Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma

Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma
Bab 233 Meyakinkan


__ADS_3

Melody berada di dalam kamar bersama Ardian yang duduk di pinggir kasur sementara Melody duduk depan cermin di meja rias.


" Sayang kamu itu kenapa sih. Aku perhatikan wajahnya itu murung terus dari kemarin lo?" tanya Ardian menoleh ke arah istrinya yang membuat dirinya bingung.


" Aku hanya kepikiran dengan keinginan kamu tadi dan juga yang lainnya. Kenapa juga kita harus ikut-ikutan bulan madu bersama Alvin dan Lea kan mereka pengantin baru!" ucap Melody.


" Kan seperti yang aku katakan tadi sama kamu. Nggak apa-apa sayang kan kita juga belum pernah liburan sama sekali. Jadi apa salahnya kita liburan bersama mereka. Ya kita punya urusan kita masing-masing. Mereka juga punya urusan mereka masing-masing. Hanya tujuannya saja yang sama dan selebihnya yang pasti dengan pasangan masing-masing. Kita juga nggak berminat untuk mengganggu mereka sayang," jelas Ardian.


" Bukan masalah mengganggu mereka atau tidaknya. Masalahnya sekarang bagaimana dengan kehamilanku. Aku masih tidak yakin. Jika Dokter bisa memberi ijin," ucap Melody yang memberikan alasannya.


" Kan aku sudah katakan. Aku sudah konsultasi dengan Dokter dan Dokter mengatakan tidak ada masalah," ucap Ardian.


" Bagaimana mungkin kamu bisa konsultasi dengan Dokter tanpa aku. Dia juga tidak memeriksa kandunganku. Jadi bagaimana Dokter bisa tau," ucap Melody.


Ardian menghela napasnya panjang dan langsung berdiri dari tempat duduknya menghampiri istrinya dengan berdiri di belakang istrinya, sedikit membungkuk agar sejajar dengan istrinya dengan ke-2 tangannya yang memegang bahu Melody.


" Kalau begitu kita sekarang periksa dengan Dokter. Biar tidak ada keraguan untuk kamu. Karena kamu juga belum pernah USG lagi. Jadi tidak ada salahnya kita USG sekalian tanya-tanya untuk kebaikan kamu dan juga anak kita," ucap Ardian dengan lembut agar Melody bisa tenang.


" Ya sudah kalau begitu," sahut Melody. Ardian tersenyum dengan mencium pucuk kepala Melody.


" Jangan ngambek lagi. Apa lagi cemberut seperti ini wajahnya. Aku tidak mungkin melakukan sesuatu. Jika itu membahayakan istriku," ucap Ardian.


" Siapa yang ngambek," ucap Melody dengan wajahnya yang masih cemberut.


" Ya sudah kita jangan membahas itu lagi dan kamu juga jangan memikirkan hal itu lagi," ucap Ardian Melody menganggukkan kepalanya.


" Ya sudah ayo kita periksa sekarang!" ajak Melody.


" Iya sayang," sahut Ardian.


*********


" Mama akan kasih kamu izin pergi sama Rasti. Tapi kamu benar-benar ya jangan aneh-aneh sama Rasti. Jangan tidur satu kamar. Kamu sama Rasti itu belum menikah beda sama Ardian Melody dan Alvin juga Lea. Jadi jangan kamu samai. Kamu sama mereka!" tegas Shandra mengingatkan Evan. Saat Evan kembali minta izin pada mamanya.

__ADS_1


" Mama ini aneh. Pikirannya sampai kemana-mana. Memang siapa yang mau tidur satu kamar sama Rasti nggak ada kali mah," sahut Evan.


" Jangan bilang nggak ada, nanti anak orang sudah kamu buntingin lagi!" ucap Shandra yang harus wanti-wanti.


" Issss mama pikirannya negatif mulu. Aku itu sama Rasti mau liburan sekalian mau bikin Supraise lamaran untuknya," sahut Evan yang sudah punya rencana.


" Astaga kan jadi keceplosan," sahut Evan menepuk jidatnya, " mama sih mancing-mancing," ucap Evan.


" Yang kamu lamar itu Rasti. Bukan mama. Jadi kalau mama tau dan Rasti tidak. Itu tidak berpengaruh sama sekali dan iya kamu itu bisa-bisanya mau melamar anak orang tanpa kasih tau mama dulu tanpa bahas ini dan itu. Kamu pikir lamaran itu mudah apa," ucap Shandra kesal.


" Ya ampun mah. Hanya lamaran kecil-kecil an saja. Kan bukan lamaran adat," sahut Evan.


" Ya kalau mama tidak setuju bagaimana?" tanya Shandra.


" Ya sudah aku buntingin aja Rasti. Mau tidak mau mama akan menikahkan kami," sahut Evan asal.


" Kamu ini ya Benar-benar," geram Shandra menjewer telinga Evan.


" Makanya jadi anak. Jangan suka bicara sembarangan," ucap Shandra kesal.


" Hanya bercanda mah," sahut Evan.


" Bercandaan seperti itu sangat kelewatan mama tidak suka. Kamu mengerti!" tegas Shandra.


Evan menghela napasnya dan memeluk mamanya dari belakang dengan ke-2 tangan nya di leher sang mama.


" Mama jangan khawatir, aku mencintai Rasti dan aku tau apa yang harus aku lakukan dan tidak aku lakukan. Meski kami sering ribut. Tetapi perasaan bukannya semakin berkurang tetapi semakin bertambah. Jadi aku tidak melakukan apa-apa jika itu merugikannya dan aku kesana hanya memberikan dia pengalaman yang indah. Di mana aku melamarnya dan aku yakin mama akan setuju itu," ucap Evan yang serius bicara pada mamanya.


Shandra menghela napasnya panjang dengan memegang tangan putrnya yang melingkar di dadanya, " mama akan menyetujui apa yang menurut kamu terbaik dan semoga niat kamu membahagiakan Rasti membuat Rasti bahagia. Dan Supraise lamaran yang kamu rencanakan semoga berhasil," ucap Shandra yang memang memberi suport hubungan anaknya dengan Rasti.


" Makasih mah," sahut Evan yang benar-benar bahagia. Shandra menganggukkan kepalanya.


Ternyata pembicaraan itu malah di dengarkan tokoh utama siapa lagi kalau bukan Rasti. Yang sekarang Rasti senyum-senyum sendiri yang hatinya berbunga-bunga mendengar kekasihnya akan memberikan Supraise lamaran padanya.

__ADS_1


" Ya ampun Evan. Ternyata kamu bisa juga romantis. Kamu itu benar-benar sweet. Meski aku tau rencana kamu. Awas saja kalau sampai gagal. Karena kamu itu orangnya ceroboh. Lihatlah rencana kamu bahkan aku ketahui, Evan- Evan," ucap Rasti geleng-geleng dengan senyumnya yang mengembang yang tidak sabaran untuk segera berangkat ke Jepang untuk di lamar kekasihnya.


" Kak Rasti!" tiba-tiba terdengar suara membuat Rasti Menoleh kesampingnya yang ternyata adalah Aliya.


" Eh Aliya," sahut Rasti.


" Kakak kenapa berdiri di sini dan senyum-senyum sendiri lagi?" tanya Aliya.


" Oh, tidak apa-apa. Hanya tadi mau ketemu Melody!" jawab Rasti.


" Kan kak Melody sama Om Ardian lagi pergi," ucap Aliya.


" Oh iya pergi kemana?" tanya Rasti.


" Kerumah sakit. Katanya mau USG gitu," jawab Aliya.


" Hmmmm, begitu rupanya," sahut Rasti mengangguk-angguk.


" Rasti!" tegur Evan yang tiba-tiba sudah berada di dekat Rasti.


" Iya Evan," sahut Rasti gugup.


" Kamu sejak kapan di sini?" tanya Evan gugup yang takut rencananya tadi terdengar Rasti dan bisa berantakan semuanya.


" Hmmmm, barusan kok, aku hanya mencari-cari Melody, sebelum menemui kamu," jawab Rasti agar Evan tidak curiga dan tetap menjalankan rencananya.


" Yakin barusan?" tanya Evan tidak percaya.


" Ya iyalah, sudah ayo kita ngobrol di taman!" ajak Rasti menggandeng tangan Evan.


" Aliya kakak pergi dulu!" ucap Rasti yang langsung menarik kekasihnya. Aliya mengangguk-angguk saja dan bahkan bingung.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2