
Melody benar-benar jenuh di dalam kamar yang tidak tau harus berbuat apa-apa. Ardian tidak mengijinkannya untuk ke Restaurant. Padahal jika dia ada di sana, dia akan lebih tenang dan beraktifitas dengan seperti biasanya. Tetapi Ardian sama sekali tidak mengijinkannya yang membuatnya merasa lesu.
" Hmmmm, bosan sekali di rumah. Aku tidak biasa seperti ini. Aku harus ngapain ya," batin Melody yang lesu duduk di pinggir ranjangnya. Melody mengambil handphonenya dan melihat wa di mana dia mengetik pesan untuk Ardian.
..." Aku bosan di rumah. Aku tidak bisa seperti ini. Aku bisa gila kalau di kamar terus," tulis Melody yang langsung mengirim pesan itu....
" Ngapain juga sih Melody kamu kirim untuk Ardian. Apa dia akan membacanya," ucap Melody yang tidak yakin dengan Ardian akan membaca pesan itu.
*********
Ardian yang sedang rapat yang mendengarkan presentasi salah satu karyawan menggunakan layar proyektor. Tiba-tiba pesan wa masuk, Ardian langsung membukanya dan melihat yang ternyata pesan dari Melody.
..." Aku akan menjemputmu. Kita akan makan siang bersama," balas Ardian yang kembali meletakkan hanphonenya....
Melody di kamarnya yang sudah berdiri yang masih memegang handphonenya melihat pesan yang kembali masuk.
" Makan siang bersama. Tumben sekali dia mengajakku," batin Melody yang kelihatan bengong.
" Hmmmm, tidak apa-apa. Yang penting aku bisa keluar. Dari pada di rumah terus," batin Melody yang setuju dengan ajakan Ardian. Dan langsung mengirim balasan persetujuannya pada Ardian.
Membaca pesan Melody yang menyetujui permintaannya, tiba-tiba tersenyum tipis. Evan yang di sampingnya memperhatikan sepupunya yang tersenyum itu. Membuat Evan heran. Senyum itu bahkan sangat berbeda.
" Kenapa dia senyum-senyum sambil memegang handphone membuat Evan bertanya-tanya apa yang di lakukan sepupunya itu.
**********
Melody menuruni anak tangga dengan dress hitam selututnya dengan belt merah tua di bagian pinggangnya. Rambutnya hanya di gerainya saja. Melody memang selalu berpenampilan simple dan feminim. Shandra melihat Melody yang menuruni anak tangga.
" Kamu mau kemana Melody?" tanya Shandra. Melody melihat Raisa tiba-tiba.
" Mau makan siang sama Ardian," jawab Melody sengaja suaranya di kuat-kuatkan untuk membuat Raisa panas dan memang benar Raisa langsung seperti orang kebakaran jenggot mendengarnya.
" Hmmmm, begitu rupanya. Kamu menyusul kekantornya?" tanya Shandra.
" Katanya sih mau menjemputku," jawab Melody. Baru saja Melody mengatakan hal itu tiba-tiba terdengar suara mesin mobil yang berhenti di depan rumahnya.
" Hmmm, itu dia pasti Ardian. Ya sudah Tante kalau begitu aku pergi dulu," ucap Melody yang langsung pamitan.
__ADS_1
" Kamu hati-hati," sahut Shandra. Melody mengangguk saja lalu pergi. Sebelum pergi pasti tersenyum mengejek dulu pada Raisa.
" Kurang ajar, semakin hari dia memang semakin berkuasa," batin Raisa yang hanya bisa menonton kebersamaan Ardian dan juga Melody.
*************
Melody dan Ardian pun akhirnya makan di salah satu Restauran yang tidak jauh dari kantor Ardian. Ardian memilih suasana outdoor agar suasananya lebih berbeda.
Di meja mereka sudah lengkap makanan yang mereka pesan dan mereka juga sudah sama-sama makan dengan tenang. Di tengah makan itu tiba-tiba Ardian mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan 2 kartu ATM lalu meletakkannya di depan Melody.
" Pakailah untuk kebutuhanmu," ucap Ardian. Melody hanya melihatnya saja dan kembali melanjutkan makannya.
" Kau tidak mau memakainya?" tanya Ardian.
" Aku tidak bicara apa-apa," sahut Melody.
" Baiklah. Jadi gunakan itu dengan baik. Itu yang baru dan milik Raisa...."
" Tidak akan aku kembalikan," sahut Melody yang langsung memotong pembicaraan Ardian.
" Aku tidak menyuruhmu untuk mengembalikannya," sahut Ardian.
" Aku belum selesai bicara. Tetapi kau sudah memotongnya," sahut Ardian.
" Ya sudah bicaralah," sahut Melody.
" Aku sudah memblokir kartu itu. Jadi itu juga tidak bisa di gunakan. Karena kau meminta yang baru makan aku mengganti yang baru," sahut Ardian.
" Baru juga pacaran, sudah membiayai anak orang," desis Melody yang terlihat sangat kesal sehingga bergerutu sendiri.
" Kau sedang bicara denganku?" tanya Ardian.
" Tidak. Aku tidak bicara apa-apa," sahut Melody mengelak.
" Ya sudah makanlah," sahut Ardian.
" Memang dari tadi makan. Kau saja yang mengajakku bicara," sahut Melody yang ada saja jawabannya pada suaminya itu.
__ADS_1
Ardian pun diam dan tidak bicara apa-apa lagi. Ini pertama kali bagi mereka makan bersama. Walau makannya penuh dengan debat-debat kecil. Biasalah belum saling menerima satu sama lain. Semuanya butuh proses.
************
Melody dan Ardian turun kebawah untuk melaksanakan makan malam seperti biasanya. Di meja makan sudah menunggu semua semua orang.
" Ayo Ardian, Melody kalian duduk," ucap Widia. Melody dan Ardian pun akhirnya duduk bersebelahan dengan Ardian tepat di depan Raisa.
Tidak tau apa yang Melody lakukan tiba-tiba saja Melody mengambilkan nasi ke piring Ardian. Ardian saja kaget apa lagi yang lainnya.
" Dasar caper," batin Raisa.
Melody memasukkan kacang sup tur kacang merah kedalam piring Ardian.
" Dia tidak menyukai kacang merah," sahut Raisa yang sok tau.
" Bagaimana sih kamu Melody. Kalau tidak tau apa-apa seharunya jangan sok tau untuk menata makanan suamimu," sahut Novi menambahi.
" Ardian memang tidak menyukai kacang merah. Tapi sup kacang merah dia menyukainya. Aku membukanya kedalam piringnya karena aku tau apa yang di sukainya dan tidak di sukainya. Jadi jangan protes. Jika dia saja tidak protes. Lagian aku mengetahui semua tentang dia yang tidak harus di ketahui oleh orang lain," ucap Melody dengan sinis yang menampar Raisa secara tidak langsung.
" Kenapa perkara makanan kalian harus ribut," sahut Eyang.
" Tidak ada yang ribut dan tidak akan terjadi keributan. Jika ada yang sok tau dan merasa paling benar," sahut Melody.
" Sial, dia sekarang mempermalukan ku di depan semua orang," batin Raisa yang bertambah membenci Melody.
Melody pun melanjutkan mengisi piring suaminya dengan berbagai makanan dan langsung memberikan pada Ardian dan Ardian pun mengambilnya.
" Ayo kita makan. Jangan berdebat terus," sahut Widia. Yang lainnya mengangguk.
" Melody besok pagi-pagi sekali kamu harus menyiapkan sarapan pertama untuk di rumah ini. Itu salah satu tradisi keluarga. Di mana kami harus merasa masakan dari tangan menantu kami. Jadi kamu menyiapkan sarapan saja. Supaya mudah dan tidak ribet," sahut Eyang besar.
" Ini hanya sekali Melody. Bukan berarti kamu menyiapkan setiap hari. Kakak juga dulu seperti itu," sahut Mila menambahi.
" Sama Melody aku juga dulu seperti itu. Walau tidak bisa memasak. Kau di beri keringanan membuat sarapan saja. Ya aku hanya menyiapkan roti. Namanya juga tidak bisa memasak," sahut Vivi dengan bangganya yang mengakui dirinya yang tidak bisa memasak sama sekali.
" Baiklah aku akan melaksanakannya," sahut Melody yang tampak tidak menolak sama sekali.
__ADS_1
Bersambung.......