Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma

Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma
Bab 267 Raisa dan Axel.


__ADS_3

Melody berada di depan pintu kamar mandi yang menunggu Raisa yang terdengar muntah-muntah.


" Ya Allah ada apa dengan Raisa," batin Melody yang panik dan tidak lama Raisa keluar dari kamar mandi.


" Raisa!" ucap Melody melihat kondisi Raisa yang begitu pucat.


" Kamu kenapa?" tanya Melody dengan wajahnya yang begitu panik.


" Tidak apa-apa Melody aku hanya pusing saja dan mungkin aku salah makan," jawab Raisa dengan suara lemahnya.


" Kamu yakin tidak apa-apa?" tanya Melody yang tidak percaya. Karena melihat Raisa yang begitu pucat.


" Iya aku tidak apa-apa. Ya sudah aku sebaiknya pulang saja. Kamu sampaikan ya salamku pada Tante Widia, Oma dan yang lainnya," ucap Raisa yang langsung pergi.


Melody hanya diam dengan kecemasannya yang melihat Raisa pergi begitu saja.


" Melody!" tegur Lea yang tiba-tiba datang menghampiri Melody, " mana Raisa?" tanya Lea.


" Dia baru saja pergi," jawab Melody.


" Lalu bagaimana keadaannya?" tanya Lea.


" Katanya sih tidak apa-apa. Tapi aku melihat dia pucat sekali. Aku jadi khawatir padanya. Tetapi kayaknya dia tidak mau di bantuin," ucap Melody dengan wajah senduh nya.


" Ya sudahlah. Mungkin memang Raisa tidak merasa jika dia parah. Ya sudah tidak apa-apa. Biarkan dia istirahat," ucap Lea.


Melody menganggukkan kepalanya, " oh iya bagaimana dengan Dokter Axel dan kekasihnya apa masih di sana?" tanya Melody.


" Mereka juga sudah pulang. Heran melihat wanita seperti itu," jawab Lea yang ikutan kesal dengan Sintia.


" Syukurlah kalau mereka sudah pulang. Paling tidak pesta pernikahan Evan dan Rasti tidak kacau," sahut Melody merasa lega.


" Iya kamu benar, ya sudah ayo kita kembali ke yang lainnya!" ajak Lea. Melody mengangguk dan merekapun pergi.

__ADS_1


*********


Karena masalah yang terjadi tadi Axel dan Sintia harus berdebat di dalam mobil.


" Jadi kamu mengenalnya dan kamu hanya diam saja. Pantesan kamu membelanya. Memang hubungan kalian seperti apa!" teriak Sintia yang penuh emosi marah-marah pada Axel.


" Sintia kamu jangan berteriak-teriak di dalam mobil. Kupingku sakit," sahut Axel menekan suaranya.


" Kamu jawab dulu pertanyaan ku. Kenapa kamu mengenalnya dan pura-pura seperti tidak tau apa-apa. Atau jangan-jangan kamu ada hubungan lagi dengan dia dan makanya kau itu seolah melindunginya," ucap Sintia dengan pikirannya yang jauh.


" Jangan bicara berlebihan. Aku tidak mau mendengar kata-kata mu yang tidak masuk akal," ucap Axel menegaskan.


" Kau yang tidak masuk akal," sahut Sintia yang semakin emosi.


Tidak mendapatkan jawaban yang tetap dari kekasihnya membuatnya semakin kesal dan merasa jika kekasihnya menyembunyikan sesuatu darinya.


" Apa Raisa baik-baik saja," batin Axel yang memikirkan Raisa. Dia bahkan tidak peduli dengan ocehan Sintia dan mencemaskan Raisa.


*********


Air matanya menetes setelah melihat tespeck tersebut yang garis 2 membuatnya seolah kehilangan segalanya.


" Tidak mungkin!" lirih Raisa yang mana tespeck tersebut jatuh dari tangannya. Air matanya mengalir dan Raisa terduduk lemah di lantai dengan tatapannya yang kosong.


Raisa memang merasa badannya tidak enak dari kemarin, merasa mual dan tidak tenang. Karena merasa ada sesuatu. Raisa nekat membeli alat tes kehamilan setelah pulang dari pesta pernikahan Evan dan Rasti.


Dan sangat mengejutkan. Jika hasilnya memang sesuai dengan apa yang di takutkannya. Yang sekarang Raisa meremas rambutnya dengan kuat seperti menjambak sendiri, menangis terisak-isak dengan dan jatuh pada memeluk ke-2 lututnya dan terlihat begitu frustasi dengan kehamilannya.


Raisa harus mengingat malam panas yang di lewatkannya bersama Axel. Saat pulang dari Restaurant dan Axel menggendongnya kekamar. Di mana Raisa sebenarnya saat itu belum pulih benar. Makanya dengan polosnya mengatakan perasaannya sangat berbeda ketika berada di dekat Dokternya itu.


Raisa juga menjelaskan debaran jantungnya pada Axel sampai Axel mencium bibir pasiennya itu.


Gairah Axel meningkat dan menginginkan yang lebih yang bukan hanya sekedar ciuman panas. Tidak ada penolakan dari Raisa membuat Axel berani menyentuh tubuh Raisa. Di balut dengan kabut gairah, menyentuh tubuh itu tanpa terlewatkan 1 inci pun.

__ADS_1


Memberi kenikmatan di malam yang panas, suara-suara indah yang keluar dari mulut Raisa saat mendapatkan hal yang tidak pernah di dapatkannya. Sejahat-jahatnya Raisa dia wanita suci yang belum pernah melakukan hubungan itu.


Selama ini dia hanya mengenal Ardian sebagai pria yang di cintainya dan selalu punya keinginan melewatkan malam itu bersama Ardian. Namun tidak karena Ardian mencintai Melody.


Jadi Axel yang pertama kali melakukan hal itu kepadanya. Antara menyadari atau tidak. Namun Raisa menikmatinya saat pria di atas tubuhnya terus menyentuhnya tanpa ada hentinya. Melewatkan malam bersama.


Mengingat hal itu membuat Raisa semakin frustasi. Bayangan-bayangan yang melintas itu membuat kedua tangannya memegang kepalanya yang seolah ingin melupakan kejadian itu.


Dia berusaha melupakannya dan berusaha menerima jika Axel sudah bersama orang lain dan Raisa bahkan menerima jika dirinya hanya sebagai persinggahan saja.


Namun sekarang dia hamil. Apa yang harus di lakukannya? bagaimana selanjutnya? banyak pertanyaan yang ada di pikirannya yang Tidka tau siapa yang menjawabnya. Karena Raisa juga sekarang tinggal sebatang kara.


********


Melody dan Ardian memasuki kamar setelah mereka pulang dari pesta.


" Aku jadi khawatir dengan Raisa," ucap Melody yang masih kepikiran dengan Raisa.


" Kenapa khawatir? memang apa yang terjadi padanya?" tanya Ardian.


" Soal dia yang tadi muntah-muntah. Aku tidak tau apa yang terjadi padanya," jawab Melody.


" Raisa mungkin hanya kecapean saja. Jangan terlalu berlebihan memikirkannya. Dia pasti tidak apa-apa," ucap Ardian yang membuka dasinya.


" Aku juga berharap seperti itu," sahut Melody.


" Lalu kalau sudah berharap seperti itu. Kenapa sekarang wajahnya masih seperti ini. Masih cemberut seperti ini," ucap Ardian menghampiri istrinya dan melihat wajah istrinya yang masih cemberut.


" Aku tidak tau sampai kapan Sintia pacarnya Dokter Axel akan mempunyai dendam pada Raisa dan aku juga sangat merasa aneh dengan Dokter Axel yang terlihat seperti menghindari Raisa. Bukannya seharusnya dia itu jauh bersikap lebih baik," ucap Melody dengan penuh kepikiran.


" Maksud kamu?" tanya Ardian heran.


" Ya kamu lihat sendiri apa yang terjadi dia itu seperti tidak mengenal Raisa. Seperti ada sesuatu. Tetapi tidak tau ada apa," ucap Melody dengan pemikirannya.

__ADS_1


" Melody sudahlah. Kamu itu hanya berpikiran berlebihan saja. Memang apa yang terjadi yang terjadi hanya salah paham saja. Sudah jangan di pikirkan lagi. Kita sebaiknya istirahat. Itu jauh lebih baik," ucap Ardian. Melody hanya diam yang pasti pemikiran belum tenang.


Bersambung.


__ADS_2