
Ardian menggendong Chaca di depannya di bagian kanannya dengan tangan Chaca berada di leher Ardian.
" Makasih om!" ucap Chaca dengan senyum lebarnya Ardian hanya mengangguk saja.
" Ya sudah sekarang kita pulang," sahut Wawan.
" Baik Opa," jawab Chaca.
Wawan dan Dania berjalan terlebih dahulu kemudian di susul Ardian dan Melody yang berjalan di sampingnya dan di belakang mereka Marsel, Gadis dan juga Febby.
" Aunty tidak cemburukan, aku di gendong seperti ini?" ucap Chaca yang sengaja memanas-manasi Melody.
" Sangat cemburu," ucap Melody dengan wajah manyunnya. Chaca hanya tertawa-tawa yang sengaja menggoda Melody.
Melihat kebersamaan itu membuat Gadis dan Marsel yang berjalan di belakang mereka pasti sangat iri, sedih dengan Chaca yang begitu dekat dengan Ardian. Tetapi darah daging lebih kental di bandingkan air. Jadi Gadis maupun Marsel hanya bisa pasrah dan sabar. Marsel menggenggam tangan istrinya untuk memberikan istrinya kekuatan dan ketenangan.
Sementara Febby yang mengamati situasi itu hanya melihat saja apa yang terjadi, " semuanya kasihan, kak Marsel dan kak Gadis pasti merasa kehilangan, kak Ardian walau mengetahui kebenaran tidak bisa memiliki Chaca dan kak Melody perasaan yang bergejolak. Namun tidak tau apa yang terjadi," batin Febby.
" Ya Allah semoga saja engkau memberikan keadilan, petunjuk dan penyelesaian masalah dalam hal ini. Aku percaya ya Allah hanya engkau yang bisa memberikan jalan untuk semua ini," Feby berdoa di dalam hatinya.
************
Mereka sudah sampai kerumah dan bahkan Chaca yang benar-benar sembuh sudah mulai bermain-main lagi dengan keluarganya di ruang tamu. Ardian dan Melody juga belum pulang mereka masih ada di sana yang pasti Melody menemani Chaca bermain yang duduk di atas lantai.
" Aunty kapan kita jalan-jalan?" tanya Chaca.
" Hmmmm, kapan ya," sahut Melody dengan wajah yang tampak berpikir.
" Kapan Aunty?" tanya Chaca lagi.
" Chaca bukannya papa kemarin bilang kalau kita mau ke Malaysia, pulang ke kampung mama, kita mau bertemu dengan Ami di sana," sahut Gadis. Mendengarnya Ardian kaget dan Melody juga kaget sebelumnya dua juga tidak tau masalah itu.
__ADS_1
Wawan dan Dania saling melihat dengan ekspresi datar yang sepertinya mereka sudah tau, tetapi tidak menyampaikan apa-apa.
" Kaka mau pulang kampung?" tanya Melody memastikan.
" Iya Melody soalnya kakak juga sudah lama tidak mengunjungi mama di sana," jawab Gadis.
" Dan Chaca ikut?" tanya Melody.
" Kan memang biasanya Chaca selalu ikut, kalau kakak dan kak Marsel ke luar kota atau luar Negri," sahut Gadis
Ardian terlihat resah mendengar keputusan Marsel dan Gadis, " apa mereka benar-benar akan membawa Chaca dan apa itu artinya kak Marsel benar-benar tidak mengijinkanku untuk bertemu Chaca lagi," batin Ardian yang tiba-tiba gelisah.
" Memang kita lama di sana ma?" tanya Chaca.
" Mama tidak bisa memastikannya," jawab Gadis.
" Ya, padahal Aunty masih kengen, kita juga belum sempat jalan-jalan. Chaca sudah mau pulang kampung aja," sahut Melody dengan wajah sedihnya.
" Tapi jangan menginap di rumah kalian," sahut Gadis memberi saran, " bukan apa-apa Melody, kakak tidak mau Chaca kenapa-kenapa. Kalian menginap di sini saja," sahut Gadis yang masih takut jika kejadian itu terulang lagi. Walau Raisa sudah di penjara. Tetapi tetap dia tidak bisa membiarkan Chaca tinggal di sana.
" Chaca juga tidak mau menginap di sana. Soalnya Tante itu jahat, nanti dia jahat pada Aunty Chaca. Jadi Chaca tidak mau berada di sana," sahut Chaca yang tampaknya trauma.
" Melody Ardian, menginaplah di sini. Biar kalian bisa bersama Chaca sebelum Chaca pergi," sahut Dania yang memberi saran.
Melody melihat suaminya yang seakan ingin meminta persetujuan, " bagaimana kak?" tanya Melody.
" Iya kita menginap di sini," jawab Ardian memberikan keputusan. Melody tersenyum yang mendapat izin dari suaminya.
" Horeeee!" teriak Chaca dengan mengangkat ke-2 tangannya yang begitu bahagianya jika akan main-main bersama Aunty kesayangannya dan juga Ardian.
" Ya Allah ini memang hal yang paling tersulit. Aku tidak tau sampai kapan semua ini. Ardian juga pasti begitu sedih dengan keadaan in," batin Dania yang penuh dengan kebingungan harus berpihak pada siapa.
__ADS_1
************
Ardian terlihat berdiri di pinggir kolam renang dengan ke-2 tangannya di dalam saku celananya. Wajahnya terlihat begitu murung yang sepertinya memang banyak yang di pikirkannya.
" Aku sudah mengambil keputusan ini. Aku tidak tau ini yang terbaik atau tidak. Aku sadar perbuatanku tidak mudah membuatku untuk mendapatkan Chaca atau memilikinya atau mendengarnya memanggilku papa. Aku sudah memutuskannya dan aku harus banyak-banyak bersabar," batin Ardian yang mencoba ikhlas dengan apa yang terjadi.
" Kau marah kepadaku!" terdengar suara dingin yang membuat Ardian membalikkan tubuhnya dan ternyata adalah Marsel.
" Kau berpikir jika aku sengaja membawa Chaca ke Malaysia untuk menjauhkan Chaca dari mu dan Melody," ucap Marsel.
" Aku tidak berpikir seperti itu," sahut Ardian.
" Tapi bagaimana jika aku memang melakukan itu?" sahut Marsel membuat Ardian diam terpaku dan jelas kaget.
" Dia mungkin darah dagingmu yang jika kamu tidak menikah dengan Melody masalah ini tidak akan terbongkar sampai kapanpun. Tetapi seperti yang aku katakan aku dan istriku yang berkorban untuk semua ini dan kau tidak pantas untuk mendapatkan Chaca," ucap Marsel.
" Kak Marsel, perbuatanku memang tidak bisa di maafkan. Tetapi mau sekeras apapun kak Marsel menjauhkan aku dengan Chaca, sengaja atau tidak. Kenyataan tidak akan menutupi segalanya. Chaca adalah anakku darah dagingku. Dan meski di sembunyikan sampai bertahun-tahun kedepannya. Tetapi kebenaran pasti terungkap. Dengan aku mengalah yang tidak akan merusak kebahagian kakak dan juga kak Gadis, itu karena aku sadar diri. Tetapi bukan berarti aku juga akan kehilangan hak atas anakku," ucap Ardian.
" Apa maksud kamu?" tanya Marsel.
" Silahkan jauhkan aku dari Chaca. Silahkan lakukan semua yang kakak mau. Hukum aku semau kakak. Aku tidak apa-apa, terserah mau melakukan apapun. Aku tidak akan melawan. Tetapi mungkin ada saatnya di mana nanti semuanya akan kembali," ucap Ardian menegaskan.
" Kau ada niat untuk memberi tahu Melody semua ini?" tebak Marsel.
" Aku tidak akan memberitahunya. Tetapi lama kelamaan Melody juga akan tau. Di saat di sembuh total dia pasti mengingat semuanya. Jadi jangan takut aku tidak akan memberitahunya," ucap Ardian dengan keyakinannya.
" Terima kasih kak, sudah merawat anakku selama ini. Bawalah dia jika kalian ingin ke Malaysia. Tapi tolong tetap izinkan dia berkomunikasi dengan Melody. Karena Melody tidak tau apa-apa," ucap Ardian dengan permintaanya.
Ardian yang merasa cukup untuk bicara akhirnya pun langsung pergi dari hadapan Marsel. Sementara Marsel hanya diam saja yang memikirkan semuanya.
Bersambung
__ADS_1