," ucap Rio dan Melody langsung melihat di mana Melody melihat Ardian mengobrol dengan 2 teman Ardian di pinggir mobil dan Ardian terlihat menunjuk- kamar dan tidak tau apa yang di bicarakan Ardian pada 2 temannya. Ardian terlihat menepuk bahu temannya dan langsung memasuki mobil dan mobil itu berjalan yang meninggalkan Vila. Apa yang di lihat Melody membuat Melody kaget.
" Kak Ardian!" teriak Melody yang langsung ingin pergi keluar kamar untuk mengejar Ardian. Namun Rio langsung menahannya tubuhnya dengan menutup pintu kamar dan langsung menghempas tubuh Melody ke atas ranjang.
Hal itu membuat Melody ketakutan dengan Rio yang berdiri di depannya dengan menatapnya tajam yang ingin menerkam Melody.
" Aku sudah mengatakan ini giliran ku," ucap Rio yang membuka kancing kemejanya.
" Nggak, itu tidak mungkin, tidak, menjauh dari ku, pergi dari sini! pergi!" teriak Melody yang ketakutan saat Pria itu benar-benar ingin melecehkannya.
" Jangan jual mahal. Ini sama seperti Ardian. Rasanya juga akan sama dan aku akan membuatmu ketagihan," sahut Rio yang langsung menindih tubuh Melody.
" Lepaskan aku! lepaskan aku! lepaskan aku!" Melody memberontak saat Rio berusaha untuk menyentuhnya dengan menciumi lehernya dan Melody terus menghindar dengan Pria yang benar-benar ingin memperkosanya itu.
" Kak Ardian, tolong, kak Ardian tolong!" teriak Melody memanggil Ardian. Rio semakin gila yang benar-benar ingin memperkosa Melody. Sampai pada akhirnya Melody mendapat kesempatan dan menendang aset berharga Rio.
" Auuuuuu!" teriak Rio yang mundur dengan memegang aset berharganya dan Melody mengambil kesempatan dengan melihat pot bunga dan langsung mengambil pot itu dan langsung memukul pada kepala Rio.
" Argggghhh!" teriak Rio kesakitan dan saat itu Melody langsung mengambil kesempatan untuk lari dari Rio keluar dari kamar dan mengunci Rio di dalam kamar.
Bersambung.
__ADS_1